25/02/16

Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part III)



  
Setelah sebelumnya membahas sumber persaingan dan stres, part ini membahas tentang stres dan cara mengatasinya.

6. Memilih sekolah: keinginan/gengsi ortu VS bakat dan kemampuan anak
Harapan VS keunikan
Harapan orang tua yaitu mimpi yang tidak tercapai, berfikir bahwa anak mampu lewati persaingan dan Ingin anak sukses padahal masing-masing anak memiliki keunikan dan beda. Background ortu yang bermacam-macam yaitu:
- Dulu susah sekali dan sekarang sukses sehingga ortu bersikap kalau dimanjain tidak sukses atau memberi kesempatan yang dulu tidak didapat
- Lahir dari keluarga mampu/nama besar sehingga ortu bersikap permissive (aku juga bisa) atau harapan tinggi dan disiplin rendah. 3 tipe parenting:
a. Permissive yaitu kasih sayang tinggi, harapan rendah
b. Otoriter yaitu harapan tinggi tapi kasih sayang rendah
c. Autoritatif yaitu kasih sayang tinggi dan harapan tinggi

Kemampuan anak VS gengsi ortu
Kenali anak tentang keunikannya, tingkat kecerdasannya, bakat dan minat, konsep diri, tipe kepribadiannya. Kenali diri sendiri tentang apa yang ingin dicapai?
“Emotional inventory” yaitu keinginan anak atau mimpiku. Memilih sekolah yaitu sekolah unggulan, favorit, SBI (sekolah bertaraf internasional) & SI (sekolah internasional). Perencanaan bersama dan menjelajahi pilihan-pilihan:
- SMP apakah di madrasah atau boarding atau pesantren
- SMU atau SMK atau boarding atau pesantren
- Keinginan siapa? Buka wawasan
- Tujuannya apa
- Sesuai dengan minta dan bakat anak atau tidak?
- Lokasi?
- Kesiapan fisik, mental dan spiritual
- Kunjungi bersama dengan diskusi dan buat perencanaan lalu putuskan bersama.
a. 2 tahun sebelum lulus diberi pilihan dan diajak untuk melihat.
b. Setiap jenjang pendidikan yang lebih tinggi ada rehat dulu yaitu antara S1 –S2 – S3
c. Contoh merencanakan pilihan apabila lulus SMU:
Plan A: Hukum & psikologi
Plan B: Hukum & FISIP
Plan C: Fakultas negeri lain di Jakarta
Plan D: Ngaji, Bahasa Arab, Les kecantikan dan masak-memasak sambil tunggu SMPTN yang akan datang
d. Tujuan: Ahli hukum kelautan, konservasi laut terumbu karang, duta besar, psikolog
Fakultas: hukum, kelautan, fisip, psikologi
e. Mengajar anak supaya anak suka dengan apa yang dilakukannya (dengan emosi dan perasaan). Intinya adalah dialog

Peran ortu adalah Coach of Competition yaitu:
- Tugas utama kita merenung sejenak, pikirkan sikap kita terhadap persaingan kalah dan menang
- Apa yang harus diperbaiki dulu
- Dorong anak untuk bersaing dengan diri sendiri
- Buat anak bangun sikap fairplay
- Hadiri sebanyak mungkin lomba yang diikuti anak dan tunjukkan sikap yang positif dan mendorong anak
- Hati-hati memilih pelatih yang mampu mengajarkan sikap yang sportif, fairplay dan keterampilan belajar.
- Jadi pendengar yang baik ketika anak kecewa karena gagal
- Bantu ia keluar dari situasi itu dan mencobanya lagi
- Hargai anak setiap hari
- Ia berharga bukan karena kalah/menang

Akibat bila persaingan tak tertangani adalah sebagai berikut:
- Memperlakukan anak tidak patut sesuai dengan usia, keunikan dan karakter individual anak, agama dan budaya
- Melukai harga dan kepercayaan diri
- Mencabutnya dari dunia bermain terlalu cepat
- Membatasi pengalaman
Sehingga  membuat anak menjadi STRESS.

Stres adalah suatu keadaan yang menekana atau menghimpit perasaan. Mekanisme stres:
Situasi sulit dan menyakitkan à terjadi perubahan pada mind/pikiran
Tubuh mempersiapkan diri untuk merespon bahaya -> Fight, Flight, Freeze
Fight (menyerang balik), flight (lari dari situasi), freeze (diam saja)

Bentuk stres:
- Eustres -> stres positif, contoh: mengatasi tantangan, tugas dan pekerjaan, prestasi
- Disstress -> stres negatif, contoh: tertekan, marah, hilang kontrol, rendah diri, tidak aman

Akibat stres yaitu berhubungan dengan kondisi cardiovascular, penurunan daya tahan tubuh seperti kanker, radang lambung, asthma, darah tinggi, migraine, luka gatal, abulia, insomnia. Pencetus stres:
- Ketegangan dalam keluarga
- Komunikasi dan harapan yang tidak patut
- Persaingan
- Beban pelajaran, PR dan les
- Pindah sekolah/rumah
- Bullying: School, cyber dan boarding
- Perceraian
- Sakit yang lama/kematian dalam keluarga

Memahami anak:
- Anak memandang, dunia, waktu dan prioritas berbeda
- Mereka bukan miniatur, mereka kecil, tergantung, dapat dipercaya dan sedang belajar tentang diri dan dunia sekitarnya
- Ketika remaja, dunia berkisar sekitar sekolah teman dan kegiatan sosial
- Unsur penting yang dibutuhkan anak terjadi dari perjalanan waktu antara permainan dan pengalaman

Mengenali dan mengelola stres:
- Perhatikan usia, keunikan, karakter pribadi, minat dan bakatnya (harapan yang realistis)
- Tentukan ketepatan dan jadwal rutinitas sehari-hari
- Sediakan kegiatan rutin yang tetap dengan memperhatikan kebutuhan anak bermain , berkreasi, berkhayal. Salah satu bermain yang baik adalah role play.
a. Indonesian neuroscience society menyarankan 2 hal kepada pemerintah:
- Salah satu ortu harus di rumah
- Pendidikan berbasis otak
b. Anak usia 0-12 tahun -> Amygdala sudah siap, pengasuhan dan pendidikan ditujukan untuk membangun emosi empati (mood & feeling)
- Bentuk budaya keluarga: komunikasi dan harapan.
- Bantu anak menemukan harapan terhadap prestasi sekolah.
- “Emotional inventory” artinya keinginan anak atau mimpiku.
- Hati-hati tuntutan terhadap prestasi sekolah dan terlalu banyak aktifitas.
- Hati-hati antara merangsang dan mendorong. Dorong untuk meningkat tapi bukan perfek
- Perhatikan ekspresi kebahagiaan atau sinyal stres: gejala fisik, masalah perilaku, perubahan dalam pola makan dan tidur
- Bantu anak menemukan penyebab dan siap mendengarkan kesulitan dan masalah anak dan berusaha kurangi stres.
- Bila anak hidup dalam irama dan kecepaan orang dewasa, anak bergegas dalam kehidupan kenak-kanakannya dan menghasilkan stres.
- Ganti gigi: anak butuh mama dan papa: berkunjunglah ke tempat dan waktu yang penuh “magic” itu.
- Perhatikan keselamatan di lingkungan tetangga dan sekolah
- Lindungi anak dari kekerasan media
- Jujurlah dalam melihat sebab stres karena masalah keluarga sehingga fungsi keluarga yang ditingkatkan
- Ajarkan anak realistis: berpedoman pada Alquran
- Jadilah model yang baik, atasi stresmu sendiri dengan cara yang sehat

Selalu ingat bahwa anak itu unik, jangan karena saya memiliki harapan di masa lalu yang tidak kesampaian lalu membentuk anak dengan ekpekstasi yang berlebihan, biarkanlah mereka berkembang sesuai umurnya.

“Jangan cabut dunia bermain mereka terlalu cepat karena kalau tidak kau akan mendapati orang dewasa yang kekanak-kanakan” (Elly Risman)

#ODOPfor99Days
#Day17

0 comments:

Posting Komentar