22/12/16

Kulwap IIP ke 2 ~ Menulis Cerita Anak oleh Fitri Restiana

RESUME KULWAP RUMBEL MENULIS

📆 Rabu 13 April 2016
 20.00-21.00
📝 Materi Menulis Cerita Anak
🙋🏻 Fitri Restiana

“Tidak semua penulis cerita anak yang sudah menerbitkan banyak buku memulai karirnya dari media massa. Namun, menembus beberapa media merupakan salah satu bukti konkret atas kelayakan seseorang dianggap sebagai penulis.”
Walaupun cerita anak saya yang dimuat di media massa baru seumprit dan buku masih dalam tahap finishing, saya coba berbagi cerita, ya, 
Dulu, duluuu banget, pernah satu puisi dimuat di Majalah Bobo. Waktu itu masih kelas 6 SD, tahun 1988-an gitu (ketahuan kan betapa ‘seniornya’ saya, *lirik uban, hehehe). Perasaan saya? Whuuiihhh, bahagianyaa... Selang beberapa minggu, Bobo yang merupakan satu-satunya majalah anak paling keren saat itu mengirimkan hadiah berupa 6 buku tulis, pensil, pena dan penghapus. Hadiah yang jadi rebutan kakak dan adik, soalnya bergambar bendera dan pemain bola dunia, 
Nah, balik lagi ke media. Setelah vakum beberapa tahun, saya mulai aktif menulis artikel politik dan dimuat di koran, semisal Suara Karya, Republika dan Lampung Post. Mungkin karena tak terlalu kesulitan menangkap ide, informasi dan akses saat itu (saya bekerja sebagai sekretaris di DPR RI), saya sangat enjoy menulis artikel-artikel tersebut. Mulai tentang Sidang Istimewa, issue-issue politik yang santer, demokasi, dll, dsb. (Ilmu yang sekarang sepertinya kudu dikorek-korek lagi dari memori, ) Intinya mah, kita harus menguasai dan memahami apa yang kita tulis.
Lalu disusul dengan konten menulis lainnya. Resensi, cerpen dewasa, ghostwriter dan dua tahun belakangan ini juga nyebur ke cerita anak dan buku parenting. Kok bisa? Hmm, ceritanya panjang. Panjaang sekali... nanti aja kita obrolin di group, ya. Itu pun jika teman-teman berminat, hihihi...
Baiklah. Saatnya memasuki dunia “Cerita Anak.” Bismillah..
Ibu-ibu yang super keren,
Menulis cerita anak sebenarnya sama saja dengan menulis cerita dewasa.

Beberapa syaratnya antara lain :

Ada ide yang wajib dikembangkan, tokoh dengan karakter yang kuat, judul yang bikin penasaran dan alur cerita yang asyik dibaca. Bagaimana mengelolanya?
Mengembangkan ide.
Ide bisa berasal dari mana saja. Dari anak, anak tetangga, buku, cerita teman, kelas menulis, bahkan pengalaman masa kecil. Cerita yang berjudul ‘Gara-gara Game’ (Lampung Post) terinspirasi dari cerita temannya Pandu. Bagaimana seorang anak sampai berbohong pada temannya dan abai terhadap adiknya. Proses penyampaian maksud tak melulu melalui nasihat, melainkan berdasarkan cerita.

Judul yang bikin penasaran
Untuk anak-anak, judul ‘Telur Raksasa di Pohon Mangga’ (Bobo) sepertinya menarik perhatian. Emang raksasa ada? Bisa bertelur? Kok di pohon mangga? Pertanyaan-pertanyaan itu akan menimbulkan keingintahuan untuk membaca cerita sampai akhir.

Tokoh dengan karakter yang kuat
Gambaran seorang anak yang tekun dan tak putus asa terlihat jelas di cerita ‘Bisnis Pertama Iban’ (Majalah Anak Cerdas). Iban yang mulanya boros dan hanya meminta, berusaha keras mendapatkan uang dengan tak mengabaikan tugasnya sebagai siswa.

Alur cerita yang asyik dibaca
Terkadang kita kesulitan membuat alur yang asik dibaca karena keterbatasan krakter yang disyaratkan, (Ketika Kaki Sigit Terkilir, Lampung Post). Maunya sih akan ada dialog dan konflik yang cetar membahana atau mengharu biru. Namun, apalah daya, hanya boleh sekitar 700an kata, hiks.. Tapi tak apalah... Kalau teman-teman mengalami hal seperti ini, teruslah menulis. Editnya di bagian akhir. Kalau tekun, bisa ditambah konfliknya dan dicicil sehingga menjadi sebuah buku. Atau bahkan muncul ide baru yang lebih sederhana, Jadi, bikin buku ayo, kirim ke media, ayo! Who know? Ini mah pengalaman pribadi saya bangeet, hehehe..

Pelajari gaya bahasa
Gaya bahasa anak usia 10 tahun jelas berbeda dengan anak usia tahun. Di 10 tahun, anak-anak sudah mulai tertarik dengan alur yang seru. Imajinasinya sudah mulai terpola. Maka penulis harus cerdas memilih bahasa yang tidak menggurui dan harus merasa ‘anak-anak banget.’ Dengan begitu, penggiringan tujuan tidak terkesan monoton dan berlebihan.

Masih banyaaaak banget kita-kiat lainnya yang keren dan oke-oke, terutama dari penulis cerita anak yang super semisal Mbak Watiek Ideo, Dian Kristiani, Bambang Irwanto, Ali Muakhir, Nurhayati Pujiastuti, Ary Nilandari, Sinyo Egie dan sebagainya. Sering-seringlah ‘intip’ wall mereka dan bertemanlah dengan ramah. InsyaAllah, akan banyak ilmu yang didapat.

Lalu, apa saja modal untuk menjadi penulis cerita anak?
Selain ide, tentu saja IMAJINASI. Ini adalah syarat utama demi menciptakan cerita yang bergizi tinggi. Dengan imajinasi, cerita yang ‘biasa-biasa’ saja akan terasa lebih mengenyangkan! Kalau saya pribadi sih lebih suka berimajinasi aneka petualangan atau kejadian sehari-hari. Saya paling tidak bisa berimajinasi misteri... soalnya penakut akut, hihihi...
Lainnya adalah KREATIVITAS. Bukan saja pada konten, tapi pada bagaimana mempublikasikan cerita. Gunakan media sosial dengan cara yang santun dan mencerahkan. Ingat, tetap hati-hati dalam menyusun kalimat dan menggunakan tanda baca, ;) Karena dalam dunia maya, tanda baca bisa bermakna beda dengan apa yang kita maksudkan.
DISIPLIN juga menjadi syarat sah untuk menjadi penulis. Tanpa disiplin, bagaimana kita bisa meningkatkan kuantitas dan kwalitas tulisan? Dalam satu hari, usahakan menulis paling tidak satu jam. Tulis saja, edit belakangan.
MAU BELAJAR. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki. Anggap saja kita adalah musafir di padang tandus, yang selalu merasa haus.. haus dan haus.. (ih, perumpamaannya pas nggak, ya, )

Naah, ibu-ibu keren,
Yang pasti, mah, luruskan NIAT, mantapkan TEKAD dan kuatkan SEMANGAT.

Saya pribadi punya motto SEMANGAT BISMILLAH. Apapun yang saya lakukan harus atas nama Allah. InsyaAllah akan dikuatkan dan dimudahkan.
Satu lagi motto saya, “Fokus itu tak harus melulu pada satu titik. Tapi pada bagaimana menyusun titik sehingga membentuk garis.”

Salam,
Fitri Restiana

1⃣ apakah ada tips bagaimana agar cerita kita dimuat di media? -sara, IIP Kaltim-

Pertama, sebaiknya kita pelajari dulu medianya. Biasanya ada perbedaan sihnifikan antara media lokal dan nasional.
Kalau stressingnya ke media lokal, angkatlah cerita yang issuenya sedang hangat di daerah.
Dua, jangan pernah menunggu.
Artinya, tulis, kirim, tulis, kirim.. tapi tetap mengutamakan konten ya
Selain memperhatikan isi, tim redaksi juga terkadang mempertimbangkan kesungguhan dan kekonsisten an penulis.
Ketiga, untuk awal, coba fokus di satu atau dua media dulu.

Sara : Media lokal sm nasional ngaruh g sih mb, mana yg lbh gampang "ditembus"?
Fitri : Jadi begini. Tingkat seleksi di koran nasional luar biasa ketatnya.
Sementara, koran lokal tidak sampai segitu. Satu hari bisa ratusan email yang masuk. Koran lokal, walaupun tetap berusaha objektif, tetap mempertimbangkan kearifan lokal dengan mendahulukan penulis dari daerahnya. Ini tentu memberi peluang yang sangat baik bagi penulis2 baru

2⃣cerita untuk anak usia 10 tahun ke atas yang ditulis oleh orang dewasa dan penulis kecil seperti buku2 yg diterbitkan KKPK (kecil-kecil punya karya), mana yg lebih dilirik oleh anak2? -sara, IIP Kaltim-

Hmmmm... tergantung kontennya mbak. KKPK biasanya memunculkan cerita dengan banyak dialog ala anak2...Saya pribadi sangat kagum dengan mereka..Hanya butuh sedikit polesan agar tulisan anak2 hebat itu bisa lebih cetar. Semisal memunculkan narasi yang agak detail walau tak harus panjanh
Kalau orang dewasa yang menulis buku dengan segmen 10 tahun ke atas, biasanya mereka lebih matang dan seru. Mungkin karena pengalaman saja...Intinya, balik lagi ke konten dan selera yang bervariasi. Anak laki2 saya yang berusia 12 thn lebih kagum ke cerita2 petualangan yang ditulis oleh orang dewasa, semisal ulyses moore.

3⃣Apa ada rumus yang mudah untuk mengembangkan ide menjadi sebuah cerita? -Nita, IIP 03-

Mbak Nita.. rumusnya sederhana, menyelamlah di dunia mereka
Jadi, Mbak Nita. Ide yang sudah kita punya, dicatat. Kalau ada ide lagi, catat. Walaupun hanya sebaris2. Setelah diinventarisir, pilih mana yang lebih easy digarap terlebih dahulu. Kalau saya biasanya ngobrol sama anak2. Ide mereka biasanya liar dan lucu2..

4⃣Sepertinya peran ilustrator jg berperan penting pd cernak. Bagaimana cara memilih ilustrator yg baik? -Nita, IIP 03-

Mbak Nita. Memilih ilustrator yang baik biasanya saya melancong ke beberapa komunitas, salah satunya komunitas penulis bacaan anak di facebook. Di sana kita akan dapat banyak info serta teman penulis dan ilustrator.

5⃣ Bagaimana cara mengetahui bahwa cerita kita berkualitas dan disukai anak2? -Kania- IIP 01

Untuk mengetahui apakah cerita kita berkwalitas atau tidak, disukai anak atau tidak, ya kita kudu survey.
Dan jangan lupa.. menjaga hubungan baik dengan penerbit dan editor
Penerbit sangat selektif memilih naskah. Kalau bagus tapi diperkirakan kurang mendapat respon positif di pasaran, ya penerbit juga tak berani..

6⃣Do sama do not nya menulis cerita anak tuh apa aja ya? -Efi-

Mbak Efi. Do nya adalah menulis dengan bahasa mereka. Do notnya antara lain hindari bahasa menggurui. Biarkan mereka mengambil hikmah dari isi cerita. Kecuali memang bukunya berdesain seperti itu. Semisal buku mbak watiek yang ada *mutiara hikmah*nya.. demikian diantaranya, Mbak Efi.... 😊

7⃣ Adakah referensi buku yg bisa mjd patokan u/ menulis cerita anak? -kania- IIP 01

Mbak Kania.. penulis buku anak kita keren2. Salah satu buktinya adalah waktu di IBF Frankfurt kemaren, banyak sekali buku2 kita yang diminta untuk dialihbahasakan. MasyaAllah
Buku2 dari dian kristiani, watiek ideo, tethy ezokanzo, ali muakhir, bambang irwanto, ary nilandari dan banyak lainnya, adalah buku2 yang sangat saya rekomendasikan

8⃣ Sy suka bhs inggris jd klo menulis bhs ing tuh PD walau blm sempurna, ketika akan menulis dgn bhs Indonesia aga gagap gtu... Adakah saran u/ saya Mba Fitri untuk menulis cerita anak. Terimakasih -kania-IIP 01

Difokusin dulu ke bahasa indonesia. Kecuali memang stressingnya bilingual, hehee. Begitu, Mbak Kania.. 😀

9⃣ Untuk trend buku untuk anak-anak, adakah rekomendasi bentuk buku yg banyak diincar saat ini?
Apakah buku yang mengutamakan interaksi dgn pembaca atau cukup buku cerita satu arah (Bunda Mirelito)

Bunda Mirelito, buku anak untuk usia berapa?
Kalau usia pra 8 tahun, pictbook masih tetap nomor satu.
Setelah 8 tahun, ilustratedbook masih sangat diminati. Memilih buku anak merupakan kolaborasi antara kemauan anak dan pemegang saham (orangtua), hehehe. Jadi bukan saja yang eyecatching tapi wajib yang memiliki nilai edukasi..Semisal buku tentang sunnah, sahabat nabi,para pejuang Dsb
Untuk anak usia smp or pra remaja, buku kerajinan tangan mulai dilirik.

Terimakasih semua. Salam semangat Bismillah, yaa.. 😍😍😍

Jikalau ada yang bikin tulisan, tolong saya ditag yaa.. terimakasih semuaa.. 😍😍

Wassalam... thanks all... smart moms...

Rumah Belajar Menulis

0 comments:

Posting Komentar