28/05/16

Seminar Parenting: Disiplin dengan Kasih Sayang oleh Elly Risman (Part II)

Disiplin dengan Kasih Sayang Part II




Pada part sebelumnya, membahas tentang mengapa disiplin tidak mudah. Pada bagian kedua ini akan membahas tentang gaya disiplin populer yaitu hukuman, hadiah, pukulan atau paksa dan penjelasan mengenai disiplin.  

                Tujuan hukuman yaitu:
-        Membuat anak menyesal atau menyakiti anak karena dia telah berkelakuan tidak baik atau tidak pantas,
-          Anak tidak akan mengulangi perbuatannya lagi
-   Agar efektif, hukuman harus sangat keras sehingga anak tidak mengulang perbuatannya.

Orangtua menghukum karena marah, kecewa, khawatir, takut atau bingung. Lalu apakah benar dengan hukuman membuat anak belajar dari kesalahannya, tidak mengulang perbuatannya, anak menjadi jera dan takut? Ternyata pada kenyataannya tidak sepenuhnya seperti itu. Berikut alasan mengapa hukuman kurang efektif diterapkan:
-   Apakah anak tahu apa yang harus dilakukan ketika situasi sama muncul lagi? Ternyata hukuman membuat anak takut dan tidak membuat anak belajar dari kesalahannya karena datang dari luar diri anak dan tidak mengajarkan kontrol internal agar perilaku tidak terulang.
-       Siapa yang mengendalikan situasi? Yang mengendalikan adalah orang tua sehingga kontrol terhadap sesuatu ada di luar diri anak (eksternal).
-          Tanggung jawab ada pada siapa? Yang bertanggung jawab adalah orang tua.
-     Apa yang difikirkan anak? Anak tidak tahu bagaimana bertingkah laku sesuai dengan harapan orang tua dan mengenang orang tua sebagai sosok yang galak.

Akibat dari hukuman yaitu:
-          Merusak harga diri anak karena menyakitkan secara fisik dan perasaan,
-          Menjadikan anak takut pada orang tua,
-          Melawan orang tua,
-          Berbohong,
-          Melakukan sesuatu diam-diam,
-          Hanya efektif  dibawah 7 tahun, dan
-          Tidak efektif jika terlalu sering digunakan.

Makna hadiah yaitu:
-   Hadiah mengajarkan anak bahwa mereka punya hak mengharapkan bayaran untuk melakukan sesuatu bukan untuk bekerjasama
-    Hadiah memang berakibat lebih baik dan menyenangkan, tapi tidak bisa terus menerus
-          Hadiah bukan sogokan
-          Hadiah tidak selamanya harus benda
-          Harus sesuai dengan usia

Penelitian dari Duke University menunjukkan Bayi 12 bulan yang dipukul memiliki score test kognitif yang lebih rendah dari anak yang tidak dipukul pada usia 3 tahun. Peneliti dari tulane University menujukkan sekitar 2.500 anak-anak yang diteliti yang biasa atau sering dipukul pada usia 3 tahun akan cenderung lebih agresif pada usia 5 tahun. Anak yang lebih agresif jadi lebih banyak dipukul sehingga akan menjadi lingkaran setan.

Pukulan itu:
-       Pukulan tidak mengajarkan apa yang seharusnya dia lakukan tapi apa yang tidak boleh saja
-          Tidak akan bermakna kalau terlalu sering
-          Kalau terpaksa melakukan, jelaskan “mengapa!”
-          Anak yang dipukul cenderung berperilaku menyimpang
-          Menuntut pemenuhan/kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhannya
-          Mudah frustasi, temper tantrums dan gampang mukul orang lain
-          Pukulan menanamkan lebih banyak ketakutan dibandingkan pengertian
-          Jangan memukul jika hanya untuk menyakiti
-          Pukulan membuat anak merasa “saya jelek atau tidak berguna!”

Jadi, apakah anak tidak boleh dihukum dan diberi hadiah? Hukuman dan hadiah boleh diberikan asal tidak terus menerus. Hadiah diberikan dengan syarat setelah anak berhasil melakukan sesuatu, tanpa dijanjikan di depan karena akan membuat anak menjadi penuntut. Apabila sejak kecil diberi hadiah besar, maka saat dewasa hadiah apa lagi yang akan diminta?

Islam memang memperbolehkan memukul tapi banyak syarat yang harus diperhatikan yaitu boleh dipukul di kaki dan pemukul harus dilapisi sesuatu yang tidak mengenai kulit dan jelaskan mengapa. Jika kita ingin memukul kemudian kita mencari kain untuk melapisi benda yang akan digunakan untuk memukul, maka kemarahan otomatis sudah mereda. Tidak serta merta pukulan langsung dijalankan jika anak melanggar peraturan. Apakah peraturan sudah dijelaskan kepada anggota keluarga? Apakah sebelumnya anak sudah diberitahukan konsekuensi jika melanggar?

Setiap peraturan yang dibuat harus dijelaskan kepada seluruh anggota keluarga, kemudian beritahukan konsekuensi apa yang akan didapat ketika melanggar dan setelah mereka paham aturan dan konsekuensinya, baru dijalankan. Ingatlah, ketika orangtua menghukum anaknya dengan memecutnya menggunakan “ikat pinggang”, hal yang sama pun akan terulang ketika anak tersebut saat dewasa nanti. Kata kunci dalam menerapkan disiplin yang kelima yaitu “ikat pinggang”. Membesarkan anak dengan kekerasan hanya akan menghasilkan anak yang gampang melakukan kekerasan. Berpikir sebelum bertindak, apakah yang kita lakukan akan berakibat baik atau buruk bagi anak.      

Mengapa anak tidak dipaksa saja untuk patuh? Jika dipaksa maka anak tidak akan pernah belajar berpikir bagi dirinya sendiri, kemampuan berpikir anak menjadi kurang berkembang, anak tidak punya kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri, dan anak akan menjadi pengikut bukan pemimpin. Ada banyak faktor yang membuat anak bertingkah laku tidak seperti yang diharapkan yaitu belum mampu, anak mungkin ingin tahu, capek, sakit, lapar, bosan, canggung atau sekedar minta perhatian, lagi pengen nge-“test” dan unjuk diri, aturan tidak jelas, mereka telah diberi hadiah untuk bertingkah laku tidak baik, meniru orang tua, merasa diri tidak berharga dan melindungi dirinya.

Ingatlah, anak kita akan memasuki era Brain to Brain Competition di masa depan, dimana bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik tapi mereka akan bersaing dalam hal kemampuan berpikir, kemampuan dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

DISIPLIN

Disiplin berasal dari bahasa latin yaitu “Disciplina and Discipulus” yang berarti “instruction & student” yaitu petunjuk dan murid. Disiplin bukanlah hukuman, latihan dan kepatuhan tapi disiplin memberikan petunjuk berperilaku. Disiplin juga bukanlah peraturan, makna disiplin adalah pengasuhan dan mengajar kelakuan. Kata kunci dalam menerapkan disiplin yang keenam “kontrol dalam diri anak”. Tujuan disiplin adalah membangun kontrol dalam diri anak supaya:
-          Mampu mengontrol dan mengendalikan diri
-          Bertanggung jawab kepada Allah
-          Memahami perasaan diri dan orang lain
-          Mengutamakan pikiran dari perasaan
-          Memiliki pertimbangan yang baik
-          Mampu bekerjasama dengan baik
-          Pribadi yang menyenangkan dan bahagia

Perbedaan disiplin dan hukuman adalah sebagai berikut:

Disiplin
Hukuman
-          Membantu anak: memiliki kesadaran diri dan membangun kontrol dalam dirinya
-          Membantu ia merasa oke
- Memberi ia kesempatan untuk memperbaiki diri
-   Membuat ia bertanggung jawab terhadap perbuatannya
-    Menunjukkan pada anak bahwa dia nakal atau jelek
-  Tidak membantu anak sadar diri, mengontrol kelakuan dan belajar apa yang seharusnya dilakukan
-   Tak berhubungan dengan kelakuan dan seringkali tidak masuk akal.


Bagaimanapun cara mendisiplinkan anak tidak mudah dan tidak ada “best way”, maka sebaiknya berikan pilihan yang pas. Cara mendisiplinkan antara anak yang satu bisa saja berbeda dengan anak kedua, mungkin cara tersebut efektif di anak pertama namun belum tentu efektif di anak kedua. Masing-masing anak adalah unik, oleh sebab itu cara mendisiplinkan anak disesuaikan dengan sifat dan karakter anak masing-masing.

                Dasar dari disiplin yaitu:
-        Anak merupakan anugrah dan amanah Allah yang diititipkan melalui rahim seorang ibu. Rasakan kebanggaan mendapat kesempatan mengasuh mereka, tidak semua orang diberi kesempatan untuk merawat dan membesarkan seorang anak. Bahkan, ada orangtua yang demi mendapatkan anak harus melewati sejumlah proses yang tidak mudah dan biaya yang mahal, maka perlakuan terhadap anak harus sebaik mungkin. “Muliakanlah anakmu dan ajarkanlah akhlak yang baik” adalah perintah agama karena kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan terhadap anak kita.
-          Orang tua juga harus memahami bahwa perkembangan otak anak belum sempurna, itulah sebabnya mengapa mereka bersikap egosentris dan memiliki cara berfikir yang berbeda dengan kita. 

Jika orang tua sudah menyadari kedua dasar disiplin tersebut, maka mengasuh anak membutuhkan bimbingan dan latihan dengan cinta dan logika, tidak cukup hanya cinta saja atau logika saja. Mengasuh anak hanya dengan cinta tanpa logika akan membuat kita bersikap berlebihan dalam memaknai kasih sayang. Mengasuh anak juga perlu menggunakan logika karena kita mengetahui bahwa perkembangan otak mereka belum sempurna, jadi wajar jika mereka masih butuh bimbingan dan latihan dan melakukan kesalahan. Jika dua hal ini digunakan dalam mengasuh anak, maka akan tercipta saling menghormati dan saling menghargai antara anak dan orang tua.

Fungsi disiplin adalah memberitahukan kepada anak tentang:
- Hal apa yang orang tua ingin dilakukan anak dan mengapa orang tua menginginkannya.
-          Hal yang orang tua tidak ingin dilakukan anak dan mengapa tidak boleh.

Oleh karena itu, tugas orang tua adalah menjelaskan alasannya apa dan kenapa karena anak-anak kita diciptakan cerdas oleh Allah dan mereka kritis dalam setiap pertanyaannya yang disebabkan oleh otaknya yang mulai bersambungan. Kata kunci dalam penerapan disiplin yang ketujuh adalah alasannya apa dan kenapa, “reason why?”. Berikanlah alasan mengenai apa dan kenapa suatu peraturan diberlakukan. Itulah kenapa orang tua harus mempersiapkan diri dengan jawaban yang akan diberikan tentang mengapa aturan diberlakukan dan sejauh mana aturan dijalankan karena ada dua alasan mengapa mereka bertanya yaitu anak belum tahu dan ingin tahu atau anak sudah tahu dan ingin mengetes jawaban tersebut. Ketika orangtua tidak siap dengan jawabannya, jujurlah jika orang tua tidak tahu dan bermaksud bersama-sama mencari tahu jawabannya.

    Dengan memberitahukan anak mengenai hal tersebut tersebut, diharapkan disiplin akan membentuk kebiasaan sedari kecil dan meninggalkan kenangan yang baik bagi anak. Jadi, kebiasaan yang terbentuk akan meninggalkan kenangan yang terekam dalam memori anak, lalu akan seperti apa kita ingin dikenang oleh anak-anak kita?

Bu Elly bercerita tentang ibunya yang mendidiknya sedari kecil untuk bisa tampil “di depan” dan “di belakang”. Di depan adalah istilah untuk para istri bahwa mereka tidak akan mempermalukan suami jika dibawa ke hadapan tamu suami baik para atasan atau para pejabat atau bahkan duta besar, sedangkan di belakang adalah istilah untuk menggambarkan bahwa istri juga harus bisa berkutat di dapur sehingga jika suatu saat menikah dan pergi mengikuti suami meninggalkan sanak famili, maka akan bisa mandiri. Ibunda Bu Elly ketika mengajarkan Bu Elly mengenai urusan dapur sangat disiplin sehingga semua harus kembali seperti kondisi semula saat belum memasak, baik panci dan alat masak lainnnya. Ternyata setelah menikah, Bu Elly yang bersuamikan Pak Risman, mengikuti beliau tinggal di Amerika yang jauh dari kerabat.

Suatu ketika, Bu Elly dipanggil oleh Winston Churchill untuk bekerja di rumahnya yang layaknya kastil dengan halaman sangat luas. Bu Elly ikut bekerja disana sambil membantu penghasilan keluarga karena tinggal di Amerika untuk melanjutkan studi Pak Risman yang waktu itu penghasilannya tidak seberapa. Satu peraturan yang diucapkan Churcill bahwa dapur setelah digunakan harus kembali seperti sedia kala seperti sebelum digunakan. Ternyata kebiasaaan yang ditanamkan ibunya tersebut berguna di kemudian hari saat Bu Elly dewasa.

Sangat sulit bagi Bu Elly untuk pulang ke Indonesia karena pada hari Raya Idul Fitri beliau harus berada di kantor Duta Besar Indonesia di Amerika sehingga ucapan Idul Fitri pun hanya bisa dilakukan via telepon kepada ibu tercinta. Inilah yang dimaksud Ibunda Bu Elly bahwa sebagai istri harus bisa tampil di depan dan di belakang. Betapa kebiasaan yang terbentuk sejak kecil sangat berpengaruh pada kepercayaan diri Bu Elly sehingga dia bisa terampil “di belakang” yaitu mengerjakan urusan dapur dan tampil “di depan”, di hadapan publik untuk mendampingi Pak Risman dalam menyambut tamu negara. Bagaimana cara kita sebagai orangtua membentuk kebiasaan disiplin yang baik supaya anak kita bisa survive di masa depan?               

                Disiplin juga meninggalkan kenangan tersendiri bagi anak, apakah itu kenangan baik atau buruk karena disiplin merupakan pengulangan kebiasaan sehingga akan terus terekam dalam memori anak. Contoh yang diberikan Bu Elly yaitu saat beliau masih berada di bangku SMP dan saat itu sedang ramai demonstrasi kepada presiden Soekarno, termasuk beliau ikut serta dalam demo tersebut. Pada saat aktivis berdemonstrasi dan bersitegang dengan ABRI sehingga mengakibatkan banyaknya korban berjatuhan salah satunya adalah Arief Rahman Hakim, beliau berada di tengah kericuhan dan karena ketakutan, lari dari kumpulan demonstran ke rumahnya.

Sampai di depan pintu rumahnya, ayahnya menyambutnya di depan sambil masih mengenakan sarung dan berkata, “Ada apa, Elly?”. Sambil terbata-bata Bu Elly menjelaskan keadaan dan sangat kaget saat ayahnya berkata, “Kembali kesana, Elly! Bapak lebih bangga kamu mati di medan pertempuran daripada mati digigit nyamuk!”. Maksud ayah beliau adalah lebih baik memberikan segenap tenaga untuk berjuang daripada tidak berbuat apa-apa di rumah. Lalu tiba-tiba ibunya muncul dan berkata, “Elly, kamu belum makan?”, “Iya”, “Kamu belum shalat?”, “Iya”, “Biarkan Elly masuk dulu pak, setelah sholat dan makan barulah dia kembali lagi kesana”. Itulah bagaimana seorang ibu yang berusaha untuk tetap tenang melihat permasalahan dan mencoba melindungi putrinya juga melaksanakan perintah suaminya.     

Itulah bagaimana Bu Elly masih dengan jelas mengenang ayah dan ibunya dan masih jelas terekam dalam memorinya. Kata-kata ayahnya yang membuat dirinya masih terus berjuang dengan yayasan yang dimilikinya, Kita dan Buah Hati untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya pornografi dan melakukan pendampingan dan terapi terhadap anak-anak remaja walaupun pemerintah tidak mendukung. Beliau berpikir lebih baik berjuang hingga akhir daripada mati dalam keadaan nyaman. Itulah Bu Elly yang sampai hari ini masih berjuang menghadapi banyaknya permasalahan yang menimpa walaupun di umur yang sudah mencapai 64 tahun.       

Bersambung ke Part III

#ODOPfor99Days
#Days30

0 comments:

Posting Komentar