25/02/16

Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part III)



  
Setelah sebelumnya membahas sumber persaingan dan stres, part ini membahas tentang stres dan cara mengatasinya.

6. Memilih sekolah: keinginan/gengsi ortu VS bakat dan kemampuan anak
Harapan VS keunikan
Harapan orang tua yaitu mimpi yang tidak tercapai, berfikir bahwa anak mampu lewati persaingan dan Ingin anak sukses padahal masing-masing anak memiliki keunikan dan beda. Background ortu yang bermacam-macam yaitu:
- Dulu susah sekali dan sekarang sukses sehingga ortu bersikap kalau dimanjain tidak sukses atau memberi kesempatan yang dulu tidak didapat
- Lahir dari keluarga mampu/nama besar sehingga ortu bersikap permissive (aku juga bisa) atau harapan tinggi dan disiplin rendah. 3 tipe parenting:
a. Permissive yaitu kasih sayang tinggi, harapan rendah
b. Otoriter yaitu harapan tinggi tapi kasih sayang rendah
c. Autoritatif yaitu kasih sayang tinggi dan harapan tinggi

Kemampuan anak VS gengsi ortu
Kenali anak tentang keunikannya, tingkat kecerdasannya, bakat dan minat, konsep diri, tipe kepribadiannya. Kenali diri sendiri tentang apa yang ingin dicapai?
“Emotional inventory” yaitu keinginan anak atau mimpiku. Memilih sekolah yaitu sekolah unggulan, favorit, SBI (sekolah bertaraf internasional) & SI (sekolah internasional). Perencanaan bersama dan menjelajahi pilihan-pilihan:
- SMP apakah di madrasah atau boarding atau pesantren
- SMU atau SMK atau boarding atau pesantren
- Keinginan siapa? Buka wawasan
- Tujuannya apa
- Sesuai dengan minta dan bakat anak atau tidak?
- Lokasi?
- Kesiapan fisik, mental dan spiritual
- Kunjungi bersama dengan diskusi dan buat perencanaan lalu putuskan bersama.
a. 2 tahun sebelum lulus diberi pilihan dan diajak untuk melihat.
b. Setiap jenjang pendidikan yang lebih tinggi ada rehat dulu yaitu antara S1 –S2 – S3
c. Contoh merencanakan pilihan apabila lulus SMU:
Plan A: Hukum & psikologi
Plan B: Hukum & FISIP
Plan C: Fakultas negeri lain di Jakarta
Plan D: Ngaji, Bahasa Arab, Les kecantikan dan masak-memasak sambil tunggu SMPTN yang akan datang
d. Tujuan: Ahli hukum kelautan, konservasi laut terumbu karang, duta besar, psikolog
Fakultas: hukum, kelautan, fisip, psikologi
e. Mengajar anak supaya anak suka dengan apa yang dilakukannya (dengan emosi dan perasaan). Intinya adalah dialog

Peran ortu adalah Coach of Competition yaitu:
- Tugas utama kita merenung sejenak, pikirkan sikap kita terhadap persaingan kalah dan menang
- Apa yang harus diperbaiki dulu
- Dorong anak untuk bersaing dengan diri sendiri
- Buat anak bangun sikap fairplay
- Hadiri sebanyak mungkin lomba yang diikuti anak dan tunjukkan sikap yang positif dan mendorong anak
- Hati-hati memilih pelatih yang mampu mengajarkan sikap yang sportif, fairplay dan keterampilan belajar.
- Jadi pendengar yang baik ketika anak kecewa karena gagal
- Bantu ia keluar dari situasi itu dan mencobanya lagi
- Hargai anak setiap hari
- Ia berharga bukan karena kalah/menang

Akibat bila persaingan tak tertangani adalah sebagai berikut:
- Memperlakukan anak tidak patut sesuai dengan usia, keunikan dan karakter individual anak, agama dan budaya
- Melukai harga dan kepercayaan diri
- Mencabutnya dari dunia bermain terlalu cepat
- Membatasi pengalaman
Sehingga  membuat anak menjadi STRESS.

Stres adalah suatu keadaan yang menekana atau menghimpit perasaan. Mekanisme stres:
Situasi sulit dan menyakitkan à terjadi perubahan pada mind/pikiran
Tubuh mempersiapkan diri untuk merespon bahaya -> Fight, Flight, Freeze
Fight (menyerang balik), flight (lari dari situasi), freeze (diam saja)

Bentuk stres:
- Eustres -> stres positif, contoh: mengatasi tantangan, tugas dan pekerjaan, prestasi
- Disstress -> stres negatif, contoh: tertekan, marah, hilang kontrol, rendah diri, tidak aman

Akibat stres yaitu berhubungan dengan kondisi cardiovascular, penurunan daya tahan tubuh seperti kanker, radang lambung, asthma, darah tinggi, migraine, luka gatal, abulia, insomnia. Pencetus stres:
- Ketegangan dalam keluarga
- Komunikasi dan harapan yang tidak patut
- Persaingan
- Beban pelajaran, PR dan les
- Pindah sekolah/rumah
- Bullying: School, cyber dan boarding
- Perceraian
- Sakit yang lama/kematian dalam keluarga

Memahami anak:
- Anak memandang, dunia, waktu dan prioritas berbeda
- Mereka bukan miniatur, mereka kecil, tergantung, dapat dipercaya dan sedang belajar tentang diri dan dunia sekitarnya
- Ketika remaja, dunia berkisar sekitar sekolah teman dan kegiatan sosial
- Unsur penting yang dibutuhkan anak terjadi dari perjalanan waktu antara permainan dan pengalaman

Mengenali dan mengelola stres:
- Perhatikan usia, keunikan, karakter pribadi, minat dan bakatnya (harapan yang realistis)
- Tentukan ketepatan dan jadwal rutinitas sehari-hari
- Sediakan kegiatan rutin yang tetap dengan memperhatikan kebutuhan anak bermain , berkreasi, berkhayal. Salah satu bermain yang baik adalah role play.
a. Indonesian neuroscience society menyarankan 2 hal kepada pemerintah:
- Salah satu ortu harus di rumah
- Pendidikan berbasis otak
b. Anak usia 0-12 tahun -> Amygdala sudah siap, pengasuhan dan pendidikan ditujukan untuk membangun emosi empati (mood & feeling)
- Bentuk budaya keluarga: komunikasi dan harapan.
- Bantu anak menemukan harapan terhadap prestasi sekolah.
- “Emotional inventory” artinya keinginan anak atau mimpiku.
- Hati-hati tuntutan terhadap prestasi sekolah dan terlalu banyak aktifitas.
- Hati-hati antara merangsang dan mendorong. Dorong untuk meningkat tapi bukan perfek
- Perhatikan ekspresi kebahagiaan atau sinyal stres: gejala fisik, masalah perilaku, perubahan dalam pola makan dan tidur
- Bantu anak menemukan penyebab dan siap mendengarkan kesulitan dan masalah anak dan berusaha kurangi stres.
- Bila anak hidup dalam irama dan kecepaan orang dewasa, anak bergegas dalam kehidupan kenak-kanakannya dan menghasilkan stres.
- Ganti gigi: anak butuh mama dan papa: berkunjunglah ke tempat dan waktu yang penuh “magic” itu.
- Perhatikan keselamatan di lingkungan tetangga dan sekolah
- Lindungi anak dari kekerasan media
- Jujurlah dalam melihat sebab stres karena masalah keluarga sehingga fungsi keluarga yang ditingkatkan
- Ajarkan anak realistis: berpedoman pada Alquran
- Jadilah model yang baik, atasi stresmu sendiri dengan cara yang sehat

Selalu ingat bahwa anak itu unik, jangan karena saya memiliki harapan di masa lalu yang tidak kesampaian lalu membentuk anak dengan ekpekstasi yang berlebihan, biarkanlah mereka berkembang sesuai umurnya.

“Jangan cabut dunia bermain mereka terlalu cepat karena kalau tidak kau akan mendapati orang dewasa yang kekanak-kanakan” (Elly Risman)

#ODOPfor99Days
#Day17

23/02/16

Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part II)

(gambar diambil dari sini)


Setelah sebelumnya membahas sumber persaingan dan stres point 1-3, part ini membahas point selanjutnya dan bagaimana langkah-langkah mengatasi persaingan.

4. Persaingan dan masalah dalam keluarga
                Persaingan dan masalah dalam keluarga terdiri dari:
a. Persaingan antar saudara
b. Keseharian dan skedul yang padat yaitu beban pelajaran, PR dan les
c. Pindah rumah/sekolah
d. Peran ayah – perceraian
e. Sakit yang lama/kematian dalam keluarga

4.a. Persaingan antar saudara
        Persaingan bermula dari rumah:
- Bersaing dan iri merupakan hal yang alami dalam kehidupan keluarga (QS 4:32). Mulai usia 2,5 tahun, otak anak berkembang 1 trilyun. Jika anak bersaing, apa sebabnya? Karena otak anak belum bersambungan sehingga ucapan ortu tidak dipahami dan perlu dikatakan berulang-ulang.
- Mulai usia 3-4 tahun anak mulai berfikir “aku punya…”
- Anak butuh dan berebut: cinta, kasih sayang, perhatian, penghargaan dan pujian dari ortu. Salah satu cara membagi perhatian dan kasih sayang yaitu dengan kasih waktu masing-masing anak-anak, misalnya lagi menyusui adik, kakak jangan lihat, jika bayi tidur kasih waktu khusus untuk kakak.

Memahami persaingan antar saudara
- Ikatan emosi ortu dan anak merupakan fondasi dari rasa aman dan penerimaan dalam hidup. Salah satu bentuk ikatan emosi adalah attachment ketika sedang menyusui. Ketika hamil oxitocyn melimpah (bonding hormone), jika tidak ada bonding, maka keluar hormon cortisol (hormon stres) sehingga anak tersebut merasa cemas (anxiety) kepada perpisahan (separation) dan orang asing (stranger)
- Anak (balita – remaja) tak tahu dan tak pandai mengungkapkan rasa ke dalam kata tentang kebutuhannya sehingga mereka mengekspresikannya lewat perbuatan karena merasa tidak aman dan bersaing.

DEWASA:             E              –             P             –             A
EMOSI  ->    PIKIRAN       ->        AKSI
ANAK-ANAK:     E              –             A             –             P
EMOSI  ->       AKSI           ->    PIKIRAN       

Jika orang dewasa merasakan emosi kemudian berfikir dahulu baru mengambil sikap, sedangkan anak-anak jika merasakan emosi, maka akan beraksi baru berfikir dikarenakan otaknya belum berkembang.

Identifikasi issue terkini tentang persaingan antar saudara:

Anak Anda
Tidak pernah
Kadang-kadang
Sering
Bertengkar dan kontra



Godain dan ngejek



Mengeluh tentang saudara



Rebut barang saudara



Pakai barang tidak ijin



Tidak mau berbagi



Ngeboss




- Listing, cari yang paling sering dan prioritas, selesaikan satu-satu
- Cari penyebab, otak anak di tahapan mana?
- Waktu hamil dan menyusui, apa yang dilakukan?

4.b. Keseharian dan skedul yang padat yaitu beban pelajaran dan les
Dari hasil kuisioner didapat bahwa:
- Peserta yg hadir memiliki anak SD terbanyak kelas 1-3 SD, lalu 4-6 SD, SMP dan sisanya TK dan lain-lain
- Umur anak masuk SD paling banyak umur 6 tahun, lalu 7 tahun, 5 tahun dan ternyata ada yang dibawah 5 tahun.
- Jenis sekolah uang dimasuki paling banyak Full day elementary school, lalu swasta nasional, SDIT, swasta interansional, SD negeri dan madrasah ibtidaiyah.
- Les yg diikuti anak bermacam-macam yaitu mengaji, olahraga (renang, basket), menari (balet, bali), berhitung (kumon, jaritmatika, sempoa), mata pelajaran, bahasa (inggris, mandarin).
- Mata pelajaran yang didapat anak setelah jam 12 siang yaitu bahasa, matematika, kesenian, ekskul (pramuka), dll.
- Les dalam 1 minggu paling banyak adalah 1 hari, lalu 2 hari dalam seminggu, 3 hari  dan 4 hari seminggu
- Jam sekolah SD paling banyak adalah 7-8 jam, lalu 5-6 jam, kurang dari 5 jam, bahkan ada yg diatas 8 jam.

Karena otak anak baru sempurna berhubungan umur 7 tahun jadi jangan membebani anak terlalu berat dengan les-les dan ekskul. Masukkan anak ke sekolah sesuai dengan usia sekolah, jangan terlalu cepat karena pada saat dewasa akan melempem.

4.c Pindah rumah/sekolah membutuhkan penyesuaian diri:
- Jarak
- Sekolah
- Guru
- Pelajaran
- Teman
- Aturan

4.d. Peran ayah - perceraian
        Ayah yang terlibat aktif akan membuat anak:
- Lebih bisa mendapatkan sense of independence
- Lebih percaya diri dan lebih tidak cemas bila berada di tempat baru
- Lebih mudah beradapatasi terhadap perubahan rutinitas
- Lebih sehat secra fisik dan mental
- Lebih bisa menghadapi persaingan dan frustasi

Jangan ucapkan “anak ayah pasti bisa” kepada anak berumur diatas 7 tahun karena cenderung bully. Kurangnya peran ayah sangat berdampak yaitu:
- Bagi laki-laki: nakal, agresif, narkoba, seks bebas
- Bagi perempuan: depresi dan seks bebas

4.e. Perceraian dan kematian.
Kalau hal mengecewakan terjadi dalam kehidupan seperti perpisahan, perceraian dan kematian, sebagai orang tua tetap harus ingat kebutuhan dasar anak untuk dicintai, rasa aman, batasan, pengasuhan, kepedulian serta kehadiran dan kasih sayang ortu tidak akan berubah.

Langkah mengatasi persaingan dalam keluarga:
a. Ortu temukan isunya apa?
b. Apa perasaan dan kebutuhan dibalik persaingan?
c. Baca bahasa tubuh – dengarkan perasaan dengan bertanya perasaannya misal “kamu marah ya?”, supaya anak belajar mengungkapkan perasaannya. Kemudian jangan nasihati anak ketika emosinya sedang kacau karena nasihat tersebut tidak akan didengar, waktu yang tepat untuk menasihati anak adalah saat hati senang karena saat hati senang, otak menyerap lebih banyak.
d. Buat perencanaan untuk menanganinya: bagaimana harapan ortu, peraturan, konsekuensi dari perbuatan
e. Penuhi hak masing-masing anak: balita sampai remaja (12 tahun)
f. Usahakan untuk tidak menghakimi persaingan kecil, misal: “Siapa mulai duluan?” tetapi lebih ke “Tadi bagaimana ceritanya?”
- BMM (berfikir mengambil keputusan) yaitu anak yang menemukan bukan ortu yang menjudge.
- Jangan selalu ikut campur terhadap hal-hal kecil: ajarkan mereka problem solving biarkan mereka selesaikan masalah adik dan kakak, kasih kemerdekaan berfikir.
g. Hargai kalau anak: baikan, rukun, main baik-baik dan saling  menolong
h. Hindari membandingkan, meremehkan, mencap, memotivasi
i. Ajarkan anak tepo seliro
j. Buat batasan yang jelas: tidak saling menyakiti
k. Konsekuensi bagi yang melanggar: “Time out” dan main sendiri dulu atau tidak berkomunikasi sehari dua hari – batas tidak bicara 3 hari.
- Tips time out (hasil penelitian terbaru, time out bisa merusak otak jadi sebaiknya tidak dilakukan):
1. Timeout diberikan sesuai usia anak, misal anak 2 tahun: 2 menit, anak 3 tahun: 3 menit.
2. Setiap menit ditanya sudah siap atau belum.
3. Taruh di ruamg bermain bukan dikunci
4. Anak perlu merenung/tafakur, tapi bukan dengan mainan (kontemplasi)
l. Minta maaf bila anak ridho
m. Pastikan menyelesaikan masalah perasaan semaksimal mungkin karena jika bermasalah terbawa sampai dewasa/menikah akan bermasalah dalam pembagian harta warisan 

Mendidik anak utamakan perasaan daripada pikiran. Ajarkan anak-anak ekspresikan perasaanya dengan kata-kata bukan dengan perbuatan, misalkan “saya marah karena…”. Ubah thinking skill karena lazy mind (malas berpikir karena kita hanya menonton TV bukannya mempraktekan parenting).

5. Persaingan dan masalah diluar keluarga
Persaingan yang salah arah seperti:
- Perlombaan di usia dini, misal perlombaan peragaan busana dimana anak kecil berjalan di catwalk dan dipaksa untuk melenggak lenggok dan senyum kepada orang-orang
- Ortu, guru dan pelatih: “persaingan yang terlalu serius”
- Anak berharga dan pede klo menang
- Meminta anak untuk ranking terus
- Yang akan dihadapi anak kita sebagai generasi Z yaitu persaingan di dunia maya
- Peer presure
- Bullying: school, boarding

Makna positif persaingan yaitu ortu dapat merencanakan dan membimbing anak menggunakan persaingan untuk:
- Perkembangan diri dan kepribadian tentang bagaimana meningkatkan diri, mengenali batas kemampuan diri dan orang lain.
- Mampu menentukan goal dan mimpi
- Belajar makna bahwa MENANG & KALAH tidak merubah siapa kamu bagi ayah dan mama.
- Bersaing lawan diri sendiri: perang besar (QS 4:32)
- Melalui persiangan anak belajar tentang diri dalam hubungan dengan orang sekitarnya
- Apa yang bisa saya capai, bagaimana saya bersaing
- Merasakan energi pribadi: semangat, cemas, dan harapan dan kepuasan.

Kalau anak anda kalah, lakukan hal-hal berikut:
- Dengar perasaannya dan kekecewaannya
- Catat hal positif yang telah dilakukannya sebelum dan selama pertandingan
- Bangun kembali harapan dengan kegiatan langsung
- Sampaikan kata-kata yang terpilih tentang “kesempatan lain”
- Bantu anak mengingat betapa jauh peningkatannya

Jangan lakukan:
- Segera menghapus rada sedih dan kecewa
- Mengeritik penampilannya
- Ajak “menyerah” karena kurang berbakat atau terampil
- Mengecilartikan pertandingan
- Membandingkan dengan teman atau saudara
- Marah dan mengeritik teman atau pelatih

 Bersambung ke Part III

#ODOPfor99Days
#Day16

Seminar Parenting: Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan Dan Stres oleh Elly Risman (Part I)

(gambar diambil dari sini)



                Seminar ini adalah kali pertama saya hadir dalam rangkaian seminar bu Elly Risman lainnya.  Sebelum hadir langsung di seminarnya, saya memang tertarik dengan bahasannya namun karena waktu itu kondisi masih belum bisa meninggalkan anak, jadi saya hanya baca review orang yang hadir dari internet saja. Tertarik banget dengan seminar-seminar Bu Elly karena tema dan isi seminarnya luas, langsung dari pakarnya dan jleb banget. Akhirnya, setelah anak kedua lulus ASI di umur 2 tahun, baru saya mencoba ikut hadir di seminarnya karena rasanya lebih tenang meninggalkan anak bersama ayahnya untuk belajar selama 4 jam. Berangkatlah saya diantar suami dan anak-anak, dan sementara saya belajar, suami lah yang mengasuh anak-anak. Alhamdulillah suami pun mendukung saya untuk menimba ilmu lagi. Simak resume seminarnya walau mungkin ada sebagian yang lupa-lupa ingat karena sudah lebih dari setahun yang lalu hehehe… dan sengaja dibagi menjadi beberapa bagian supaya tidak terlalu panjang.

Mengapa kita perlu membantu anak menghadapi persaingan?
1. Anak kita akan memasuki dunia global dimana persaingan semakin ketat
2. Bagaimana supaya bisa bersaing tapi juga bersinergi
3. Anak harus mampu mengenali dan menerima diri dan orang lain. Generasi anak kita adalah generasi Z yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi di era digital yang salah satunya adalah mereka akan menghadapi bully yang tidak hanya sekedar bully biasa tetapi adalah bullycide (bully until suicide) yaitu bully sampai mereka merasa ingin bunuh diri.
4. Menyerahkan sebagian “dirinya” dengan happy
5. Sikap terhadap persaingan yang sehat dan produktif
6. Berlomba berbuat kebaikan dan mencari ridha Allah

Sumber persaingan dan stres:
              1. Lupa anak milik siapa?
2. Tidak mengenali diri sendiri dan anak:
                - Tidak tahu tahapan perkembangannya
                - Tidak tahu cara otak bekerja
3. Tidak merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
4. Persaingan dan masalah dalam keluarga
5. Persaingan dan masalah diluar keluarga
6. Memilih sekolah: keinginan/gengsi ortu VS bakat dan kemampuan anak
7. Dampak negatif teknologi dan media

1. Lupa bahwa anak milik siapa
- Anak adalah anugrah & pinjaman
- Anak adalah fitnah (QS 64:15)
        “Sungguh hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan bagimu
- Anak jangan menyebabkan lupa kepada Allah (63:9)
- Anak bisa menjadi musuhmu
- Doa ingin anak sholeh (3:38)(25:74)(46:15)
                Bagaimanapun anak adalah titipan, bagaimana caranya supaya tidak bikin perkara di masa tua.

             2. Tidak mengenali diri sendiri dan anak:
a. Tidak mengenali diri sendiri.
        Yuk, kenali diri sendiri! Bu Elly memberi simulasi bagaimana kita sangat tidak mengenali diri sendiri yaitu dengan games tebak “apa bakat anda?”. Pikirkan apa bakat kita dan pikirkan 2 bakat anak kita. Setelah itu kita cari pasangan di sebelah dan mengingat di dalam hati bakat kita dan 2 bakat anak kita. Tentukan siapa yang mulai duluan menyebutkan bakatnya dan bakat anaknya dengan cara menepuk bahu pasangan dan tanya, apa bakat anda? Suasana jadi riuh karena sibuk memberi jawaban antar pasangan. Lalu ketika ditanya beberapa orang, apa bakat kita yang disebutkan pasangan sudah benar atau belum, dan ternyata masih ada jawaban yang salah. Kenapa? Karena kita malah sibuk mendengar dan memperhatikan bakat orang lain, tidak melihat ke diri sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya kita fokus untuk mengenali diri sendiri dulu.

        Masing-masing kita unik (QS 3:6). Anak kita tercipta dari ratusan ribu sperma dan ratusan ribu sel telur yang masing-masing membawa gen yang berbeda. Oleh karena itu, masing-masing anak kita unik dan perlu perlakuan khusus. Tips nya adalah sediakan masing-masing satu “hari anak” untuk setiap anak.

Kebiasaan yang merupakan pengalaman ortu atas:
- Masa lalu yang ditekankan ortu yaitu akademik dan agama
- Perasaan saat itu yaitu sebal, menyenangkan, terbebani, biasa saja, bahagia, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, stres belajar
- Parenting diturun temurunkan (wiring), jadi cara orang tua mengasuh kita akan berdampak pada pengasuhan diri kita ke anak kita. Begitu juga dengan anak kita dan seterusnya. Hal ini disebut myelinisasi yaitu kebiasaan dari kecil mempengaruhi cara pengasuhan berikutnya ke anak. Oleh karena itu, sebaiknya putuskan wiring cara pengasuhan ortu kita dulu apabila ada yang tidak pas.

b. Tak kenal anak karena kita minim pengetahuan tahapan perkembangan anak dan cara otak bekerja. Tahapan perkembangan anak:
- Bayi
- Batita
- Balita
- Usia SD yaitu Kelas rendah (pre baligh) & Kelas tinggi (Pra remaja)
- Remaja
- Dewasa muda
- Dewasa
Anak harus ada internal control

Cara otak bekerja:
- Synaps-synaps/saraf otak bersambungan jika gizi baik dan rangsangan tepat
- Koneksi terjadi 1-2 Trilyun di umur 2,5 tahun dan pusat perasaan di otak lah yang matang duluan.
- Pusat-pusat di otak sempurna berhubungan di umur 7 tahun, jadi jangan bebani anak terlalu berat dengan les dan ekskul atau masukkan anak ke sekolah sesuai dengan usia sekolah dan jangan terlalu cepat.
- Anak perlu eksplorasi dan sinar matahari (3 jam/hari) minimal 30 menit
- 3 bagian otak yang penting dan perhatikan cara kerjanya:
a. Kortek Serebri (Cerebral cortex)
b. Sistem Limbik (Limbic sysytem) atau pusat perasaan/emosi, motivasi. Otak yang pertama matang adalah perasaan/empati. Sistem limbik berhubugan dengan memori dan mengontrol sistem syaraf simpatik seperti jantung, paru-paru, usus dan organ seks.
c. Batang otak (Brain stem): tidak bisa menerima bentakan terlalu banyak, hindari bentakan dan marah karena tidak sesuai dengan kerja otak.

Jadi faktanya bagaimana otak bekerja adalah terbentuk dari cara kita berkomunikasi dengan anak.

Potensi anak yang harus dikembangkan:
- Potensi fisik dan kesehatan
- Potensi mental/ kecerdasan
- Potensi emosi
- Potensi Sosial
- Potensi spiritual: keimanan, ibadah dan akhlak
- Potensi seksual
- Potensi keterampilan/lifeskill

Sebagai orangtua kita harus ganti gigi dengan berkunjunglah ke tempat dan waktu yang penuh “magic” itu (masuk ke dalam dunia anak-anak) misalnya orangtua harus terus belajar supaya tidak gaptek karena anak-anak akan lebih menghormati ke orangtua uang mengerti dunia mereka, ditanya gadget atau game ngerti, jadi ortu harus bisa menyesuaikan dunianya saat berhadapan dengan anak.

Bila anak hidup dalam irama dan kecepatan orang dewasa, maka mereka akan bergegas dalam kehidupan kekanak-kanakannya dan bisa menyebabkan stres.

3. Tidak merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
Tujuan pengasuhan:
- Hamba Allah yang takwa, berkahlak mulia dan ibadah sempurna
- Calon istri/suami
- Calon ayah/ibu
- Profesional/entrepreneur
- Pendidik keluiarga
- Penanggung jawab keluarga
- Pendakwah/berbagi ilmu

Perempuan mungkin bisa berhenti sampai di point (d) profesional/entrepreneur karena selanjutnya akan ada suami yang mengajarkan tetapi untuk laki-laki harus sampai point terakhir (g) pendakhwah karena mereka akan menjadi kepala keluarga. Otak anak perempuan dan anak laki berbeda sehingga harus berbeda cara pengasuhan. Tujuan pengasuhan salah satunya adalah growing straight form the start.

Bersambung ke Part II

#ODOPfor99Days
#Day15