29/05/16

Seminar Parenting: Disiplin dengan Kasih Sayang oleh Elly Risman (Part III)


Setelah sebelumnya membahas tentang pengertian disiplin, part ini akan membahas tentang pendekatan disiplin kasih sayang.


DKS digunakan orang tua dalam mengambil keputusan bagaimana:
-       Mencegah atau berespon terhadap kenakalan anak atau tingkah lakunya yang tidak patut.
-         Mempertimbangkan perasaan di balik perilaku yaitu membantu anak sadar diri dan menggunakan pikirannya, baru mengambil tindakan yang menguatkan harga diri dan tanggung jawab anak.
-        Menekankan pada proses belajar, sehingga mencapai makna sebenarnya dari kata disiplin.

Keunikan pendekatan Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS):
1.       DKS = Pikirkan perasaan anak
2.       DKS = Mengajukan pertanyaan untuk merubah tingkah laku
3.       DKS = Ajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku negatif
4.       DKS = Gunakan kalimat-kalimat singkat dan aturan 2 kalimat.
5.       DKS = Fokus pada hal yang positif

Manfaat menggunakan 5 pendekatan DKS:
-          Memahami cara berfikir anak untuk bisa mendisiplinkannya
-      Beralih dari model hukuman yang menyakitkan ke model pendisiplinan yang efektif dan tidak merusak harga serta kepercayaan diri anak
-          Memahami mengapa anak menjadi “nakal kronis” dan menghindarinya

            1.       DKS = Pikirkan perasaan anak

Anggapan yang keliru tentang tingkah laku anak yaitu:
-          Kita berfikir bahwa segala tingkah laku berkaitan dengan pemikiran
-     Kita percaya jika semua orang selalu memikirkan apa yang mereka lalukan SEBELUM, SELAMA dan SETELAH mereka melakukan sesuatu.
-  Pada kenyataannya, sebagian besar tingkah laku anak didorong oleh perasaan/emosi daripada hasil pemikiran. Lalu apakah pantas anak-anak harus dihukum karena kesalahan mereka?

Bila cara orang dewasa bertindak yaitu E – P – A (Emosi – Pikiran – Aksi), sedangkan cara anak-anak bertingkah laku yaitu E – A – P (Emosi - Aksi – Pikiran). Hal tersebut terjadi karena pada anak-anak sebelum berumur 7 tahun, simpul saraf otak belum bersambungan secara utuh. Jadi, anak belum memiliki keterampilan untuk bertindak berdasarkan hasil pemikiran, dia hanya bertindak berdasarkan perasaan. Hal ini disebabkan bagian otak yang berkembang terlebih dahulu pada anak adalah pusat perasaan atau sistem limbik bukan topi berpikir atau korteks.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah gambar bagian-bagian otak:
1.       Korteks (Topi berpikir)
2.       Sistem Limbik (Pusat Perasaan)
3.       Brain Stem (Batang Otak)





Ketika anak bertingkah laku tidak sesuai, tanyakanlah dulu perasaan/emosi yang mendorong perbuatan tersebut, jangan langsung dimarahai atau dibentak. Anak yang terbiasa hidup dalam pola asuh bentakan akan mengaktifkan batang otak atau brain stem atau dikenal dengan otak reptil sehingga menjadikan mereka bertindak melawan atau melarikan diri (Fight or Flight) selayaknya reptil. Jika bagian otak yang aktif hanya bagian batang otak saja, maka hanya bagian itu saja yang berkembang dan kecerdasan anak menjadi tidak berkembang. Inilah kenapa anak di bawah usia 7 tahun tidak boleh terlalu sering dibentak.

Allah telah menciptakan seorang anak yang cerdas sejak lahir, namun akibat orangtua yang salah perlakuan dalam pengasuhannya menjadikan kecerdasan anak tersebut menurun. Jika orang tua tidak bisa mengenalkan emosi dan perasaan kepada anak, akibatnya anak akan tumbuh tanpa bisa mengenali perasaannya dan tidak memperdulikan perasaan orang lain karena selama ini perasaannya tidak pernah diperdulikan.

Inilah mengapa calistung dan hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran kognitif belum dikatakan efektif diajarkan pada anak dibawah usia 7 tahun karena selain otaknya belum penuh bersambungan, bagian otak yang duluan matang adalah pusat perasaan. Jadi, sebaiknya pada usia 0-7 tahun banyak-banyaklah memperhatikan aspek perasaan anak. Hal ini kadang tidak diketahui oleh banyak orangtua karena minimnya pengetahuan mereka tentang struktur dan kinerja otak.

Ketika anak berusia 7 tahun sambungan-sambungan dalam otak akan mulai bersambungan hingga mulai timbul banyak pertanyaan dari anak. Jangan heran ketika anak mulai banyak menguji pada fase ini dikarenakan mereka mulai mempertanyakan segala sesuatu yang tidak mereka pahami. Namun, hal ini tidak menjadikan korteks telah bersambungan secara sempurna dan matang, korteks baru akan bersambungan secara matang rata-rata pada usia 25 tahun dan anak yang memiliki riwayat pengasuhan yang baik akan matang lebih cepat di kisaran umur 20 tahun.   

Ada dua aspek perasaan yang harus diperhatikan:
-          Perasaan apa yang mendorong kelakuan atau perbuatan anak?
-     Bagaimana perasaan anak setelah pendisiplinan terjadi, jangan sampai anak merasa terhina, bodoh dan takut.

Tiga hal agar disiplin merubah tingkah laku:
-   Anak menyadari perasaan yang mendorong mereka melanggar peraturan.
-     Mereka harus mampu memikirkan apa yang mereka lakukan dan yang mungkin terjadi dari perbuatannya, apa akibatnya bagi orang lain.
-      Harus mampu memperhitungkan bagaimana caranya tidak semata-mata karena dorongan perasaan
-          Jadi gunakan 5 pendekatan  DKS untuk mendisiplinkannya

Bila anak bertingkah laku tidak sesuai harapan, lakukan SLP – B yaitu:
-          S: Stop
-          L: Lihat dan dengar
-          P: Pikirkan apa perasaan yang mendorongnya?
-          B: Bertindak:
1.       Baca bahasa tubuh
2.       Tebak perasaan
3.       Namakan perasaan

Sebagai contoh anak kita yang berkelahi dengan anak tetangga sampai anak tersebut terluka, maka yang pertama kali dilakukan adalah mengobati lukanya lalu pulangkan pada orang tuanya dan meminta maaf pada orangtuanya. Setelah selesai memulangkan, pangku anak kita dan lihat bahasa tubuhnya serta tanyakan perasaannya. Dari bahasa tubuhnya akan terlihat jika anak mengantuk atau lapar, setelah itu tebak perasaannya dan namakan, “capek ya?” atau “ngantuk ya?”. Dengan menerima perasaannya, maka anak akan bercerita sendiri mengenai apa yang dirasakan sehingga anak belajar untuk mengatur emosinya. Setelah anak tenang, barulah kita memberi masukan kepada anak, jangan langsung memarahi atau bahkan langsung menasihati ketika peristiwa terjadi.

Untuk mendisiplinkan anak, pikirkan perasaannya lalu perlahan geser ke pola berpikir sehingga anak akan belajar proses berpikir. Sebagai contoh anak kita yang sudah remaja pulang larut malam dan tiba di rumah pukul 12 malam. Kita sudah pasti khawatir dan ingin rasanya untuk menghubungi seluruh teman-temannya karena ponselnya mati. Apakah kita sanggup meredam amarah ketika anak sampai di rumah? Lakukan langkah-langkah berikut, lihat kondisi anak apakah anak terlihat lelah atau lapar atau sakit? Jika ingin bertanya mengapa ponselnya tidak bisa dihubungi dan pulang terlambat, tidak apa-apa tapi tidak sambil emosi, dengarkan ucapan anak dan pikirkan perasaannya.

Ternyata motornya mogok dan anak mesti mendorong ke bengkel sambil diperbaiki hingga tengah malam. Baca bahasa tubuhnya karena bahasa tubuh anak tidak akan pernah berbohong dan tanyakan perasaannnya, “Jadi, kamu capek mendorong motor ya?” Boleh ditambakan kalimat yang menyatakan perasaan kita tapi cukup kalimat singkat seperti, “Bunda khawatir kalau kamu pulang tengah malam tanpa ada kabar, lain kali tolong beri kabar” dan nasihat lain bisa diberikan lain waktu ketika anak sedang luang.

         2.       DKS = Mengajukan pertanyaan untuk merubah tingkah laku

Ada beberapa faktor mengapa anak sulit mengendalikan tingkah laku:
-          Anak jarang memperhatikan situasi sekitarnya bahkan diri sendiri
-          Anak tidak memahami apa yang terjadi
-          Tidak sadar apa yang mungkin mereka lakukan
-          Mengetahui peraturan tapi tidak menyadari dan menginsyafi yang dikatakan orang
-          Lupa dan tidak perduli

Sebagai contoh, anak berlari di dalam rumah, kemudian mereka menabrak barang di dalam rumah.  Mereka lupa kalau tidak boleh berlari di dalam rumah dan tidak sadar bahwa jika berlarian akan membuatnya terluka. Jadi, cara yang sebaiknya dilakukan dengan bertanya, “Nak, kalau di dalam rumah sebaiknya bagaimana?” “Berjalan” “Kalau berlari, apa yang terjadi?” “Jatuh” “Kalau jatuh, bagaimana perasaanmu?”. Mengapa harus bertanya, karena dengan bertanya anak harus menjawab, ketika menjawab anak akan berfikir, lalu memeriksa diri (look in) dan ada kesadaran diri.

Contoh cara bereaksi, mana yang benar? Anak meletakkan kaki ke atas kursi di rumah orang?
1.       Turunkan kakimu!
2.     Kamu tahu kan kita dimana? Kita tidak di rumah sendiri, kan mama sudah bilang jangan taruh kaki di kursi orang!
3.       Maaf dimana kakimu?

Perbedaan memerintah dan bertanya:


Memerintah
Bertanya
·         Anak tidak memperhatikan tingkah laku
·         Anak tidak berfikir, hanya patuh
·         Tidak membangun kesadaran diri /internal tentang tingkah laku
·         Selalu perlu dikendalikan
·         Tidak tahu apa yang akan dilakukan lain kali
·         Tanggung jawab pada orang tua
·         Otoritas eksternal
§  Anak memperhatikan yang dilakukannya
§  Membuat anak berfikir sebelum berespons
§  Menggugah kesadaran diri
§  Anak mengendalikan dirinya
§  Tahu apa yang akan dilakukan lain kali
§  Tanggung jawab pada anak
§  Otoritas internal











Kontrol dalam diri anak (otoritas internal) vs diluar diri (otoritas eksternal)
-     Kalau anak hanya memperhatikan orang tua atau otoritas eksternal, anak akan bermasalah ketika harus mengembangkan kesadaran internal tentang apa yang harus dilakukan ketika orang tua tidak ada.
-          Otoritas eksternal (kontrol diluar diri) penting untuk keselamatan hidupnya
-   Otoritas internal (kontrol dalam diri) akan membuat anak sadar diri, menyadari apa yang sedang dilakukan, mengambil keputusan bagaimana respons tepat atau yang terbaik, tanpa harus diberi tahu orang tua.
-          Kesadaran diri awal pengembangan otoritas eksternal/kendali diri

Syarat bertanya yaitu tidak dalam nada menuduh, menyindir, menunjukkan bahwa anak bodoh dan tidak paham karena hal tersebut membuat anak membela diri dan tidak mengundang perhatian anak terhadap tingkah laku mereka. Yang perlu diingat adalah remaja membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari bahasa tubuhnya.

Praktek bertanya:
-          Pilihlah salah satu masalah anak
-          Rumuskan pertanyaan
-          Tukar dengan teman
-          Ceritakan masalahnya
-          Ajukan petanyaannya
-          Masing-masing menilai

Langkah kesadaran diri (otoritas internal):
-          Buat aturan
-          Sepakati bersama
-          Diterapkan dengan cara bertanya
-          Konsekuensi – evaluasi

Ada contoh menarik yang diceritakan oleh Bu Elly yaitu ada seorang doktor yang merupakan lulusan dari Harvard University, namun sayangnya dia mengaku tidak pernah mengambil keputusan dalam hidupnya. Sejak kecil semua selalu diputuskan oleh orangtuanya bahkan dalam memilih jurusan sekalipun. Inilah letak perbedaan otoritas internal dan eksternal, dimana seharusnya disiplin membuat anak “Berfikir, Memilih dan Mengambil keputusan” (BMM) karena tidak selamanya orang tua akan berada di sisi anak.

Bersambung ke Part IV


0 comments:

Posting Komentar