06/04/16

Pelatihan Parenting: Komunikasi Baik, Benar dan Menyenangkan oleh YKBH (Part III)

(gambar ini diambil dari sini)

Setelah sebelumnya mengetahui langkah-langkah komunikasi efektif dan menyenangkan dengan anak sampai dengan mendengar perasaan, selanjutnya akan dijelaskan pada bahasan berikut ini:

4.       Berusaha Mendengar Aktif (MA)
Mendengar aktif adalah teknik mendengar yang tidak menghakimi, menilai dan mengkritik, tetapi lebih cenderung menerima, memaafkan dan memahami. Mendengar aktif digunakan:
a.       Saat anak bermasalah dengan perasaannnya. Cara mengatasinya dengan membuat got perasaan yaitu dengan menanyakan perasaan anak. Contoh: “Aku benci sama dia (pulang sekolah sambil melempar tas)”. Bunda menjawab, “Kaka sedang kesal ya?”
b.      Saat kita ingin menolak permintaan anak. Contoh: “Aku mau mainan yang itu”. Bunda menjawab, “adik suka mainan itu ya?”
c.       Saat kita menunjukkan tidak menerima cap atau penilaian anak. Contoh:”Aku enggak suka sama Bunda, bunda galak!”. Bunda menjawab. “Adek enggak suka bunda ya?” 

Dengan mendengar aktif anak belajar tentang:
a.       Mengenali, menerima, menghargai perasaannya sendiri
b.      Mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi
c.       Menemukan cara mengatasi perasaan dan masalahnya
d.      Peduli dan memahami orang lain
e.      Belajar bahasa respek

Sikap dan keterampilan orang tua mendengar aktif:
a.       Mampu menghargai perasaan dan apa yang diucapkannya
b.      Terbuka terhadap makna dibelakang kata dan bahasa tubuhnya
c.       Mau mengerti

Keterampilan mendengar aktif:
a.       Tampilkan bahasa tubuh yang sesuai
b.      Perhatian yang penuh, tinggalkan pekerjaan
c.        Lakukan kontak mata
d.      Dengarkan perasaan dan perhatikan bahasa tubuhnya
e.       Cari kata yang menggambarkan perasaan anak
f.        Gunakan rumus:
Kamu… (perasaan) karena… (alasan)
Contoh: Kamu kesal ya karena temanmu menganggumu di sekolah? Atau
                Kaka senang ya karena bunda belikan mainan
               
5.       Mengarahkan anak untuk BMM (berfikir, memilih, mengambil keputusan)
Sebagian besar tingkah laku didorong oleh perasaan/emosi dari pada hasil pemikiran. Pentingnya BMM :
a.        Mengajarkan anak untuk berfikir (bereaksi atas dasar pikiran bukan perasaan)
b.      Mengajarkan anak untuk memilih (menentukan apa yang harus dilakukan)
c.       Mengajarkan anak untuk memutuskan (mengambil keputusan untuk dan atas namanya sendiri)
Cara-cara BMM:
a.       Ortu mengarahkan dengan bertanya bukan bicara
b.      Gunakan pertanyaan terbuka (open-ended question) yaitu pertanyaan yang jawabannya bukan ya atau tidak.
Contoh: “Terus kamu maunya gimana?”, “Jadi, apa yang sebaiknya kamu lakukan?”, “Kapan kamu mau ngerjain?”

6.       Menggunakan Pesan saya (PS)
Dalam berkomunikasi, kita terbiasa menggunakan pesan kamu dan tidak membedakan antara anak dengan perilakunya sehingga membuat anak merasa disalahkan, direndahkan dan disudutkan. Contoh pesan kamu: “Kamu seperti orang yang tidak punya sopan santun, lihat dong apa yang sedang ibu kerjakan!”. Atau “Kamu itu mengganggu saja!”.

Berbeda dengan pesan saya (PS) yang lebih menekankan perasaan orangtua sebagai akibat dari perilaku anak sehingga anak belajar bawa setiap perilakunya mempunyai akibat bagi orang lain. PS digunakan untuk menyampaikan perilaku anak yang tidak sesuai namun tidak menyebabkan harga diri sang anak menjadi jatuh. PS membuat anak merasa lebih nyaman tetapi sadar akan perilakunya. Contoh PS, “Bunda sedih kalau kamu menginjak lantai yang baru di pel dengan sepatu kotormu karena bunda harus mengepel  lagi. Padahal ibu ingin istirahat.” Atau “Bunda tidak suka kalau bunda sedang berdoa kamu ribut dengan adikmu karena mengganggu konsentrasi bunda.

Tahapan PS:
a.       Sebutkan tingkah laku anak yang mengganggu orang tua
b.      Sampaikan konsekuensi nya terhadap perasaan kita
c.       Penyampaian dilandasi kasih, tegas, tidak merusak perasaan dan harga diri anak.

Kemudian nyatakanlah dalam kalimat:
Ayah/Bunda… (perasaan orang tua), kalau kamu… (perilaku anak), karena… (konsekuensi terhadap diri orang tua/lingkungan).
Contoh:
“Bunda sedih kalau kakak memukul adik karena adik bisa sakit dan terluka” atau
“Bunda sedih dan malu kalau melihat caramu makan karena ruangan jadi kotor dan lantainya pun lengket.”

7.       Menentukan masalah siapa
Ketika menghadapi lawan bicara yang bermasalah, kita perlu mengidentifikasi bahwa masalah siapa ini karena:
a.       Pada umumnya orangtua selalu merasa perlu membantu dan harus terlibat dalam seluruh aspek kehidupan anak-anaknya.
b.      Orangtua tudak mungkin menjadi problem solver terus menerus, yang harus selalu memecahkan semua masalah
c.       Tidak semua masalah yang terjadi pada anak adalah masalah orangtua
d.      Kita harus mengajarkan anak rasa tanggung jawab atas pilihan dan kelakuannya untuk belajar memecahkan masalahnya sendiri.
e.      Dengan ikut campur menangani masalah anak, maka orangtua sebenarnya menciptakan anak yang tergantung, tidak mampu berpikir, memecahkan masalah, mengambil keputusan, orangtua menghilangkan kesempatan anak untuk mengembangkan tanggung jawab dan menyelesaikan masalahnya sendiri sehingga berani/siap menanggung konsekuensinya.
f.        Orangtua harusnya menyadari bahwa mereka tidak selamanya bisa dan mampu menolong serta menyenangkan anak-anaknya. Ini adalah salah satu cara agar anak bisa mandiri dan merupakan latihan untuk hidup mereka untuk tidak menjadi beban berkepanjangan bagi orangtua.

Jadi, tak mungkin tidak mengajar anak untuk mandiri dan sebagai orangtua harus mengidentifikasi:
a.       Masalah siapa ini?
b.      Siapa yang mengalami kesulitan dan dengan siapa?
c.       Tujuan atau kehendak siapa yang tak tercapai?

Yang punya masalah bertanggung jawab menyelesaikan masalahnya.

Setelah mendengar perasaan anak yang sedang bermasalah, tentukan siapa pemilik masalah dengan menanyakan pada diri sendiri:
a.       Apakah tingkah laku anak menganggu hak (kita) sebagai manusia?
b.      Apakah tingkah laku anak mengganggu keselamatan anak kita atau orang lain?
c.       Apakah tingkah laku anak mengganggu keselamatan harta benda kita?

Jika semua jawabannya “YA”, maka itu masalah orang tua dimana orangtua yang merasa terganggu haknya, maka gunakan PS.
Jika semua jawabannya “TIDAK”, maka itu masalah anak maka yang dilakukan adalah MA.

Contoh: Anak berkelahi di mobil, tanyakan pada diri sendiri
a.       Apakah tingkah laku anak menganggu hak (kita) sebagai manusia? YA (mengganggu konsentrasi)
b.      Apakah tingkah laku anak mengganggu keselamatan anak kita atau orang lain? YA (sendiri dan orang lain)
c.       Apakah tingkah laku anak mengganggu keselamatan harta benda kita? YA (bisa menabrak)
Jika semua jawabannya “YA”, maka itu masalah orang tua dimana orangtua yang merasa terganggu haknya, maka gunakan PS yaitu:
“Ayah marah kalau kamu berkelahi di mobil karena bisa menabrak orang”

Bila persoalannya milik anak, maka hal tersebut melatih mereka untuk:
a.       Meningkatkan rasa tanggung jawab
b.      Memecahkan masalahnya sendiri
c.       Memberikan dorongan untuk mencari jalan keluar
d.      Anak belajar menerima konsekuensi dari keputusan yang dipilihnya
e.      Fokus pada anak belajar keterampilan baru

Bila persoalannya milik ortu, maka hal tersebut berakibat:
a.       Berkomunikasi tanpa menyinggung perasaan anak
b.      Timbul respek anak kepada ortu
c.       Membangun kesadaran anak bahwa perilakunya dapat berdampak kepada orang lain yaitu belajar berempati

Anak belajar tentang memilah masalah, tidak ikut campur persoalan orang dan belajar memecahkan masalah sendiri dengan mandiri, “tangan mencencang, bahu memikul”

8.          Bekerjasama menyelesaikan masalah
Tujuan kita mengasuh dan mendidik anak adalah kita ingin agar anak-anak memiliki keterampilan hidup atau life skill sehingga mereka kelak bisa survive dimanapun mereka berada dan berkarya dalam menjalani kehidupannya di masa yang akan datang. Mereka harus dibekali keahlian mendasar tentang bagaimana berfikir, memilih dan membuat keputusan sejak dini sehingga mereka mampu menyelesaikan masalah dengan baik serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya.

Melatih anak mandiri dimulai dari:
a.       Dengarkanlah perasaannya, contoh: “Kamu takut ya dimarahi pak guru kalau lupa bawa PR”
b.      Menentukan masalah siapa, contoh: “Membawa buku PR itu tanggung jawab siapa?”
c.       Mencari kemungkinan jalan keluarnya, contoh: “Oh, jadi kamu lupa masukin buku PR kalau pagi-pagi”
d.      Memillih mana yang akan dijalankan, “Jadi, kamu maunya bagaimana?”
e.      Membuat kesepakatan untuk melaksanankannya, “Kalau kamu lupa masukan buku PR besok malam, ibu akan mengingatkan kamu dengan cara apa?”
f.        Melakukan evaluasi bisa dilakukan pada saat family meeting, yaitu pertemuan dengan anggota keluarga secara lengkap. Family meeting bisa dilakukan semingu atau sebulan sekali sesuai kesepakatan dan membahas mengenai apresiasi, komplain, cek ricek dan harapan.

Bedakan bicara dengan anak laki-laki dan anak perempuan

Bicara dengan anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. Allah menciptakan  otak laki-laki dan perempuan berbeda sehingga cara kerjanya pun berbeda. Otak anak laki-laki lebih kuat yang sebelah kiri. Oleh sebab itu, berbicara dengan anak laki-laki hindari untuk memanggil mereka dari jarak jauh karena mereka kurang memperhatikan. Sebaiknya bila memanggilnya, orangtua mendekat dan memegang tubuhnya dan satu kalimat hanya terdiri paling banyak 15 kata saja, lebih pendek lebih baik. Pesan terdiri dari 15 kata, berhenti, lanjutkan lagi 15 kata, berhenti, begitu seterusnya.

Bicara dengan anak perempuan sebenarnya bisa berpanjang-panjang seperti kebiasan ibunya berbicara. Tetapi untuk lebih efekif, bila anak masih berusia dibawah 10 tahun cara bicaranya sama dengan bicara dengan anak laki-laki, pendek-pendek. 

Tips Time Out mengatasi BAD MOOD untuk orangtua:
-          Ubah posisi tubuh dari berdiri – duduk, duduk – berbaring, diam – berjalan/berlari
-          Melakukan aktivitas lain yang mengalihkan secara positif misal tidur, berwudhu, mendengar musik, ngaji/baca kitab, berdoa, istighfar, membantu orang lain
-          Menceritakan atau menuliskan perasaan, misal nulis diary, self talk, ngadu sama Allah, curhat, dll
-          Mencoba memikirkan penyebabnya  dan mencari solusi. Jadi fokus beralih dari Bad Mood menjadi Good Mood untuk menyelesaikan masalah
-          Berusaha untuk tidak “menyerang” orang lain 

Akhirnya sampai ke part terakhir, panjang yah bahasan komunikasi ini haha... Mungkin ada yang sebagian berpikir, sejauh itukah efek komunikasi terhadap anak? Awalnya saya pun tidak menyadari sampai saya ikut pelatihan ini, oh ternyata anak kecil pun memiliki perasaan yang harus didengar, dikenali, diterima juga dimengerti dan dihargai. Kalau cara komunikasi kita salah, otomatis apa yang ingin kita sampaikan rasanya sulit sekali diterima si anak. Ternyata pengasuhan yang baik berawal pula dari komunikasi yang baik. Semoga tulisan ini memberi manfaat dan selamat mencoba!

#ODOPfor99Days
#Day21

0 comments:

Posting Komentar