Selasa, 15 Maret 2016

Seminar Parenting: Meningkatkan Percaya Diri Anak oleh Elly Risman

(gambar diambil dari sini)


Apa itu percaya diri? Percaya diri adalah penilaian dan keyakinan seseorang tentang apa yang mampu dan yang bisa dia lakukan. Jadi, penilaian ini berasal dari diri sendiri bukan penilaian dari orang lain. Kita sebagai orangtua harus bercermin kepada diri sendiri, apakah kita sudah percaya terhadap diri kita sendiri? Karena bagaimana bisa mengajarkan anak percaya diri sedangkan kita sendiri tidak percaya diri. Jadi, sebagai orangtua kita harus SELESAIKAN URUSAN DENGAN DIRI SENDIRI.

Darimana datangnya rasa percaya diri? Percaya diri datang dari harga diri yang tinggi dan sehat sehingga merasa dicintai dan mampu. Percaya diri juga datang dari usia yang sangat dini yaitu usaha yang dihargai. Dengan diberi kesempatan dan dihargai, ia menguji kemampuannya dan belajar dari keberhasilan dan kegagalannya. Percaya diri juga datang dari bagaimana cara seseorang membangun dan merumuskan dirinya yaitu berdasarkan persepsi yang sehat dari ortu karena jika sudah dewasa akan sulit berubah.

Apa yang menentukan seseorang merasa percaya diri? Bagaimana ortu menilai dan menempatkan harga dirinya? Apakah “Looks VS Value”?

Looks VS Values
Sebagai contoh seseorang yang percaya diri hanya berdasarkan “Looks” atau penampilan saja, misalnya orang yang percaya diri dengan memakai barang branded dan memamerkannya di khalayak ramai. Jadi, terlihat jelas bahwa orang tersebut percaya diri karena penampilan luarnya saja. Seharusnya kepercayaan diri kita terletak pada “values” yaitu nilai-nilai yang kita pegang. Catatan penting dalam memuji anak jangan hanya looks tapi juga something (Values) supaya anak tidak jadi sombong, misalnya kamu cantik seperti hatinya.

Ada cerita mengenai kupu-kupu dan seorang anak kecil. Si anak melihat sebuah kepompong yang terdapat di sebuah pohon dan tertarik melihat perkembangan kepompong tersebut. Hari demi hari dia mengamatinya hingga pada suatu ketika kepompong tersebut terbuka dan terlihat kupu-kupu yang berusaha untuk keluar. Karena kasihan, dia berusaha membantu kupu-kupu tersebut untuk keluar dari kepompongnya. Namun, tak lama beberapa hari kemudian kupu-kupu itu mati. 

Sama seperti kupu-kupu, manusia juga memiliki tantangan psyco social crisis dalam setiap tahap perkembangannya dari bayi, balita, anak kemudian praremaja dan remaja. Tantangan tersebut harus dihadapi dan diselesaikan mereka dengan berhasil, oleh karena itu jangan hindari mereka dari kesulitan. Akibatnya apabila sebagai orangtua menghindarkan anak dari kesulitan dan tantangan, yaitu menurunnya self respect sehingga kepercayaan diri anak rusak. Sebaliknya, akibatnya jika anak berhasil mengatasi tantangan yaitu perasaan positif terhadap diri sendiri sehingga meraka akan menghargai keberhasilan dan yakin kepada kemampuan diri. Hargai keberhasilan anak dan jangan terburu-buru sehingga anak dibantu terus menerus karena anak perlu untuk merasakan kegagalan.

Percaya diri terkait dengan hal-hal berikut ini:
·         Self confidence (kepercayaan diri) - bagaimana mempercayai diri sendiri
·         Self esteem (harga diri) – bagaimana menilai/menghargai diri
·         Self concept (konsep diri) – bagaimana merasa diri

Peran keluarga terhadap harga diri anak terlihat dari tanda-tanda berikut ini:
1.       Harga diri yang tinggi:
-          Ortu yang mencintai tanpa syarat
-          Menerima kelebihan dan keterbatasan anak
-          Menentukan target yang bisa dicapai anak
-          Authoriatative parenting
3 tipe parenting yaitu:
a.       Permissive yaitu kasih sayang/harapan tinggi, tuntutan rendah
b.      Otoriter yaitu kasih sayang/harapan rendah, tuntutan tinggi
c.       Autoritatif yaitu kasih sayang/harapan tinggi dan tuntutan tinggi
Contoh authoritative parenting: beri bantuan “cara berpikir” dalam memilih.
-          Hubungan hangat dan respek
-          Terbuka kesempatan untuk mendiskusikan peraturan
-          Ortu teladan dalam menghadapi dan memecahkan masalah
-          Mendorong berhasil
-          Bertingkah laku yang bermoral
-          Feeling good (senyum)
-          Berani mencoba hal baru
-          Berpikir positif, tahan terhadap tekanan negatif lingkungan
-          Lebih sehat secara psikologis, mudah menangani konflik
-          Mampu mengatasi stres
-          Lebih mengenal dan mampu mempertahankan hubungan baik dengan orang lain
-          Menentukan goal hidup yang masuk akal
-          Terbuka terhadap kritik
-          Fokus bagaimana meningkatkan diri dan sukses
-          Mudah bergaul
-          Menikmati hidup
-          Tahu kemampuan dan kenal kelemahan: optimis

2.       Harga diri yang rendah:
-          Tak jelas anak berharga atau tidak
-          Seperti menolak/abusive
-          Target yang terlalu tinggi di luar kemampuan anak
-          Otoritarian parenting
-          Ortu inkonsisten, apa saja boleh
-          Aturan kaku, tidak bisa berdiskusi
-          Teladan yang buruk dalam menghadapi dan memecahkan masalah
-          Suka menjatuhkan dan menganggap remeh
-          Bertingkah laku buruk, kadang mengabaikan moral
-          Perasaan berat tanpa ekspresi
-          Tidak berani mencoba/takut gagal
-          Berfikir negatif terhadap diri sendiri (pasif, menarik diri)
-          Mengalami masalah (stres, cemas, gangguan makan, daya tahan tubuh rendah, depresi)
-          Sulit mempertahankan hubungan baik dengan orang
-          Sulit menemukan solusi
-          Sulit bergaul
-          Tidak jelas goal kehidupan
-          Berusaha melindungi diri terus dari kritikan
-          Menghindar dari kegagalan dan penolakan
-          Tidak menikmati hidup (kelabu)
-          Jarang percaya diri (pesimis)

Tahap pekembangan anak yang perlu untuk diketahui:
1.       Bayi (lahir-2 tahun)
-          Mengembangkan kepercayaan
-          Kelengketan (attachment)
-          Kebutuhan dikenali dan terpenuhi
-          Kenikmatan vs keharusan
-          Konsisten

2.       Balita (2-4 tahun)
-          Penjelajah fisik
-          Bermain dan berkhayal
-          Banyak omong
-          Diterima dan dipercaya
-          Kesempatan mandiri
-          Aturan dan batasan yang jelas

3.       Awal sekolah (4-6 tahun)
-          Penjelajah intelektual
-          Ingin tahu
-          Identifikasi
-          Kreativitas dan inti
-          Emerging person
-          Terpusat pada dirinya
-          Ortu tidak siap sehingga buru-buru dan memberikan hukuman

4.       Pra remaja (6-12 tahun)
-          Masa damai
-          Teman lebih penting
-          Acuan tata nilai
-          Pergaulan yang lama
-          Idola diluar rumah
-          Teman yang aduhai
-          Total mandiri
-          Masa deg-degan
-          Harga diri jatuh
-          Berbalik peran
-          Cinta monyet
-          Aktivitas luar sekolah
-          Gaya hidup

Dalam mendidik anak gunakan prinsip “V of Love” yaitu seperti bentuk jari kita ketika membentuk huruf V yang sempit di bawah dan longgar diatas artinya berikan aturan dan batasan yang jelas di usia kecil karena maksud bagian sempit dibawah mengisyaratkan bahwa kita harus memadatkan nilai-nilai dari kecil supaya menjadi pondasi yang kuat bagi anak. Semakin anak besar, maka batasan dan aturan yang diberikan lebih longgar karena begitu anak masuk usia pra remaja mereka akan mengalami percaya diri yang jatuh bangun sehingga yang dibutuhkan adalah pendampingan orangtua untuk meningkatkan percaya dirinya. Biasakan pula untuk mengatakan ke anak “Try!"dan "What’s Next?” 

Apa yang bisa dilakukan ortu?
1.       Berhati-hatilah dengan apa yang anda ucapkan?
-          Identifikasi bila konsep diri yang dibentuk anak salah – perbaiki!
-          Tekankan pada usaha daripada hasil
-          Kadang-kadang anak memang tidakpunya bakat dalam hal tertentu, bantu anak mengatasi kekecewaanya, dan kenali kekuatan dan kelemahannya
-          Pendekatan yang hangat dan humoris untuk membantu anak menegenali dan menghargai keunikannya.

2.       Jadilah role model – tauladan
Kalau ortu terus menerus menunjukkan “Looks” daripada “Values”, ketidak percayaan diri, pesimis, kurang realistis terhadap kemampuan dan kelemahan diri sendiri maka kita akan jadi cermin bagi anak kita sendiri.

SELESAIKAN URUSAN DENGAN DIRI SENDIRI!

Untuk menyelesaikan masalah dengan diri sendiri yaitu bisa dengan membuat cognitive diary. Contoh membuat Cognitive diary - metode common sense diary (masuk akal)

Tanggal/Jam
Situasi
Pikiran
Perasaan dan tingkah laku
Pikiran yang baru
Perasaan dan tingkah laku yang baru
29/11/2014
Anak-anak susah mandi
Telat ke seminar
Nangis dan tidur lagi
Anak-anak tidak bisa terburu-buru
Lebih menerima - bangun lebih pagi

Jika cognitive diary belum cukup, salah satu cara lain untuk menghilangkan peristiwa negatif dan beralih untuk berfikir positif adalah dengan teknik psikoterapi kontemporer EMDR (Eye Movement Desensitization Reprocessing) yaitu dengan menutup mata, membuka mata, menggerakkan bola mata dengan kuat ke kanan bawah, ke kiri bawah, memutar bola mata searah jarum jam dan memutar bola mata berlawanan arah jarum jam.

Buatlah diri kita sebagai ortu bahagia dan merdekakan diri sendiri, baik jiwa dan pikiran. Salah satu bagian otak yaitu sistem limbik berfungsi untuk mendukung perasaan/emosi, mendukung motivasi, berhubungan dengan memori dan mengontrol sistem syaraf simpatik.

Role model yang sehat:
-          Menghargai  dan menerima diri
-          Kembangkan minat dan kekuatan diri
-          Hargai upaya yang dilakukan
-          Pandangan positif
-          Gunakan rasa humor
-          Berilah waktu untuk dirimu
-          Anda berharga sebagai manusia bukan sebagai orangtua yang sukses. Bedakan peran dan harga diri sebagai manusia
-          Tunjukkan cinta dan penghargaan
-          Hargai keunikannya
-          Dukung minatnya
-          Bantu anak mengontrol diri
-          Jangan takut melakukan keslaahan
-          Tunjukkan bahwa kita respek terhadap diri sendiri

“Nurture your own self esteem and they’ll have a great role model”

1.       Kenali dan arahkan kepercayaan diri anak yang keliru
-          Kenali kepercayaan diri yang keliru
-          Bantu anak untuk mempunyai penilaian yang tepat dan realistis tentang dirinya: sempurna, menarik, kemampuan dll
-          Kepercayaan diri yang salah akan menjadi kenyataan
-          Bantu anak untk menjadi realistis dan objective – hindari generalisasi
-          Gunakan kalimat bertanya dengan bahasa yang jernih (tidak menyudutkan dan penuh kasih sayang)

2.       Spontan dan penuh kasih sayang
-          Cinta merupakan pendorong harga dan kepercayaan diri anak
-          Beri pelukan dan ucapan penyemangat kalau anak menunjukkan usaha untuk memperbaiki hal yang sebelumnya gagal
-          Cara lain misalnya menaruh pesan di boks makan
-          Kalau menghargai dan memuji, pastikan anda mengatakan dengan hati dan jangan berlebihan
-          Pujian kurang tepat buat anak merendahkan orang lain dan jadi sombong.

3.       Bantu dan libatkan anak dalam pengalaman-pengalaman yang berarti
-          Kegiatan-kegiatan yang bekerjasama akan mendorong terciptanya harga dan kepercayaan diri pada anak. Libatkan anak dengan tugas RT dan kerja sosial. Anak merasa dihargai dan dibutuhkan.
-          Himbau keluarga dan teman untuk menghargai anak berdasarkan dirinya, kualitas yang dia miliki bukan tampilannya
-          Penghargaan yang anda berikan jangan berlebihan: sepatutnya
-          Ajarkan kalau dipuji penampilannya, anak berani mengatakan kemampuannya misalnya “Inggris saya juga bagus lho!”

4.       Berikan masukan yang positif dan tepat
Beri masukan yang menunjukkan:
-          Ortu mengenali perasaan anak
-          Menghargai pilihan yang dibuat
-          Dorong anak untuk melakukan pilihan yang baik dan tepat

5.       Ciptakan rumah yang aman
-          Anak yang merasa tidak aman di rumah dan dikerasi, berada di tengah kekerasan akan merasa tidak berharga dan tidak percaya diri
-          Hai-hati terhadap tanda anak korban kekerasan diluar rumah, kekerasan seksual
-          Ciptakan agar anak berani dan percaya untuk bercerita tentang apa saja yang terjadi pada dirinya dan bagaimana memecahkan masalah yang dihadapi.

Bagaimana kalau kewalahan? Cari bantuan profesional untuk dapat mencari akar masalah dan memecahkannya. Kadang-kadang dibutuhkan terapi untuk meluruskan pandangan anak tenatang diri dan sekitarnya, mendorong percaya diri dan kapan harus melakukan sesuatu sendiri dan kapan minta tolong orang.

“Bertanggung jawab dan bangga terhadap diri sendiri adalah tanda-tanda harga dan kepercayaan diri yang sehat. Itulah hadiah terbesar yang bisa diberikan orangtua kepada anaknya.”

#ODOPfor99Days
#Day18

0 comments:

Posting Komentar