Rabu, 20 April 2016

Seminar Parenting: Membentuk Anak Cerdas dengan Komunikasi Baik, Benar, dan Menyenangkan oleh Elly Risman




Sebenarnya sudah mengikuti pelatihan KBBM, tapi saya tetep penasaran dengan seminar langsung dengan bu Elly karena biasanya “feel” nya beda. Saya dateng ke seminar ini telaaatttt banget karena anak-anak nangis kejer dan enggak mau dititip di rumah neneknya karena ayahnya kerja, padahal sudah saya sounding anak-anak dari seminggu yang lalu tapi ya yang namanya anak-anak. Btw, saya selalu ingat nasihat Bu Sarra, “Jangan pernah ninggalin anak untuk pergi keluar rumah di saat mereka nangis karena kita enggak tau umur kita sampai dimana dan akan ketemu lagi atau tidak (at least kalau kenapa-kenapa di jalan). Jangan sampai memori terakhir yang terekam dalam ingatan anak-anak adalah memori kita yang pergi menginggalkan mereka.” Hukssss…sedih ya! Makanya saya nenangin anak-anak hampir 1 jam lamanya sampai akhirnya mereka rela emaknya ikut seminar. Tapi Alhamdulillah, pas saya dateng ternyata bu Elly baru mulai heuheu…rejeki saya. Ok opening nya segitu ajah, mari simak resume seminar dari setahun yang lalu ini *ehm… basi lagi ya bu*

Sebelum menikah ada yang pernah ikut sekolah untuk jadi orangtua? Kayaknya belum pernah ya, kalau menikah ya yang diribetin kesiapan lahir batin untuk akad dan resepsi jadi enggak pernah berpikir untuk kesana. Jadi dari awal memang kita tidak siap menjadi orang tua karena kita tidak menguasai tahapan perkembangan anak dan menguasai cara otak bekerja. Padahal kedua hal tersebut berpengaruh pada kepribadian dan masa depan anak.

Berkomunikasi dengan anak laki-laki beda dengan anak perempuan. Anak laki-laki tidak bisa diberi nasihat panjang-panjang, maksimal 15 kata dalam 1 kalimat. Kadang kita secara tidak sengaja salah berbicara dengan anak dan anak menjadi korban verbal abuse dari ibunya sendiri. Ada kan ya orang yang bawaannya iri terus dengan orang lain atau yang senang mengomentari kekurangan orang lain. Salah satu faktor yang membuat mereka seperti itu adalah karena mereka korban verbal dan emotional abuse sejak kecil. Mereka dijatuhkan harga dirinya oleh kata-kata negatif dan mengalami kekerasan psikologis yang biasanya adalah dari ibunya sendiri.

Verbal abuse biasanya terjadi secara tidak sengaja, tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang. Berikut akibat berbicara tidak sengaja pada anak:
-          Melemahkan konsep diri
-          Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama
-          Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
-          Kemampuan berfikir menjadi rendah
-          Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
-          Iri terus

Kekeliruan dalam komunikasi:
1.       Bicara tergesa-gesa. Selama ini tanpa disadari setiap memulai hari diawali dengan gerak cepat dan bicara secara terburu-buru dengan anak. Mulai dari membangunkan anak sampai menyiapkan peralatan sekolah, kadang hal tersebut juga diucapkan sambil mengerjakan hal yang lain. Belum lagi kalau anak lupa menyiapkan segala sesuatunya, ibunya akan mengomel panjang lebar, padahal hal tersebut tidak didengar anak.

2.       Tidak kenal diri sendiri
Kita tidak melihat ke dalam diri dan tidak mengenal diri sendiri karena lupa instropeksi diri, tidak tahu apa kekurangan dan kelebihan diri kita sehingga kita juga tidak dapat mengenali lawan bicara kita.

3.       Lupa bahwa setiap individu unik
Setiap anak itu unik (QS 3:6) karenanya perlu perlakuan khusus. Mereka memiliki DNA yang berbeda antara satu dengan lainnya jadi tidak perlu membanding-bandingkan dengan adiknya, sepupunya atau temannya. Tanamkan bahwa setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan berharga.

4.       Perbedaan “needs and wants!” yaitu kebutuhan dan kemauan. Kesalahpahaman yang terjadi adalah banyak hal yang tidak sempat dan terabaikan. Kebutuhan anak adalah bermain sedangkan kemauan orang tua yaitu ingin anak makan, mandi, dll.

5.       Tidak membaca bahasa tubuh
Ketika anak terjatuh dan menangis, orangtua langsung menanggapi dengan omelan atau syukurin padahal anak sedang kesakitan.

6.       Tidak mendengar perasaan
Kita sering menidakkan perasaan anak atau mengabaikan perasaan anak.

7.       Kurang mendengar aktif
Kadang kita ngomong dengan anak sambil mengerjakan pekerjaan lainnya padahal kita ingin agar anak mendengarkan omongan kita.

8.       Menggunakan 12 gaya populer 
a.       Memerintah, contoh: “Diam ya!”
b.      Menyalahkan, contoh: “Kamu sih!”
c.       Meremehkan, contoh: “Gitu aja enggak bisa!”
d.      Membandingkan, contoh: “Tuh anak lain bisa!”
e.      Mencap/Melabel, contoh: “Cengeng banget sih”
Memberi cap/label pada anak tidak tampak secara fisik tapi akan menempel di jiwanya
f.        Mengancam, contoh: “Awas ya!”
g.       Menasehati,contoh: “Makanya mama bilang…!”
Jangan menasihati orang di saat perasaannya sedang bermasalah karena otak anak tidak dapat menerima nasihat saat anak bermasalah tapi berikan empati pada anak. Jadi, menasihati boleh tapi bukan pada saat kejadian, bicara lagi dengannya ketika hati anak sudah riang.
h.      Membohongi, contoh: “sakit sedikit, besok juga sembuh”
Membohongi anak akan membuat jiwanya terguncang. Seperti contoh diatas, saat besok ternyata masih sakit, maka kita sudah berbohong di mata anak. Lebih baik beri pengertian bahwa selama proses penyembuhan akan terasa sakit dalam beberapa hari.
i.         Menghibur
j.        Mengkritik
k.       Menyindir
l.         Menganalisa

9.       Tidak memisahkan masalah siapa
Bedakan masalah anak atau masalah orang tua. Ketika anak melakukan kesalahan, ajarkan tanggung jawab dan biarkan anak terima konsekuensinya.

10.   Selalu menyampaikan pesan kamu
“Kamu tuh…”
“kamu ini…”

Makna dari komunikasi terhadap anak yang berlangsung selama ini terlihat dari bagaimana reaksi yang orangtua terima sekarang. Kiat meningkatkan komunikasi, langkah-langkahnya:
a.       Baca bahasa tubuh
Tindakan lebih nyaring bunyinya daripada kata-kata. Komunikasi terdiri dari 55 % bahasa tubuh, 38% suara dan 7% kata-kata. Jadi, perhatikan bahasa tubuh karena bahasa tubuh anak tidak pernah bohong.

b.      Dengarkan perasaan
Saat perasaan anak sedang bermasalah, berikan “got” untuk mengalirkannya. Langkah-langkahnya yaitu tebak perasaannya dan namain, “Capek, ya!”, “Kesel sekali dong”, setelah itu tunggu jawaban dari anak, jika salah dia akan mengoreksi dan kita tinggal menebak lagi. Kata-kata perasaan tersebut untuk memancing anak bercerita dan bukan dengan memakai kata logika, “kenapa?”, “benci sama siapa?”. Emosi anak dialirkan dengan menebak perasaan anak karena ketika emosi mengalir, otak menjadi bisa berfikir. Jika emosi tidak dialirkan, maka akan menumpuk yang sewaktu-waktu bisa meledak dan dialirkan ke tempat yang salah seperti narkoba, pornografi, seks bebas, dll.

c.       Mendengar  aktif
Jika anak pulang sekolah dengan wajah kusut, maka setelah baca bahasa tubuh, menebak perasaannya dan sediakan “got” emosi, lalu jadilah pendengar yang aktif hingga habis emosinya. Jadilah cermin, contoh:
“Ohh… begitu”
“Hm… Ya Tuhan”
“…Terus”
“Sedih bener dong”
“…makanya kamu marah betul?”

d.      Hindai 12 gaya populer 
Akibat menggunakan 12 gaya populer adalah anak tidak percaya pada perasaannya sendiri sehingga dia tidak percaya diri alias “enggak pede”. Percaya diri terkait dengan hal-hal berikut:
-          Kepercayaan diri (self confidence/esteem): bagaimana menghargai diri
-          Harga diri (self image or self worth): bagaimana melihat diri
-          Konsep diri (self concept): bagaimana merasa diri
Tangkap basah dan puji anak ketika mereka berperilaku baik.

Bagian otak:
-          Sistem Limbik:
a.       Mendukung perasaan/emosi
b.      Mendukung motivasi
c.       Berhubungan dengan memori
d.      Mengontrol sistem saraf simpatik jantung, paru-paru, usus dan organ lain.

e.      Tentukan masalah siapa?
Jika anak memiliki masalah, tentukan apakah masalah anak atau masalah orang tua? Jika masalah anak, apakah anak perlu dibantu atau dibiarkan menyelesaikan masalahnya sendiri? Hal ini penting agar kita bisa memilah kapan anak haru dibantu, kapan harus diberi kepercayaan untuk menyelesaikan sendiri. Contoh anak pakai baju tidak serasi, masalah orang tua atau anak? Jika anak ditanya jawabannya selalu “terserah”, itu adalah salah satu tanda anak stres dengan pengasuhan kita. Menghargai kemampuan anak untuk memilih jauh lebih penting daripada memaksakan pilihan kita pada anak. Saat anak diberi pilihan dan berpikir otaknya aktif, tetapi saat dibentak informasi hanya akan berhenti di batang otak. Anak perlu berfikir memilih dan mengambil keputusan (BMM) supaya bisa mandiri dan bertanggung jawab karena hidup adalah pilihan dan pilihan.

f.        Jangan bicara tergesa-gesa dan jangan gunakan “pesan kamu”
Agar orangtua tidak tergesa-gesa dalam berkomunikasi biasakan untuk membuat rencana. Libatkan anak dalam membuat rencana, contohnya membuat daftar menu untuk minggu depan. Hal ini membantu ibu untuk tidak hectic di pagi hari dan bisa berkomunikasi dengan baik pada semua anggota keluarga. Berikut contoh tabelnya:

Hari
Sarapan
Kesukaan
Kegiatan
Anak 1
Anak 2
Anak 1
Anak 2
Anak 1
Anak 2
Senin






Selasa






Rabu






Kamis






Jumat






Sabtu








g.       Belajar untuk kenali diri dan kenali lawan bicara kita (anak dan suami)
Untuk anak laki-laki mereka dominan otak kiri sehingga jika berbicara menggunakan kalimat pendek sebanyak 15 kata, berhenti, 15 kata, berhenti.

h.      Ingat setiap individu unik
Tuliskan masing-masing kelebihan dan kekurangan dari masing-masing anak sehingga kita bisa mengetahui keunikan masing-masing anak. Panggil anak dengan kelebihannya bukan dengan kekurangannya. Contoh:

Anak 1
Anak 2
Kelebihan
Kekurangan
Kelebihan
Kekurangan
 Penurut



 Suka cerita



 Teliti



 Rapih





i.         Pahami bahwa kebutuhan dan kemauan berbeda

j.        Sampaikan “pesan saya”
Marah kepada anak boleh jika memang diperlukan, caranya dengan menyampaikan “pesan saya”. Formatnya:
Saya merasa … (kata perasaan) kalau kamu… (perilaku anak) karena… (konsekuensi terhadap ortu/lingkungan)

Contoh: “Bunda marah kalau kamu pulang terlambat dan tidak menghubungi bunda karena membuat mama khawatir.”
Pesan saya membuat fokus pada perasaan yang ada di “saya”, bukan men-judge “kamu”. Selain itu, anak juga jadi tahu poin apa yang membuat orangtua marah dan tidak melebar kesana kemari dengan masalah lain.

                Berakhir juga seminar yang saya datangi telat dari waktu yang semestinya. Walau sudah ikut pelatihannya, memang disarankan tetap bisa hadir di seminar parenting supaya bisa refresh ilmu yang didapat sebelumnya dan juga sambil upgrade ilmu juga. Sekian resumenya, semoga bermanfaat.   


“Mulailah dari anda”
“Tauladan lebih dari seribu kata”
“Jangan jauh dari Quran dan Rasulullah”


#ODOPfor99Days
#Day26

2 komentar:

  1. Resume nya lengkap.
    Sangat mudah dipahami.
    Makasih sudah berbagi mba zeth :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba wulan, makasih sdh mampir.
      Sama2, mdh2an bermanfaat ya ^^

      Hapus