28/08/18

Hutan Keinginan Part I


Part I

“Buuuu, aku bermimpi lagi!”, ujar Zea sambil menghampiri ibunya.
“Mimpi apa, sayang?”, kata ibu yang sedang memasukkan barang ke dalam tas.
“Mimpi bertemu dengan pasukan hutan!”, kata Zea dengan lantang.
“Oh, pasukan hutan yang sering kamu ceritakan itu, ya?”, kata ibu sambil tersenyum.
“Iya bu, kali ini mereka tidak hanya mendekatiku, mereka bicara denganku! Benar-benar bicara denganku! Bu, aku bisa bicara dengan mereka!!!” Mata Zea membulat, terlihat binar-binar jenaka dalam matanya.
“Wah, kamu bisa bicara dengan teman-temanmu dalam mimpi. Hebat ya, ibu saja seringnya lupa dengan apa yang ibu mimpikan semalam.” Ibu menyentuh ujung hidung Zea dengan lembut.
“Tentu saja, dibalik kekurangan seseorang pasti ada kelebihannya, seperti yang sering ibu bilang kan!” Zea mengepalkan kedua tangannya dengan semangat.
“Zea sayang, Ibu senang sekali kalau Zea selalu ingat apa yang Ibu katakan. Tapi Ibu akan lebih senang lagi jika kita siap-siap sekarang supaya tidak terjebak macet dan terlambat bertemu dokter.” Ibu tampak sudah selesai merapikan tas dan menutup resletingnya dengan cepat.
“Ah, aku bosan terapi terus, dokternya baik sih tapi tetap saja capek mengikuti instruksinya terus.” Zea memalingkan muka tanda tidak setuju.
“Iya, Ibu paham kamu pasti capek dan bosan, Ibu juga pengen libur sehariiiii saja. Tapi Zea ingat kan dokter berpesan apa?”, Ibu mencubit gemas pipi Zea.
“Ya ya ya, dokter bilang, sekali aku malas dan melewatkan terapinya, maka aku harus mengulang dari awal kembali dan rasa malas akan menguasaiku terus menerus.” Zea memutar bola matanya sambil mengibaskan tangannya.
“Sungguh anak ibu yang paling hebat ingatannya. Yuk, kita siap-siap sekarang!” Ibu mendorong kursi roda Zea menuju kamar untuk berganti baju dengan yang lebih hangat.

----

“Ibu, saya harap ibu dan keluarga bersiap-siap untuk operasi lanjutan minggu depan setelah sesi terapi ini selesai.”, ujar Dokter dengan tenang.
“Bagaimana hasil terapi kali ini, dok? Apakah otot-ototnya mulai ada perkembangan?” Raut muka sang ibu khawatir mendengar perkataan dokter.
“Memang ada perkembangan, namun saya tidak ingin menutupi bahwa seperti yang ibu lihat, semakin lama kakinya mengalami perubahan bentuk dan mengecil. Walaupun kita melakukan sesi terapi supaya otot kakinya tidak semakin melemah, tindakan operasi tetap perlu dilakukan supaya rangkanya tidak semakin bengkok dan mengalami dislokasi.”, terang sang dokter.
“Baik, dok. Saya akan bicarakan dengan ayahnya dan mempersiapkan Zea untuk menjaga kesehatannya menjelang operasi. Semoga operasi kali ini bisa memberikan hasil yang baik!”

---

*2 minggu kemudian*
“Zea, ibu ada di sini selama kamu menjalani operasi. Ibu tau pasti kamu khawatir, tapi Ibu selalu menemani di sisimu, sayang.” Ibu tersenyum, raut mukanya menampakkan kegelisahan namun dia berusaha menyembunyikannya dari anaknya.
“Zea takut, Bu! Zea takut tidak bisa bertemu ibu dan ayah lagi. Zea takut selamanya tidak bisa berjalan lagi.” Zea meneteskan air matanya. Bajunya sudah berganti dengan baju pasien ruang operasi berwarna hijau.
“Kalau Zea takut, itu wajar nak. Dulu Ibu juga takut saat dibawa ke ruang operasi dengan janin di perut ibu. Ibu takut sama sepertimu, namun setelah operasi selesai, Ibu malah bersyukur karena ada kau dalam dekapan ibu sayang.” Ibu berujar lembut sambil memeluk Zea.
“Zea sayang, Ayah juga di sini menjagamu. Setelah operasi selesai, bagaimana kalau kita nge-date sambil makan es krim kesukaanmu? Tidak usah mengajak ibu ya”, kata ayah sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka.
Zea tersenyum dan berusaha menghalau kekhawatirannya, dia tau bahwa terapi dan operasi yang dijalaninya ini harus tetap dilakukan supaya kakinya bisa mengalami kemajuan.  Kemudian dokter dan suster datang menghampiri sambil tersenyum, “Wah, anak hebat sudah siap rupanya. Karena sudah puasa sejak semalam, bagaimana kalau kita masuk ruang otak-atik sekarang? Supaya setelah ini bisa makan es krim yang enak bersama ayah dan ibu?” Dokter menyebut istilah ruang otak atik kepada Zea dengan maksud tidak membuat Zea takut.
Ayah dan Ibu mencium kening Zea dan memeluk Zea sangat erat. Kemudian Zea tidur di tempat tidur beroda dan dibawa ke ruang operasi. Rasa panas mulai mengaliri tangannya, Zea sudah hafal rasa ini, setelah ini dia akan merasa kebas dan melayang lalu tertidur lelap.

Bersambung ke Part II

(638 words)



0 comments:

Posting Komentar