02/11/16

Review dan Tanya Jawab seputar NHW #2






CHECKLIST PEREMPUAN PROFESIONAL

Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan "rasa" berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah  yang mengatakan "Ojo kalah karo wegah" (Jangan mau kalah dengan rasa malas).  Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.

Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

KOMITMEN DAN KONSISTEN

Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.

Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun “DEEP HABIT” yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.

Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas  “Shallow Work”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.

Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam “shallow activities”, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.

Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu, meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, Sehinga bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori “SHALLOW WORK” menjadi “DEEP WORK” (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).

Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :

1.Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat "akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah" akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.

2.Apakah kalimat-kalimat di checklist  sudah terukur? misal "Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga", akan lebih baik kalau diganti dengan " Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga"

3.Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.

Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.

Kembali ke istilah jawa ini namanya "gayuk...gayuk tuna" (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)

4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.

5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai November 2016.
Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya.
Silakan teman-teman  lihat  kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.

Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari.
Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.

Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :
Deep Work, Cal Newport, E book, akses 30 Oktober 2016.
Materi “MENJADI IBU PROFESIONAL” program Matrikulasi IIP, batch #2, 2016
Hasil Nice Home Work #2, peserta program Matrikulasi IIP batch #2, 2016




Tanya Jawab:

1. Tanya: Sampai sekarang saya masih belum konsisten untuk waktu..di indikator saya komitnen dengan " pergi Dan pulang kerja harus on time" karena selama ini saya pulang kerja tidak pernah tepat waktu,molor  1 sampai 2 jam karena berbagai alasan,contoh ketika selesai mengajar saya beberes untuk pulang tiba2 datang Mahasiswa minta bimbingan (tugas akhir) beberapa diantara Mahasiswa dosen pembimbing nya bukan saya dan saya sudah membuat jadwal konsultasi bimbingan.tak jarang jg mereka ngotot  & memohon buat konsul hari itu jg dan ada pula Mahasiswa mengajak ngobrol tentang mata kuliah..Dan hal seperti itu sering sekali terjadi..dengan kasus seperti ini apa yg harus saya lakukan agar saya bisa konsisten dengan waktu Dan tidak membuat Mahasiswa tsb kecewa.karena suami srg berpesan pulang nya hrs on time.  Terima kasih (icha)

Jawab: Keraslah pada diri sendiri maka lingkungan akan melunak, jangan terbalik
mba icha harus mulai menetapkan kapan akan konsisten dg checklistnya.
tantangan di awal akan banyak menuai kritik tetaplah konsisten. Lambat laun orang2 akan beradaptasi dg ritme kerja yg mba icha buat

2. Tanya: Setelah kita membuat check list indikator profesionalisme sebagai istri dan ibu,apakah perlu membuat check list indikator kita sebagai anak krna kita tinggal bersama orang tua. Terima kasih (Nana)

Jawab: Checklist indikator dibuat sesuai kebutuhan mba. jika dirasa mba nana butuh checklist indikator sebagai anak silakan dibuat. Hal terpenting adalah semua checklist tsb dikerjakan

3. Tanya: Saya tipe pribadi yg perfeksionis dlm waktu dan kerapihan. Mungkin secara tidak sengaja menjadi over krn sejarah hidup yang dituntut mandiri sejak lulus SMP dan saat masih bekerja juga jadi bagian quality department& project yg mengharuskan semua hal detail, tepat waktu dan sesuai.
Setelah 3thn berhenti bekerja. Sikap ini msh terbawa d kehidupan sehari hari. Awalnya sangat super stress lihat rumah berantakan krn mainan anak2. Hal sekecil itu bs membuat saya stress saat sore banyak hal yg belum saya selesaikan. Krn target saya saat suami pulang semua sudah kembalibrapi, anak2 sdh mandi, dll.
Meski suami sendiri sudah membantu dan memberikan pernyataan "ayah sih gpp rmh berantakan yg penting mama gak stress sm urusan rmh"

Berdasarkan hal tsb. Bagaimana cara agar saya tetap bs menjalani cheklist saya tanpa rasa beban krn sikap saya sendiri.
Terima kasih (Naomi Shintia)

Jawab: Seperti penjelasan review materi di atas sudah dijabarkan, checklist indikator dibuat bertahap,sedikit demi sedikit. terukur dengan kemampuan diri dan saya tambahkan turunkan "standar" diri

Stress yg mba naomi rasakan bisa jadi karna "standar" kerapihan yg masih tinggi

semoga membantu ya mba

Tanya: Mba untuk menurunkan "standar" diri. Saat ini saya sdh lebih santai menghadapi hal2 yg tdk sesuai jadwal yg saya buat sendiri.

Tambahan pertanyaan nih mba. Adakah tips atau trik untuk "berdamai" dgn diri sendiri saat kita merasa ada yg tdk sesuai dgn apa yg kita harapkan?

Jawab: Hanya dengan legowo mba, ikhlas menerima semuanya. memaafkan segala kesalahan, kebencian, sakit hati kita di masa lalu. maafkan mba.. demi anak2 kita

karena anak2 berhak mendapatkan sosok ibu yg sehat secara jasmani dan rohani

lebih intens kepada Allah SWT, perbanyak dzikir, membaca al-qur'an

4. Tanya: Anak saya baru 1,usia 5.5thn... selama setahun ini saya menerapkan selalu berusaha full bercengkrama (main,belajar,beberes) dg anak dr tiba di rumah sepulang kerja sekitar jam 17.30 s.d. anak tidur...namun terkadang saat sy capek bgt atau ngantuk bgt saya kasih anak tontonan dvd atau hp (youtube) kemudian saya tinggal tidur duluan. bagaimana ya cara menyikapi kondisi ini, krn tontonan di youtube pun sedikit2 bikin anak ketagihan.
Terimakasih (Shanty)

Jawab: Libatkan peran pasangan, Saat mba shanty capek ga ada salahnya minta bantuan kepada suami utk menemani anak bermain malam itu.

untuk gadget memang hrs dibatasi, jika orang dewasa pun hrs ada "gadget hours" apalagi pada balita

Tanya: lo kondisinya , suami sedang keluar kota atau malem2 sedang sibuk bikin presentasi kerjanya hingga tdk bisa menggantikan bagaimana?

Jawab: Bisa dipilihkan buku, atau barang yg disukai anak sperti boneka atau mobil2an utk menemaninya bermain mba..

Hindari penggunaan gadget tanpa pendampingan ya mba.. krna konten di yutub kadang ada yg tak layak utk dilihat anak

5. Tanya: Bagaimana cara kita menjembatani pemikiran kita dg orang tua mbak, dmn kita pun punya prioritas pekerjaan yg kita lakukan dalam proses utk peningkatan dan perbaikan kualitas diri,,kebetulan saya msh single dan bru lulus kuliah thn kmrn,,
Syukron. (syaroh)

Jawab: Saya yakin stiap orangtua slalu menginginkan kebaikan utk anak2nya, saran saya coba diskusikan baik2 cari solusi dari setiap perbedaan pandangan.
sambil berjalannya waktu mba syaroh buktikan komitmen yg sudah mba pilih dg penuh tanggungjawab. insyAllah orangtua akan mendukung selama yg mba jalankan bermanfaat

Bagaimanapun orangtua butuh pembuktian

6. Tanya: Untuk kata2 larangan sebelumnya saya sudah tau bahwa tdk boleh menggunakan kata "jangan" jadi skrg semua kata "jangan" saya ganti menjadi "tidak boleh"

Ternyata dari jawaban bu septi semalam kata tdk boleh, jangan, awas - tdk boleh digunakan juga.
Utk mensiasati nya gimana yaa..
Masih suka keceplosan.. (Ruyanti)

Jawab: Perlu latihan pastinya, komitmen dan konsistensi yg betul2.

Bisa dibuat seperti master mind mba yanti, minggu ini ingin memperbaiki hal tsb lalu beri batas waktu. di evaluasi sudah berhasilkan minggu depannya?

jika belum berhasil, jangan patah semangat terus dilatih dan berusaha semaksimal mungkin

7. Tanya: Sebelum menikah saya terbiasa hidup "keras" krn ayah saya sdh meninggal sejak saya bru lulu sma dan semoat menjadi tulang punggung keluarga....

Hal ini terbawa pada pola asuh saya ke anak2 pada awal2 saya menjadi ibu... walo demikian semakin kesini saya semakin sadar dan mau belajar menjadi ibu yg lebih baik... tapi... anak saya yg pertama sptnya sdh merasakan "dampak marah2" saya...
(Kadang dia gampang marah n sensitif thd teman2 n guru2nya di tk)

Bagaimana  cara menghilangkan atau mengobati dampak tersebut?  (Osi)

Jawab: Subhanallah.. mba osi klo dekat rasanya pengen peluk

Mba harus bisa berdamai dg masa lalu mba terlebih dahulu. Buang semua emosi negatif dalam diri, bersihkan hati supaya kehidupan yang mba jalani sekarang lebih ringan.

Jangan lupa, lebih mendekatkan diri pada Allah SWT agar semuanya dimudahkan dan mba menjadi ibu yg lebih baik lagi

Tanya: Peluk balik mba uut... iya mba.. jazakillah khoyron sdh  mengingatkan.. makanya saya jg seneng bgt nih ada iip..mungkin ini salah 1 jalan atau jawaban dr  Allah subhahuwata'ala utm saya memperbaiki diri....

Tapi yg msh mengganjal mba... bagaimana memperbaiki dampak pada anak atas diri kita yg dulu yah mba...? Alhamdulillah blm sampai Blast ( yg boring lonely anger s (lupa) tired ) tp mmg klo lg sensi spt kesenggol temen saat dia cape ato gak mood.. biar tantrum n nangis gede kata gurunya...

Di rumah jg gtu sih... kadang klo moodnya bagus dibilangin baik2 nurut.. tp klo gak.. dibilangin baik2 pun lsg sensi... ntr biasa aku diemin...

Aku bilang.. "kaka marah yah? kalo marahnya udah reda ngomong yg jelas pelan2 sama ummi yah...) ".. biasabya tetep nangis... tp ntr diem sendiri... klo ditanya "knp nangis sih? Kan ummi gak marah..." nanti dia  blg... "aku cuma sedihh aja mi... mau nangis..."

Nah.. gtu itu tuh msh dlm batas aman gak yah mba?

Jawab: Mba osi.. utk yg sudah terlanjur mohon ampun saja kepada Allah SWT, mba juga minta maaf kepada si anak karna pasti pernah menyakitinya tanpa sadar.

Bersungguh2 utk berubah, dan meninggalkan sedikit demi sedikit hal negatif dalam diri.

Setelah itu banyak memperbaiki diri, menjaga keistiqomahan utk hal positif dan biarkan Allah yang menjaga anak dan keluarga kita

8. Tanya: Kalo lagi di luar rumah anak sy laki2 umur 5th jika sudah menginkan sesuatu yang sering mainan, dia akan nangis maksa mau beli, sampe sy nya dipukul dan dicubit kadang di gigit malah😰
sudah sy coba ksih pengertian kalo mau beli di hari ini ya harga yg segini ya....dr rumah bilang nya iya ga beli tp didpn tukang dagang nya beda

kalo perginya ma suami beliau dgn sabar bisa ngerem keinginan anak kasih penjelasan tp bituh wkt lama...
kalo sy ga sabaran udah dikasih tau ga mau st gendong bw pulang...sampe rumah diem dan udah lupa ga minta itu lagi..
yg sy tanyain bagaimana membuat anak mau mengerti dan sy bs tetep sabar..
makasih (yuni)

Jawab: Sebelum bepergian buat kesepakatan ttg aturan apa yg boleh dan apa yg tidak boleh secara jelas. 

Bersikap tegaslah utk hal yg sudah disepakati, tidak melonggarkan apa yg menjadi aturan slama perjalanan tsb. anak2 harus diajarkan disiplin secara bertahap, termasuk disiplin mentaati aturan yg sudah disepakati bersama

9. Tanya: Gimana caranya agar tetep bisa istiqomah ketika mendidik anak dan mengembangkan diri karena saya tinggal berhadapan dengan mertua serta banyak mendapat kritikan yang sering membuat down. Terima kasih mba

Jawab: Anak2 adalah tanggungjawab kita sampai di akhirat, istiqomahlah sesuai tuntunan Al- qur'an dan hadits.

sedang utk kritikan yg masuk, jadikan cambukan ke arah positif. Selalu membuka diri utk berdiskusi dg mertua dan fokus pada solusi bukan pada masalah



0 comments:

Posting Komentar