27/11/16

Matrikulasi Batch#2 Sesi 6: Ibu Manajer Keluarga Handal





Hari : Selasa,22 Nov 2016
pukul : 20.00-21.00
Oleh : Utami
Peresume: Sri wahyuni

IBU MANAJER KELUARGA HANDAL

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu
kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?
- Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?
- Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
- Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
- Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
- Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
- Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Ibu Manajer Keluarga

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita

Saya Manager Keluarga

kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

- Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.
- Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi
- Buatlah skala prioritas
- Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

b.ONE BITE AT A TIME
Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. DELEGATING
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_

Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih

SEKEDAR MENJADI IBU

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

- Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.
 Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.

- Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.
Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

- Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.
 Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.
 Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

- Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

 Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

 Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata
BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN:

Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015

Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016

Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009





Tanya-Jawab

1. Tanya: Bagaimana sih mbak membagi perhatian dengan anak yang lebih dari satu, misal ja dwal tidur kakak adek berbeda, saat adeknya baru bangun, si kakak malah mau tidur, itupun minta ditemenin saya, dan karena nggak mau diganggu si adek, adek jadi saya titipin sama asisten, contoh lain saat kakak belajar atau mengaji, klo ada adek kakak jadi nggak fokus, jadinya adek dititipin lagi sama orang lain, mungkin ada saran atau pengalaman yang lain? Trimakasih (Tata)

Jawab: Pengalaman saya, selalu melibatkan sulung utk kegiatan apapun di rumah. Jika perhatiannya cukup, biasanya lbh mudah diajak kompromi utk berbagi waktu dg si adik.
Hasilnya anak yg lbh besar justru akan sangat membantu saat saya sedang sibuk dg urusan diluar kepentingan mereka
Untuk perihal asisten, mohon maaf saya tidak punya pengalaman sama sekali.mungkin bisa dipraktekkan poin delegating

2. Tanya:
a.bagimana cara mengatasi ketika kita sedang turun semangatnya atau ketika kita jenuh, terlebih jika kondisi fisik yang lelah membuat kita jadi bt mengerjakan pekerjaan rumah tangga
b.bagaimana mengelola emosi ketika ada masalah,karena ketika ada masalah misal sama suami atau sama mertua kadang jadi membuat malas melakukan pekerjaan rumah,bahkan anak suka jadi korbannya (Mery)

Jawab:
a. Atur ulang jadual hariannya. Buat variasi aktivitas, selipkan hobby di sela2 kesibukan
b. Yang perlu disadari, kewarasan selalu dibutuhkan oleh seorang IRT. Jika dirasa masalah dg suami dan mertua akan berimbas ke anak, maka sebaiknya kita sbg ibu mulai atur strategi cara penyaluran emosi yg elegan.
contohnya apa? silakan dibuat gaya masing2

3. Tanya: Apakah memang setiap pekerjaan Rumah tangga hrs didelegasikan kepada orang lain/anak? sebab kadang kita terkendala adanya ART yg tidak amanah/ada bbrp Rumah tangga yg memang tidak ada kelebihan dana utk membayar ART sehingga urusan RT  mau tidak mau hrs kita kerjakan sendiri (sedikit bantuan dr suami),sedangkan anak2 baru bisa sebatas tugas2 ringan yang bisa diberikan,blm bisa yg berat2 krn usianya masih 4 th & 8 th. Bagaimanakah utk kondisi tsb,seorang ibu tetap bisa bertindak sebagai manager? (syuchrisyanti)

Jawab: Saya termasuk yg tidak berART dari awal. Anak2 saya ajarkan kemandirian,supaya beban pekerjaan rumah saya sedikit berkurang. Lalu mempraktekkan ilmu 7 to 7, belajar mengatur menu 10harian dan beberapa ilmu di buku bunda cekatan. Berjalannya waktu mulai bisa mengatur ritme keseharian walau tanpa ART dg 3 anak
Semoga membantu jawaban saya

4. Tanya:
a. Bagaimana cara mensikapi, misalnya kita sudah melakukan prosedur put first thing first, lalu one bite at a time.. seringkali apa yg dilakukan tidak sesuai target baik dr sisi waktu, atau apa yg diharapkan utk tercapai ?
b. Acapkali hal tsb berpengaruh pd semangat utk melakukan hal berikutnya.. krn kembali tidak sesuai dg yg diharapkan. Bgmn tipsnya utk membooster kembali semangat kita ?
c. Salah satu cara yg saya lakukan utk menambah wawasan adalah dg  membaca tulisan pengalaman orang lain. Tapi masalahnya pd pernah pd satu titik keingintahuan itu alih2 menambah semangat tp malah membuat down krn merasa diri tidak bisa melakukan spt apa yg sdh dibaca. Bagaimana ya mba cara yg bisa dilakukan jika hal tsb terjadi.
Terima kasih (Diah)

Jawab:
a. Mulailah dari hal yg kecil, sederhana dan sedikit demi sedikit. Buat sesuai kemampuan, tidak membandingkan kita dg orang lain tapi bandingkan keadaan kita bulan ini dg bulan depan supaya terlihat perubahannya
b. Buat reward yg kita inginkan, jika ini tidak berhasil maka lakukan hobby di sela kesibukan supaya mood harian kita naik dg sendirinya dan akan terbawa di hari tsb
c. Jawabannya sama dg jawaban diatas, Tidak membandingkan diri kita dg orang lain TAPI bandingkan kondisi kita bulan ini dg bulan depan "adakah perbaikan?"
Di poin ini mba diah baru bisa merenung, sudah seberapa jauh perubahan yg dicapai.
Silakan ATM dari orang2 hebat tapi tetap mengukur kemampuan diri sendiri

5. Tanya: Mba ressy dan mba uut, pekerjaan rumah rasanya gak ada selesainya. Bagaimana caranya agar bisa meluangkan waktu untuk belajar mengembangkan diri dan mendampingi
anak dengan optimal? (Mutia)

Jawab: Dalam buku bunda cekatan diajarkan utk dapat mengelompokkan aktivitas keseharian menjadi 7 to 7. Lakukan aktivitas mendampingi anak dan pengembangan diri stelah jam 7 pagi sampai jam 7 malam. Gimana detailnya? silakan dibaca buku bunda cekatan ya mba mutia

6. Tanya: Bismillaah...Mba bagaimana caranya mengendalikan emosi,
Ketika banyak kerjaan rumah tangga yg akan d kerjakan, tiba-tiba suami nyeletuk suatu kalimat yg buat kesal? Padahal maksudnya mw bercanda dgn istri spy tidak terlalu serius. Sy tipe perfeksionis, ingin segala sesuatunya sempurna hanya saja kl tidak sesuai dengan keinginan sy merasa kecewa, gagal, tidak bisa.
Alhamdulillah stelah bljar parenting dalam mendidik anak-anak lbih sabar udah jarang kesel, tp kl sama suami kadang masih kurang sabar, knapa ya sekesel-keselnya sama anak lebih kesel sama suami.
Padahal tahu, surganya istri ada pada suaminya. (Siti sadiah)

Jawab: Jika ada masalah dg suami, segera selesaikan secepatnya mba siti supaya tidak menumpuk. Pelajari bagaimana membangun komunikasi produktif dg pasangan di buku bunda sayang. Lalu temukan sebabnya, baru cari solusinya bersama2

7. Tanya: Kl sulung justru merasa 'Kok aku terus siy'
Gmn tuh?

Jawab: Kita bahas diatas konteksnya "ketika kerepotan beda ritme aktivitas harian" bukan konteks "menyuruh sulung berbuat suatu perintah dari kita"

8. Tanya: One bite at a time takes time
Disaat kita sedang berproses tiba" ada komen (trutama kluarga dekat) yg bikin emosi jiwa membuncah
Pdhl niat diri tdk membanding"an dg org lain tp mereka yg membandingkan
Gmn menyampaikan pd mereka utk tdk membandingkan kita & jelaskan kl kita ini sedang berproses? (Yana)

Jawab: Sampaikan bahwa kita ingin berubah kei arah yg lbh baik, mohon pengertiannya kalo itu memerlukan waktu dan butuh dukungan dari orang2 terdekat


(Tambahan) Septi Peni Wulandani:

1. Mbak Prima, tetapkan prioritas terlebih dahulu, dan lakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Saya berikan contoh yg saya lakukan saat enes ara kecil ( jarak mereka 15 bln) dan saya tanpa ART
Saya komunikasikan dulu ke pak dodik, mana kondisi dari ketiga hal ini yg paling membuat pak dodik bahagia, silakan diurutkan.

1. Anak terurus dengan sangat baik
2. Makanan terhidangkan fresh dari tangan saya
3. Rumah rapi

Ternyata pak dodik memilih urutan 1 3 2 akhirnya saya minta waktu per 3 bulanan unt bisa belajar setahap demi setahap dan satu persatu, sampai 3 kompetensi dasar tsb bisa saya penuhi kemampuan minimalnya.

Saya tambahkan sedikit. Tahapannya ya yg sdh pernah saya lakukan.
Pak Dodik itu tipe suami yg ingin rumahnya rapi terus.
Waktu itu saya berikan pilihan, karena saya bukan wonder woman
Beliau pilih anak diurutan pertama
Tapi setiap jam 7 malam rumah rapi ya ( krn pak dodik waktu itu pulang kantor jam 7)
Saya penuhi hal tsb selama 3 bulan pertama

Setelah 3 bulan kedua, saya perpanjang jam rapi rumah demikian seterusnya, sampai 3 kompetensi dasar bisa terpenuhi semua. Kalau tidak bisa semua, kembali ke yg utama dan pertama.
Maka pahami kemampuan diri kita, komunikasikan dg orang sekeliling kita, terurama yg masuk di lingkaran 1 kita.
selanjutnya ke pertanyaan apakah pernah gagal?, Sering
karena dulu nggak pernah bikin jadwal harian

2. Mbak Ratna, yg perlu diingat dalam menambah jam terbang adalah "kesungguhan praktek" tidak hanya "sekedar praktek".

Shg apabila kita 1-3 jam saja bersungguh-sungguh mengamati perkembangan anak kita. Bermain dg mereka shg bisa menambah  kompetensi kita sebagai ibu, karena kita menjalankan peran kita sbg ibu, maka sdh masuk hitungan jam terbang.

Karena ada ibu yg bersama anaknya full berjam-jam tapi tidak menjalankan peran keibuannya.
Jadwal yang kita buat harian itu dalam rangka kita melihat " track" kita hari ini.
Maka ketika anak kita menjadi prioritas utama, usahakan jadwal kita yg menyesuaikan mereka.
Kemudian di sela waktu longgar kita, kembqli ke jadwal yg sdh kita susun.
Itu baru namanya flexible. Seperti lingkaran karet, ketika tracknya melingkar dg diameter tertentu, bisa kita regangkan dg diameter di luar track, tetapi habis itu bisa kembali lagi ke track semula.

Berbeda dengan lingkaran kawat, apabila kita bentangkan di luar track, tdk serta merta kembali ke bentuk semula. Bentuknya akan berubah dari track awal.
Semoga analog ini dipahami
Ini yg kadang kita banyak misspersepsi,
"Mengapa harus buat jadwal, jadi orang itu yg flexible saja"
Apa yg dimaksud dg flexible?
Biasanya banyak yg menjawab :
" santai, mengalir tanpa rencana" dan yg sejenis.

Fleksibilitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja dengan efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan berbagai individu atau kelompok.
Kalau kemampuan itu kita lakukan tanpa kita punya ROAD MAP hidup, tanpa jadwal kegiatan penting hari ini, terlihat bahwa kita TIDAK PUNYA TRACK YANG BENAR,
maka pasti hidup kita berantakan, mudah terbawa arus kemana angin berhembus.



0 comments:

Posting Komentar