23/02/16

Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part II)

(gambar diambil dari sini)


Setelah sebelumnya membahas sumber persaingan dan stres point 1-3, part ini membahas point selanjutnya dan bagaimana langkah-langkah mengatasi persaingan.

4. Persaingan dan masalah dalam keluarga
                Persaingan dan masalah dalam keluarga terdiri dari:
a. Persaingan antar saudara
b. Keseharian dan skedul yang padat yaitu beban pelajaran, PR dan les
c. Pindah rumah/sekolah
d. Peran ayah – perceraian
e. Sakit yang lama/kematian dalam keluarga

4.a. Persaingan antar saudara
        Persaingan bermula dari rumah:
- Bersaing dan iri merupakan hal yang alami dalam kehidupan keluarga (QS 4:32). Mulai usia 2,5 tahun, otak anak berkembang 1 trilyun. Jika anak bersaing, apa sebabnya? Karena otak anak belum bersambungan sehingga ucapan ortu tidak dipahami dan perlu dikatakan berulang-ulang.
- Mulai usia 3-4 tahun anak mulai berfikir “aku punya…”
- Anak butuh dan berebut: cinta, kasih sayang, perhatian, penghargaan dan pujian dari ortu. Salah satu cara membagi perhatian dan kasih sayang yaitu dengan kasih waktu masing-masing anak-anak, misalnya lagi menyusui adik, kakak jangan lihat, jika bayi tidur kasih waktu khusus untuk kakak.

Memahami persaingan antar saudara
- Ikatan emosi ortu dan anak merupakan fondasi dari rasa aman dan penerimaan dalam hidup. Salah satu bentuk ikatan emosi adalah attachment ketika sedang menyusui. Ketika hamil oxitocyn melimpah (bonding hormone), jika tidak ada bonding, maka keluar hormon cortisol (hormon stres) sehingga anak tersebut merasa cemas (anxiety) kepada perpisahan (separation) dan orang asing (stranger)
- Anak (balita – remaja) tak tahu dan tak pandai mengungkapkan rasa ke dalam kata tentang kebutuhannya sehingga mereka mengekspresikannya lewat perbuatan karena merasa tidak aman dan bersaing.

DEWASA:             E              –             P             –             A
EMOSI  ->    PIKIRAN       ->        AKSI
ANAK-ANAK:     E              –             A             –             P
EMOSI  ->       AKSI           ->    PIKIRAN       

Jika orang dewasa merasakan emosi kemudian berfikir dahulu baru mengambil sikap, sedangkan anak-anak jika merasakan emosi, maka akan beraksi baru berfikir dikarenakan otaknya belum berkembang.

Identifikasi issue terkini tentang persaingan antar saudara:

Anak Anda
Tidak pernah
Kadang-kadang
Sering
Bertengkar dan kontra



Godain dan ngejek



Mengeluh tentang saudara



Rebut barang saudara



Pakai barang tidak ijin



Tidak mau berbagi



Ngeboss




- Listing, cari yang paling sering dan prioritas, selesaikan satu-satu
- Cari penyebab, otak anak di tahapan mana?
- Waktu hamil dan menyusui, apa yang dilakukan?

4.b. Keseharian dan skedul yang padat yaitu beban pelajaran dan les
Dari hasil kuisioner didapat bahwa:
- Peserta yg hadir memiliki anak SD terbanyak kelas 1-3 SD, lalu 4-6 SD, SMP dan sisanya TK dan lain-lain
- Umur anak masuk SD paling banyak umur 6 tahun, lalu 7 tahun, 5 tahun dan ternyata ada yang dibawah 5 tahun.
- Jenis sekolah uang dimasuki paling banyak Full day elementary school, lalu swasta nasional, SDIT, swasta interansional, SD negeri dan madrasah ibtidaiyah.
- Les yg diikuti anak bermacam-macam yaitu mengaji, olahraga (renang, basket), menari (balet, bali), berhitung (kumon, jaritmatika, sempoa), mata pelajaran, bahasa (inggris, mandarin).
- Mata pelajaran yang didapat anak setelah jam 12 siang yaitu bahasa, matematika, kesenian, ekskul (pramuka), dll.
- Les dalam 1 minggu paling banyak adalah 1 hari, lalu 2 hari dalam seminggu, 3 hari  dan 4 hari seminggu
- Jam sekolah SD paling banyak adalah 7-8 jam, lalu 5-6 jam, kurang dari 5 jam, bahkan ada yg diatas 8 jam.

Karena otak anak baru sempurna berhubungan umur 7 tahun jadi jangan membebani anak terlalu berat dengan les-les dan ekskul. Masukkan anak ke sekolah sesuai dengan usia sekolah, jangan terlalu cepat karena pada saat dewasa akan melempem.

4.c Pindah rumah/sekolah membutuhkan penyesuaian diri:
- Jarak
- Sekolah
- Guru
- Pelajaran
- Teman
- Aturan

4.d. Peran ayah - perceraian
        Ayah yang terlibat aktif akan membuat anak:
- Lebih bisa mendapatkan sense of independence
- Lebih percaya diri dan lebih tidak cemas bila berada di tempat baru
- Lebih mudah beradapatasi terhadap perubahan rutinitas
- Lebih sehat secra fisik dan mental
- Lebih bisa menghadapi persaingan dan frustasi

Jangan ucapkan “anak ayah pasti bisa” kepada anak berumur diatas 7 tahun karena cenderung bully. Kurangnya peran ayah sangat berdampak yaitu:
- Bagi laki-laki: nakal, agresif, narkoba, seks bebas
- Bagi perempuan: depresi dan seks bebas

4.e. Perceraian dan kematian.
Kalau hal mengecewakan terjadi dalam kehidupan seperti perpisahan, perceraian dan kematian, sebagai orang tua tetap harus ingat kebutuhan dasar anak untuk dicintai, rasa aman, batasan, pengasuhan, kepedulian serta kehadiran dan kasih sayang ortu tidak akan berubah.

Langkah mengatasi persaingan dalam keluarga:
a. Ortu temukan isunya apa?
b. Apa perasaan dan kebutuhan dibalik persaingan?
c. Baca bahasa tubuh – dengarkan perasaan dengan bertanya perasaannya misal “kamu marah ya?”, supaya anak belajar mengungkapkan perasaannya. Kemudian jangan nasihati anak ketika emosinya sedang kacau karena nasihat tersebut tidak akan didengar, waktu yang tepat untuk menasihati anak adalah saat hati senang karena saat hati senang, otak menyerap lebih banyak.
d. Buat perencanaan untuk menanganinya: bagaimana harapan ortu, peraturan, konsekuensi dari perbuatan
e. Penuhi hak masing-masing anak: balita sampai remaja (12 tahun)
f. Usahakan untuk tidak menghakimi persaingan kecil, misal: “Siapa mulai duluan?” tetapi lebih ke “Tadi bagaimana ceritanya?”
- BMM (berfikir mengambil keputusan) yaitu anak yang menemukan bukan ortu yang menjudge.
- Jangan selalu ikut campur terhadap hal-hal kecil: ajarkan mereka problem solving biarkan mereka selesaikan masalah adik dan kakak, kasih kemerdekaan berfikir.
g. Hargai kalau anak: baikan, rukun, main baik-baik dan saling  menolong
h. Hindari membandingkan, meremehkan, mencap, memotivasi
i. Ajarkan anak tepo seliro
j. Buat batasan yang jelas: tidak saling menyakiti
k. Konsekuensi bagi yang melanggar: “Time out” dan main sendiri dulu atau tidak berkomunikasi sehari dua hari – batas tidak bicara 3 hari.
- Tips time out (hasil penelitian terbaru, time out bisa merusak otak jadi sebaiknya tidak dilakukan):
1. Timeout diberikan sesuai usia anak, misal anak 2 tahun: 2 menit, anak 3 tahun: 3 menit.
2. Setiap menit ditanya sudah siap atau belum.
3. Taruh di ruamg bermain bukan dikunci
4. Anak perlu merenung/tafakur, tapi bukan dengan mainan (kontemplasi)
l. Minta maaf bila anak ridho
m. Pastikan menyelesaikan masalah perasaan semaksimal mungkin karena jika bermasalah terbawa sampai dewasa/menikah akan bermasalah dalam pembagian harta warisan 

Mendidik anak utamakan perasaan daripada pikiran. Ajarkan anak-anak ekspresikan perasaanya dengan kata-kata bukan dengan perbuatan, misalkan “saya marah karena…”. Ubah thinking skill karena lazy mind (malas berpikir karena kita hanya menonton TV bukannya mempraktekan parenting).

5. Persaingan dan masalah diluar keluarga
Persaingan yang salah arah seperti:
- Perlombaan di usia dini, misal perlombaan peragaan busana dimana anak kecil berjalan di catwalk dan dipaksa untuk melenggak lenggok dan senyum kepada orang-orang
- Ortu, guru dan pelatih: “persaingan yang terlalu serius”
- Anak berharga dan pede klo menang
- Meminta anak untuk ranking terus
- Yang akan dihadapi anak kita sebagai generasi Z yaitu persaingan di dunia maya
- Peer presure
- Bullying: school, boarding

Makna positif persaingan yaitu ortu dapat merencanakan dan membimbing anak menggunakan persaingan untuk:
- Perkembangan diri dan kepribadian tentang bagaimana meningkatkan diri, mengenali batas kemampuan diri dan orang lain.
- Mampu menentukan goal dan mimpi
- Belajar makna bahwa MENANG & KALAH tidak merubah siapa kamu bagi ayah dan mama.
- Bersaing lawan diri sendiri: perang besar (QS 4:32)
- Melalui persiangan anak belajar tentang diri dalam hubungan dengan orang sekitarnya
- Apa yang bisa saya capai, bagaimana saya bersaing
- Merasakan energi pribadi: semangat, cemas, dan harapan dan kepuasan.

Kalau anak anda kalah, lakukan hal-hal berikut:
- Dengar perasaannya dan kekecewaannya
- Catat hal positif yang telah dilakukannya sebelum dan selama pertandingan
- Bangun kembali harapan dengan kegiatan langsung
- Sampaikan kata-kata yang terpilih tentang “kesempatan lain”
- Bantu anak mengingat betapa jauh peningkatannya

Jangan lakukan:
- Segera menghapus rada sedih dan kecewa
- Mengeritik penampilannya
- Ajak “menyerah” karena kurang berbakat atau terampil
- Mengecilartikan pertandingan
- Membandingkan dengan teman atau saudara
- Marah dan mengeritik teman atau pelatih

 Bersambung ke Part III

#ODOPfor99Days
#Day16

2 komentar:

  1. Andai banyak orang tua menerapkan hal ini...

    BalasHapus
  2. Iya, mas Fadel.
    Saya saja masih berjuang nih menerapkannya.
    Semoga makin banyak ortu yang "ngeh" dan sadar.

    Terima kasih sudah mampir ya

    BalasHapus