29/10/16

Nice HomeWork #2 ~ Matrikulasi IIP Bekasi Batch 2


Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
- SPECIFIK (unik/detil)
- MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
- REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
- TIMEBOND ( Berikan batas waktu)





CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN

a. Sebagai individu
*Harian (Weekdays):
- Shalat wajib 5 waktu dan sunnah lebih tepat waktu selama 1 jam 30 menit 
- Membaca Quran dan terjemahannya selama 30 menit
- Jogging/Fitness untuk kebugaran tubuh selama 30 menit
- Makan pagi, siang, sore & snack selama 1 jam
- Couple/family/me time selama 2 jam 30 menit. Me Time dilakukan setelah anak tidur yaitu menulis di blog sebagai sarana self-healing, belajar dan mencari informasi dengan browsing internet dan medsos, serta relaksasi dengan menonton Asian drama
- Membaca buku atau e-book selama 1 jam
- Chat dengan grup via whatsapp selama 1 jam
- Tidur siang dan malam selama 6 jam

b. Sebagai istri
- Mandi & perawatan wajah serta tubuh selama 30 menit
- Menyiapkan berangkat kantor selama 15 menit
- Menyiapkan pulang kantor selama 15 menit
- Pillow Talk selama 30 menit

c. Sebagai ibu
- Mencuci pakaian di mesin bisa disambi dengan merapihkan tempat tidur, menyapu, mengepel, cuci piring, menyiram tanaman, membersihkan teras dan terakhir menjemur pakaian selama 1 jam 30 menit
- Masak minimal one day one menu selama 1 jam
- Menyiapkan bekal dan antar jemput sekolah anak selama 1 jam 30 menit
- Mendampingi bermain, membacakan buku, outdoor activity bersama anak selama 3 jam 30 menit
- Menulis journal dan merapihkan portofolio anak & print bahan kegiatan selama 15 menit
- Mencatat laporan pengeluaran & jurnal syukur selama 15 menit
- Mengajar anak Iqro & Muraja’ah selama 30 menit

*Mingguan (Weekdays/Weekend):
- Menghadiri kajian di masjid seminggu sekali selama 2 jam
- Menjenguk orangtua selama 2 jam
- Perawatan wajah selama 1 jam

*Bulanan (Weekdays/Weekend):
- Menghadiri kajian di masjid sekolah 1 kali dalam satu bulan
- Menghadiri seminar & pelatihan parenting 1-3 kali dalam satu bulan 
- Kopdar komunitas atau panitia EO 1 kali dalam 1-2 bulan

*Keterangan waktu diatas adalah total waktu secara keseluruhan

Checklist tersebut sebenarnya sudah saya buat jadwalnya di awal tahun 2016 berupa Daily Schedule, namun pada pelaksanannya hanya beberapa yang sudah diterapkan secara konsisten. Kemudian manajemen waktu masih ada yang tidak sesuai harapan dan ada juga beberapa hal yang terlewatkan. Oleh karena itu, saya lakukan penyesuaian sesuai dengan kemampuan dan keadaan.

Sebagai individu, banyak hal-hal yang ingin saya terapkan kembali secara konsisten terutama dalam hal-hal ibadah sunnah dan berolahraga. Me time juga sangat penting bagi saya untuk menghindari kejenuhan dan kebosanan di dalam rumah jadi bisa tetap menjaga kewarasan dalam mengasuh anak. Kebetulan saya termasuk yang suka berada di rumah, jadi saya lebih suka membaca buku, menulis random di buku atau laptop dan menonton daripada menghabiskan waktu di luar rumah (kecuali weekend, saya semangat kalau jalan-jalan bersama keluarga hehehe…). Setelah dirinci, ternyata alokasi waktu individu sebagai indikator menuju ibu profesional menurut versi saya adalah 8 jam diluar waktu kebutuhan untuk tidur siang dan malam.  

Sebagai istri, tentunya saya wajib menyiapkan keperluan suami dan tampil cantik dan wangi di depannya. Untuk itu, saya menghindari menggunakan daster dan sebisa mungkin sudah mandi sebelum suami berangkat walau dalam kenyataannya masih belum konsisten hehehe… Menurut saya, yang paling penting adalah pillow talk karena komunikasi suami istri adalah hal utama dalam pernikahan. Tidak perlu waktu lama, karena laki-laki memang tidak terlalu suka banyak bicara cukup 30 menit dan sebelumnya biarkan suami istirahat dulu sejenak setelah pulang bekerja. Alokasi waktu sebagai istri menuju ibu profesional versi saya ternyata sangat sedikit sekali saat weekdays yaitu hanya 1,5 jam. Oleh karena itu, saya manfaatkan waktu weekend untuk quality time bersama suami dan anak-anak.          

Sejak sebulan terakhir, saya berhenti menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga (ART) dan mengerjakan morning chores bersama anak kecuali khusus hanya untuk setrika saya masih memakai jasa ART. Pada awalnya memang berat karena tidak mudah mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengurus 2 anak. Kelelahan kadang membuat emosi tidak stabil dan inilah yang saya khawatirkan karena bisa berpengaruh terhadap pengendalian emosi. Namun, family teamwork yang membantu saya meringankan pekerjaan tersebut, masing-masing anak sudah bisa saya delegasikan tugas yang mudah dengan maksud melatih kemandirian dan menyiapkan keperluannya sendiri seperti membereskan tempat tidur sendiri, mencuci piring bekas makan sendiri, menyiapkan bekal sederhana seperti roti, membersihkan sisa makanan mereka sehabis makan dan membereskan mainannya sendiri.

Sesekali mereka membantu saya memasak walau hanya mengupas kentang atau memotong wortel dengan pisau roti dan membantu menyapu tempat bermain mereka sendiri atau mengepel, mungkin bagi mereka itu seperti permainan karena model pel yang bisa berputar-putar di embernya jika ditekan. Tapi, ini bukan kewajiban mereka, jadi saya tidak memaksakan hal-hal tersebut dan sudah menurunkan standar kerapihan. Anak-anak juga merasa bahwa mereka bahagia hanya dengan ditemani bermain dan dibacakan buku-buku.

Sebagai ibu profesional, kita juga perlu meng-upgrade diri kita dengan mengikuti kajian dan seminar serta pelatihan. Saya selalu mengingat bahwa anak saya akan hidup di zaman yang berbeda dengan saya dan sangat sedikit ilmu yang saya miliki untuk mengasuh mereka dengan baik dan benar. Saya juga harus banyak membuka wawasan dan pengetahuan untuk mengimbangi pasangan saya dan beradaptasi dengan keadaan. Alasan itulah yang membuat saya ingin belajar dan terus menimba ilmu supaya saya tidak ketinggalan jauh di belakang. Setelah dirinci, alokasi waktu sebagai ibu menurut versi saya adalah 8,5 jam.

Untuk saat ini mungkin kontribusi saya terhadap masyarakat terasa masih sangat kurang karena sangat sulit untuk meninggalkan anak-anak terlalu lama kecuali untuk kopdar komunitas dan sebagai panitia acara, itupun sangat saya batasi. Jadi saat ini prioritas saya untuk keluarga sehingga jangan sampai bagus diluar, namun ternyata bobrok di dalam. Mungkin nanti ketika anak-anak sudah tumbuh cukup besar, saya lebih dapat berkontribusi terhadap masyarakat sekitar yaitu ingin sekali mendirikan perpustakaan dan rumah baca. Semoga tercapai!





Matrikulasi IIP Bekasi Batch#2 ~ Sesi 2: Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga



Selasa, 25 Oktober 2016
Oleh: Utami Sadikin
Peresume: Iqomah Imaniati

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #2? Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --;
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :
a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?
Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?
Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya
b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?
“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”
Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena  anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.
Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan
Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto
Salam Ibu Profesional
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015




TANYA JAWAB

1.Tanya: Karna baru anak pertama kadang pola pengasuhan anak  disetir/ada campurtangan orangtua karna merasa lebih berpengalaman dan lebih tau.
Bagaimana cara kita menegaskan dan memberitahu ke orangtua bahwa kita punya pola pengasuhan sendiri utk anak kita..
Dgn tanpa mengurangi rasa hormat kita thd orgtua, kadang sebelum dikasih tau dan diarahkan orgtua sudah marah lebih dulu..Terima kasih. (Ruyanti)

Jawab: Tegurlah orangtua dg cara yg santun, kedepankan adab kita sbg anak dan pilih waktu berdua untuk membicarakan kesepakatan ttg rules.
setelah itu buktikan perilaku kita jauh lebih baik dari sebelum kita mengenal ilmu parenting

2. Tanya: Bagaimana cara yg tepat mendidik anak dengan karakter pemimpin?
Anak saya tidak mau saya bicara dg suara keras (2-3x saya bicara pelan tp tidak digubris). Ketika saya bicara dg suara keras, anak saya marah. Tp ketika suara saya datar2 saja, anak saya justru yg dominan dan mengatur saya. Bgmn baiknya? Terima kasih (Diska meylia)

Jawab: bu diska yang baik,
anak dg type pemimpin memang membutuhkan "ruang" utk menggali kemampuannya.
Jadikan anak tsb pimpinan project keluarga dg melibatkan ayah, bunda dan saudaranya dg begitu egonya akan tersalurkan

3. Tanya: Bagaimana cara memotifasi diri sendiri untuk tetap bersungguh2 menjadi ibu profesional, karena terkadang suka ada perasaan 'saya sendirian' tidak ada teman, sedangkan teman seperjuangan sudah sukses dengan karirnya masing2 di luar rumah. Terima kasih (Lina Nurwalina)

Jawab: Mba lina.. buat skala prioritas dan jalankan.
seperti pak dodik sering sampaikan ke bu septi "bersungguh2lah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dg kesungguhan krana sejatinya tidak ada hukum yg terbalik"

4. Tanya: Saya sering galau dalam menjalankan 'me time'. 1 jam saja, meninggalkan anak-anak dan suami, kok merasa bersalah ya. Meski sudah pergi atas ijin mereka dan meninggalkan beberapa pesan sponsor. Seberapa pentingkah 'me time' buat seorang ibu? Terima kasih (Fitria Ramadiani)

Jawab: Hai mba fitria..
iya "me time" memang sangat dibutuhkan utk tetap menjaga kewarasan sebagai ibu rumah tangga. tapi mohon diingat, aktivitas "me time" dilakukan tidak hrs dg kita bepergian tapi bisa kita siasati dg membaca al qur'an, membaca buku atau sperti saya mojok di dekat jendela rumah dg segelas bagi saya sudah merupakan "me time".
ketika sudah penat, bisa melipir dulu dari rutinitas dan gunakan waktu utk sesuatu yg merelaxkan pikiran tapi tidak meninggalkan anak2
selamat ber "me-time" ria

5.Tanya: Assalamu'alaikum,
a. InsyaAllah sbntr lagi saya akan mnjdi seorang ibu. Apa langkah awal menerapkan ilmu menjadi ibu profesional   pada keluarga kecil dengan ibu, bapak, dan bayi baru lahir?
b. Dari misi, visi, dan indikator tercapainya seorang ibu profesional, terlihat sangat besar tanggung jawab seorang ibu.
Dalam poin b pada indikator keberhasilan bunda sayang, " Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?".
Dari pernyataan tersebut, knp jdi terkesan keterlibatan suami dalam mendidik anak harus dipicu dulu oleh cara ibu mendidik anak?
c. Saya masih belum bisa menyingkronkan pemikiran tentang peran ayah yang sudah seharusnya memberi teladan pada ibu dalam memberi pengasuhan sebagai guru utama dan pertama bagi anak2nya? Terima kasih (Utari Yusman)

Jawab:  Walaikum salam mba utari.. selamat menikmati pengalaman pertama menjadi ibu.
tahapan awal yg harus dikuatkan adalah kurikulum bunda sayang, jika sudah selesai di tahap itu nanti bisa dilanjutkan ke bunda cekatan dan bunda produktif
mb utari yg baik..
perubahan yg diinginkan memang harus diawali dari diri kita terlebih dahulu.
"for things to change, i must change first"
hukum alamnya ketika kita menginginkan suami dan anak2 kita berubah ke arah positif, maka kita sbg ibu yg harus berubah terlebih dahulu

6.Tanya:
a. Saya mash seorang ibu yg bekerja diluar rumah..bagaimana kiat2 nya biar anak2 kita jadi anak2 yg mandiri krn selama ini anak2 cenderung suka ngandelin orang lain.
b. Mengahdapi anak mempunyai sifat yg keras itu kadang bikin kita gak sabar dan emosi...pd saat kita kerasin dia makin jadi tp kalo kita pelan malah gak didengerin...langkah apa yg bisa kita lakukan ya Mba... Terima Kasih (Ninik)

Jawab:
a. ilmu tega mba ninik. tega disini bukan berarti ga sayang, tapi justru karna kita sayang akan kehidupannya masa datang
b. Perdalam bahasa bunda utk kelekatan. lebih banyak mendengar, namai perasaannya dan membuka diri utk menjadi teman

7. Tanya: Terkait indikator keberhasilan menjadi Ibu professional,apakah ada target khusus dari IIP ? Adakah referensi yg bisa dijadikan rujukan,misal berhasil melalui tahapan Bunda sayang jika sudah menerapkan sekian ilmu parenting? Atau tergantung target keluarga masing2? Terima kasih. (Nevita Siswanti)

Jawab: Target khusus iip adalah membuat para ibu menguasai ilmu2 dari bunda sayang,bunda cekatan, bunda produktif dan bunda shaleha.
sedangkan utk target bisa disesuaikan dg kemampuan masing2

8. Tanya: Bagaimana agar kita bisa konsisten menerapkan ilmu parenting ataupun ilmu menjadi ibu profesional. Ada dua faktor yang kadang membuat sering tidak konsisten.
Pertama dari diri sendiri yang terkadang ada masa down atau capek. Bagaimana mengatasinya?
Kedua dari faktor lingkungan. Kadang sudah menerapkan beberapa ilmu parenting, kemudian karna anak melihat anak lain, jadi mengikuti anak tersebut. Bagaimana mengatasinya. Terima kasih. (Tutik Andarini)

Jawab:
a. tetap menjaga kewarasan, jika sudah penat coba utk ambil waktu "me time" beberpa menit setelah pulih baru lanjutkan aktivitas menemani anak
b. kelekatan atau bonding menjadi faktor penting utk membuat anak "ON TRACK".

9. Tanya:
Saat ini saya sedang dalam kondisi merawat ibu yang lumpuh (semua aktifitas d tmpt tdr trmasuk buang air) , dengan 2 anak batita. Kondisi ini yang sering membuat saya kelelahan dan akhirnya emosional. Sehingga smua pihak jd korban baik orangtua,anak-anak dan suami. Hingga akhirny diri saya sendiri. Saya menjadi pribadi yg saya sendiri tdk sukai.Mohon bantuan saran nya untuk ;
a. Bagaimana mengatur management waktu nya spy sya bs mengerjakan smua ny dgn baik.untuk ibu, anak dan suami saya. Terkadang saat saya menyusui si kecil ibu sy jg bth bantuan krna buang air.
b. Suami cenderung menuntut saya tuk fokus pda anak2 dlu sehingga dy srg emosi tiap kl sy mengurus ibu.bagaimana cara saya menyikapi ini.
c. Bagaimana cara saya mengatasi stres dgn kondisi yg ada. Krna saya cenderung jd emosional blkgan ini.
Terima kasih (Ria)

Jawab: semoga dimudahkan segala urusannya ya mba ria
saran saya, mba ria cari asisten utk membantu merawat sang ibunda.
supaya mba ria tetap fokus utk merawat swami dan anak2, sbg prioritas utama mb saat ini
semoga lekas pulih ibundanya

10. Tanya:
Bagaimana agar waktu kita efektif,saya merasa byk waktu yg terbuang,d bnding zaman kuliah dlu yg sibuk malah lbh bisa mengatur waktu,skrg stelh jd irt malah merasa santai saja. (Mery apriliani)

Jawab: Buat pengklasifikasian aktivitas mba mery. ini berkaitan dg time management, pisahkan rutinitas gelondongan dg rutinitas srondolan.
insyAllah nanti ada di NHW berikutnya, atau mba bisa baca penjelasannya di buku bunda cekatan

11. Tanya:
Dalam hal kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita ,untuk menerapkannya kadang tdk sejln dengan suami,bgmn mensiasatinya?
Nilai-nilai yang sedang kita perjuangkan dalam hidup ini,seperti memperbaiki diri dlm keluarga,ada aja tantangannya,itu bagaimana memanage nya? Trimakasih (Eti)

Jawab: Perbedaan adalah suatu keniscayaan. pastikan komunikasi produktif dg suami berjalan, atur poin2 seperti transfer of feelings,strategi dll tepat.
cara memanage tantangan adalah fokus pada solusi bukan pada masalahnya

12. Tanya:
a. Mungkin ini seharusnya pertanyaan untuk materi pertama, sebelumnya disebutkan bahwa kita harus membuat list prioritas ilmu yang akan kita pelajari. Apakah urutan prioritas boleh diubah sesuai dengan periode waktu tertentu. Sebagai contoh, jika di awal prioritas ilmu yang saya ambil adalah parenting, kemudian seiring berjalannya waktu saya melanjutkan kuliah saya, yang tentunya saya ingin segera menyelesaikannya, apakah lantas saya boleh menjadikan ilmu parenting jadi dibawah prioritas kuliah saya?
b. Apakah tahapan menjadi ibu profesional itu harus berurutan? Bagaimana kalau kondisinya saya sendiri belom punya rasa percaya diri bahwa saya bisa jadi guru pertama yang bisa diandalkan bagi anak-anak saya?
c. Berkaitan dengan kata-kata Pak Dodik "Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbaik"
Bagaimana bila kondisinya terlanjur terbalik? Saya dulunya ibu bekerja, dan saya sangat percaya diri dengan kemampuan saya di lingkungan pekerjaan sehingga saya merasa sangat produktif di luar. Tapi ternyata Allah punya rencana lain, sehingga saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Bisa dibilang kondisi saat saya bekerja adalah zona nyaman saya, karena saya lebih punya banyak waktu "me time" dibanding saat ini, karena saya bisa melihat lebih banyak orang yang membutuhkan saya dan saya merasa lebih bermanfaat. Mungkin ini yang namanya terlanjur, sehingga saat kondisi berbalik, saya jadi kurang rasa percaya diri, saya nggak yakin saya bisa mendidik anak dengan baik, sehingga membuat saya lebih terlalu sibuk mencari2 informasi sana-sini tanpa fokus pada praktek penerapannya. Mohon bimbingan apa yg harus saya lakukan. Terimakasih (Tata)

Jawab:
a.  Skala prioritas setiap orang berbeda, tidak ada patokan baku. jadi silakan disesuaikan dg kebutuhan mba tata sendiri 
b. kepercayaan diri dapat dibangun dengan jam terbang. semakin tinggi  jam terbang, maka bisa dipastikan penguasaan thd ilmu akan semakin matang begitu pun thd pengasuhan anak di rumah 
c. Fokus pada apa yg dibutuhkan.
buat list, ilmu apa saja yg dibutuhkan. yg tidak termasuk dalam list tsb katakan "menarik tapi tidak tertarik"

13. Tanya: Apakah dalam mendidik anak, peran ibu selalu dominan dibandingkan peran ayah? bagaimana caranya agar suami bisa dan mau mendalami ilmu parenting bersama agar si ibu tidak merasa sendiri dalam mendidik anak. Terimakasih (sally)

Jawab: Peran ayah dan bunda harus imbang mba sally
Seperti yg sudah saya jelaskan diatas "for things for change, i must change first".
tunjukan perubahan positif kpada pasangan dan libatkan Allah SWT karna hanya DIA lah yg maha membolak balikkan hati hambanya

14. Tanya:
a.Bagaimana cara kita bisa konsisten dalam menjalani ilmu parenting yg saat ini sedang kita pelajari dgn keadaan sekitar kita yg kurang mendukung,ex:saat ini saya sedang bersama anak2 sedang bersama org tua dlm waktu yg cukup lama,jadi saya sebagai anak merasa semua kerjaan dirumah adalah tanggung jawab saya karena org tua pun sudah tua dan lelah dan akhirnya kegiatan saya bersama anak2 pun berkurang,bagaimana mensiasatinya?
b.Saat tidak bersama orang tua pun(hanya sya dan keluarga kecil saya)kadang saya kesulitan menjalin komunikasi dengan suami,sering alasan beliau sibuk,bagaimana caranya agar komunikasi kami tetap berjalan dgn baik walaupun dgn keadaan beliau yg sibuk? Terima kasih (Nana)

Jawab:
a. carilah asisten yg dapat membantu mba nana dalam keseharian, supaya amanah tetap bisa dijalankan sebaik2nya
b. schedule kan waktu utk pillow talk atau ngobrol sblm tidur. atau gunakan video call di sela kesibukan

15. Tanya: Dalam hidup ini segala yg dijalankan pasti ada resiko/dampak, baik itu positif atau negatif. Jika kita trlahir dr org tua yg didikannya slalu tdk trlepas dr kekerasan dan amarah,sehingga dirasa itu tdk baik,namun sdh sngat mengena, dan itu menimbulkan kekhawatiran akan otomatis dipraktekkan ke dlm proses mendidik anak kelak.
a.Strategi jitu apa yg bisa diterapkan,supaya tdk mudah keluarnya emosi ke anak, mengingat anak adl amanah dr Allah. ?
b. Sy suka pesan Pak Dodik kpd ibu Septi,dlm kesungguhan  menjalankan suatu hal. Bagaimana supaya kita senantiasa bisa menjaga kesungguhan itu dlm hal apapun,baik dlm suasana ceria atau sbalikny? Terima kasih (IQOMAH)

Jawab:
a. Buang semua ingatan masa lalu yg tdk mengenakan, dg berdamai dg masa lalu.
jurus jitu saya utk meredam emosi berlebih adalah dg slalu mengingat kebaikan si anak
b. Buat schedule harian yg bisa slalu dilihat, krna membangun konsistensi itu bagi saya pribadi adalah hal yg tak mudah

16. Tanya: Bagaimana cara yg tepat mendidik anak yg org tuanya bercerai? Di kami di terapkan pola Asuhan Parenting. Mungkin disana tidak. Sehingga tkadang anak suka tantrum. Apa yg sebaiknya saya lakukan sebagai ibu (ibu tiri) nya ? Saya takut akan perkembangan psikisnya. Terimakasih (Fitri Normaella)

Jawab: Posisi anak,tetaplah anak, utuh ataupun sdh tidak utuh lagi sebuah keluarga.
Kalau dari saya, sebaiknya dikomunikasikan saja soal tumbuh kembang anak tsb, dg pihak ibunya. Karena, sungguh perceraian juga bukan hal yg baik dan mudah diterima oleh anak2.
Bangun komunikasi dengan tujuan melaksanakan tugas dan fungsi utuh sebagai orang tua, yg Allah amanahkan

17. Tanya: Bagaimana caranya meyakinkan suami agar diizinkan untuk melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kecekatan saya sebagai ibu? Seringkali untuk mengikuti kegiatan kopdar, atau kumpul komunitas dsb saya belum diizinkan jika tanpa suami krn khawatir ada apa2.. Jika saya minta izin untuk latihan nyetir mobil juga belum diizinkan. Menggunakan transportasi online juga kadang diizinkan kadang tidak. Jadi, saya sedikit terbatas gerak dan merasa masih belum cekatan dan mandiri. Terima Kasih (Haroh)

Jawab: Clear dan clarify
Tanya alasan kuat, apa penyebab suami bersikap sperti itu
setelah itu berfokus ke depan bukan masa lalu

18. Tanya: Bbrp wkt blakang ini, sejak ikut kelas offline, suami senang mlihat cara sy mngahadapi anak2..tp sy blm bs mngkondisikan suami agar brsikap yg sama spt sy pd anak.
Bgm caranya ya bun agar suami lbih trtarik juga utk brsikap bijaksana pd anak..
Sebab klo sdh kewalahan mnghadapi "eksperimen" anak,..suami mnyerahkannya pd saya bun...
Trimakasih (Esi Andriyani)

Jawab: ajak pasangan ikut seminar atau acara majlis ayah, insyAllah dengan begitu akan smakin terbuka wawasannya thd dunia pengasuhan 
semangaatt ya mb Esi

19. Tanya:
a.seringkali ilmu parenting yg dipelajari terkadang lupa dipraktekan pada saat anak tantrum/ngamuk, apalagi pada saat badan kita sedang lelah malah yang sering terjadi ibunya ikutan tantrum tanpa sadar membentak atau berucap kasar, mohon sarannya ?
b. Saat sudah berusaha sebaik mungkin mendidik anak kita eh malah temennya menularkan kebiasaan buruk, sedangkan untuk mengisolasi anak kita tidak memungkinkan kerna itu terjadi di jam bermain di TPA, bagaimana solusinya? Terimakasih (Andriyani)

Jawab: ini kasus umum yg sering terjadi, tenang mba andriyani anda tak sendiri
a. saran saya, ketika anak tantrum dan kita juga sedang penat maka langkah terbaik adalah menenangkan diri sendiri dulu, entah ambil minum atau tarik napas supaya detak jantung krna emosi bisa mereda.
setelah merasa lbh tenang, baru bisa mendekati sang anak utk berbicara
b. memberi imunitas pergaulan pada anak memang tidak mudah.
perkuat bonding orgtua dan anak supaya anak dapat menfilter hal buruk yg mereka dapat dari pergaulan di luar rumah.




25/10/16

Review dan Tanya Jawab seputar NHW#1



Review dan Tanya Jawab seputar NHW#1
Oleh : Bunda Ressy

ADAB SEBELUM ILMU

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #2?
Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting  sampai dengan hebohnya dikejar deadline:). Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu FOKUS dan PERCAYA DIRI. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas  kehidupan, tapi mengaharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”

INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN,AND EXPECTING DIFFERENT RESULT - Albert Einstein

Setelah kami cermati , ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini  biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu”NOMOFOBIA”, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

Matrikulasi IIP batch#2 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review,  setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita.
Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini :

MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?

JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI.

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan  kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini.

Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.

Sejatinya,

SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU

Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik. 

Tetapi di  Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke Adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :
Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015
Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #2, 2016
Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #2, 2016


Tanya Jawab

1. Tanya: Seperti yang tertulis dalam riview tersebut; "Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas.."

Pertanyaan saya, adakah cara or bagaimana langkah menetukan prioritas ini mba? Karena memang ini yang sering terjadi, semua hal ingin dipelajari, alhasil kadang ada yg setengah jalan belajar nya, ada yang malah tambah liyer karena kebanyakan yang ingin dipelajari... (Suci Rachmawati)

Jawab: buat list aktifitas2 kita selama ini yang paling kita SUKA & BISA, kemudian tentukan ilmu yang mendukung aktifitas tersebut

2. Tanya: Bagaimana cara penyampaian kepada orgtua dg baik dan mengena apabila orgtua tidak menyetujui dg ilmu yg akan saya pelajari dan selalu memaksakan dg ilmu yg sblumnya saya tempuh?

Terimakasih (Fitri Normaella)

Jawab: pertanyaan ini membuat saya teringat cerita bu Septi saat beliau sempat tidak disetujui orang tua ketika memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, yang bu Septi lakukan adalah meminta waktu kepada orang tua untuk membuktikan bahwa yang beliau putuskan akan membuat bu Septi berhasil & menjadi lebih baik ...
mungkin bisa ditiru  minta waktu pada orang tua & buktikan saat kita mempelajari ilmu tsb kita menjadi anak yang lebih baik dr sebelumnya

3. Tanya :
a. Bagaimana cara qta biar tetep bisa fokus dan istiqomah mendalami 1 bidang ilmu, tidak terkena dampak tsunami informasi?

b. Bagaimana membangkitkan dan mengobarkan semangat tiap saat, tiap waktu karna biasanya menjalani 1 bidang ilmu semangatnya hanya di awal aja setelah itu 'melempem' lagi semangatnya.. ?
Kadang sesuatu yang kita lakukan, semangat di awal saja ini karena bukan betul2 sesuatu yang kita suka...
seperti : baru booming senam aerobik di komplek, terus diawal2 kita semangat  & pas banget dengan niat hati pengen langsing #eeaaaa ini mah saya
habis itu lama kelamaan gk rajin lagi, karena ini bukan benar2 yg kita suka & bisa ,ini hanya karena korban booming...apa yg lagi boom kita ikut melakukan (Ruyanti)

Jawab:  
a. tentukan prioritas

b. kembali yakinkan apakah bidang tersebut benar2 yang kita SUKA & BISA ...
insyaAllah jika sudah bidang yg kita suka & bisa semangat akan  terus membara, bahkan sampai ada yg berkata "Kok dia gak capek ya melakukan itu, kalo aku dah gk sanggup" dll kalimat sejenis ..ini karena kita senang melakukannya ..

4 Tanya: parameter apa yang menentukan kita sudah mumpuni di suatu bidang dan bisa menambah ke bidng ilmu lain?
Makasih (Cici Yusri)

Jawab: seperti dalam review di atas, indikatornya adalah ilmu itu membuat kita menjadi lebih baik, lebih dekat kepada Allah, bisa menebar manfaat kepada orang2 di sekeliling kita..
ilmu2 lain bisa kita pelajari sekaligus jika itu masih berkaitan & menambah kesempurnaan belajar kita

5. Tanya: Perintah Alloh pada nabi Muhammad untuk belajar diawali dengan 'iqro, membaca.
a. Apakah kita dapat belajar selain dengan membaca buku? misalnya saja ungkapan, pengalaman adalah guru yang baik.

b. Belajar untuk menemukan jawaban merupakan hal yang biasa kita lakukan. Lalu, bagaimanakah membiasakan belajar untuk menemukan pertanyaan? (Fitria Ramadiani)

Jawab:
a. bisa banget mba...belajar di mana saja , kapan saja,  bersama siapa saja...membaca kondisi lingkungan sekitar kemudian kita mengambil langkah solusi, belajar dengan membaca tanda2 kekuasaan Allah, membaca hikmah dr suatu peristiwa, dll

b. tentunya berlatih, berlatih bertanya...kita akan biasa karena sering melakukan, sering melakukan itulah berlatih ..yang pernah saya lakukan kepada anak2 adalah lomba membuat pertanyaan, misal dengan satu objek "pisang goreng" lalu buat pertanyaan : siapa yg menggoreng, pisang apa yg di goreng, kapan menggorengnya, dimana, bagaimana caranya, dst..
begitu seterusnya, sering dilakukan dengan berganti2 object

6. Tanya:
a. Adakah parameter atau tanda2 dimana kita sudah terkena dampak tsunami informasi dan FOMO? Mengingat saya pribadi yang suka dengan segala macam ilmu dan tantangan baru.

b. Dalam hal penyampaian ilmu kepada anak sesuai dengan usianya. Apakah harus satu persatu agar fokus atau selang seling?
Terima kasih (Naomi Shintya)

Jawab:
a. parameternya semua ilmu hanya setengah2, tidak ada yg benar2 kita kuasai
akhirnya bisa jadi kita tahu banyak hal tapi setengah2 & sedikit berbuat

b. bagi saya penyampaian ilmu terintregasi , misal saat memasak bersama , anak2 belajar ilmu gizi dari sayurannya, belajar berhitung dr memotong tempe supaya seluruh anggot keluarga kebagian, belajar emergency first saat menggunakan pisau, dst..
tapi untuk tanggung jawab/ kemandirian saya fokus satu2 dulu, misal : 2 minggu ini adik (5th)fokus belajar mandi sendiri, kakak (9th) fokus belajar merapikan kamar + lemari baju, dll
Nyambung gk mba ..hehehe

7. Tanya:.Apakah kita harus fokus hanya pada 1 ilmu?atw kita bisa belajar ilmu2 yg lain secara bersamaan?krn byk sekali yg belum saya ketahui sehingga banyak juga ilmu2 yg harus d pelajari (Mery Apriliani)

Jawab: bisa beberapa ilmu secara bersamaan jika itu saling berkaitan , misal ilmu menjadi ibu profesional, belajar tentang mendidik anak, belajar mengelola keuangan, belajar menu bergizi, dll

Jika banyak sekali, segera bikin list & pilih yg prioritas

8. Tanya: Saya juga kesulitan menemukan prioritas dalam mencari ilmu. Saat ini saya ingin menekuni ilmu Parenting Dan bisnis. Jadi apabila saya ingin menekuni ilmu parenting ini apakah ilmu tentang bisnis harus berhenti dulu? Atau bisa dilakukan bersamaan?  (Suci Amalia)

Jawab:  yang jadi patokannya adalah dengan belajar ilmu tersebut apakah kita menjadi lebih baik, apakah keimanan kita bertambah kuat ...ini juga yang terjadi dengan saya, saya ingin mempelajari hal baru tapi saat hal baru tersebut membuat saya jadi lebih sering capek, BT ...sehinga mengganggu waktu saya bersama anak2 maka harus saya pakai jurus , untuk saat ini memang ilmu tersebut MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK..
tapi jika kedua hal tsb saat di pelajari bersamaan membuat peran kita maksimal , bisa saja, misal:  belajar bisnis barengan dengan anak kita yg mulai remaja, sampai bikin project bersama, dll

9. Tanya: Jika ilmu yg ingin kita pelajari mbutuhkan biaya yg besar dan saat ini kondisi ekonomi kita blum mncukupi, bolehkah kita menerima pembiayaan dr dermawan yang tidak 1 aqidah dg kita bun?
Trimakasih (Esi andriyani martin)

Jawab: Boleh mbak, yg namanya muamalah itu tak berbatas. Selama tdk ada syarat apapun yg mengikis akidah kita ( Septi Peni W)

22/10/16

Nice HomeWork #1 ~ Matrikulasi IIP Bekasi Batch 2




ADAB MENUNTUT ILMU

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #2, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.

Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.

Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

Salam Ibu Profesional


Berikut NHW versi saya:
1. Sebagai seorang muslim dan ibu serta istri yang berkeinginan untuk memberi yang terbaik bagi keluarganya, saya ingin memperdalam jurusan ilmu yang rencananya akan saya tekuni di universitas kehidupan ini yaitu Brain-Based Islamic Parenting.

2. Alasan saya memilih jurusan ilmu tersebut yaitu:
a. anak terlahir dengan fitrah dan merupakan amanah dari Allah SWT sehingga orang tua berkewajiban untuk menjaga amanah tersebut sebaik-baiknya dengan mempelajari ilmu agama dan ilmu dunia untuk mengasuh anak karena kelak akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan-Nya.
b. ilmu dalam mengasuh anak yang diterapkan harus sesuai dengan kaidah Islam  dan berdasar atas 2 sumber utama yaitu Al Quran dan Hadits.
c. sebagai orang tua maka harus belajar memahami tahap-tahap perkembangan otak anak supaya bisa mengasuh mereka dengan baik dan benar sesuai dengan kinerja otak sehingga diharapkan anak bisa tumbuh dan hidup dengan bahagia.
d. banyak sekali informasi mengenai parenting yang beredar luas, namun tidak semuanya sesuai dengan visi misi keluarga dan belum tentu bisa sama diterapkan dalam masing-masing keluarga sehingga harus bisa memilah mana yang bisa diterapkan.
e. salah pengasuhan bisa berakibat amat fatal akibatnya terhadap anak cucu kita kelak karena mereka hidup di zaman yang berbeda dengan orangtuanya sehingga diperlukan bekal dan wawasan yang luas untuk mendidik anak.

3. Strategi saya dalam menuntut ilmu yaitu:
a. datang ke majelis ilmu agama dengan niat instropeksi diri dan menambah ilmu dalam mengharap ridho Allah SWT  
b. menghadiri seminar dan pelatihan untuk memperluas wawasan dan membuka jendela pemahaman sehingga tidak sampai salah mengasuh dan salah informasi yang berasal dari keyakinan yang salah yang berlaku umum di masyarakat.
c. membaca buku untuk menambah wawasan serta pengetahuan dan sambil mengisi waktu dengan hal-hal yang positif.
d. mengikuti komunitas yang berkaitan dengan pengasuhan anak dengan tujuan memiliki support system yang positif dan menciptakan lingkungan yang baik bagi anak-anak
e. melalui media online yang concern dalam hal pengasuhan dan bisa dipertanggungjawabkan isinya.   

4. Perubahan sikap yang saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut yaitu:
a. berusaha untuk datang tepat waktu dan duduk di depan supaya jelas menangkap apa yang disampaikan oleh pemateri
b. mengosongkan gelas supaya tidak kepenuhan dalam menyerap ilmu.
c. berusaha membagikan ilmu tersebut melalui media blog supaya bemanfaat bagi orang lain setelah berusaha memperbaiki diri terlebih dahulu.
d. menjadi lebih bisa memanage waktu dan uang karena butuh persiapaan dana dan waktu yang cukup untuk menghadiri majelis ilmu.    



Matrikulasi IIP Bekasi Batch #2 ~ Adab Membawa Anak Ke Majelis Ilmu



Kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #2 sedang berjalan, dan pekan ini sedang membahas tentang adab menuntut ilmu. Ada satu pertanyaan menarik, yang saya pikir menjadi kegalauan banyak ibu. Kebetulan saya diberi amanah mengampu kelas koordinator kota dan pengurus rumah belajar.

Tanya :
bu septi. Kalau kita menuntut ilmu dgn membawa anak itu bagaimana? Karena tidak ada yg dititipi. Memang hasilnya tdk maksimal..tp daripada tidak sama sekali. Makasih

Jawab :
Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal.Mari kita pelajari adabnya :

1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak?

DON'T ASSUME

misal :
"Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah"

ini ASSUME namanya.

harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat. masing-masing.

2. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.

3. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf.

Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu.

KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya.

Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.⁠⁠
semoga manfaat.

#adabmenuntutilmu
#matrikulasiIIP
#kemuliaananak