28/03/16

Pelatihan Parenting: Komunikasi Baik, Benar & Menyenangkan oleh YKBH (Part I)


“Yang penting bukan apa yang aku tau melainkan apa yang aku lakukan dari apa yang aku tau”

                Ilmu ini sebenarnya sudah didapat setahun yang lalu (maaf ya blog saya isinya kudet banget *ngaku*) waktu pelatihan di Rumah Parenting Bekasi di Jatibening. Hanya saja seiring berjalannya waktu mempraktekkan sesuatu itu sangat tidak mudah, beda dengan teorinya. Nah, karena dulu pas  menghadiri seminar dan pelatihan hanya ngumpulin hands out and dicatet hal-hal yang penting tapi enggak ditulis di blog lalu khawatir hilang dan lupa, alhasil sekarang baru deh ditulis disini. Hihi.. Itung-itung nanti jadi ilmu buat generasi selanjutnya. Khawatirnya kalau berupa hands out aja maknanya suka engga jelas dan ujung-ujungnya salah persepsi.

Jadi, saya coba rangkum pelatihan tersebut selengkapnya dan berdasarkan ingatan saya yang sangat terbatas. Hari pertama dimulai tanggal 7 Maret 2014, bersama dengan ibu-ibu yang masih muda dan yang sudah senior berjumlah sekitar 20 orang membahas tentang konsep diri. Rame banget deh, maklum ibu-ibu ini terdiri dari beraneka ragam background, ada yang psikolog, ada yang punya wedding organizer, ada yang anaknya sudah kuliah, ada yang anaknya masih piyik-piyik (kayak saya).

Pelatihan ini merupakan satu syarat untuk bisa mengikuti pelatihan selanjutnya yaitu DKS (Disiplin Kasih Sayang) oleh Bu Elly Risman. Kenapa harus ikut KBBM dulu? Karena apabila kita sudah berkomunikasi dengan baik, kita baru bisa menerapkan disiplin yang penuh kasih sayang. Pembahasan pelatihan KBBM oleh Bu Perwitasari di RP Bekasi ini bertujuan untuk mengenali diri, baik potensi maupun tantangan dan peluang, memiliki kesadaran, kemauan dan keterampilan untuk mengembangkan diri, termotivasi untuk mengoptimalkan kapasitas diri.

Sebelum memperbaiki komunikasi dengan anak, ada hal yang perlu kita selesaikan dahulu. Mungkin banyak orangtua yang tidak sadar bahwa konsep diri sangat berpengaruh terhadap pengasuhan kepada anak kita. Kita tidak mungkin mendidik anak dengan baik jika banyak masalah dalam diri kita yang tidak terselesaikan dengan baik pula. Inilah kenapa di hari pertama yang harus dipelajari yaitu mengenai konsep diri karena hal tersebut adalah cara memandang diri kita secara utuh. Jika konsep diri nya positif dan sudah baik, maka akan terbentuk pula anak yang memiliki konsep diri yang baik. Walau ini memang bukan jaminan, tapi paling tidak ini salah satu ikhtiar kita sebagai orangtua yaitu membangun konsep diri positif supaya menjadi pribadi yang positif dan menyenangkan bagi anak. Selebihnya, hanya Allah yang menentukan karena manusia hanya bisa berencana dan berikhtiar.

KONSEP DIRI
Tantangan dalam mendidik anak di era digital meliputi bullying, sistem pendidikan buruk, harsh word, bad idol, tayangan tv tidak mendidik, pornografi, bad values, games kekerasan, globalisasi. Dalam menghadapi tantangan tersebut, anak membutuhkan orangtua sebagai sahabat, coach dan teladan.  Oleh karena itu menjadi orangtua harus SMART (Sabar, Matang, Amanah, Ramah, Tulus). Dalam proses menjadi orangtua yang SMART, kita membutuhkan 5 isi pengasuhan yaitu:
1.       Cinta
2.       Kasih Sayang
3.       Komunikasi
4.       Disiplin
5.       Konsistensi        

                Cinta berbeda dengan kasih sayang. Cinta adalah perasaan yang timbul dengan alami. Cinta ini terbagi menjadi dua yaitu cinta syar’I dan cinta Thabi’i. Jika cinta syar’i adalah cinta karena Allah, maka cinta thabi’i adalah cinta yang secara alami timbul dalam jiwa manusia, misal mencintai anak, istri, suami. Kasih sayang merupakan perwujudan atau ekspresi dari cinta misalnya orangtua yang menyayangi anaknya diekspresikan dengan kasih sayang yaitu menyiapkan kebutuhannya, memeluk, mencium. Memberikan kasih sayang ini bukan berarti memberikan segala sesuatunya kepada anak. Sebagai orangtua kita harus bedakan needs and wants. Needs adalah kebutuhan atau keinginan yang jika tidak diberikan akan mengganggu tumbuh kembang anak, sedangkan wants adalah keinginan yang bisa dipenuhi dengan hal-hal lain. Yang harus dilakukan orangtua kepada anak adalah memberikan needs dan menerima perasaannya.

                Ketika ditanya mengenai siapa diri kita, bagaimana perasaan kita dan apa keinginan kita, kebanyakan merasa sulit untuk menjawab. Ini terjadi karena konsep diri yang keliru dan tidak mengenali diri sendiri. Mengapa sulit mengenal diri? Karena kurang Look In, kurang menerima masukan dari orang lain, dan kurang terbuka. Kebanyakan sampah-sampah dalam diri yang keluar ketika berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini terjadi karena sampah-sampah emosi tersebut tidak dibuka, jadi perlu bagi kita untuk mengenali diri. Bagaimana cara mengenal diri? Caranya yaitu Look In, Open Mind (menerima masukan dari orang lain), introspeksi dan memaknai pengalaman.

Konsep diri adalah cara seseorang memandang dirinya secara utuh. Konsep diri merupakan gambaran tentang diri sendiri secara:
1.       Fisikal yaitu segala hal yang terlihat secara fisik
2.       Intelektual yaitu kemampuan yang dimiliki atau meningkatkan pengetahuannya
3.       Sosial yaitu perannya di lingkungan dan kemampuan sosialisasinya
4.       Emosional yaitu suasana hati atau perasaannya
5.       Spiritual yaitu hubungannya dengan ruhaniyah

Jenis konsep diri terdiri dari dua yaitu konsep diri ideal dan konsep diri real. Konsep diri ideal adalah gambaran diri yang didambakan/diharapkan/standar diri, sedangkan konsep diri real adalah gambaran diri yang sebenarnya (saat ini). Misalnya kita dalam menilai diri sendiri secara ideal atau yang diharapkan, tuliskan potensi pendukung dan kendalanya. Kemudian bedakan dengan konsep diri secara real saat ini, tuliskan pula pendukung dan kendalanya. Dari situ terlihat  bahwa apa yang kita harapkan ternyata kadang tidak sesuai dengan kondisi realnya. Misal kita sudah berusaha berbuat sebaik mungkin melayani suami dengan memberikan kebutuhannya ternyata pada kenyataannya suami tidak merasakan hal itu. Jadi, dengan membandingkan konsep diri ideal dan konsep diri real, kita jadi mengetahui bahwa ada perbedaan persepsi dalam diri dan lingkungan dan kita berusaha untuk mengevaluasinya dengan memperbaiki diri.  

Komponen konsep diri juga terbagi menjadi dua yaitu kognitif dan asertif. Kognitif yaitu apa yang kita ketahui tentang diri sendiri/self image/citra diri, contoh: saya cantik/tidak cantik. Asertif adalah penilaian terhadap apa yang kita capai sesuai standar yang kita tentukan/perasaan, contoh: saya senang/tidak senang. Salah satu cara untuk memahami dan mengontrol perasaan sendiri adalah dengan membuat termometer perasaan, buatlah skala dari satu sampai sepuluh tentang perasaan kita terhadap sesuatu, apakah itu senang, bahagia, marah, kecewa dan posisikan perasaan kita dengan skala tersebut. Contoh skala temometer perasaan:
1.       Sweet Dream
2.       Smiling the Roses
3.       Relaxe and Happy
4.       Doing Good
5.       Good stress
6.       A bit over my head
7.       Oh My Gosh
8.       Eeekk
9.       Flipping out
10.   Call 911

Apakah saat ini yang dirasakan? Apakah senang, bahagia, puas, bangga, kecewa, marah, galau, iri, takut. Apakah skala tersebut semakin bertambah atau malah berkurang? Berbeda dengan penilaian yang bersifat subjektif sehingga harus dihindari misalnya manja, tidak perduli, cengeng, cerewet dan tidak mau kalah, sedangkan perasaan harus dikenali, diterima dan dimengerti. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi  konsep diri yaitu:
1.       Pola asuh yaitu respon yang ia rasakan saat masa kanak-kanak
2.       Bertambahnya pengetahuan tentang diri
3.       Persepsi terhadap pengalaman/peristiwa
4.       Feed back/masukan dari orang lain
5.       Kemampuan intra personil/melihat diri sendiri/refleksi

Konsep diri sangat penting karena membentuk persepsi, menentukan respon/perilaku, mempengaruhi optimalisasi diri dan mempengaruhi adaptasi dan interaksi dengan orang lain. Konsep diri negatif yaitu bila pengetahuan tentang dirinya kurang dan evaluasi dirinya kurang menyenangkan. Ciri konsep diri negatif yaitu peka terhadap kritik, responsif terhadap pujian, hiperkritik pada oranglain, merasa tidak disukai dan pesimis. Konsep diri positif yaitu bila pengetahuan tentang dirinya baik dan evaluasi dirinya menyenangkan. Ciri konsep diri positif yaitu yakin pada kemampuannya, merasa setara dengan yang lain, menerima pujian dengan proporsional, mengetahui bahwa tidak semua pikiran, perasaan dan perilaku disetujui masyarakat, mampu memperbaiki diri.

Hypnotherapy dengan metode SEFT
                Di hari pertama ini juga diajarkan cara untuk melepaskan masalah dan menghilangkan sampah-sampah masa lalu yaitu dengan teknik SEFT (Self Emotional Freedom Technic). Cara ini lebih nyaman jika dilakukan dalam keadaan tenang atau ketika sholat malam atau tahajud.  Tahap-tahapnya:
1.       Sugesti positif dan berdoa sepenuh hati dengan khusyu dan ikhlas dan pasrah untuk menghindari keyakinan dan pikiran negatif
2.       Membayangkan kembali peristiwa yang membangkitkan emosi negatif atau trauma yang ingin dihilangkan atau menghadirkan kembali rasa sakit yang dimiliki 
3.       Tapping yaitu mengetuk jari dengan ringan di titik tubuh tertentu atau totok jari sambil berdoa, “Ya Allah saya ikhlas dan ridho menerima…. (peristiwa atau masalah yang dihadapi) karena ini ketentuan darimu. Semua saya serahkan padamu dan berikanlah yang terbaik untukku”

(gambar ini diambil dari sini)

Titik-titik ketukan jari di area tubuh:
1.       Di bagian atas kepala
2.       Diantara dua alis
3.       Di pelipis/tulang samping mata
4.       Di bawah mata
5.       Di bawah hidung
6.       Dibawah mulut (antara dagu dan bagian bawah bibir)
7.       Diantara tulang leher (tempat bertemunya tulang dada)
8.       Dibawah PD (perbatasan  tulang dada dan bagian bawah PD)
9.       Dibawah ketiak (tepat di bagian tengah tali bra)

Titik-titik ketukan jari di area jari kecuali jari manis:
1.       Jempol kiri
2.       Samping kuku telunjuk bagian luar
3.       Samping kuku jari tengah bagian luar
4.       Samping kuku kelingking bagian luar
5.       Samping bawah kelingking (bagian yang digunakan untuk mematahkan balok saat karate)

Teknik ini harus dilakukan berulang-ulang supaya masalah dalam diri bisa terselesaikan. Rasanya setelah melakukan ini adalah lega karena sampah masa lalu bisa terobati walau kadarnya masih kecil sekali, apalagi dipandu dengan ahlinya yaitu psikolog jadi terasa lebih tepat sasaran. Hari pertama tentang konsep diri ini benar-benar hal baru buat saya karena sebelumnya awam banget tentang ranah psikologi. Yayasan Kita dan Buah Hati ini memang bergerak dalam bidang pengasuhan yang berdasarkan Islam dan kaidah otak , jadi memang programnya diselaraskan dengan Alquran dan Hadits juga. Itulah yang membuat saya nyaman mengikuti pelatihan karena diselipkan pula sumbernya dari ayat suci AlQuran dan berdasarkan penelitian modern yang sejalan dengan dua sumber utama dalam agama Islam. Selanjutnya akan membahas tentang komunikasi baik, benar dan menyenangkan di postingan selanjutnya.

Bersambung ke Part II

#ODOPfor99Days
#Day19

15/03/16

Seminar Parenting: Meningkatkan Percaya Diri Anak oleh Elly Risman

(gambar diambil dari sini)


Apa itu percaya diri? Percaya diri adalah penilaian dan keyakinan seseorang tentang apa yang mampu dan yang bisa dia lakukan. Jadi, penilaian ini berasal dari diri sendiri bukan penilaian dari orang lain. Kita sebagai orangtua harus bercermin kepada diri sendiri, apakah kita sudah percaya terhadap diri kita sendiri? Karena bagaimana bisa mengajarkan anak percaya diri sedangkan kita sendiri tidak percaya diri. Jadi, sebagai orangtua kita harus SELESAIKAN URUSAN DENGAN DIRI SENDIRI.

Darimana datangnya rasa percaya diri? Percaya diri datang dari harga diri yang tinggi dan sehat sehingga merasa dicintai dan mampu. Percaya diri juga datang dari usia yang sangat dini yaitu usaha yang dihargai. Dengan diberi kesempatan dan dihargai, ia menguji kemampuannya dan belajar dari keberhasilan dan kegagalannya. Percaya diri juga datang dari bagaimana cara seseorang membangun dan merumuskan dirinya yaitu berdasarkan persepsi yang sehat dari ortu karena jika sudah dewasa akan sulit berubah.

Apa yang menentukan seseorang merasa percaya diri? Bagaimana ortu menilai dan menempatkan harga dirinya? Apakah “Looks VS Value”?

Looks VS Values
Sebagai contoh seseorang yang percaya diri hanya berdasarkan “Looks” atau penampilan saja, misalnya orang yang percaya diri dengan memakai barang branded dan memamerkannya di khalayak ramai. Jadi, terlihat jelas bahwa orang tersebut percaya diri karena penampilan luarnya saja. Seharusnya kepercayaan diri kita terletak pada “values” yaitu nilai-nilai yang kita pegang. Catatan penting dalam memuji anak jangan hanya looks tapi juga something (Values) supaya anak tidak jadi sombong, misalnya kamu cantik seperti hatinya.

Ada cerita mengenai kupu-kupu dan seorang anak kecil. Si anak melihat sebuah kepompong yang terdapat di sebuah pohon dan tertarik melihat perkembangan kepompong tersebut. Hari demi hari dia mengamatinya hingga pada suatu ketika kepompong tersebut terbuka dan terlihat kupu-kupu yang berusaha untuk keluar. Karena kasihan, dia berusaha membantu kupu-kupu tersebut untuk keluar dari kepompongnya. Namun, tak lama beberapa hari kemudian kupu-kupu itu mati. 

Sama seperti kupu-kupu, manusia juga memiliki tantangan psyco social crisis dalam setiap tahap perkembangannya dari bayi, balita, anak kemudian praremaja dan remaja. Tantangan tersebut harus dihadapi dan diselesaikan mereka dengan berhasil, oleh karena itu jangan hindari mereka dari kesulitan. Akibatnya apabila sebagai orangtua menghindarkan anak dari kesulitan dan tantangan, yaitu menurunnya self respect sehingga kepercayaan diri anak rusak. Sebaliknya, akibatnya jika anak berhasil mengatasi tantangan yaitu perasaan positif terhadap diri sendiri sehingga meraka akan menghargai keberhasilan dan yakin kepada kemampuan diri. Hargai keberhasilan anak dan jangan terburu-buru sehingga anak dibantu terus menerus karena anak perlu untuk merasakan kegagalan.

Percaya diri terkait dengan hal-hal berikut ini:
·         Self confidence (kepercayaan diri) - bagaimana mempercayai diri sendiri
·         Self esteem (harga diri) – bagaimana menilai/menghargai diri
·         Self concept (konsep diri) – bagaimana merasa diri

Peran keluarga terhadap harga diri anak terlihat dari tanda-tanda berikut ini:
1.       Harga diri yang tinggi:
-          Ortu yang mencintai tanpa syarat
-          Menerima kelebihan dan keterbatasan anak
-          Menentukan target yang bisa dicapai anak
-          Authoriatative parenting
3 tipe parenting yaitu:
a.       Permissive yaitu kasih sayang/harapan tinggi, tuntutan rendah
b.      Otoriter yaitu kasih sayang/harapan rendah, tuntutan tinggi
c.       Autoritatif yaitu kasih sayang/harapan tinggi dan tuntutan tinggi
Contoh authoritative parenting: beri bantuan “cara berpikir” dalam memilih.
-          Hubungan hangat dan respek
-          Terbuka kesempatan untuk mendiskusikan peraturan
-          Ortu teladan dalam menghadapi dan memecahkan masalah
-          Mendorong berhasil
-          Bertingkah laku yang bermoral
-          Feeling good (senyum)
-          Berani mencoba hal baru
-          Berpikir positif, tahan terhadap tekanan negatif lingkungan
-          Lebih sehat secara psikologis, mudah menangani konflik
-          Mampu mengatasi stres
-          Lebih mengenal dan mampu mempertahankan hubungan baik dengan orang lain
-          Menentukan goal hidup yang masuk akal
-          Terbuka terhadap kritik
-          Fokus bagaimana meningkatkan diri dan sukses
-          Mudah bergaul
-          Menikmati hidup
-          Tahu kemampuan dan kenal kelemahan: optimis

2.       Harga diri yang rendah:
-          Tak jelas anak berharga atau tidak
-          Seperti menolak/abusive
-          Target yang terlalu tinggi di luar kemampuan anak
-          Otoritarian parenting
-          Ortu inkonsisten, apa saja boleh
-          Aturan kaku, tidak bisa berdiskusi
-          Teladan yang buruk dalam menghadapi dan memecahkan masalah
-          Suka menjatuhkan dan menganggap remeh
-          Bertingkah laku buruk, kadang mengabaikan moral
-          Perasaan berat tanpa ekspresi
-          Tidak berani mencoba/takut gagal
-          Berfikir negatif terhadap diri sendiri (pasif, menarik diri)
-          Mengalami masalah (stres, cemas, gangguan makan, daya tahan tubuh rendah, depresi)
-          Sulit mempertahankan hubungan baik dengan orang
-          Sulit menemukan solusi
-          Sulit bergaul
-          Tidak jelas goal kehidupan
-          Berusaha melindungi diri terus dari kritikan
-          Menghindar dari kegagalan dan penolakan
-          Tidak menikmati hidup (kelabu)
-          Jarang percaya diri (pesimis)

Tahap pekembangan anak yang perlu untuk diketahui:
1.       Bayi (lahir-2 tahun)
-          Mengembangkan kepercayaan
-          Kelengketan (attachment)
-          Kebutuhan dikenali dan terpenuhi
-          Kenikmatan vs keharusan
-          Konsisten

2.       Balita (2-4 tahun)
-          Penjelajah fisik
-          Bermain dan berkhayal
-          Banyak omong
-          Diterima dan dipercaya
-          Kesempatan mandiri
-          Aturan dan batasan yang jelas

3.       Awal sekolah (4-6 tahun)
-          Penjelajah intelektual
-          Ingin tahu
-          Identifikasi
-          Kreativitas dan inti
-          Emerging person
-          Terpusat pada dirinya
-          Ortu tidak siap sehingga buru-buru dan memberikan hukuman

4.       Pra remaja (6-12 tahun)
-          Masa damai
-          Teman lebih penting
-          Acuan tata nilai
-          Pergaulan yang lama
-          Idola diluar rumah
-          Teman yang aduhai
-          Total mandiri
-          Masa deg-degan
-          Harga diri jatuh
-          Berbalik peran
-          Cinta monyet
-          Aktivitas luar sekolah
-          Gaya hidup

Dalam mendidik anak gunakan prinsip “V of Love” yaitu seperti bentuk jari kita ketika membentuk huruf V yang sempit di bawah dan longgar diatas artinya berikan aturan dan batasan yang jelas di usia kecil karena maksud bagian sempit dibawah mengisyaratkan bahwa kita harus memadatkan nilai-nilai dari kecil supaya menjadi pondasi yang kuat bagi anak. Semakin anak besar, maka batasan dan aturan yang diberikan lebih longgar karena begitu anak masuk usia pra remaja mereka akan mengalami percaya diri yang jatuh bangun sehingga yang dibutuhkan adalah pendampingan orangtua untuk meningkatkan percaya dirinya. Biasakan pula untuk mengatakan ke anak “Try!"dan "What’s Next?” 

Apa yang bisa dilakukan ortu?
1.       Berhati-hatilah dengan apa yang anda ucapkan?
-          Identifikasi bila konsep diri yang dibentuk anak salah – perbaiki!
-          Tekankan pada usaha daripada hasil
-          Kadang-kadang anak memang tidakpunya bakat dalam hal tertentu, bantu anak mengatasi kekecewaanya, dan kenali kekuatan dan kelemahannya
-          Pendekatan yang hangat dan humoris untuk membantu anak menegenali dan menghargai keunikannya.

2.       Jadilah role model – tauladan
Kalau ortu terus menerus menunjukkan “Looks” daripada “Values”, ketidak percayaan diri, pesimis, kurang realistis terhadap kemampuan dan kelemahan diri sendiri maka kita akan jadi cermin bagi anak kita sendiri.

SELESAIKAN URUSAN DENGAN DIRI SENDIRI!

Untuk menyelesaikan masalah dengan diri sendiri yaitu bisa dengan membuat cognitive diary. Contoh membuat Cognitive diary - metode common sense diary (masuk akal)

Tanggal/Jam
Situasi
Pikiran
Perasaan dan tingkah laku
Pikiran yang baru
Perasaan dan tingkah laku yang baru
29/11/2014
Anak-anak susah mandi
Telat ke seminar
Nangis dan tidur lagi
Anak-anak tidak bisa terburu-buru
Lebih menerima - bangun lebih pagi

Jika cognitive diary belum cukup, salah satu cara lain untuk menghilangkan peristiwa negatif dan beralih untuk berfikir positif adalah dengan teknik psikoterapi kontemporer EMDR (Eye Movement Desensitization Reprocessing) yaitu dengan menutup mata, membuka mata, menggerakkan bola mata dengan kuat ke kanan bawah, ke kiri bawah, memutar bola mata searah jarum jam dan memutar bola mata berlawanan arah jarum jam.

Buatlah diri kita sebagai ortu bahagia dan merdekakan diri sendiri, baik jiwa dan pikiran. Salah satu bagian otak yaitu sistem limbik berfungsi untuk mendukung perasaan/emosi, mendukung motivasi, berhubungan dengan memori dan mengontrol sistem syaraf simpatik.

Role model yang sehat:
-          Menghargai  dan menerima diri
-          Kembangkan minat dan kekuatan diri
-          Hargai upaya yang dilakukan
-          Pandangan positif
-          Gunakan rasa humor
-          Berilah waktu untuk dirimu
-          Anda berharga sebagai manusia bukan sebagai orangtua yang sukses. Bedakan peran dan harga diri sebagai manusia
-          Tunjukkan cinta dan penghargaan
-          Hargai keunikannya
-          Dukung minatnya
-          Bantu anak mengontrol diri
-          Jangan takut melakukan keslaahan
-          Tunjukkan bahwa kita respek terhadap diri sendiri

“Nurture your own self esteem and they’ll have a great role model”

1.       Kenali dan arahkan kepercayaan diri anak yang keliru
-          Kenali kepercayaan diri yang keliru
-          Bantu anak untuk mempunyai penilaian yang tepat dan realistis tentang dirinya: sempurna, menarik, kemampuan dll
-          Kepercayaan diri yang salah akan menjadi kenyataan
-          Bantu anak untk menjadi realistis dan objective – hindari generalisasi
-          Gunakan kalimat bertanya dengan bahasa yang jernih (tidak menyudutkan dan penuh kasih sayang)

2.       Spontan dan penuh kasih sayang
-          Cinta merupakan pendorong harga dan kepercayaan diri anak
-          Beri pelukan dan ucapan penyemangat kalau anak menunjukkan usaha untuk memperbaiki hal yang sebelumnya gagal
-          Cara lain misalnya menaruh pesan di boks makan
-          Kalau menghargai dan memuji, pastikan anda mengatakan dengan hati dan jangan berlebihan
-          Pujian kurang tepat buat anak merendahkan orang lain dan jadi sombong.

3.       Bantu dan libatkan anak dalam pengalaman-pengalaman yang berarti
-          Kegiatan-kegiatan yang bekerjasama akan mendorong terciptanya harga dan kepercayaan diri pada anak. Libatkan anak dengan tugas RT dan kerja sosial. Anak merasa dihargai dan dibutuhkan.
-          Himbau keluarga dan teman untuk menghargai anak berdasarkan dirinya, kualitas yang dia miliki bukan tampilannya
-          Penghargaan yang anda berikan jangan berlebihan: sepatutnya
-          Ajarkan kalau dipuji penampilannya, anak berani mengatakan kemampuannya misalnya “Inggris saya juga bagus lho!”

4.       Berikan masukan yang positif dan tepat
Beri masukan yang menunjukkan:
-          Ortu mengenali perasaan anak
-          Menghargai pilihan yang dibuat
-          Dorong anak untuk melakukan pilihan yang baik dan tepat

5.       Ciptakan rumah yang aman
-          Anak yang merasa tidak aman di rumah dan dikerasi, berada di tengah kekerasan akan merasa tidak berharga dan tidak percaya diri
-          Hai-hati terhadap tanda anak korban kekerasan diluar rumah, kekerasan seksual
-          Ciptakan agar anak berani dan percaya untuk bercerita tentang apa saja yang terjadi pada dirinya dan bagaimana memecahkan masalah yang dihadapi.

Bagaimana kalau kewalahan? Cari bantuan profesional untuk dapat mencari akar masalah dan memecahkannya. Kadang-kadang dibutuhkan terapi untuk meluruskan pandangan anak tenatang diri dan sekitarnya, mendorong percaya diri dan kapan harus melakukan sesuatu sendiri dan kapan minta tolong orang.

“Bertanggung jawab dan bangga terhadap diri sendiri adalah tanda-tanda harga dan kepercayaan diri yang sehat. Itulah hadiah terbesar yang bisa diberikan orangtua kepada anaknya.”

#ODOPfor99Days
#Day18