12/04/16

Book Review: Khadijah – Ketika Rahasia Mim Terungkap

(foto Sibel Eraslan diambil dari sini)


“Allah tidak pernah memberikanku wanita yang lebih mulia daripada Khadijah.
Di saat manusia tidak percaya, dia sendiri yang percaya.
Ketika semua orang mendustakan diriku, dia sendiri yang menerimaku.
Ketika manusia berlarian dariku, ia melindungiku, baik ketika ada maupun tiada
Dan Allah mengaruniaiku putra-putri bukan dari yang lain, melainkan darinya.”

SINOPSIS
                Khadijah adalah wanita yang berasal dari garis keturunan Qusay nim Kilab, Luay bin Galib, sebuah keluarga yang sangat terkenal di Mekkah dengan jiwa ksatria dan dermawan. Khadijah adalah sosok yang cekatan, mewarisi jiwa kelembutan, kepandaian berkuda, berhitung dan aritmatika, bertahan dalam terik dan badai padang pasir, sabar dan mahir berpuisi. Suatu ketika Khadijah ingin mengamanahkan usaha dagangnya kepada orang yang bisa dipercaya dan disarankan untuk meminta bantuan kepada kerabat teman dekat ayahnya Abu Thalib dan kemenakannya. Pertemuan pertamanya, saat Muhammad datang ke rumah Khuwaylid yang bermaksud untuk membantu usaha dagangnya.

                Saat melepas rombongan dagangnya yang akan berangkat ke negeri Syam, Khadijah menyapu pandangannya dan ia mendapati awan bergerak memayungi seorang pemuda dan seolah-olah dua malaikat selalu mengiringi jalannya. Saat itulah hatinya berdebar-debar dalam seketika. Apa yang berejolak di dalam hatinya hanya satu, rahasia huruf mim, Muhammad. Sekembalinya rombongan dagang dari negeri Syam yang menuai sukses besar, Muhammad memacu kudanya menuju kediaman Khadijah binti Khuwaylid. Pandangan mata Khadijah menangkap kemilau cahaya yang seolah-olah terpancar dari wajah sang penunggang kuda dengan awan yang selalu mengikuti untuk memayungi kemuliaannya.  Seorang penunggang kuda yang sejak lama telah menjadi mahkota belahan jiwanya, segera ksatria itu turun dan memberi salam kepada semua orang yang ada dan menambatkan kudanya.  Khadijah hanya memberi isyarat sebagai bentuk terima kasih yang setinggi-tingginya sebagai ungkapan keinginannya untuk membalas semua prestasinya dengan kebaikan yang sebesar-besarnya.

                Pernikahan pun dilaksanakan antara Muhammad dan Khadijah dengan mahar 400 dinar, 12 ukiyah dan 1 nashiyah emas serta 20 unta muda. Muhammad pun menjadi ayah-ayah dari anak-anak yang lahir dan tumbuh besar di bawah tangan Khadijah dan akan menorehkan sejarah di lembaran-lembaran halaman emas sebagai anak-anak yang berharga. Saat wahyu pertama turun, Khadijah dengan penuh kasih sayang membantu Al Amin yang cemas untuk berbaring di tempat tidurnya dan menenangkannya. Khadijah tidak mengetahui bahwa makhluk yang mendatangi Al Amin adalah malaikat Jibril, hingga suatu hari dahi Al Amin penuh dengan keringat dan bergetar.

“Datang.. Malaikat datang” Khadijah kemudian mendekati suaminya dan duduk di sisi kanannya.
“Engkau masih melihatnya” Khadijah kemudian berdiri dan duduk di samping kiri suaminya.
“Ya, aku masih meihatnya” Khadijah lalu pergi ke belakang tubuh sang suami dan memeluknya dan penutup kepala Khadijah terbuka ke samping dan turun ke arah pundaknya.
“Engkau masih melihatnya?”
“Tidak. Setelah engkau pergi ke belakangku, di pergi”
Khadijah sadar bahwa makhluk yang datang itu bukan jin atau syetan tetapi pasti malaikat Jibril karena ketika Khadijah memeluk suaminya dan penutup kepalanya terbuka, sosok itu menjauh dari mereka, jika yang datang jin atau syetan, mereka tidak akan pergi dan tidak bosan dengan hal kemahraman.

Khadijah adalah orang pertama yang menerima kalimat syahadat ketika suaminya telah menjadi Rasulullah. Dialah yang membawakan keranjang ke Gua Hira, meskipun mendaki di bawah terik mentari, senyum selalu terpancar dari wajahnya. “Selamat datang Khadijah, Allah dan Jibril memberikan salam untukmu.” Khadijah adalah teman hidup perjalanan suaminya, tak pernah melepaskan dan putus asa. Meskipun hidupnya selalu dipenuhi dengan ancaman, Khadijah tak pernah sekalipun melewatkan pergi ke Kakbah dan shalat disana bersama sang suami. Bahkan, meski ancaman kematian datang mendera, ia dengan gigih dan berani tidak beranjak selangkah pun dari sisi suaminya.


REVIEW
                Selama ini sulit sekali mencari novel tentang empat wanita ahli surga yang paling mulia, salah satunya adalah Bunda Khadijah. Baru novel ini yang menceritakannya dengan penuh perasaan sehingga membacanya seolah ikut terhanyut kembali ke jaman 1400 tahun yang lalu. Gaya bahasanya yang puitis dan beberapa ditulis dalam bentuk syair, kadang membuat saya harus berpikir maksud dan artinya. Tetapi secara keseluruhan novel ini merupakan satu dari karya sastra yang sangat indah.

Buku ini juga menceritakan Rasulullah SAW dari sisi Khadijah dan walaupun tidak banyak diceritakan, namun berhasil membuat kita menangkap sosoknya yang sangat mencintai dan menghormati Khadijah. Sungguh romantis membayangkan Rasulullah dan Khadijah mendaki Gunung Hira bersama dan saling menggenggam tangan. Lalu, betapa pengorbanan dan ketulusan Khadijah dalam membantu dakwah suaminya membuat saya kagum dan menyadari bahwa sungguh pantaslah beliau sangat mencintai dan mengasihi Bunda Khadijah, kekasihnya kekasih Allah.        

Salah satu hal yang membuat saya terganggu adalah 4-5 quote yang ada di tiap bab yang ditulis dengan kotak tersendiri padahal isinya adalah pengulangan kata dari bab tersebut. Selain memenuhi halaman dan terkesan mubazir karena kata-katanya hanya berupa pengulangan. Mungkin memang lay out tersebut sengaja diciptakan untuk membuat perbedaan dengan novel lainya atau menegaskan bagian terpenting dari bab tersebut, mungkin saja. Tapi hal ini tidak berpengaruh pada keseluruhan isi cerita jadi tidak masalah. Novel ini baru pertama kali saya baca, namun sudah membuat saya penasaran dengan serial 4 wanita penghuni surga lainnya. Menurut saya, highly recommended banget untuk saya yang minim informasi tentang wanita penghuni surga tersebut. Saya ingin bisa menceritakannya kembali kepada anak-anak supaya yang menjadi panutan bagi anak-anak saya adalah sosok wanita hebat seperti beliau.       



Judul: Khadijah: Ketika Rahasia Mim Terungkap

Penulis: Sibel Eraslan

Penerbit: Kaysa Media (Anggota Grup Puspa Swara)

Hal: 388 Halaman



(gambar diambil dari sini)

#ODOPfor99Days
#Day22



                       


0 comments:

Posting Komentar