29/10/16

Nice HomeWork #2 ~ Matrikulasi IIP Bekasi Batch 2


Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
- SPECIFIK (unik/detil)
- MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
- REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
- TIMEBOND ( Berikan batas waktu)





CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN

a. Sebagai individu
*Harian (Weekdays):
- Shalat wajib 5 waktu dan sunnah lebih tepat waktu selama 1 jam 30 menit 
- Membaca Quran dan terjemahannya selama 30 menit
- Jogging/Fitness untuk kebugaran tubuh selama 30 menit
- Makan pagi, siang, sore & snack selama 1 jam
- Couple/family/me time selama 2 jam 30 menit. Me Time dilakukan setelah anak tidur yaitu menulis di blog sebagai sarana self-healing, belajar dan mencari informasi dengan browsing internet dan medsos, serta relaksasi dengan menonton Asian drama
- Membaca buku atau e-book selama 1 jam
- Chat dengan grup via whatsapp selama 1 jam
- Tidur siang dan malam selama 6 jam

b. Sebagai istri
- Mandi & perawatan wajah serta tubuh selama 30 menit
- Menyiapkan berangkat kantor selama 15 menit
- Menyiapkan pulang kantor selama 15 menit
- Pillow Talk selama 30 menit

c. Sebagai ibu
- Mencuci pakaian di mesin bisa disambi dengan merapihkan tempat tidur, menyapu, mengepel, cuci piring, menyiram tanaman, membersihkan teras dan terakhir menjemur pakaian selama 1 jam 30 menit
- Masak minimal one day one menu selama 1 jam
- Menyiapkan bekal dan antar jemput sekolah anak selama 1 jam 30 menit
- Mendampingi bermain, membacakan buku, outdoor activity bersama anak selama 3 jam 30 menit
- Menulis journal dan merapihkan portofolio anak & print bahan kegiatan selama 15 menit
- Mencatat laporan pengeluaran & jurnal syukur selama 15 menit
- Mengajar anak Iqro & Muraja’ah selama 30 menit

*Mingguan (Weekdays/Weekend):
- Menghadiri kajian di masjid seminggu sekali selama 2 jam
- Menjenguk orangtua selama 2 jam
- Perawatan wajah selama 1 jam

*Bulanan (Weekdays/Weekend):
- Menghadiri kajian di masjid sekolah 1 kali dalam satu bulan
- Menghadiri seminar & pelatihan parenting 1-3 kali dalam satu bulan 
- Kopdar komunitas atau panitia EO 1 kali dalam 1-2 bulan

*Keterangan waktu diatas adalah total waktu secara keseluruhan

Checklist tersebut sebenarnya sudah saya buat jadwalnya di awal tahun 2016 berupa Daily Schedule, namun pada pelaksanannya hanya beberapa yang sudah diterapkan secara konsisten. Kemudian manajemen waktu masih ada yang tidak sesuai harapan dan ada juga beberapa hal yang terlewatkan. Oleh karena itu, saya lakukan penyesuaian sesuai dengan kemampuan dan keadaan.

Sebagai individu, banyak hal-hal yang ingin saya terapkan kembali secara konsisten terutama dalam hal-hal ibadah sunnah dan berolahraga. Me time juga sangat penting bagi saya untuk menghindari kejenuhan dan kebosanan di dalam rumah jadi bisa tetap menjaga kewarasan dalam mengasuh anak. Kebetulan saya termasuk yang suka berada di rumah, jadi saya lebih suka membaca buku, menulis random di buku atau laptop dan menonton daripada menghabiskan waktu di luar rumah (kecuali weekend, saya semangat kalau jalan-jalan bersama keluarga hehehe…). Setelah dirinci, ternyata alokasi waktu individu sebagai indikator menuju ibu profesional menurut versi saya adalah 8 jam diluar waktu kebutuhan untuk tidur siang dan malam.  

Sebagai istri, tentunya saya wajib menyiapkan keperluan suami dan tampil cantik dan wangi di depannya. Untuk itu, saya menghindari menggunakan daster dan sebisa mungkin sudah mandi sebelum suami berangkat walau dalam kenyataannya masih belum konsisten hehehe… Menurut saya, yang paling penting adalah pillow talk karena komunikasi suami istri adalah hal utama dalam pernikahan. Tidak perlu waktu lama, karena laki-laki memang tidak terlalu suka banyak bicara cukup 30 menit dan sebelumnya biarkan suami istirahat dulu sejenak setelah pulang bekerja. Alokasi waktu sebagai istri menuju ibu profesional versi saya ternyata sangat sedikit sekali saat weekdays yaitu hanya 1,5 jam. Oleh karena itu, saya manfaatkan waktu weekend untuk quality time bersama suami dan anak-anak.          

Sejak sebulan terakhir, saya berhenti menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga (ART) dan mengerjakan morning chores bersama anak kecuali khusus hanya untuk setrika saya masih memakai jasa ART. Pada awalnya memang berat karena tidak mudah mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengurus 2 anak. Kelelahan kadang membuat emosi tidak stabil dan inilah yang saya khawatirkan karena bisa berpengaruh terhadap pengendalian emosi. Namun, family teamwork yang membantu saya meringankan pekerjaan tersebut, masing-masing anak sudah bisa saya delegasikan tugas yang mudah dengan maksud melatih kemandirian dan menyiapkan keperluannya sendiri seperti membereskan tempat tidur sendiri, mencuci piring bekas makan sendiri, menyiapkan bekal sederhana seperti roti, membersihkan sisa makanan mereka sehabis makan dan membereskan mainannya sendiri.

Sesekali mereka membantu saya memasak walau hanya mengupas kentang atau memotong wortel dengan pisau roti dan membantu menyapu tempat bermain mereka sendiri atau mengepel, mungkin bagi mereka itu seperti permainan karena model pel yang bisa berputar-putar di embernya jika ditekan. Tapi, ini bukan kewajiban mereka, jadi saya tidak memaksakan hal-hal tersebut dan sudah menurunkan standar kerapihan. Anak-anak juga merasa bahwa mereka bahagia hanya dengan ditemani bermain dan dibacakan buku-buku.

Sebagai ibu profesional, kita juga perlu meng-upgrade diri kita dengan mengikuti kajian dan seminar serta pelatihan. Saya selalu mengingat bahwa anak saya akan hidup di zaman yang berbeda dengan saya dan sangat sedikit ilmu yang saya miliki untuk mengasuh mereka dengan baik dan benar. Saya juga harus banyak membuka wawasan dan pengetahuan untuk mengimbangi pasangan saya dan beradaptasi dengan keadaan. Alasan itulah yang membuat saya ingin belajar dan terus menimba ilmu supaya saya tidak ketinggalan jauh di belakang. Setelah dirinci, alokasi waktu sebagai ibu menurut versi saya adalah 8,5 jam.

Untuk saat ini mungkin kontribusi saya terhadap masyarakat terasa masih sangat kurang karena sangat sulit untuk meninggalkan anak-anak terlalu lama kecuali untuk kopdar komunitas dan sebagai panitia acara, itupun sangat saya batasi. Jadi saat ini prioritas saya untuk keluarga sehingga jangan sampai bagus diluar, namun ternyata bobrok di dalam. Mungkin nanti ketika anak-anak sudah tumbuh cukup besar, saya lebih dapat berkontribusi terhadap masyarakat sekitar yaitu ingin sekali mendirikan perpustakaan dan rumah baca. Semoga tercapai!





0 comments:

Posting Komentar