20/04/16

Seminar Parenting: Membentuk Anak Cerdas dengan Komunikasi Baik, Benar, dan Menyenangkan oleh Elly Risman




Sebenarnya sudah mengikuti pelatihan KBBM, tapi saya tetep penasaran dengan seminar langsung dengan bu Elly karena biasanya “feel” nya beda. Saya dateng ke seminar ini telaaatttt banget karena anak-anak nangis kejer dan enggak mau dititip di rumah neneknya karena ayahnya kerja, padahal sudah saya sounding anak-anak dari seminggu yang lalu tapi ya yang namanya anak-anak. Btw, saya selalu ingat nasihat Bu Sarra, “Jangan pernah ninggalin anak untuk pergi keluar rumah di saat mereka nangis karena kita enggak tau umur kita sampai dimana dan akan ketemu lagi atau tidak (at least kalau kenapa-kenapa di jalan). Jangan sampai memori terakhir yang terekam dalam ingatan anak-anak adalah memori kita yang pergi menginggalkan mereka.” Hukssss…sedih ya! Makanya saya nenangin anak-anak hampir 1 jam lamanya sampai akhirnya mereka rela emaknya ikut seminar. Tapi Alhamdulillah, pas saya dateng ternyata bu Elly baru mulai heuheu…rejeki saya. Ok opening nya segitu ajah, mari simak resume seminar dari setahun yang lalu ini *ehm… basi lagi ya bu*

Sebelum menikah ada yang pernah ikut sekolah untuk jadi orangtua? Kayaknya belum pernah ya, kalau menikah ya yang diribetin kesiapan lahir batin untuk akad dan resepsi jadi enggak pernah berpikir untuk kesana. Jadi dari awal memang kita tidak siap menjadi orang tua karena kita tidak menguasai tahapan perkembangan anak dan menguasai cara otak bekerja. Padahal kedua hal tersebut berpengaruh pada kepribadian dan masa depan anak.

Berkomunikasi dengan anak laki-laki beda dengan anak perempuan. Anak laki-laki tidak bisa diberi nasihat panjang-panjang, maksimal 15 kata dalam 1 kalimat. Kadang kita secara tidak sengaja salah berbicara dengan anak dan anak menjadi korban verbal abuse dari ibunya sendiri. Ada kan ya orang yang bawaannya iri terus dengan orang lain atau yang senang mengomentari kekurangan orang lain. Salah satu faktor yang membuat mereka seperti itu adalah karena mereka korban verbal dan emotional abuse sejak kecil. Mereka dijatuhkan harga dirinya oleh kata-kata negatif dan mengalami kekerasan psikologis yang biasanya adalah dari ibunya sendiri.

Verbal abuse biasanya terjadi secara tidak sengaja, tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang. Berikut akibat berbicara tidak sengaja pada anak:
-          Melemahkan konsep diri
-          Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama
-          Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
-          Kemampuan berfikir menjadi rendah
-          Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
-          Iri terus

Kekeliruan dalam komunikasi:
1.       Bicara tergesa-gesa. Selama ini tanpa disadari setiap memulai hari diawali dengan gerak cepat dan bicara secara terburu-buru dengan anak. Mulai dari membangunkan anak sampai menyiapkan peralatan sekolah, kadang hal tersebut juga diucapkan sambil mengerjakan hal yang lain. Belum lagi kalau anak lupa menyiapkan segala sesuatunya, ibunya akan mengomel panjang lebar, padahal hal tersebut tidak didengar anak.

2.       Tidak kenal diri sendiri
Kita tidak melihat ke dalam diri dan tidak mengenal diri sendiri karena lupa instropeksi diri, tidak tahu apa kekurangan dan kelebihan diri kita sehingga kita juga tidak dapat mengenali lawan bicara kita.

3.       Lupa bahwa setiap individu unik
Setiap anak itu unik (QS 3:6) karenanya perlu perlakuan khusus. Mereka memiliki DNA yang berbeda antara satu dengan lainnya jadi tidak perlu membanding-bandingkan dengan adiknya, sepupunya atau temannya. Tanamkan bahwa setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan berharga.

4.       Perbedaan “needs and wants!” yaitu kebutuhan dan kemauan. Kesalahpahaman yang terjadi adalah banyak hal yang tidak sempat dan terabaikan. Kebutuhan anak adalah bermain sedangkan kemauan orang tua yaitu ingin anak makan, mandi, dll.

5.       Tidak membaca bahasa tubuh
Ketika anak terjatuh dan menangis, orangtua langsung menanggapi dengan omelan atau syukurin padahal anak sedang kesakitan.

6.       Tidak mendengar perasaan
Kita sering menidakkan perasaan anak atau mengabaikan perasaan anak.

7.       Kurang mendengar aktif
Kadang kita ngomong dengan anak sambil mengerjakan pekerjaan lainnya padahal kita ingin agar anak mendengarkan omongan kita.

8.       Menggunakan 12 gaya populer 
a.       Memerintah, contoh: “Diam ya!”
b.      Menyalahkan, contoh: “Kamu sih!”
c.       Meremehkan, contoh: “Gitu aja enggak bisa!”
d.      Membandingkan, contoh: “Tuh anak lain bisa!”
e.      Mencap/Melabel, contoh: “Cengeng banget sih”
Memberi cap/label pada anak tidak tampak secara fisik tapi akan menempel di jiwanya
f.        Mengancam, contoh: “Awas ya!”
g.       Menasehati,contoh: “Makanya mama bilang…!”
Jangan menasihati orang di saat perasaannya sedang bermasalah karena otak anak tidak dapat menerima nasihat saat anak bermasalah tapi berikan empati pada anak. Jadi, menasihati boleh tapi bukan pada saat kejadian, bicara lagi dengannya ketika hati anak sudah riang.
h.      Membohongi, contoh: “sakit sedikit, besok juga sembuh”
Membohongi anak akan membuat jiwanya terguncang. Seperti contoh diatas, saat besok ternyata masih sakit, maka kita sudah berbohong di mata anak. Lebih baik beri pengertian bahwa selama proses penyembuhan akan terasa sakit dalam beberapa hari.
i.         Menghibur
j.        Mengkritik
k.       Menyindir
l.         Menganalisa

9.       Tidak memisahkan masalah siapa
Bedakan masalah anak atau masalah orang tua. Ketika anak melakukan kesalahan, ajarkan tanggung jawab dan biarkan anak terima konsekuensinya.

10.   Selalu menyampaikan pesan kamu
“Kamu tuh…”
“kamu ini…”

Makna dari komunikasi terhadap anak yang berlangsung selama ini terlihat dari bagaimana reaksi yang orangtua terima sekarang. Kiat meningkatkan komunikasi, langkah-langkahnya:
a.       Baca bahasa tubuh
Tindakan lebih nyaring bunyinya daripada kata-kata. Komunikasi terdiri dari 55 % bahasa tubuh, 38% suara dan 7% kata-kata. Jadi, perhatikan bahasa tubuh karena bahasa tubuh anak tidak pernah bohong.

b.      Dengarkan perasaan
Saat perasaan anak sedang bermasalah, berikan “got” untuk mengalirkannya. Langkah-langkahnya yaitu tebak perasaannya dan namain, “Capek, ya!”, “Kesel sekali dong”, setelah itu tunggu jawaban dari anak, jika salah dia akan mengoreksi dan kita tinggal menebak lagi. Kata-kata perasaan tersebut untuk memancing anak bercerita dan bukan dengan memakai kata logika, “kenapa?”, “benci sama siapa?”. Emosi anak dialirkan dengan menebak perasaan anak karena ketika emosi mengalir, otak menjadi bisa berfikir. Jika emosi tidak dialirkan, maka akan menumpuk yang sewaktu-waktu bisa meledak dan dialirkan ke tempat yang salah seperti narkoba, pornografi, seks bebas, dll.

c.       Mendengar  aktif
Jika anak pulang sekolah dengan wajah kusut, maka setelah baca bahasa tubuh, menebak perasaannya dan sediakan “got” emosi, lalu jadilah pendengar yang aktif hingga habis emosinya. Jadilah cermin, contoh:
“Ohh… begitu”
“Hm… Ya Tuhan”
“…Terus”
“Sedih bener dong”
“…makanya kamu marah betul?”

d.      Hindai 12 gaya populer 
Akibat menggunakan 12 gaya populer adalah anak tidak percaya pada perasaannya sendiri sehingga dia tidak percaya diri alias “enggak pede”. Percaya diri terkait dengan hal-hal berikut:
-          Kepercayaan diri (self confidence/esteem): bagaimana menghargai diri
-          Harga diri (self image or self worth): bagaimana melihat diri
-          Konsep diri (self concept): bagaimana merasa diri
Tangkap basah dan puji anak ketika mereka berperilaku baik.

Bagian otak:
-          Sistem Limbik:
a.       Mendukung perasaan/emosi
b.      Mendukung motivasi
c.       Berhubungan dengan memori
d.      Mengontrol sistem saraf simpatik jantung, paru-paru, usus dan organ lain.

e.      Tentukan masalah siapa?
Jika anak memiliki masalah, tentukan apakah masalah anak atau masalah orang tua? Jika masalah anak, apakah anak perlu dibantu atau dibiarkan menyelesaikan masalahnya sendiri? Hal ini penting agar kita bisa memilah kapan anak haru dibantu, kapan harus diberi kepercayaan untuk menyelesaikan sendiri. Contoh anak pakai baju tidak serasi, masalah orang tua atau anak? Jika anak ditanya jawabannya selalu “terserah”, itu adalah salah satu tanda anak stres dengan pengasuhan kita. Menghargai kemampuan anak untuk memilih jauh lebih penting daripada memaksakan pilihan kita pada anak. Saat anak diberi pilihan dan berpikir otaknya aktif, tetapi saat dibentak informasi hanya akan berhenti di batang otak. Anak perlu berfikir memilih dan mengambil keputusan (BMM) supaya bisa mandiri dan bertanggung jawab karena hidup adalah pilihan dan pilihan.

f.        Jangan bicara tergesa-gesa dan jangan gunakan “pesan kamu”
Agar orangtua tidak tergesa-gesa dalam berkomunikasi biasakan untuk membuat rencana. Libatkan anak dalam membuat rencana, contohnya membuat daftar menu untuk minggu depan. Hal ini membantu ibu untuk tidak hectic di pagi hari dan bisa berkomunikasi dengan baik pada semua anggota keluarga. Berikut contoh tabelnya:

Hari
Sarapan
Kesukaan
Kegiatan
Anak 1
Anak 2
Anak 1
Anak 2
Anak 1
Anak 2
Senin






Selasa






Rabu






Kamis






Jumat






Sabtu








g.       Belajar untuk kenali diri dan kenali lawan bicara kita (anak dan suami)
Untuk anak laki-laki mereka dominan otak kiri sehingga jika berbicara menggunakan kalimat pendek sebanyak 15 kata, berhenti, 15 kata, berhenti.

h.      Ingat setiap individu unik
Tuliskan masing-masing kelebihan dan kekurangan dari masing-masing anak sehingga kita bisa mengetahui keunikan masing-masing anak. Panggil anak dengan kelebihannya bukan dengan kekurangannya. Contoh:

Anak 1
Anak 2
Kelebihan
Kekurangan
Kelebihan
Kekurangan
 Penurut



 Suka cerita



 Teliti



 Rapih





i.         Pahami bahwa kebutuhan dan kemauan berbeda

j.        Sampaikan “pesan saya”
Marah kepada anak boleh jika memang diperlukan, caranya dengan menyampaikan “pesan saya”. Formatnya:
Saya merasa … (kata perasaan) kalau kamu… (perilaku anak) karena… (konsekuensi terhadap ortu/lingkungan)

Contoh: “Bunda marah kalau kamu pulang terlambat dan tidak menghubungi bunda karena membuat mama khawatir.”
Pesan saya membuat fokus pada perasaan yang ada di “saya”, bukan men-judge “kamu”. Selain itu, anak juga jadi tahu poin apa yang membuat orangtua marah dan tidak melebar kesana kemari dengan masalah lain.

                Berakhir juga seminar yang saya datangi telat dari waktu yang semestinya. Walau sudah ikut pelatihannya, memang disarankan tetap bisa hadir di seminar parenting supaya bisa refresh ilmu yang didapat sebelumnya dan juga sambil upgrade ilmu juga. Sekian resumenya, semoga bermanfaat.   


“Mulailah dari anda”
“Tauladan lebih dari seribu kata”
“Jangan jauh dari Quran dan Rasulullah”


#ODOPfor99Days
#Day26

18/04/16

Book Review: 99 Cahaya di Langit Eropa


Those who don’t learn from history are doomed to repeat it.” (George Santayana)

“Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaaan-ciptaanNya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai mahkoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.” (Ali bin Abi Thalib ra)

 (gambar diambil dari sini)


SINOPSIS
                Hanum dan Rangga adalah sepasang suami istri, dimana Rangga mendapatkan beasiswa doktoral dan tinggal di Wina, Austria. Di sanalah Hanum bertemu dengan Fatma, imigran Tuki yang memiliki anak berumur 3 tahun, Ayse. Perkenalannya dengan Fatma di kelas Bahasa Jerman menjadi pertemanan yang luar biasa dan tidak akan terlupakan. Fatma lah yang mengajak Hanum untuk berjalan-jalan mengelilingi Wina sambil meresapi sejarah peradaban Islam di Eropa dan membuatnya menyelami Islam lebih dalam.

                Wina adalah kota terakhir tempat ekspansi Islam berhenti. Kahlenberg, croissant dan capuccino. awal tempat perjalanan pertama mereka cukup membuat Hanum tercengang saat mengetahui bahwa aslinya capuccino bukan berasal dari Italia, namun berasal dari biji-biji kopi Turki yang tertinggal di medan perang di Kahlenberg. Juga tentang roti croissant yang bukan dari Perancis namun dari Austria yang melambangkan perayaan kekalahan Turki di Wina.
  
Menjadi agen Islam yang damai, teduh, indah, yang membawa keberkahan di komunitas nonmuslim. Agen muslim yang menebar kebaikan. Bawalah nama baik Islam. Jangan sampai memalukan atau malah mencemarkan. Itulah yang dikatakan Fatma berulang-ulang. Setiap mengunjungi satu tempat, Fatma begitu pandai mengaitkan peninggalan sejarah di Wina dengan peradaban Islam di Eropa masa lalu. Kebanggaannya terhadap Islam diwujudkan dengan perilaku yang penuh kelembutan dan kejujuran.

Namun, tiba-tiba saja Fatma menghilang dan kembali ke Turki, padahal mereka berjanji untuk menjelajah tempat-tempat historis Islam di Eropa. Lalu bagaimana perjalanan Hanum menjelajahi Eropa bersama Rangga untuk mengenang kembali kejayaan Islam di Eropa? Bagaimana awal mula kabar bahwa tokoh terkenal Paris yaitu Napoleon Bonaparte adalah seorang muslim? Lalu bagaimana bisa lukisan Bunda Maria bagian hijabnya berlafazkan Laa Ilaaha Illallah? Kemudian benarkah Axe Historique yaitu garis imajiner yang tepat membelah kota Paris atau yang disebut Voie Triomphale., jalan menuju kemenangan yang ternyata setelah ditarik garis lurus mengarah ke Mekkah? Lalu bagaimana dengan Cordoba dimana menara Mezquita yang terkenal, dulunya sebuah grand mosque yang berubah menjadi grand cathedral?  Apakah mereka berhasil bertemu kembali dengan Fatma dan menunaikan janjinya mengunjungi tempat historis di Turki?

REVIEW
Berbeda dengan buku keduanya, Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang merupakan campuran antara fiksi dan fakta, buku ini dikemas dengan fakta perjalanan Hanum selama di Eropa. Buku ini menyuguhkan fakta sejarah yang mengagumkan. Hikmah dari perjalanannya sungguh sangat bagus untuk dipelajari dan sungguh menarik menjelajahi Eropa dari sudut pandang agama Islam karena ternyata banyak sekali warisan budaya yang ternyata menjadi lambang kejayaan Islam di Eropa di masa lalu. Very very recomended book!   
  

Judul: 99 Cahaya di langit Eropa

Penulis: Hanum Salsabiela Rais

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Hal: 412 Halaman









(gambar diambil dari sini)

#ODOPfor99Days
#Day25

16/04/16

Bali Trip: Beach & Safari Journey Part II




DAY 3
Di hari ketiga, kita bersiap-siap packing ke Novotel. Ribet? Lumayan tapi karena kita hanya mengeluarkan barang-barang seperlunya dari koper di awal dan sudah tau mau pindah hotel, jadi enggak terlalu ribet juga. Setelah sarapan di IBIS hotel dan check out, kita langsung menuju ke Novotel tanjung Benoa untuk titip koper karena waktu standar check in hotel jam 14:00. Sambil nunggu waktu check in di Novotel, kita memutuskan jalan-jalan di Tanjung Benoa. Tadinya mau naik watersport, tapi karena debat berkepanjangan akhirnya enggak jadi karena sudah siang. Sayang banget sebenarnya, tapi sejak bepergian bawa balita, saya belajar banyak legowo kalau ada itinerary yang enggak kesampaian, biar enggak jadi obsesi hehe..

D’cost VIP di Sunset Road
Setelah keliling Tanjung Benoa, akhirnya kita makan siang di D’cost VIP di sunset road. Suasananya enak dan makanannya halal Insya Allah. Resto ini walau makanannya sama dengan D’cost biasa, tetapi interiornya agak berbeda, mungkin karena ini ada tambahan kata VIP dibelakangnya.

(gambar D'cost VIP di Sunset Road diambil dari sini)

Krisna di Sunset Road
Kenyang dari D’cost, kita cari oleh-oleh di Krisna Sunset Road. Ini adalah tempat wisata belanja yang isinya lengkap mulai dari makanan, baju, souvenir. Harganya sangat terjangkau dan sangat beragam jenisnya. Krisna banyak cabangnya, sebenarnya mau ke Krisna di deket airport, ternyata kita nyasar ke cabang Krisna yang di Sunset Road. Heuheu… harap maklum.

Beachwalk Shopping Center di Pantai Kuta
Habis belanja oleh-oleh di Krisna, kita menuju ke Pantai Kuta. Karena kita bawa mobil, otomatis mesti cari tempat parkiran yang aman. Kita putuskan parkir di Beachwalk Shopping Center karena letaknya yang strategis di seberang Pantai Kuta. Mall ini adalah mall bernuansa International paling besar di Kuta dan design bangunannya keren banget deh dan point plusnya ada mushollanya jadi kita sholat dulu disini. Selesai sholat, langsung ambil mainan ember pasir di mobil dan jalan kaki ke Pantai Kuta. Anak-anak pun langsung duduk ngedeprak bongkar mainannya dan sibuk ngurek-ngurek pasir. Pantai Kuta cukup ramai tapi pasirnya enggak sebersih di Tanjung Benoa dan Sanur. Sambil nunggu sunset, kita foto-foto sambil main pasir disini. Hag hag hag.. turis norak.. kita enggak nyemplung disini, hanya siram-siram kaki kena ombak laut aja, soalnya mau makan di Mall nya, enggak lucu kalau basah kuyup masuk mall.

(gambar Beachwalk Shopping Center diambil dari sini)

Puas main pasir dan main air, kita bersih-bersih dan ganti baju di Beachwalknya *maafkan ya mba cleaning service*. Kita makan di Eat and Eat, Merchant nya mirip-mirip dengan Eat and Eat di Jakarta walau ada yang beda juga, tapi jadi enggak khawatir cari makanan halal lagi. Disini juga ada Minniapolis, tapi saya enggak masuk karena kelihatannya anak-anak sudah lelah main di pantai. Kenyang main di pantai Kuta dan makan di Eat & Eat, kita langsung balik ke hotel karena kaki sudah keok.

(gambar Minniapolis Bali diambil dari sini)
  
DAY 4
Hari ini ada acara preview dari Accor Hotel, jadi dari pagi kita sudah prepared dan kita breakfast di Restaurant hotel, disini ada ruangan makan khusus anak-anak dimana disediakan bangku dan meja makanan mini-mini. Dari sini saya perhatikan, memang secara sepintas anak bule lebih mandiri dan enggak takut ya kalau mau ambil sesuatu, tapi dari segi keramahan memang lebih ramah anak Indonesia. Hihihi.. jadi ini kelebihan atau kekurangan yah? Haha.. enggak bisa jadi tolak ukur juga sih soalnya hanya ada beberapa anak disana.

Preview Accor Hotel di Novotel Nusa Dua          
Selama preview Accor hotel, anak-anak disarankan main di playgorund Hotel dan ada kids corner nya juga. Kids corner nya bagus banget dan ada teacher yang ngajarin aktifitas untuk anak, jadi sempet nyesel kenapa kemarin kita enggak nginep disini aja haha.. next time lah ya. Preview ini semacam promosi dari Accor Hotel untuk daftarin kita jadi member, dimana member ini akan dapat priviledge di hotel-hotel jaringan Accor Hotel seluruh dunia. Lucu banget spokeperson nya, masih muda dan lucunya pernah tinggal di Bekasi juga. Selama satu setengah jam ngobrolnya nyambung ke pengalaman dia dan suami yang emang pernah keliling Eropa. Jaringan Accor hotel ini emang bikin mupeng yah *dan emang itu tujuannya* dan setelah itu suami siap-siap mau Sholat Jumat.

(dok pribadi)

Saya sebenarnya sudah searching masjid terdekat dan lokasi masjid yang terdekat dari hotel Novotel adalah Masjid Jami Mujahidin (Jl. Segara Lor Tanjung Benoa). Kebetulan karyawan Accor Hotel ada yang muslim dan suami berangkat berangkat bersama mereka menumpang motor. Saya menjemput anak-anak di kids corner sementara suami Sholat Jumat. Ternyata anak-anak membuat semacam kreatifitas dari daun kelapa, saya masuk ke kids corner nya dan nyaman banget didalamnya. Mereka kelihatan seneng banget dapet oleh-oleh daun kelapa. Setelah acara selesai, kita balik lagi ke Hotel untuk ganti baju dan jalan-jalan ke Dreamland.


(gambar kids corner Novotel Nusa Dua Bali diambil dari sini)

Dreamland
Lika liku mengunjungi Dreamland ini bikin deg-deg ser karena jaraknya yang cukup jauh dari hotel yaitu di Pecatu, Bali. Jalannya yang sempit dan naik turun serta papan jalan seadanya, tidak membuat kita gentar menuju kesana *ceileh*. Dreamland ini ada di kawasan Resort milik Tommy Soeharto, Bali Pecatu Graha (Kuta Golf Link Resort). Disini juga ada wahana airnya yang cukup besar, tapi karena kita enggak searching-searching dulu, jadi taunya pas sudah sampai disana, itupun sudah sore, jadi kita langsung menuju ke Dreamland saja. Menuju ke pantainya pun tidak bisa langsung, kita parkir dulu di lapangan khusus parkir mobil dan harus naik mobil sejenis elf lagi.

(dok pribadi)

Perjuangan mencari pantai ini terbayar ketika sudah sampai, pantainya indah banget, pasir putih dan airnya yang bening berwarna biru kehijauan serta celah karang-karang yang terbentuk secara alami. Hanya saja harus berhati-hati karena disini ombaknya besar banget, tidak heran banyak surfer main surfing disini dan banyak orang selfie juga disini. Bahkan, Dreamland sudah dijadikan semacam surfing spot baru untuk kawasan Bali.

(gambar Dreamland diambil dari sini)


Menega
Salah satu wisata kuliner favorit di Bali adalah di Jimbaran dan tempat yang kita kunjungi yaitu Menega Cafe. Menega Cafe adalah restaurant seafood yang terkenal dan paling ramai jika dibandingkan dengan restaurant lainnya dan terdiri dari indoor dan outdoor. Pemandangan disini romantis deh karena diterangi lampu temaram dan angin laut yang berhembus. Kita sampai disana jam 6 sore setelah puas main di Dreamland dan bagian outdoor sudah penuh, jadi kita duduk di bagian indoor.



 (gambar diambil dari sini)

Disarankan yang mau kesini untuk datang pada sore hari, karena selain penuh banget, pesanannya pun lumayan lama. Sayang sebenarnya enggak bisa makan outdoor menikmati pemandangan laut dan beralaskan pasir *tabur pasir pantai sendiri*. Tetapi ketika makanannya datang, rasa kecewa langsung hilang karena rasanya yummy banget, mungkin karena makanan disini fresh semua. Kita pilih seafood yang langsung dibakar saja, menghindari bahan makanan yang enggak halal. Kekurangannya hanya satu yaitu kran kamar mandinya kecil sekali keluarnya. Ihhh… padahal anak bungsu saya kebelet pup pas banget saya lagi menyantap makanan *kebetulan yang terlalu sering*, akhirnya nunggu petugas cleaning service nya dateng benerin keran dan ternyata air yang keluar pun tetap kecil banget. Kenyang makan, langsung balik ke hotel dan siap-siap packing kembali je Jakarta.

DAY 5
Pulau Penyu
Hari terakhir kita mengunjungi Pulau Penyu, setengah jam dari Tanjung Benoa jika menggunakan glassboat. Awalnya mau snorkel, tapi karena waktu enggak memungkinkan, akhirnya jalan-jalan ke Pulau Penyu. Seperti namanya, tempat ini memang penangkaran penyu, bahkan ada yang berumur hingga 150 tahun. Selain penangkaran penyu, banyak juga hewan-hewan lain yang bisa disentuh secara langsung. Sebenarnya masih meragu ini sebenarnya boleh tidak ya karena kasian juga melihat binatang dipindahtangankan kesana kemari, apa enggak pusing ya itu binatangnya. Lalu apakah mereka dirawat dan diberi makanan secara teratur? Semoga ya karena kita kan kasih retribusi ke pemandu dan biaya cuci cetak fotonya katanya sih memang dialokasikan untuk perawatan hewan-hewan disitu.   


(dok pribadi)

Rama Krisna 24 Jam di Jl Raya Tuban
                Setelah sebelumnya mengunjungi Krisna di Denpasar, kok makanannya banyak yang dimakan anak-anak, akhirnya kita balik lagi ke Krisna di dekat airport. Krisna yang terletak dekat bandara terdapat musholla, jadi kita bisa sholat disitu sebelum ke bandara. Packing oleh-oleh pun bisa dilakukan disini dengan hanya membayar Rp 7.000. Ringkas dan praktis.


Warong Miyabi
                Sebelum ke bandara, kita makan dulu supaya lebih tenang. Kita meluncur ke resto halal depan Rama Krisna, Warong Miyabi. Warong Miyabi ini kepunyaan presenter Adi Nugroho. Karena letaknya dekat bandara, jadi kita enggak khawatir bakal kelamaan di jalan. Selesai makan, kita langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta.

(gambar Warong Miyabi diambil dari sini)

Going Home   
Akhirnya setelah liburan 5 hari di Bali, berakhir sudah perjalanan kita. Setiap perjalanan memiliki makna sendiri, salah satunya adalah bersabar dan menikmati liburan itu sendiri. Mungkin bagi emaks yang sering travelling dengan membawa dua balita, sudah lebih paham bagaimana serunya dan rempongnya. Bagaimanapun, manfaatkan waktu liburan sebaik-baiknya untuk refresh pikiran dan gadget. Liburan kali ini membawa manfaat bagi kita sekeluarga, menambah erat hubungan saya dan suami, memberi pengalaman baru bagi anak dan belajar untuk lebih sabar dan menyamakan frekeuensi haha… Terima kasih ayah sudah membawa kita berkeliling dan semoga berlanjut ke tempat berikutnya.   

#ODOPfor99Days
#Day24