05/01/16

The Dream House






Awal tahun banyak orang berlibur ke tempat-tempat seru, kita malah leyeh-leyeh di rumah sambil jalan-jalan ke supermarket bahan bangunan. Ada agenda lain yang bikin kita muter-muter dari satu toko ke toko lain buat survey harga bahan bangunan yaitu agenda renovasi rumah yang sedang direncanakan oleh saya dan suami. Mungkin sudah pada tau kalau biaya renovasi enggak bakal habis sedikit, minimal harus melebihkan sekitar 20% dari total RAB karena yang namanya membangun ada saja printilan yang tadinya enggak direncanakan kemudian harus ditambahkan, misalnya perhitungan tukang yang kurang akurat atau keinginan tuan rumah yang menambah desain awal. Jadi, awal tahun ini kita tabung uangnya sambil survey bahan bangunan dan perabotannya dengan maksud ingin memperhitungkan lebih detail sehingga sudah tau perkiraan dana yang akan kita gunakan supaya enggak membengkak seperti pada saat renovasi sebelumnya. 

Ketika survey, ternyata harganya sudah jauh naik dari saat kita renovasi pada tahun 2012, yaiyalah harga bahan bangunan emang selalu naik dari tahun. Saya jadi berasa dejavu dan ingat serunya perjuangan kita dari 0 demi mendapatkan sebuah rumah yang sangat jauh dari perkiraan kami karena waktu itu status kami baru akan menikah. Allah memang Maha pengabul doa, siapa yang bersungguh-sungguh, maka Allah akan tunjukkan jalan-Nya. Pengen nostalgia sebentar supaya setiap membaca kisah ini jadi pengingat kami untuk selalu menyukuri nikmat dari-Nya dan mengambil hikmah dari apa yang telah kami jalani. 


Menemukan Rumah Idaman
 Berawal dari tahun 2009, saat itu saya dikenalkan dengan anak dari murid mengaji ayah saya. Awalnya hanya melalui foto kemudian mereka datang bersama dengan keluarganya ke rumah dan saya pun dikenalkan melalui ibunya dan ibu saya yang kebetulan teman mengaji. Selang 5 bulan kemudian, dia melamar saya (setelah melalui istikharah panjang hahahah...) dan merencanakan pernikahan kami 5 bulan kemudian karena sulit sekali mencari gedung pernikahan yang kosong untuk kami gunakan. Pada jeda waktu 5 bulan tersebut sambil mempersiapkan acara untuk menikah, kami survey rumah, karena kita sependapat bahwa kalau sudah menikah ya akan lebih enak tinggal di rumah sendiri. 

Kami mulai mendatangi pameran rumah dan ambil brosur di Mall -Mall, kadang pulang kerja pun suka liat spanduk-spanduk pinggir jalan dan mencatat lokasinya, pikiran kami harga rumah mahal sekali, apakah kami sanggup membelinya. Kita juga enggak berkhayal ketinggian dengan harga rumah yang diluar jangkauan kami, lihat uang di rekening yang menipis karena budget terbagi antara mau nikah dan pengen punya rumah. Sampai suatu hari kita kepanasan keliling-keliling naik motor mencari perumahan yang cocok dengan budget, kita cuma mengikuti jalan dan enggak tau sudah sampai dimana dan nyasar ke suatu tempat di pelosok. Kita sampai di suatu perumahan yang menurut kita cocok di hati dan langsung suka walaupun lokasinya berada di pinggir jalan.

Karena penasaran, kita datang ke marketing office untuk bertanya lebih jauh dan meminta brosur. Ketika sampai di rumah, kita membandingkan harga, luas tanah, luas bangunan, spesifikasi bangunan, lokasi, dan model rumah. Saya dan calon suami sepakat menentukan rumah pilihan pertama dengan tipe 60/128 dengan denah rumah 2 kamar utama + 1 kamar pembantu, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur, carport dan taman di depan serta masih ada sisa lahan di belakang yang cukup besar dan bisa dirombak untuk dijadikan ruangan baru. Akhirnya dengan berbekal tabungan berdua, tekad yang bulat dan modal nekat, kita putuskan untuk ambil rumah tepat sebulan setelah lamaran dan 4 bulan sebelum tanggal pernikahan.

Alhamdulillah semua berjalan lancar baik dari pembayaran cicilan DP, tanda tangan dengan notaris dan segala tetek bengek proses akad kredit rumah dengan bank. Setelah proses akad kredit selesai, mulailah kami menyicil untuk KPR dan menunggu 4 bulan selama rumah dibangun karena masih berupa tanah kosong. Akhirnya pada bulan Maret 2010, rumah kita selesai dibangun bertepatan dengan bulan pernikahan kami, tepatnya 4 hari setelah pernikahan, kita serah terima kunci rumah dengan developer dan ini adalah hadiah pernikahan terindah bagi kami berdua walaupun rumahnya masih dicicil hehehehe.



Menempati Rumah Baru
Setelah serah terima kunci, kita pun enggak langsung tinggal di rumah baru karena rumahnya masih kosong melompong hahaha… Membeli perabotan rumah adalah hal lain yang paling menguras dompet tapi seru dan menyenangkan karena bisa memilih sendiri sesuai keinginan kita. Kalau orang lain honeymoon, kita malah ke toko furniture cari yang sesuai kantong. Alhamdulillah Allah SWT beri kemudahan bisa membeli furniture dari amplop pernikahan dan menutup tembok bagian belakang karena samping rumah masih kebon.

Kita membuat perencanaan perabotan apa saja yang paling penting untuk dibeli karena Alhamdulillah saya langsung diberi amanah oleh Allah SWT setelah menikah. Setiap bulan kita isi satu persatu perabotan rumah sampai pada kehamilan bulan ketujuh dan saya sudah merasa tubuh saya cukup kuat untuk pindahan sehingga kami memutuskan untuk menempati rumah baru. Pengalaman pertama menempati rumah hanya berdua dengan suami di saat saya sedang hamil merupakan hal yang baru bagi saya. Saat itu saya masih bekerja dan suami juga sering dinas ke luar sehingga orangtua suka merasa khawatir jika saya tiba-tiba melahirkan dan tidak ada orang hehehe... Tapi kami tidak ingin merepotkan orangtua terus menerus, walaupun kami tau mereka tidak merasa seperti itu sehingga saya berusaha untuk bisa mandiri 


Renovasi Pertama
Waktu berjalan sampai kehamilan saya yang kedua di akhir tahun 2011, saya dan suami berencana untuk renovasi kecil-kecilan yaitu merapihkan carport dan taman, memperbaiki atap bocor, mengecat rumah dan membongkar kamar pembantu. Renovasi dimulai pada bulan Januari 2012, awal mulanya kita hanya ingin memperbaiki atap bocor dan mengecat rumah karena sudah berumur 2 tahun. Ternyata berlanjut pasang atap kanopi untuk carport, pasang conblock dan lain-lain sehingga budget melebar sampai dua kali lipat. Pengalaman ini yang membuat kita harus merencanakan dengan matang kalau mau renovasi kembali.  


Merencanakan Renovasi Kedua
Di tahun 2016, kami sedang berencana melakukan renovasi kembali dan agak besar karena mau menutup halaman belakang, merombak pagar dan halaman depan, ganti atap serta kusen-kusennya, dan menambah kamar satu lagi. Sebenarnya kamar tidur sudah ada 2 buah, cukup untuk saya dan anak-anak tidur di kamar masing-masing, namun jika ada saudara jauh yang datang menginap rasanya tidak enak kalau harus tidur di kamar anak-anak, oleh sebab itu kita berencana mau menambah kamar yang ketiga khusus untuk ruang membaca dan bermain anak sekaligus bisa juga digunakan jika ada orangtua atau saudara yang datang.

Kami sepakat untuk tidak meminjam bank, karena kami percaya Allah SWT akan mencukupi seperti halnya pada saat renovasi pertama walaupun harus menabung dulu. Kami sedang berusaha hijrah dari riba dan inginnya segera melunasi KPR. Alhamdulillah hanya tinggal cicilan KPR yang belum lunas sehingga setelah renovasi, rencana kita selanjutnya adalah melunasi cicilan rumah. Bagaimanapun manusia hanya berusaha, Allah SWT yang menentukan, semoga jalan kami ini di ridhoi Allah SWT.


Renovasi Kedua
Di tahun 2017, setelah menabung sekian lama akhirnya kami memutuskan untuk melakukan renovasi kedua. Dengan berbekal tabungan, kami memberanikan diri untuk melakukan pekerjaan secara borongan dengan tukang yang sama pada saat renovasi pertama kali karena track record nya bagus dan hasil pekerjaan yang memuaskan. Kami sempat terkejut dengan biaya yang diajukan karena hampir sama dengan biaya membeli rumah baru kami dahulu. Tapi kami berfikir renovasi ini kebutuhan bukan hanya keinginan karena kondisi atap kami yang terbuat dari kayu membuat rayap mudah menggerogoti sehingga akan lebih berbahaya jika ditunda. Jadi, tips dari saya ketika melakukan renovasi rumah yaitu:

1. Carilah kontraktor dengan tukang yang berpengalaman yang sudah diketahui hasil pekerjaannya baik, jujur dan terpercaya. Kita bisa mencari 2 kandidat tersebut atau lebih untuk perbandingan biaya, tenaga dan spesifikasi bahan bangunan.

2. Fokus pada bagian darurat yang ingin direnovasi dan sebaiknya melebihkan budget sebesar 20% dari rencana awal karena ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diprediksi sebelumnya. Sebisa mungkin gambar design rumah sudah matang dan detil agar tidak terjadi bongkar pasang bangunan sehingga pekerjaan bertambah banyak dan banyak bahan yang terbuang.     

3. Diskusikan RAB dan gambar design rumah dengan kontraktor secara lengkap dan detil, sampaikan kebutuhan kita namun sebaiknya kita juga sudah mengetahui paling tidak sedikit informasi tentang bahan bangunan sehingga bisa bernegosiasi dan ada alternatif kontraktor lain bisa dipiih ketika tidak ada kesepakatan harga. Bijak-bijaklah dalam menilai kebutuhan dan keinginan kaena RAB bisa membengkak jika ada penambahan biaya yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

4. Buat masing-masing budget terpisah untuk pengeluaran bahan bangunan dan pembelian furniture rumah untuk membuat prioritas mana yang lebih didahulukan. Jika masih bisa menggunakan furniture lama akan lebih meminimalisir biaya dan lakukan riset jika ingin membeli furniture baru untuk mendapatkan harga yang lebih murah namun dengan fungsi yang sama. 

5. Sediakan makanan ringan dan minuman untuk para tukang untuk penyemangat mereka bekerja.   

6. Buat perjanjian hitam diatas putih dan tuliskan pekerjaan renovasi yang dilaksanakan sehingga ketika ada kekurangan atau permasalahan tinggal mengacu ke surat perjanjian.

7. Kita bisa memilih untuk membeli sendiri bahan bangunan atau mempercayakan kepada kontraktor tergantung dari kesepakatan awal. Karena saya memakai sistem borongan, otomatis kontraktor yang membeli seluruh kebutuhan bahan bangunan dengan catatan di awal kesepakatan kontraktor menjelaskan bahwa bahan bangunan yang dipakai adalah setingkat A dan keramik setingkat A dan bisa memilih modelnya dari katalog yang diberikan.

8. Sebagai tuan rumah baiknya mengecek pekerjaan tukang, bisa jadi ada beberapa hal yang ternyata beda persepsi antara mandor dan tukang, namun juga tidak terlalu sering mengomentari karena tukang juga manusia, sampaikan dengan baik apabila ada yang kurang sepaham.

9. Pembayaran yang dilakukan tepat waktu akan membuat pekerjan juga bisa dilaksanakan dengan baik, bicarakan dengan kontraktor mengenai metode pembayaran, apakah dibayarkan berdasarkan proyek yang selesai atau ada ketentuan lainnya.

Saya tidak ahli di bidang bangunan, jadi tips nya tidak banyak dan mungkin tidak memberikan informasi memadai, jadi banyak-banyaklah mencari informasi mengenai spesifikasi dan model yang diingikan. Alhamdulillah pekerjaan berjalan lancar dan biaya renovasi bisa dibayarkan tanpa harus berhutang, sungguh Allah Maha Kaya, jadi kalau mau meminta cukup hanya kepada Allah SWT semata. Semoga kami bisa segera melunasi cicilan KPR juga dan bisa hijrah menuju hidup tanpa riba, aamiin.

*Updated 2018