Senin, 23 Mei 2016

Seminar Parenting: Disiplin dengan Kasih Sayang Oleh Elly Risman (Part I)



          Seminar ini adalah salah satu bahasan yang paling saya nanti-nantikan. Kenapa? Karena setelah pelatihan KBBM (Komunikasi Baik, Benar dan Menyenangkan), saya sudah niat sekali ikut pelatihan Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS). Mungkin beberapa masih ada yang bingung perbedaan antara seminar, workshop dan pelatihan? Seminar berlangsung selama 3-4 jam di hari yang sama, workshop durasinya lebih lama yaitu 6-7 jam sedangkan untuk pelatihan berlangsung minimal 2-5 hari. Nah, karena salah satu syarat pelatihan DKS sudah mengikuti pelatihan KBBM, jadi sebenarnya saya sudah lulus persyaratan, tapi kendala ternyata ada di waktu.

Pelatihan DKS berlangsung selama 4 hari di bulan April 2015 dengan jeda waktu seminggu sekali, namun berhubung saya di bulan April sudah memesan tiket dari awal tahun untuk liburan selama seminggu, jadi saya tidak bisa mengikuti pelatihan tersebut. Nah, tiket pesawat juga sudah pernah di cancel sebelumya, jadi suami urung di reschedule lagi. Akhirnya saya tidak jadi mendaftar di pelatihan tersebut. Alhamdulillah, di bulan April 2015 ternyata ada seminar dengan tema yang sama dari Ibu Elly, tanpa pikir panjang saya langsung daftar seminar dari The Urban Mama tersebut. Tapi, saya merasa kurang puas karena waktunya yang terbatas di Bumbu Desa Cikini sehingga banyak slide yang tidak sempat dijelaskan karena tema ini memang banyak dan padat berisi.

Kali kedua seminar ini diadakan lagi di Bekasi pada bulan September 2015 oleh teman satu grup Yayasan Kita dan Buah Hati. Karena saya merasa kemarin ilmunya masih belum lengkap, saya mendaftar lagi dan benar-benar dibahas full sampai slide terakhir walaupun akhirnya peserta harus mengorbankan sesi pertanyaan karena sudah melewati waktu yang ditentukan. Materi ini memang bahasan yang penting banget dan paling sulit diterapkan jadi masih menjadi PR untuk saya juga sampai sekarang. Yuk kita simak bahasannya. 

Banyak sekali hal-hal yang tidak diajarkan oleh orangtua saat ini. Salah satu skill yang jarang diajarkan orang tua ke anak yaitu thinking skill, problem solving skill, writing skill dan decision making process. Kebanyakan yang terjadi adalah orang tua menjadikan anaknya memiliki lazy mind yaitu anak yang malas berpikir akibat dari gaya pengasuhan dari orangtua itu sendiri. Orang tua kerap tidak tega dan mudah sekali memberikan bantuan kepada anak. Gaya pengasuhan yang diterapkan yaitu gaya helikopter dimana ketika anak butuh maka si helikopter atau orangtuanya dengan sigap akan memberikan segala bala bantuan kepada anaknya. Akibatnya anak kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dan mengontrol dirinya dan tidak bisa mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

Disiplin merupakan masalah paling rumit di dunia. Disiplin sampai saat ini masih menjadi hal yang sulit untuk diterapkan di Indonesia, padahal hal tersebut sangat penting. Mengapa disiplin tidak mudah? Ada 6 hal yang membuat disiplin menjadi tidak mudah yaitu:

     1.       Inkonsitensi antar pasangan karena pengalaman masa kecil mempengaruhi gaya disiplin sekarang.

Akibat perbedaan pengasuhan antara suami dan istri yaitu mempengaruhi bagaimana cara mengasuh anak mereka kelak. Orang tua yang tidak selesai dengan urusan diri sendiri dan sampah masa lalunya akan memunculkan orang tua yang dalam fisiknya sudah dewasa namun jiwanya masih seperti anak-anak yaitu innner child within. Oleh karena itu, kata kunci pertama dalam menerapkan disiplin yaitu “selesaikan dulu urusan dengan diri sendiri, selesaikan masalah dengan anak kecil di dalam diri kita masing-masing dan selesaikan masalah dengan suami atau istri”, baru setelah itu kita bisa mengasuh anak dengan baik.

Parenting is all about wiring. Pengasuhan merupakan pengalaman dan pembiasaan. Ketika sang ayah dan bunda memiliki kebiasaan masing-masing yang berbeda, maka sang anak akan bingung jika tidak ada kesepakatan dari orangtua mengenai penerapan disiplin di dalam rumah. Sebagai contoh, ketika si ibu masih kecil dan bangun tidur, apa yang pertama kali dilakukan? Kebanyakan anak perempuan yang baru bangun tidur akan merapikan tempat tidurnya, baru melakukan ativitas yang lain yaitu beres-beres dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan anak laki-laki? Ada sebagian dari mereka yang tidak langsung membereskan tempat tidur, dia hanya duduk lalu langsung melanjutkan aktifitasnya tanpa membereskan tempat tidurnya dahulu. Perbedaan pengalaman dan kebiasaan ini yang membentuk wiring sampai suami/istri tersebut besar dan terbentuk otomatis dalam tingkah laku mereka. Ketika mereka memiliki anak, maka yang terjadi adalah si ibu setiap pagi-pagi berteriak untuk merapikan tempat tidur sedangkan si ayah hanya duduk dan langsung beraktifitas. Akhirnya si anak yang bingung dengan penerapan disiplin yang terjadi di rumah. Oleh karena itu, orang tua harus memiliki konsistensi dalam mengasuh anak dalam bentuk kesepakatan mengenai penerapan dirisplin di dalam rumah.

       2.       Kepribadian anak dan kedua orangtua sangat berbeda.

Anak adalah pribadi yang unik dan berbeda dengan orangtuanya, namun seringkali orang tua tidak sadar akan hal itu. Anak bukanlah miniatur diri kita di masa depan, mereka bukan “mini me”. Mereka memiliki sifat dan karakter masing-masing dan juga kepribadian yang berbeda karena masing-masing membawa gen ayah dan gen ibu dan mana yang akan muncul tidaklah diketahui. Jadi, orang tua tidak boleh memaksa anak untuk menjadi seperti dirinya karena Allah menciptakan makhluknya berbeda. 

       3.       Sejauh apa kewenangan kita terhadap anak?

Orang tua seringkali lupa yang mana wewenang orangtua dan yang mana merupakan hak anak. Anak adalah amanah Allah yang dititipkan langsung tanpa perantara ke dalam rahim ibu sehingga amanah tersebut harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Anak bukan milik orangtua tetapi milik Allah suatu saat akan diminta kembali oleh Yang menitipkannya. Oleh karena itu, dalam membesarkannya perlu untuk mengetahui tentang batasan dan aturan yang berlaku sesuai dengan umur dan tahap perkembangan anak. Sebelum umur 7 tahun, otak belum bersambungan sehingga anak cenderung menurut dengan aturan yang diberikan. Setelah 7 tahun, otak mulai bersambungan sehingga anak mulai melawan.

Oleh karena itu, batasan dan aturan harus dimulai sejak dini yaitu 0-7 tahun dimana di usia tersebut anak masih bisa diatur. Jika di usia tersebut sudah jelas batasan dan aturan, ketika anak menginjak usia remaja maka akan lebih mudah dalam menerapkannya karena pondasi awal sudah kuat tertanam dalam diri anak. Jika batasan dan aturan tersebut tidak dijelaskan sejak dini, maka anak akan bingung atau bahkan bertindak tidak sesuai dengan aturan yang ada.
      
Kata kunci kedua dalam menerapkan disiplin bagi anak yaitu “The Power of V of Love”. Bentuklah huruf V dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. Celah diantara jari telunjuk dan jari tengah semakin menyempit ke bawah dan semakin melebar ke atas. Jari telunjuk dan jari tengah melambangkan batasan sedangkan bagian bawah jari melambangkan umur 0 tahun dan bagian atas jari melambangkan umur remaja. Ketika jari telunjuk dari tangan yang lain diarahkan ke bagian menyempit di antara jari tengah dan telunjuk, maka yang dirasakan adalah sulit digerakkan.

Hal ini dimaksudkan bahwa semakin dini, maka batasan semakin dipadati karena ketika penanaman disiplin dilakukan pada usia tersebut akan lebih mudah dan pondasi anak akan menjadi kuat. Semakin keatas berarti umur anak semakin bertambah dan batasan semakin dikurangi. Ketika anak beranjak remaja, mereka tidak suka batasan yang terlalu kencang sehingga tugas orangtua pada masa ini adalah mengawasi mereka. Jadi, jika prinsip V Of Love ini diterapkan maka ketika mereka remaja penanaman disiplin yang padat dilakukan pada masa kecil akan memberikan mereka aturan yang secara otomatis tertanam dalam diri mereka pada saat mereka remaja. Jadi, walaupun batasan dikurangi pada saat mereka remaja, pondasi mereka sudah kuat.

Apabila pengasuhan didelegasikan ke orang lain, maka akan berakibat sebaliknya yaitu posisi “V” terbalik. Ketika pengasuhan dilakukan oleh orang lain, batasan dan aturan seringkali tidak diterapkan oleh sang pengasuh misalnya saja babysitter atau neneknya sejak kecil. Inilah yang mengakibatkan aturan dan batasan tersebut malah longgar di usia dini dan dikencangkan di usia remaja seperti analogi huruf V yang terbalik.

Ketika aturan dan batasan tidak diterapkan dan disiplin tidak ditanamkan sejak kecil, maka pijakan untuk pondasi tidak kuat. Lalu ketika sang anak tumbuh remaja dan batasan dikencangkan, sang anak yang terbiasa dengan aturan dan batasan yang sebelumya longgar dan tidak jelas akan mulai membangkang dan melawan. Inilah kenapa bagian sempit antara jari telunjuk dan jari tengah dalam huruf V terbalik yang melambangkan aturan dan batasan yang dipadati atau dikencangkan akan terasa sulit jika baru diterapkan ke anak di fase baligh. Resikonya mereka akan menguji batasan tersebut dan beralih ke hal-hal yang membuatnya keluar dari tekanan tersebut misalnya narkoba, seks bebas, dll.               

       4.       Tidak mudah menyeimbangkan keunikan anak, fleksibilitas dan batasan yang tegas.

Masing-masing anak unik dan memiliki cara masing-masing dalam menghadapinya. Orang tua sebaiknya fleksibel dalam menerapkan batasan sesuai dengan keunikan anak. Gaya parenting pada anak pertama belum tentu cocok dengan dengan anak kedua. Oleh karena itu, perlu melakukan observasi terhadap kepribadian anak dan mengetahui perbedaan cara komunikasi dengan masing-masing anak.

Misalnya Bu Elly pada anak pertama menerapkan peraturan untuk diletakkan di pintu kulkas dan jika ada yang melanggar maka anak tersebut disuruh untuk membaca aturan di pintu dan merefleksikan kesalahannya lalu menerima konsekuensinya. Hal ini juga berhasil di anak kedua, namun ternyata tidak berhasil di anak ketiga. Anak ketiga protes kepada sang ibunda karena dirinya bukanlah seperti kakaknya yang jika melakukan kesalahan akan membaca di pintu kulkas. Oleh karena itu, si ibu harus berpikir kreatif bagaimana menyeimbangkan keunikan anak dan fleksibel dalam menerapkan aturan dan batasan yang tegas. Namun, ada hal-hal tertentu yang merupakan batasan tegas dan tidak boleh ditawar-tawar yaitu yang menyangkut perintah agama.

       5.       Orangtua tidak tahu bagaimana cara yang tepat dan benar, kapan dan bagaimana lalu apa akibat jangka pendek dan panjangnya dari pola asuh yang diterapkan.

Pola asuh anak selagi kecil sangat berpengaruh terhadap sikap dan kepribadian anak di masa yang akan datang. Itulah kenapa pengasuhan adalah proses wiring yang membentuk kebiasaan dan menghasilkan “tombol” yang siap untuk ditekan. Kata kunci ketiga dalam menerapkan disiplin yaitu “tombol”. Ketika anak dibesarkan dengan cara dibentak dan penuh teriakan, maka dia akan tumbuh sebagai orangtua yang suka membentak dan berteriak.

Begitu halnya dengan anak dibesarkan dengan pukulan dan kekerasan, maka dia akan tumbuh menjadi orangtua yang pemukul dan suka melakukan kekerasan. Inilah yang disebut sebagai “tombol” yang akan aktif apabila menghadapi tekanan karena kebiasaan semasa kecil dan hal tersebut secara otomatis akan dilakukan karena sudah lama tertanam dalam dirinya. Oleh karena itu, “tombol” ini harus diselesaikan dulu oleh orang tua sebagai sampah masa lalu yang belum terselesaikan.   

Orang tua tidak tahu bagaimana cara yang tepat dan benar, kapan dan bagaimana mengasuh anak lalu apa akibat jangka pendek dan jangka panjang dari pola asuh yang diterapkan. Ketika mereka tidak bisa menghadapi anak yang tidak mematuhi aturan, akhirnya mereka mengeluarkan “palu” sebagai satu alat mereka untuk membuat anak patuh. Kata kunci dalam penerapan disiplin yang keempat adalah “palu”. Jangan seperti tukang bangunan yang hanya memiliki “palu” dimana segala hal dilakukan tukang bangunan dengan palu. Menghadapi anak yang tidak mematuhi aturan bukanlah hanya mengunakan satu alat yaitu hukuman, hadiah, pukulan atau paksaan.

       6.       Hasil pendisiplinan tidak tampak segera

Allah SWT telah menciptakan makhluk yang sempurna dan cerdas ketika anak terlahir di dunia. Namun, ternyata orang tua tidak sadar bahwa pola asuh yang dilakukannya membuat anak mengalami kemunduran dalam kecerdasannya. Orang tualah yang berpotensi merusak dan membuat sang anak mengalami kemunduran dari proses awal anak saat diciptakan oleh Allah SWT. Jadi, tugas orang tua adalah belajar bagaimana mengasuh anak dengan baik karena hasilnya tidak tampak segera seperti membangun jembatan yang terlihat secara fisik.   

Banyak-banyaklah tersenyum kepada anak karena senyum memicu otot dan pembuluh darah di sekitar wajah tertarik. Senyum membuat batang otak mendingin dan terisi oleh cairan otak bernama seretonin yang menyebabkan anti agresivitas. Ketika kita tersenyum akan memicu orang lain untuk tersenyum juga itulah kenapa senyum adalah sedekah bagi diri sendiri dan orang lain. Ingatlah, setiap hal yang kita lakukan selalu pikirkan dampaknya dan apa efeknya ke anak ketika mereka besar nanti!    

Bersambung ke Part II

#ODOPfor99Days
#Days29  

0 comments:

Posting Komentar