19/01/16

With or Without TV



(gambar diambil dari sini)


                Sudah setahun lebih kita menjalankan “no TV at home. Emang nggak berasa tau-tau kita udah menjalaninya cukup lama. Susah? Nggak juga. Malah banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari situ. Bagi yang nggak terbiasa mungkin akan merasakan, duh kayak orang dalam hutan aja nih nggak tau berita apa-apa. Lah kan ada sumber informasi lain contohnya internet dan koran. Nggak ada tv bukan berarti nggak ada internet, teknologi tetap kita pakai dalam kehidupan sehari-hari, kalo nggak gimana saya dapat bahan home education buat anak-anak saya hehehe… Maksudnya no TV disini adalah program TV yang buat kita pantengin TV terus sehingga bikin kita terlena males beranjak. Kalau internet sih saya memang pake wifi di rumah, tapi anak-anak nggak bisa pakai soalnya mereka nggak punya gadget dan wifi pun berpassword. Jatah berlayar anak-anak pun hanya 30 menit (walau sebenarnya idealnya umur 3-5 tahun jatah layarnya hanya 10 menit) dan itu pun habis tidur siang dan mandi, kalau mereka nggak jalanin itu, ya nggak dapet jatah nonton DVD atau main di tablet.

                Hikmah yang bisa didapat dari nggak nonton tv itu banyak banget loh. Mungkin bisa saya jabarkan dalam hal-hal berikut ini:

1.       Lebih banyak waktu produktif yang bisa digunakan misalnya baca buku, nulis blog kayak gini, browse kegiatan-kegiatan anak atau nemenin anak-anak main. Sejak saya jarang nonton TV terus terang saya jadi lebih bisa manage waktu dengan baik karena waktu produktif yang bisa kita gunakan itu kadang-kadang bisa hilang kalau kita awalnya iseng nonton tv, setelah itu berganti acara baru yang juga seru, berita seleb yang nggak habis-habis dan berita politik yang nggak tuntas. Melek informasi itu perlu, hanya bagaimana kita mengatur waktu kita supaya nggak terlena dengan acara yang ditawarkan TV, apalagi kalau yang kita tonton malah bikin kita dosa.

2.       Anak- anak sedikit sekali kemungkinan terpapar hal-hal yang bisa bikin mereka ngikutin gaya yang tidak sesuai dengan usianya. Sudah lumrah banget deh acara TV sangat memperlihatkan gaya hidup hedonis, kata-kata tidak sopan atau bahkan gaya yang ngikutin tren luar negeri. Kebayang kalau saya ingin anak-anak saya jadi anak sholehah, menjalankan perintah agama, berkata baik tapi dia masih suka nonton TV yang acaranya kaya gitu, kira-kira bakal kadi anak yang bagaimana dia nantinya?

3.       Hubungan dengan suami semakin hangat. Ya tentu karena banyak sekali momen curhat kita berdua sekarang dan saling ngeluarin unek-unek. Jadi, bisa ngeluarin sampah emosi tiap hari yang tentunya penting bagi saya seorang istri yang bersama anak 24 jam setiap hari. Ini sangat disarankan oleh psikolog. Emosi itu ibarat air yang mengalir, dia akan mencari jalan atau celah sedikit pun yang apabila tidak ditampung akan membuat tekanan yang besar dan akan bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Itulah kenapa kita harus membuang sampah emosi kita ke tempat yang tepat.

4.       Bayaran listrik lebih hemat. Yah walaupun nggak berkurang banyak banget tagihannya tapi tetep bikin pemakaian listrik berkurang.

5.       Bisa mengatur waktu sendiri kapan saatnya ingin nonton dan nggak penasaran dan galau gara-gara sinetron. Ya saya masih suka nonton drama korea dan jepang. Dengan nggak nonton TV, saya nggak perlu galau nungguin kelanjutannya, tinggal beli DVD nya yang sudah tamat, cari waktu yang tepat (biasanya kalau saya setelah anak-anak tertidur) dan saya bisa manage waktu sendiri sehari nonton berapa episode, nggak perlu nunggu iklan dan nggak perlu dengerin dubbing. Jadi, nggak perlu juga kayak emak-emak nungguin sinetron yang tayang setiap jam sekian, terus bilang ke anaknya, jangan ganggu mamah ya klo lagi nonton film X. Berhubung kita hanya berempat serumah, jadi kalau saya nonton pas mereka melek ya pastinya mereka terpapar layar dong, makanya saya hanya nonton DVD setelah mereka pules.

6.       Bikin tidur lebih nyenyak. Kadang acara TV menghadirkan suguhan yang seru dan kita jadi lalai, nggak sadar tiba-tiba waktu sudah menunjukkan tengah malam. Kadang TV memang jadi sarana hiburan bagi keluarga yang merasa suntuk tinggal di kota. Kalau saya dan suami sih hiburannya kita beli DVD judul film terbaru dan kita nonton berduaan di rumah, sudah jelas durasi waktunya dan kita bisa pause atau cepetin dan mundurin hehe..

7.       Tidak perlu TV berbayar karena sebenarnya sama-sama bikin kita terlena juga. Channel TV berbayar yang jumlahnya ratusan, gimana nggak bikin kita pindah tempat duduk? Apalagi kalau di negara aslinya punya perbedaan waktu yang signifikan. Kalau mau tau update perkembangan berita terkini atau sekedar hiburan nonton acara yang sudah tayang, tonton aja youtube dan surfing internet, pasti banyak banget. Tapi sekali lagi, bijak-bijaklah menggunakan teknologi karena banyak iklan yang tidak pantas dan juga tidak semua yang diberitakan tersebut juga benar. Jadi, bacalah minimal 20 berita yang mengabarkan hal yang sama sebelum percaya bahwa berita itu benar.        

                Bagi keluarga kami, manfaat yang didapat lebih banyak apabila kami tidak menonton acara TV dalam dan luar negeri. Dan sejak digital detoks ini kami lakukan, walaupun hanya secuil dengan tidak menonton TV, saya merasa kehangatan keluarga semakin bertambah, walaupun tadinya nggak dingin juga hehe… Ingat tujuan pengasuhan kita apa, tentukan masing-masing tujuan keluarga kita. Jangan hanya karena ikut-ikutan dan terus akhirnya kehilangan motivasi diri tentang apa yang ingin dicapai. Masing-masing keluarga memiliki prinsip yang berbeda dan jangan hanya mengikuti tren yang berlaku, itu sama saja mengasuh anak tanpa adanya ilmu karena yang akan terjadi adalah kita gampang goyah dengan godaan di sekeliling kita.  Yuk, mulai berubah ke arah yang lebih baik! Jika yakin bisa, Insya Allah akan ada jalan menuju kesana.

#ODOPfor99Days
#Day11

0 comments:

Posting Komentar