Jumat, 06 Mei 2016

Seminar Parenting: Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital dan Bahaya Pornografi oleh Elly Risman (Part II)



Bermata tapi tak melihat
Bertelinga tapi tak mendengar
Bermulut tapi tak menyapa
Berhati tapi tak merasa

Semoga kita terhindar
Dari hal-hal sedemikian
Semoga kita menjauh
Dari sikap sedemikian
(Lagu Bimbo ditulis oleh Taufiq Ismail)


                Setelah sebelumnya membahas tentang pengasuhan orangtua, target utama produsen pornografi dan media yang patut diwaspadai, selanjutnya akan dibahas cara pencegahannya ataupun cara menghadapi anak apabila terlanjur terpapar pornografi. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk melindungi anak dari bahaya pornografi:


1.       Situs Internet dan HP
-          Kuasai cara berinternet
-          Cek riwayat koneksinya
-          berteman dengan anak, misalnya di sosmed kenali teman-temannya
-          Ikuti perkembangannya
-          Ajak anak bijak berinternet
-          Diskusi dengan mereka
-          Arahkan
-          Kontrol        

2.        Komik
-          Jangan beli komik sembarangan, liat isinya
-    Periksa tas, rak buku, bawah tempat tidur dan diantara pakaian dalam lemari             
-   Ajarkan anak berbagai jenis bacaan seperti science, fiksi, petualangan, dongeng, kisah/riwayat rasul dan sahabat
-          Orang tua juga ikut membaca karena anak meniru

3.       Games
-          Belajar kenal dengan games. Mark Griffith dari Nottingham Trent University menyebutkan bahwa games di abad 21:
Ø  Gambar lebih realistis
Ø  Pemain bisa memilih karakter apa saja yang diinginkannya yang tidak ada di dunia nyata
Ø  Keterampilan lebih kompleks dan kecekatan yang tinggi sehingga ada kepuasan psikologis (dibandingkan tahun 80-an) dan efek kecanduan lebih besar.

-          Tanyakan pada anak games apa yang dimainkannya

-      Periksa Rating/Peringkatnya. Tanda rating terdapat di sampul depan dan sampul belakang video game. Penting mengetahui rating games karena banyak video game bajakan harga terjangkau dan mudah ditemukan memiliki rating ESRB yang tidak sesuai dengan rating ESRB sebenarnya. Lalu banyak video game ber-rating AO (Adult Only) atau M (Mature) yang dibajak dengan rating ESRB diubah menjadi T (Teen) seperti GTA, San Andreas, Mass Effect, GTA IV, BMXXX, dll. 

    Rating video games yang dikeluarkan oleh The Entertainment SoftwareRating Board (ESRB):
Ø  EC (Early Childhood = 3-10 tahun)
Ø  E (Everyone = semua umur)
Ø  E10+ (10 Tahun ke Atas)
Ø  T (Teen = 13 tahun ke atas)
Ø  M (Mature = 17 tahun keatas)
Ø  AO (Adults Only = Dewasa)
Ø  RP (Rating Pending)

-          Darimana dia mendapatkannya

-     Tau tidak dampaknya? Orang tua perlu menjelaskan dampak negatif games bagi fisik anak yaitu:
Ø  Menyebabkan kejang lengan (Repetitive Strain Injury)
Ø  Mengikis lutein pada retina mata atau degenerasi makula
Ø  Mencetuskan ayan/epilepsi (ayan games/nintendo epilepsi)
-          Diskusikan

4.       Film TV
-          Atur jam hidup TV
-          Pilih program
-     Bahas sebelum dan sesudahnya, apa yang anak suka dan tidak suka, mengapa?
-          Ada tidak program lain yang dinilai lebih baik
-          Pantau
-          Beri program pengganti yang lebih  baik

5.       Film bioskop
-          Perlu ke bioskop?
-          Dengan siapa?
-          Mau nonton apa?
-          Sadar tidak iklan di film sebelum, ditengah dan di akhir film yang ditonton?
-       Bicarakan dengan anak dampaknya melihat adegan syur, dalam keadaan gelap dengan teman-teman?

Berdasarkan penelitan Mark B. Kastlemen, CANDEO, apa yang produsen pornografi inginkan dari anak-anak kita:
1.       Anak dan remaja kita memiliki perpustakaan porno yaitu mental model porno, yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja.
2.   Kerusakan otak permanen atau disebut juga dengan Visual Crack Cocain/erototoksin sehingga berujung melakukan perbuatan Incest.
3.       Sasaran tembak utamanya yaitu anak kita yang baligh. Jika anak tersebut sudah 33 – 36 kali ejakulasi maka besar kemungkinan menjadi pecandu pornografi seumur hidup dan menjadi Future Market bagi mereka.

Cara mengetahui anak sudah memiliki perpustakaan porno atau belum di dalam otaknya yaitu dengan memanggil anak dan tanyakan tentang perkalian, pembagian, penambahan dan pengurangan. Contoh:

Lima kali lima berapa, dek? Kalau empat dibagi dua? Empat juta tambah empat juta berapa?
Loh cepet banget jawabnya, berarti kamu sudah punya perpustakaan kali, bagi, tambah ya.
Jadi, otak kita memiliki banyak perpustakaan, misalnya perpustakaan main lego, melukis, berenang, bahasa (sebutin hobi anak).
Jadi, kamu sudah punya perpustakaan porno?
Bukannya kamu sudah lihat komik, DVD, Games dll?
Biasanya si anak akan terlihat apakah sudah terpapar atau belum, perbincangan ini dimaksudkan untuk memancing si anak bercerita lebih lanjut.

Ciri-ciri anak yang telah kecanduan pornografi:
a.       Mudah haus dan tenggorokan kering
b.      Sering minum
c.       Sering buang air kecil
d.       Sering berkhayal
e.      Sulit berkosentrasi
f.        Jika bicara, menghindari kontak mata
g.       Sering bermain PS dan internet dalam waktu yang lama
h.    Bila anda tegur dan batasi bermain gadget, dia marah, melawan, berkata kasar bahkan keji
i.         Mulai impulsif, berbohong, jorok, moody
j.        Malu tidak pada tempatnya
k.       Menyalahkan orang
l.         Secara emosional menutup diri
m.    Prestasi akademis menurun
n.      Main dengan teman/kelompok yang “itu-itu saja”
o.      Hilang empati, yang diminta harus diperoleh
p.      Berperilaku yang aneh, seperti: kancing baju sampai ke atas, rambut gondrong, dll

Berdasarkan penelitian Dr. Donald Hilton Jr, seorang ahli bedah syaraf dari Amerika Serikat yang melakukan MRI terhadap pasiennya, ternyata orang yang kecanduan pornografi akan mengalami kerusakan otak yang sama dengan orang yang mengalami tabrakan mobil. Bagian otak yang rusak adalah PFC (Prefrontal Cortex) yaitu letaknya 2 jari diatas alis yang merupakan direkturnya otak.



PFC adalah tempat moral dan nilai bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi tunda kepuasan, pengontrolan diri, konsekuensi, pengambilan keputusan dan ekspresi kepribadian serta PFC ini baru matang pada usia 25 tahun. PFC adalah bagian yang didesain khusus oleh Tuhan untuk membedakan manusia dari spesies lain, sebagai spesies paling sempurna, yaitu memiliki kemampuan untuk memilih dan memiliki adab atau nilai-nilai fitrah (kebenaran).

Sistem limbik pada otak merupakan responder yang mendukung PFC dalam merasakan kenikmatan. Pada saat melihat pornografi, otak akan memproduksi dopamin yang menimbulkan kecanduan sehingga dopamin mengalir ke sistem limbik dan PFC akan semakin mengerucut sehingga jika PFC rusak, orang akan bertindak seperti binatang, tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.



Proses kecanduan pornografi pada awalnya adalah tidak sengaja melihat sehingga merasa tidak aman tapi penasaran. Lalu terjadi pelepasan dopamin dalam otak yang mengakibatkan kecanduan (adiksi) sehingga ingin meilhat lagi. Ketika sudah dalam tahap kecanduan dan sering melihat maka menjadi tidak terangsang lagi dan tidak peka lagi (disensitisasi) terhadap gambar yang sama sehingga tingkat pornonya meningkat. Lalu pada akhirnya akan melakukan tindakan tersebut.

Bagaimana dengan anak perempuan?
-          Tidak suka gambar porno
-          Suka sesuatu dengan kata-kata:
-          Facebook, chatting room, twitter, yahoo messenger
-          Proses yang terjadi di otaknya sama

Kejadian nyata terjadi pada Amanda Todd yang melakukan selfie dan flash di internet dan menjadi korban dari predator seks dan cyberbullying dari internet. Kemudian dia mengunggah kisah hidupnya di youtube dan akhirnya dua bulan kemudian bunuh diri karena depresi. Jika anak perempuan terkena pornografi, maka dia akan merasa baik-baik saja menjadi mangsa predator pornografi. Sebisa mungkin anak jangan diajari selfie. Berikut jenis-jenis selfie berindikasi porno:
-          Naked Selfie
-          Belfie
-          Shower Selfie
-          After Sex Selfie
-          Selfie Pamer Ketiak
-          Gym/Abs Selfie
-          Leg-Gun Selfie
-          Selfie Hamil dan Menyusui

Akibat langsung dari kecanduan pornografi:
-          Selfie
-          Sexting
-          Masturbasi
-          Pacaran
-          Oral Seks
-          Pergi ke lokalisasi
-          Pemerkosaan
-          Seks suka sama suka
-          Seks di sekolah
-          Incest
-          Seks dengan binatang



Berdasarkan penelitian Dr. Donald Hilton Jr, bagian otak yang rusak jika kecanduan pornografi yaitu di 5 bagian, sedangkan jika kecanduan narkoba yaitu di 3 bagian saja. Otak anak kita bagaikan air putih yang apabila terkena pornografi seperti air putih yang diberi kopi sehingga menjadi keruh dan untuk membuatnya kembali menjadi putih perlu diterapi, sayangnya ahli terapi kecanduan pornografi masih sangat jarang di Indonesia. Langkah-langkah menjadi terapis bagi anak sendiri:
1.       Tenang!
2.       Hindari marah dan jangan panik
3.       Musyawarah
Tips bicara dengan pasangan:
-     Pilih waktu, waktu yang paling tepat untuk bicara adalah setelah berhubungan suami istri karena pada saat itu sedang rileks
-          Isyu Kritis, misal “Pornografi bisa merusak otak anak”
-        Rumuskan 15 Kata. Otak pria berbeda dengan otak perempuan, mereka tidak akan mendengar jika terlalu panjang dan berbelit-belit. Untuk membuka pembicaraan dan menarik perhatiannya, setelah pilih waktu dan sampaikan isyu kritisnya, sampaikan dengan bahasa yang singkat maksimal 15 kata. Setelah tertarik, baru bisa bicara panjang lebar.

4.       Anak adalah amanah Allah, bisa jadi permata hati, ujian dan musuh (QS 5:48, QS 6:165)
Janganlah ketika diberi kepada kita anak dalam keadaan suci, ketika dikembalikan dalam keadaan bonyok. Apa yang bisa diharapkan dari anak yang kecanduan pornografi setelah dewasa, anak akan menjadi musuh.
 
5.       Takut pada Allah meninggalkannya dhaif
Jika ayah menelepon, jangan hanya menanyakan PR, nilainya bagaimana atau sudah belajar belum, tapi tanyakanlah apakah sudah sholat belum atau sudah mengaji belum.

6.       Terima, maafkan, minta ampunkan (QS 64:14)

7.    Perbaiki pola pengasuhan. Rumuskan tujuan pengasuhan yaitu menyiapkan anak sebagai:
-          Bagi anak laki-laki dan perempuan: hamba Allah yang taat
-          Bagi anak laki-laki dan perempuan: calon istri/suami
-          Bagi anak laki-laki dan perempuan: calon ayah/ibu
-          Bagi anak laki-laki dan perempuan: profesional/entrepreneur
-          Khusus anak laki-laki: pendidik keluarga untuk anak dan istrinya kelak
-      Khusus anak laki-laki: penanggung jawab keluarga yaitu orang tuanya di masa tua
-          Khusus anak laki-laki: pendakwah/berbagi ilmu

Delapan hal membantu anak dalam pola pengasuhan:
-          Jangan fokus aspek akademis semata
-          Aktif  menggunakan teknologi media
-          komunikasi dan disiplin berbeda
-     Perkuat Allah dalam diri anak. Bicarakan tentang memelihara kesucian sampai menikah
-          Kemampuan berpikir kritis
-          Konsep dan harga diri yang baik
-          Mandiri dan bertanggung jawab
-          Doa

8.       Komunikasi. Turunkan frekuensi, baca bahasa tubuh, dengarkan perasaan, bicara secara benar, baik dan menyenangkan.

Generasi Y lahir antara tahun 1980 – 1994, sedangkan generasi Z lahir antara tahun 1994 – 2009. Mengasuh generasi Y & Z tentu berbeda dengan generasi sebelumnya karena mereka belajar, bikin PR, makan, tidur, bahkan bernafas dengan internet karena mereka bersifat multi switching dan tata nilainya berbeda. Semua terasa cepat, instant, menantang dan menyenangkan.

Kurangnya peran ayah sangat berdampak pada anak laki-laki dan perempuan. Hasil tesis Ibu Diah Karim dari Yayasan Kita dan Buah Hati menyatakan bahwa dampak kurangnya peran ayah bagi anak laki-laki akan membuat anak menjadi nakal, agresif, narkoba, seks bebas, sedangkan bagi anak perempuan mengakibatkan depresi dan seks Bebas. Jadi, pulangkan ayah ke rumahnya. Dudukkan di kursi kerajaan rumahnya, bantu dia membuat GBHK, garis besar haluan keluarga dan ibu adalah pelaksananya.

Langkah-langkah bila anak sudah terlanjur terkena pornografi:
1.       Syukur – tempatkan masalahnya
2.       Sabar – menghadapi kerusakan otak
3.       Sholat – mendekat dan meminta pertolongan-Nya
4.       Sedekah
5.       Baca Alquran/kitab suci
6.       Berbaik dengan diri sendiri
7.       Bantu anak dulu

Cara menghadapi anak yang terkena pornografi:
-          Cari tahu penyebab anak mulai mengenal games, pornografi dan pacaran
-     Selesaikan hal-hal yang menyangkut emosi dan harga diri orangtua sehingga kecanduan anak akan menurun. Berikut ini yang ditanyakan kepada anak:
Ø  Kapan pertama kali kamu melihat
Ø  Bagaimana caranya?
Ø  Apa yang kamu rasakan?
Ø  Apa yang kamu lakukan setelah itu?
Ø  Berapa lama kemudian kamu meihatnya lagi?
Ø  Kapan terakhir kali?
Ø  Sekarang apa yang kamu rasakan?
Ø  Apakah kamu merasa perlu bantuan ayah/ibu?

-          Jelaskan target penyedia pornografi
-          Tanyakan bagaimana pendapatnya
-          Pahamkan bagaimana hukum agama dan konsekuensinya
-          Susun langkah yang akan dilakukan bersama
-   Buat peraturan dan sepakati penggunaan gadget, filterisasi rumah misal menggunakan aplikasi utntuk mengontrol hape anak dan menjadi orang tua teladan
-      Anak perlu pendampingan, kenali waktu rentan dan hindari anak dari stimulus
-          Bangun kerjasama supaya anak terbuka mengatakan kepada ortu.
Ceritakan proses kecanduan dengan bahasa yang lebih dipahami anak-anak misal seperti makan es krim yaitu yang biasanya makan w*lls, maka selanjutnya ingin mencoba b*skin dan setelahnya ingin mencoba h**gendasz. Lalu setelah mencoba h**gendasz, bagaimana kalau makan es krim biasa, pasti akan terasa biasa saja. Begitu juga dengan pornografi yang dilihat tingkatannya semakin lama semakin ekstrim karena merasa yang sebelumnya biasa saja. 

-          Sepakati langkahnya agar anak mampu:
Ø  Hadapi – face it
Ø  Gantikan – replace it
Ø  Tobat! Bantu penghayatan tentang keberadaan Allah melalui ibadah tetap dan amal shalih
Ø  Bersama orang lain – connect (terkoneksi dengan orang lain dan tidak banyak bengong supaya tidak kembali melihat)
Ø  Seks halal hanya dengan menikah

Alhamdulillah, dari seminar ini semoga kita bisa mengambil hikmah bahwa mengasuh anak di era digital benar-benar tantangan dimana orang tua harus sudah mengetahui apa yang akan dihadapi. Semoga kita menjadi orang tua yang tidak hanya mengasuh dan mendidik anak-anak kita tapi juga menyapa jiwa mereka dengan menyempatkan diri untuk bicara dari hati ke hati dengan mereka. Good Luck!

#ODOPfor99Days

#Days28  

0 comments:

Posting Komentar