12/01/16

V, Sekolah Tak Perlu Airmata


(gambar diambil dari sini)


                Saya mengambil judul dari salah satu buku pak Munif Chatib yaitu “Bella: Sekolah Tak Perlu Air Mata”. Tapi kali ini saya tidak sedang meresume buku tersebut, saya mau menceritakan sedikit penggalan kisah anak saya V waktu masih sekolah. Sebelumnya perlu diketahui bahwa saya tidak menulis sesuatu yang membandingkan antara anak sekolah dan tidak sekolah maupun baik-buruknya metode yang dipakai oleh sekolah ataupun ibu bekerja dan tidak bekerja. Tulisan ini benar-benar murni berdasarkan pengalaman nyata yang saya jadikan ibrah untuk kedepannya. Jadi, cerita ini hanya sharing dan bukan untuk bahan mom’s war lainnya, please stop the mom’s war!

                Saya suka sekali melakukan riset terhadap dunia anak sejak kehamilan dan melahirkan namun dulu saya adalah ibu bekerja dan belum optimal dalam menstimulasi anak di rumah karena terbatasnya waktu saya bertemu dengan anak di rumah. Setelah melakukan riset mendalam, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada suatu metode yang menurut saya sangat bagus yaitu metode montessori dan menyekolahkan anak sulung saya di playgroup sekolah montessori berbasis Islam di umur 2,7 tahun.

Waktu itu saya berpikir daripada di rumah dengan pembantu sedangkan anak saya butuh stimulasi secara konsisten, jadi saya menyekolahkan anak saya di usia yang sangat dini. Banyak sekali komentar positif tentang metode tersebut dan saya sangat tertarik dengan metode dan filosofi yang diajarkan dalam masing-masing aparatusnya. Lalu saya memutuskan resign karena ingin membersamai kedua anak saya dan tidak ada yang mengantar ke sekolahnya.

Di hari pertama, anak saya menolak untuk masuk dan menangis sejadi-jadinya karena banyak bertemu dengan orang baru. Sedih melihatnya dan ada perasaan bersalah karena meninggalkannya bekerja sejak bayi. Waktu itu saya sudah membaca hal yang berkaitan dengan parenting, hanya saja ilmu dan aplikasinya masih kosong karena baru saja resign, jadi belum mengenal isitilah hutang kelekatan karena ditinggal bekerja.

Sekolah memberikan batas waktu 3 hari untuk menemani anak sulung saya di dalam sekolah, setelahnya tidak boleh ditemani di dalam ruangan, orang tua harus menunggu diluar. Menurut sekolah, anak diajarkan untuk mandiri dan menjaga supaya orang tua tidak mengganggu di dalam kelas misalnya dengan membantu anak berlebihan ataupun memfoto kegiatan anak selama di kelas.

                Pada hari ketiga, anak saya meronta-ronta ketika masuk kelas, saya hanya melihat dari jendela. Gurunya pun mengatakan, “Tidak apa-apa bu, dia hanya sedang adapatasi, nangisnya paling hanya sebentar setelah itu akan bermain lagi. Ibu percaya sama saya dan guru lainnya karena emosi ibu akan tersalurkan ke anaknya. Jika ibunya sedih dan khawatir, anak akan mengikuti.” Dengan berat hati saya lepaskan anak saya ke dalam kelas dan proses ini berjalan sampai 2 minggu ke depannya dan setelah 2 minggu memang mereda, saya lihat anak saya have fun didalam kelas montessorinya.

Montessori menekankan pada pembelajaran melalui sentuhan atau hands on learning. Anak saya belajar melalui stamping, fingerpainting, maupun melalui aparatus montessori di kelasnya. Namun, pada usia playgroup anak saya sudah mulai dikenalkan dengan huruf melalui worksheet dan sandpaper. Waktu itu pemikiran saya masih sejalan dengan sekolahnya dan kebetulan saya tergabung dalam komite sekolah sebagai wakil ketua.

Setelah berjalannya waktu, ada beberapa ortu murid yang cerita ke saya mengenai guru yang kurang sigap dan saya pun merasakan hal yang sama. Namun, saya lihat perkembangan anak saya pesat sekali, kosakatanya dalam bahasa inggris meningkat, anak saya mulai bisa belajar berbagi, hafalan suratnya juga sudah jauh diatas harapan saya walaupun saya tidak pernah menarget dan memaksa anak saya untuk bisa hal-hal kognitif. Saya belum menyadari bahwa ternyata ada efek negatif dari menyekolahkan anak terlalu dini padahal bisa saja saya yang menstimulasi dari rumah, hanya saja ilmunya belum memadai.   

                Kemudian pada akhir tahun ajaran, gurunya menekankan bahwa anak saya tidak bisa naik ke TK A dan tetap di playgroup.  Gurunya mengatakan secara kognitif anak saya memang mampu, namun secara emosi belum matang. Saya belum memahami kenapa bisa begitu dan belum merasakan resiko yang akan terjadi. Guru sudah menjelaskan tapi alasannya menurut saya belum lengkap dan terbukti, apalagi ilmu parenting saya masih cetek untuk paham bahwa anak yang dikarbit akan matang sebelum waktunya. Alasannya adalah saya pernah baca literatur yang menyatakan bahwa anak perempuan matang lebih cepat secara psikologis daripada laki-laki jadi saya kekeuh menafsikan hal tersebut dan menganggap anak saya mampu naik ke TK A, padahal pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar.
Akhirnya di tahun ajaran baru, saya mengundurkan diri dan setelah melakukan riset kemudian pindah ke TK yang menggunakan metode BCCT dan bisa masuk ke TK A. Pemilik sekolah sebelum dan setelah pindah sama-sama seorang psikolog dan sama-sama sekolah inklusi namun metode pendekatan yang dilakukan berbeda. Metode BCCT ini sangat bagus karena non-direct teacihing dan anak diberikan kesempatan untuk bermain di dalam masing-masing sentra. 

Singkat cerita, shadow teacher di sekolahnya mengundurkan diri sehingga tidak ada yang memegang ABK padahal peran shadow teacher sangatlah penting. Saya melihat ABK tersebut seperti terabaikan karena tidak ada yang mengawasi dan refleks mulai memukul anak lain serta tantrum dengan menjatuhkan diri dan memukul-mukul lantai. Suatu ketika muka anak saya ada cakaran dan saya komunikasikan ke gurunya, makin lama anak saya semakin sering bercerita bahwa dia sering dipukul bagian kepalanya dan menangis tidak mau sekolah lagi. Saya mencoba komunikasikan lagi kepada guru dan gurunya menyarankan bahwa kalau dipukul, dia mengajarkan ke keponakan dia untuk memeluknya. Saya keberatan karena anak saya berumur 4 tahun dan tidak sanggup menanggulangi ABK yang tantrum dimana anak tersebut sudah berumur 8 tahun, tenaganya pasti lebih besar. Seharusnya menenangkan ABK yang tantrum dilakukan oleh orang dewasa di sekolah yaitu guru bukan anak-anak.

Setelah konsultasi dengan konselor grup parenting, saya putuskan menarik anak saya dari sekolah tersebut walau masih di tengah tahun ajaran karena setiap akan masuk ke kelas terlihat ketakutan. Menyayangi teman sudah ditanamkan sejak pertama masuk sekolah tapi memang butuh usaha lebih besar untuk mencegah tidak terjadi pukulan dan cakaran karena ketidakberadaan shadow teacher yang mendampingi. Saya sangat memaklumi dan mengerti keadaan anak tersebut jadi saya yang memilih mundur.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari kejadian tersebut dan menjadi pembelajaran saya kedepannya bahwa ada hal-hal yang tidak saya sadari akan berdampak pada anak baik yang terlihat maupun tidak. Jadi, pertimbangkan hal-hal berikut sebelum memutuskan anak sekolah di PAUD:
1. Apakah anak sekolah karena keinginan orang tua atau keinginan anak? Jika anak sekolah karena keinginan orangtua, maka anak akan menjadi objek tempat orangtua menaruh impian dan harapan yang berlebihan, misalnya berharap anak sudah bisa melakukan hal-hal tertentu yang dulu mungkin orangtuanya tidak dapatkan, istilah populernya adalah dendam positif. Jika sekolah karena keinginan anak, maka sadar atau tidak orangtua akan menjadi alat untuk mencapai keinginan anak. Tidak semua keinginan anak itu baik untuk dilakukan, jadi tugas orangtua adalah membantu untuk memberikan arahan dan pandangan serta jelaskan situasi dan kondisi apa yang akan mereka temui di sekolah nanti. Bukan berarti ketika anak meminta sekolah kemudian orangtua berpikir bahwa anaknya sudah siap sekolah, sangat berbeda maknanya karena keinginan anak itu berubah-ubah. Jadi, bukan dengan menyalahkan anak ketika anak mogok sekolah dengan mengatakan bahwa anak tersebut yang ingin sekolah. Jadi, sebaiknya anak sekolah ketika mereka sudah siap untuk bersekolah dan siap melaksanakan aturan-aturan di sekolah.

2. Sekolah terdapat aturan dan anak wajib untuk mengikutinya. Setiap sekolah memiliki peraturan tersendiri misalnya ada jam masuk dan jam pulang, ada waktu makan dan bermain. Jika sekolahnya ramah anak, maka aturan dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan anak, anak yang belum memahami aturan diberikan arahan dan bukan diberikan hukuman. Kalaupun diberikan konsekuensi, maka haruslah berhubungan dengan perilakunya supaya anak belajar sebab-akibat bukan hukuman tanpa makna.

3. Di sekolah, anak akan belajar untuk berbagi dan antri dengan teman. Berbagi dan antri itu abstrak sehingga perlu dilatih untuk melakukannya karena anak dibawah usia 7 tahun masih dalam fase konkrit. Jadi, sekolah yang ramah anak akan mengajarkan anak berbagi bukan dengan terpaksa tapi dengan memberi apresiasi ketika anak sudah mau berbagi dan menghargai jika anak belum mau berbagi supaya tumbuh mindset bahwa berbagi itu menyenangkan. Jika sekolah memperhatikan tumbuh kembang anak, maka akan memahami bahwa rentang konsentrasi anak sangatlah singkat sehingga butuh beragam alat main untuk memfasilitasi mereka dan menyediakannya sesuai kebutuhan anak serta seimbang dengan jumlah anak. Jadi, kalaupun harus antri dan berbagi maka diberikan kesempatan kepada anak untuk melakukannya namun tidak terlampau lama karena rentang konsentrasi mereka yang singkat.       

4. Sekolah terdiri atas beragam karakter anak dan latar belakang yang berbeda. Jadi anak akan menemui banyak perbedaan perilaku dan akan ada kecenderungan anak untuk mengikuti perilaku temannya ataupun tidak karena anak masih belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Tidak hanya di sekolah, namun di lingkungan sekitar juga bisa memberikan efek yang baik atau buruk terhadap tumbuh kembang anak. Ini merupakan tugas orangtua dalam memberikan penjelasan mengenai mana yang baik dan buruk tanpa melabel anak.

5. Di sekolah, anak akan berlatih kemandirian salah satunya dalam hal ke kamar mandi. Apakah anak sudah bisa memberi tahu jika ingin ke kamar mandi, membersihkan diri dan kamar mandi setelah buang air, menutup aurat setelah selesai buang air, dll. Sebaiknya anak sudah dilatih sebelumnya di rumah mengenai hal tersebut karena itu merupakan kewajiban orangtua. Letak kamar mandi di sekolah juga bisa dijadikan pertimbangan misalnya tidak berada di belakang dan banyak dilalui oleh orang-orang. 

6. Berbagai macam metode bagus yang ditawarkan sekolah belum tentu menjamin anak kita cocok dengan metode tersebut. Jadi, pilih metode yang tidak men-drilling anak dan sesuai dengan kebutuhan anak serta merujuk pada Al-Quran dan hadits.


Selama ini saya hanya mencari informasi dengan riset di internet dan buku, ternyata itu tidak cukup untuk mendampingi dan mendidik anak secara langsung. Banyak kesalahan-kesalahan yang telah saya lakukan baik sengaja maupun tidak sengaja kepada anak sehingga orangtua harus terus menerus belajar untuk mengimbangi perkembangan anak. Saya mulai mengikuti grup parenting dan mulai mengikuti seminar dan pelatiihan secara langsung, bisa berkumpul dan bertemu dengan beragam ibu-ibu dari latar belakang yang berbeda dan memiliki permasalahan yang sama membuat kita tidak merasa sendirian serta memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mendidik anak dengan baik dan benar sesuai Al-Quran dan hadits. Semoga istiqomah!


0 comments:

Posting Komentar