Jumat, 21 Oktober 2016

Seminar Parenting: Membangun Keluarga Tangguh melalui Komunikasi Harmonis dengan Pasangan oleh Elly Risman (Part I)







                Setiap seminar yang saya ikuti selama ini selalu hadir sendirian, belum pernah bersama suami karena harus bergantian menjaga anak-anak. Sejak resign, saya memang jarang menitipkan anak-anak ke rumah orang tua saya walaupun jarak rumah kami lumayan dekat kecuali memang ada keperluan yang mendesak atau ketika saya mengikuti seminar di hari suami bekerja. Pertimbangannya karena orang tua kami sudah cukup lama menjaga cucunya selama saya bekerja sejak saya menikah hingga anak saya berumur 2,5 tahun. Mereka juga sudah cukup lelah menjaga dua anak saya yang seringnya hilir mudik kesana kemari, biarlah mereka fokus dalam menjalankan ibadah di masa tuanya. Tapi, kali ini berbeda karena seminar ini harus dan wajib dihadiri berpasangan suami istri supaya masing-masing saling mengetahui cara komunikasi yang baik, jadi mau tidak mau kita harus menitipkan anak-anak di rumah orang tua. Lalu masalah lain juga menghadang, suami sedang sakit, darah tingginya kumat karena terlalu lelah, tapi karena sudah dibayar (enggak mau rugi) jadilah suami ikut datang ke seminar dengan kepala berat (mudah-mudahan masih bisa menangkap isi bahasan seminar, maafkan ya dear!).

                Di seminar ini ketemu juga dengan teman satu grup di Yayasan kita dan buah hati, jadi saya minta tolong yang datang duluan untuk tempatin tempat duduk. Seperti biasa, di seminar bu Elly bagian depan kursi selalu penuh terisi, padahal kalau mau konsentrasi menyerap isi seminar, ya duduknya di depan karena bisa fokus mendengarkan. Ketemuan dengan 2 teman YKBH dan 2 teman sewaktu pelatihan KBBM yang hebat-hebat karena mereka termasuk salah satu yang sering ikut seminar di sana sini, keren banget deh mereka, bahkan teman yang ikut KBBM sudah ikut pelatihan DKS, padahal mau banget ikut tapi belum ada jadwalnya lagi. Karena seminar ini berlokasi di masjid Darussalam, Jatibening, sempat ada istirahat untuk sholat Zuhur, tetapi puas banget karena ilmunya luar biasa dan bisa mantengin sampai sesi tanya jawab. Biasanya pada seminar sebelum ini, saya jarang ikut sesi tanya jawab soalnya “The krucils” udah pengen makan atau yang lain-lain, tapi karena cuma berdua jadi bisa ikut sampai sesi terakhir hehe… lanjut ke bahasan isi seminar ya, mudah-mudahan enggak lupa dengan bahasannya dan tidak salah dalam menyampaikan isinya. 

Ketika kita menjalani pernikahan, ada banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan bayangan kita. Inilah yang dinamakan dengan harapan dan realitas. Tapi, terkadang harapan yang ada ternyata tidak sejalan dengan realitas yang ada. Mungkin banyak pasangan yang tidak menyadari bahwa perbedaan ini bisa menjadi masalah dalam rumah tangga apabila kita tidak menyikapinya dengan baik. Realita yang terjadi adalah:
- Kebutuhan suami istri berbeda, marah yang mencuat, selfish, narcist, menghakimi, mencap, merasakan sunyi di hati
- Suami istri tinggal bersama dalam satu rumah tapi berasal dari planet yang berbeda sehingga sulit untuk saling memahami
- Harapan yang timbul tenggelam antara suami istri

Perbedaan harapan dan realitas ini kadang membuat masing-masing terperangkap di hati sendiri, merasa tak ada pintu masuk atau jalan keluar, lalu seperti api dalam sekam sehingga semangat redup karena hati terluka dan merasa sendiri, akhirnya karena terkunci di hati sendiri membuat kita merasa sulit ditemukan dan diberi pertolongan.

Kemudian selanjutnya, para istri yang hadir telah diberi goodie bag di awal seminar yang isinya bunga mawar. Tadinya saya pikir hadiah dari panitia, ternyata oh ternyata kami, para suami istri berhadapan dan mawar tersebut disuruh Bu Elly untuk diberikan ke suami sambil mengungkapkan perasaan terima kasih karena telah mengorbankan watunya untuk hadir dalam seminar ini. Lucu banget deh sesi ini karena membuat kita jadi seneng dan otak jadi bisa menyerap lebih banyak, ucapan khas bu Elly banget deh.   

Ketika istri berbicara tentang harapannya kepada suami, ternyata suami merasa dikritik dan akhirnya malah bersitegang dan bertengkar. Pertengkaran tersebut menjadi saling merendahkan, menyalahkan, menjatuhkan dan mendiamkan. Ketika terjadi masalah, suami istri mencoba bertahan dengan harapan siapa tahu pasangan berubah, namun akibatnya iklim rumah tangga menjadi tidak nyaman. Masalah tersebut jika tidak diatasi bisa membawa kita memasuki fase krisis usia separuh baya seperti pakai sepatu yang didalamnya ada kerikil, lama-lama tidak tahan dan ingin dilepas atau diganti. Jika sepatu tersebut adalah pernikahan, apa yang akan terjadi? Untuk itu, perlu adanya komunikasi yang baik antara pasangan suami istri untuk melewati fase tersebut.  

Apa sih yang dirasakan ketika memasuki krisi usia paruh baya? Ketika memasuki usia separuh baya, maka beberapa wanita mulai mengalami menopause. Menopause pada wanita ditandai dengan perubahan fisik yaitu rambut beruban, kulit keriput, perubahan hormonal yaitu penurunan hormon estrogen dan progesteron, perubahan emosional dan perubahan persepsi. Jika kita tidak dapat melewatinya dengan baik, maka kita akan memasuki fase krisis usia paruh baya dan ternyata laki-laki pun mengalaminya, istilahnya hanya sedikit berbeda yaitu “Manopause” dimana beberapa diantaranya merasakan yang dinamakan “sandwich feeling” yaitu perasaan tertekan karena terhimpit keadaan.

Mengapa komunikasi pasangan penting? Karena iklim rumah itu menentukan:
- fondasi keluarga
- kesehatan pribadi
- kesehatan anggota keluarga
- cerminan kekuatan, kelemahan dan kesulitan perkawinan
- kelanjutan dan kepuasan hidup

Jadi, sangat besar kemungkinan jika pasangannya sering sakit-sakitan maka hal tersebut merupakan cerminan dari kondisi rumah tangganya.

Sistem limbik di bagian otak manusia merupakan bagian yang mengatur:
- Pusat perasaan/emosi
- Motivasi
- Memori
- Mendukung PFC dalam merasa kenikmatan kekinian
- Mengontrol sistem syaraf simpatik yaitu jantung, paru-paru, usus dan organ seks

Sistem limbik tidak didesain untuk menahan stres dalam waktu yang lama, terutama wanita sehingga akibatnya bisa koslet dan akhirnya bermasalah di jantung, paru-paru, usus dan terhambat dalam menikmati seks.

Faktor yang menentukan kelanggengan:
- Jodoh rahasia Allah
- Se-kufu
- Kekuatan impian, harapan misalnya melihat cucunya menikah
- Kekuatan komitmen keduanya misalnya selalu bercerita tiap hari yaitu tiap malam di kamar tidur
- Harus memiliki kemampuan berbagi, misalnya kirim pesan setiap saat seperti saat pacaran
- Memiliki nilai-nilai dasar yang sama misalnya tidak mensubkontrakkan pengajaran agama ke orang lain karena kita babysitternya Allah
- Kesamaan minat misalnya meluangkan sehari jadi pasangan romantis, jangan terlalu sibuk jadi ayah dan ibu.

Berdasarkan riset, pasangan langgeng adalah yang:
- Taqwa
- Syukur
- Sabar
- Beramal shalih serta
- Keterampilan interpersonal

Keterampilan interpersonal yaitu:
- Mengenali diri sendiri
- Mengetahui perbedaan laki-laki dan perempuan
- Keterampilan mendengar
- Komunikasi yang bersih dan jelas
- Kemampuan negosiasi
- Memahami dan merubah apa yang kadung salah
- Membuat harapan yang realistis, peran yang tepat
- Belajar menerima pasangan apa adanya

Dalam komunikasi pasangan, yang dibutuhkan adalah:
- Keinginan yang kuat untuk berubah
- Berupaya melakukan mendengar yang baik dan benar
- Mencoba merubah perilaku, bila salah coba lagi sehingga anda terampil jadi pasangan

Mengenali diri sendiri
Akar masalah dari mengenali diri sendiri yaitu:
1. Lupa kalau masing-masing kita unik (QS 3:6).
Anak berasal dari ratusan ribu gen sperma dan ratusan ribu gen sel telur sehingga masing-masing anak unik dan perlu perlakuan khusus. Kadang kita juga lebih sering melihat keluar, look out daripada melihat ke dalam, look in. Kalau kita menyebutkan kelebihan dan kekurangan pasangan, manakah yang lebih banyak? Oleh karena itu, kita perlu untuk lebih sering memuji dan memperhatikan keunikan pasangan dengan memanggil dengan pujian-pujian yang baik dan sebutkan kelebihan pasangan. 

2. Diasuh dan dibesarkan dengan cara yang berbeda
Struktur kepribadian dalam diri manusia terdiri atas:
- Id didorong oleh kesenangan dan menghindari rasa sakit
- Ego merupakan realitas sebagai hasil kompromi antara tuntuntan dari Id, Super Ego dan dunia sekitar.
- Super Ego merupakan moralitas dan hati nurani

Struktur Ego State terdiri dari:
- Parent Ego state merupakan pikiran, sikap, tingkah laku dan perasaan yang diperoleh dari orang tua atau figure orang tua.
- Adult Ego state yaitu pikiran, sikap, tingkah laku dan perasaan yang merupakan respons langsung terhadap realitas yang ada sekarang
- Child Ego State yaitu pikiran, sikap, tingkah laku dan perasaan yang diperagakan ulang dari masa kanak-kanak atau keputusan di masa kanak-kanak.

Fungsi Ego state yaitu
- Parent Ego state terdiri dari critical parent dan nurturing parent. Critical parent misalnya mengkritik, menasihati, menghakimi dan menggurui sedangkan nurturing parent contohnya merawat, membimbing, mengarahkan dan mengajarkan.    
- Adult Ego State yaitu bertingkah laku dan berpikir secara logis misalnya tidak menghakimi, open minded, interested, percaya diri dan realistis.
- Child Ego State terdiri dari anak yang pemberontak (rebellious child) yaitu bertentangan dengan orangtua, adaptive child artinya menyesuaikan diri dengan orangtua dan free child yaitu anak yang alamiah dan spontan  

Peristiwa hidup dan egostate dapat digambarkan seperti ini:





                Ego state adalah sifat ideal yang dimiliki seseorang, sedangkan introject adalah sesuatu yang dimasukkan orang tua atau figur penting ke dalam jiwa masing-masing anak dan real person adalah orang yang memberikan introject tersebut. Contoh peristiwa hidup dan ego state ini adalah suatu saat ketika Bu Elly masih kecil, ayahnya jika kedatangan tamu selalu menjamu tamu tersebut dengan masakan istrinya. Namun, karena dahulu kompor gas belum ada, maka sebelum tamu datang, bahan makanan sudah siap untuk dimasak dengan menggunakan kompor sumbu karena membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi, ketika sang tamu datang, maka yang dilakukan hanyalah tinggal memasukkan bahan masakan yang sudah siap tersebut dan langsung dimasak sehingga tamu bisa memakannya selagi masih panas. Ayahnya selalu membiasakan Bu Elly untuk melakukan sesuatu secara cepat, semua sudah dipersiapkan dalam termos dan peralatan masaknya pun sudah siap, jadi memasak pun dilakukan dengan cepat dan hal ini dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan Bu Elly.

Dalam hal ini, ego statenya Bu Elly adalah cepat dalam melakukan sesuatu dan mampu memasak banyak menu hanya dalam waktu beberapa jam karena introject dari orang tua adalah kebiasaan memasak secara cepat dan efisien dan real person yang mempengaruhi adalah ayah dan ibunya. Jika ego state berasal dari dalam diri sendiri, sedangkan introject berasal dari luar yang terinternalisasi ke alam bawah sadar. Namun, introject yang tertanam dalam diri tersebut, bisa keluar dalam bentuk positif dan negatif, misalnya introject dari orangtuanya tersebut keluar dalam bentuk negatif ketika mengasuh anaknya yaitu ingin anak-anaknya melakukan segala sesuatu dengan cepat.     

Bersambung ke Part II


#ODOPfor99Days
#Days 33

0 comments:

Posting Komentar