Selasa, 23 Februari 2016

Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part I)

(gambar diambil dari sini)



                Seminar ini adalah kali pertama saya hadir dalam rangkaian seminar bu Elly Risman lainnya.  Sebelum hadir langsung di seminarnya, saya memang tertarik dengan bahasannya namun karena waktu itu kondisi masih belum bisa meninggalkan anak, jadi saya hanya baca review orang yang hadir dari internet saja. Tertarik banget dengan seminar-seminar Bu Elly karena tema dan isi seminarnya luas, langsung dari pakarnya dan jleb banget. Akhirnya, setelah anak kedua lulus ASI di umur 2 tahun, baru saya mencoba ikut hadir di seminarnya karena rasanya lebih tenang meninggalkan anak bersama ayahnya untuk belajar selama 4 jam. Berangkatlah saya diantar suami dan anak-anak, dan sementara saya belajar, suami lah yang mengasuh anak-anak. Alhamdulillah suami pun mendukung saya untuk menimba ilmu lagi. Simak resume seminarnya walau mungkin ada sebagian yang lupa-lupa ingat karena sudah lebih dari setahun yang lalu hehehe… dan sengaja dibagi menjadi beberapa bagian supaya tidak terlalu panjang.

Mengapa kita perlu membantu anak menghadapi persaingan?
1. Anak kita akan memasuki dunia global dimana persaingan semakin ketat
2. Bagaimana supaya bisa bersaing tapi juga bersinergi
3. Anak harus mampu mengenali dan menerima diri dan orang lain. Generasi anak kita adalah generasi Z yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi di era digital yang salah satunya adalah mereka akan menghadapi bully yang tidak hanya sekedar bully biasa tetapi adalah bullycide (bully until suicide) yaitu bully sampai mereka merasa ingin bunuh diri.
4. Menyerahkan sebagian “dirinya” dengan happy
5. Sikap terhadap persaingan yang sehat dan produktif
6. Berlomba berbuat kebaikan dan mencari ridha Allah

Sumber persaingan dan stres:
              1. Lupa anak milik siapa?
2. Tidak mengenali diri sendiri dan anak:
                - Tidak tahu tahapan perkembangannya
                - Tidak tahu cara otak bekerja
3. Tidak merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
4. Persaingan dan masalah dalam keluarga
5. Persaingan dan masalah diluar keluarga
6. Memilih sekolah: keinginan/gengsi ortu VS bakat dan kemampuan anak
7. Dampak negatif teknologi dan media

1. Lupa bahwa anak milik siapa
- Anak adalah anugrah & pinjaman
- Anak adalah fitnah (QS 64:15)
        “Sungguh hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan bagimu
- Anak jangan menyebabkan lupa kepada Allah (63:9)
- Anak bisa menjadi musuhmu
- Doa ingin anak sholeh (3:38)(25:74)(46:15)
                Bagaimanapun anak adalah titipan, bagaimana caranya supaya tidak bikin perkara di masa tua.

             2. Tidak mengenali diri sendiri dan anak:
a. Tidak mengenali diri sendiri.
        Yuk, kenali diri sendiri! Bu Elly memberi simulasi bagaimana kita sangat tidak mengenali diri sendiri yaitu dengan games tebak “apa bakat anda?”. Pikirkan apa bakat kita dan pikirkan 2 bakat anak kita. Setelah itu kita cari pasangan di sebelah dan mengingat di dalam hati bakat kita dan 2 bakat anak kita. Tentukan siapa yang mulai duluan menyebutkan bakatnya dan bakat anaknya dengan cara menepuk bahu pasangan dan tanya, apa bakat anda? Suasana jadi riuh karena sibuk memberi jawaban antar pasangan. Lalu ketika ditanya beberapa orang, apa bakat kita yang disebutkan pasangan sudah benar atau belum, dan ternyata masih ada jawaban yang salah. Kenapa? Karena kita malah sibuk mendengar dan memperhatikan bakat orang lain, tidak melihat ke diri sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya kita fokus untuk mengenali diri sendiri dulu.

        Masing-masing kita unik (QS 3:6). Anak kita tercipta dari ratusan ribu sperma dan ratusan ribu sel telur yang masing-masing membawa gen yang berbeda. Oleh karena itu, masing-masing anak kita unik dan perlu perlakuan khusus. Tips nya adalah sediakan masing-masing satu “hari anak” untuk setiap anak.

Kebiasaan yang merupakan pengalaman ortu atas:
- Masa lalu yang ditekankan ortu yaitu akademik dan agama
- Perasaan saat itu yaitu sebal, menyenangkan, terbebani, biasa saja, bahagia, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, stres belajar
- Parenting diturun temurunkan (wiring), jadi cara orang tua mengasuh kita akan berdampak pada pengasuhan diri kita ke anak kita. Begitu juga dengan anak kita dan seterusnya. Hal ini disebut myelinisasi yaitu kebiasaan dari kecil mempengaruhi cara pengasuhan berikutnya ke anak. Oleh karena itu, sebaiknya putuskan wiring cara pengasuhan ortu kita dulu apabila ada yang tidak pas.

b. Tak kenal anak karena kita minim pengetahuan tahapan perkembangan anak dan cara otak bekerja. Tahapan perkembangan anak:
- Bayi
- Batita
- Balita
- Usia SD yaitu Kelas rendah (pre baligh) & Kelas tinggi (Pra remaja)
- Remaja
- Dewasa muda
- Dewasa
Anak harus ada internal control

Cara otak bekerja:
- Synaps-synaps/saraf otak bersambungan jika gizi baik dan rangsangan tepat
- Koneksi terjadi 1-2 Trilyun di umur 2,5 tahun dan pusat perasaan di otak lah yang matang duluan.
- Pusat-pusat di otak sempurna berhubungan di umur 7 tahun, jadi jangan bebani anak terlalu berat dengan les dan ekskul atau masukkan anak ke sekolah sesuai dengan usia sekolah dan jangan terlalu cepat.
- Anak perlu eksplorasi dan sinar matahari (3 jam/hari) minimal 30 menit
- 3 bagian otak yang penting dan perhatikan cara kerjanya:
a. Kortek Serebri (Cerebral cortex)
b. Sistem Limbik (Limbic sysytem) atau pusat perasaan/emosi, motivasi. Otak yang pertama matang adalah perasaan/empati. Sistem limbik berhubugan dengan memori dan mengontrol sistem syaraf simpatik seperti jantung, paru-paru, usus dan organ seks.
c. Batang otak (Brain stem): tidak bisa menerima bentakan terlalu banyak, hindari bentakan dan marah karena tidak sesuai dengan kerja otak.

Jadi faktanya bagaimana otak bekerja adalah terbentuk dari cara kita berkomunikasi dengan anak.

Potensi anak yang harus dikembangkan:
- Potensi fisik dan kesehatan
- Potensi mental/ kecerdasan
- Potensi emosi
- Potensi Sosial
- Potensi spiritual: keimanan, ibadah dan akhlak
- Potensi seksual
- Potensi keterampilan/lifeskill

Sebagai orangtua kita harus ganti gigi dengan berkunjunglah ke tempat dan waktu yang penuh “magic” itu (masuk ke dalam dunia anak-anak) misalnya orangtua harus terus belajar supaya tidak gaptek karena anak-anak akan lebih menghormati ke orangtua uang mengerti dunia mereka, ditanya gadget atau game ngerti, jadi ortu harus bisa menyesuaikan dunianya saat berhadapan dengan anak.

Bila anak hidup dalam irama dan kecepatan orang dewasa, maka mereka akan bergegas dalam kehidupan kekanak-kanakannya dan bisa menyebabkan stres.

3. Tidak merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
Tujuan pengasuhan:
- Hamba Allah yang takwa, berkahlak mulia dan ibadah sempurna
- Calon istri/suami
- Calon ayah/ibu
- Profesional/entrepreneur
- Pendidik keluiarga
- Penanggung jawab keluarga
- Pendakwah/berbagi ilmu

Perempuan mungkin bisa berhenti sampai di point (d) profesional/entrepreneur karena selanjutnya akan ada suami yang mengajarkan tetapi untuk laki-laki harus sampai point terakhir (g) pendakhwah karena mereka akan menjadi kepala keluarga. Otak anak perempuan dan anak laki berbeda sehingga harus berbeda cara pengasuhan. Tujuan pengasuhan salah satunya adalah growing straight form the start.

Bersambung ke Part II

#ODOPfor99Days
#Day15

0 comments:

Posting Komentar