13/01/16

It's OK Not To Share...




         Salah satu masalah yang dipusingkan emak-emak adalah masalah sharing. Gimana tidak pusing, kalau setiap anak dibawa ke tempat bermain, sekolah, kopdar, atau hanya dirumah, anak tidak lepas dari masalah sharing atau berbagi baik dengan adiknya atau temannya. Ngomongnya gampang tapi prakteknya susah, hehe,, itulah parenting, makanya kita dituntut untuk terus belajar supaya kita bisa mempraktekannya sendiri dan konsisten serta dari sumber yang jelas kebenarannya. Saya bukan ahli parenting atau psikolog, jadi saya cerita dari sisi anak saya saja. Berhubung umur mereka dekat sekali hanya terpaut jarak 1,5 tahun jadi mereka sudah seperti teman saja, main bareng, cerita bareng, sedikit berkelahi tapi sebentar kemudian baikan lagi.

          Mungkin waktu mereka kecil saya merasa kerepotan sekali karena saya menjalani tandem nursing selama 6 bulan, waktu itu V masih berusia 1,6 tahun, masih ASI dan harus rela berbagi perhatian dengan adiknya, N. Memang sebaiknya jika adik baru telah lahir, maka ASI sepenuhnya hak adiknya tapi saya berfikir saya ingin menyempurnakan ASI anak saya hingga 2 tahun jadilah saya lanjutkan. Lalu saya juga ingin supaya anak pertama tidak kehilangan bonding dengan saya, maka ide tandem nursing bisa jadi solusi buat saya yang waktu itu masih bekerja. Jadi hal pertama yang harus V sharing adalah perhatian bundanya. Sedih ya kalau bayangin anak umur 1,6 tahun sudah harus berbagi dengan adiknya. Tapi V ini sungguh dengan luar biasa adalah anak bunda yang penurut, kalau diingat-ingat saya sering brebes milih. Ketika saya bilang, bergantian ya (menyusui) dengan adik, dia dengan sabar menunggu. Bukan karena mau, tapi mungkin karena tidak ada pilihan lagi atau terpaksa. Makanya tidak disarankan untuk memiliki anak kurang dari 2 tahun, malah kalau dari program KB seharusnya jarak 5 tahun, jadi tidak ada 2 balita dalam satu rumah.




          Setelah lewat masalah menyusui, berlanjut ke masalah mainan. Nah, ini juga bukan masalah baru untuk keluarga yang memiliki anak lebih dari satu. Kalau menurut yang telah saya pelajari, berbagi itu harus diajarkan secara menyenangkan, karena anak yang belajar sharing dengan terpaksa akan tumbuh mindset bahwa berbagi itu tidak menyenangkan bagi si anak. Jleb banget ya! Setelah awal-awal harus terpaksa berbagi masalah menyusui, sekarang harus berbagi mainan. Sebenarnya menurut salah satu grup parenting yang saya ikuti dan literatur yang saya baca, dijelaskan bahwa anak dibawah usia 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, sharing itu abstrak. Mereka bisa melakukannya karena dilatih. Nah melatihnya ini yang bikin kita kayak roller coaster, naik turun emosinya. Disitu juga disebutkan bahwa, kita tidak boleh memaksa anak untuk memberikan mainannya kepada anak yang belakangan minta mainan tersebut. Kenapa? Karena selain melatih berbagi, kita sedang melatih mereka mempertahankan hak milik juga. 

            Bayangkan kalau setiap ada yang meminta, lalu mereka disuruh kasih, lama-lama akan timbul mindset di diri anak kita bahwa dirinya tidak berharga dan saya tidak perlu mempertahankan apa yang saya punya. Ketika mereka besar nanti, rasa memiliki ini harus dipunyai, misal rasa memiliki atau mempertahankan terhadap suami atau istri tapi tentunya bukan rasa memiliki yang berlebihan. 

         Jadi, ketika ada anak yang meminta mainan yang sudah duluan dipegang anak kita, cukup bilang, “Tunggu ya sampai selesai, nanti kalau sudah selesai mainannya akan dikasih sama si A”, alihkan anak B dengan mainan yang lain. Perlu juga kita bilang ke anak A, “Nanti kalau sudah selesai, boleh dipinjam ya mainannya?”. Sekali lagi ini tidak cukup sekali, mesti latihan dan belum tentu anak B juga menurut untuk main yang lain dan biasanya anak A bilang, aku belum selesai mainannya, hahaha… Disini letak tantangannya, biasanya ortu yang sudah lama melatih anaknya untuk menunggu anak lain yang pegang mainan sampai selesai, anak itu tidak akan langsung merebut walau mungkin masih argue ya, tapi ini juga tidak jadi jaminan anak itu akan langsung kasih loh. Insya allah lama-kelamaan V dan N sedang dalam proses dan sekarang sudah tau makna “tunggu sampai selesai”.  Kadang saya tambahkan, “Bilang pinjam dengan baik-baik ya!” soalnya kadang mereka kesel karena kelamaan dan akhirnya sambil marah ngomongnya.

           Lalu bagaimana dengan barang/mainan yang memang milik anak kita tapi dipegang duluan oleh anak lain? Pertama jika memang ada mainan/barang kesayangan anak kita yang tidak mau dipegang anak lain, pisahkan dan simpan. That’s it! Daripada ribut memisahkan anak bertengkar karena tidak mau pinjamin, ya cukup simpan saja, tanyakan mana yang mau dimainkan bersama teman-teman. Selanjutnya, jika mainan yang sudah disepakati untuk main bersama berarti akan menjadi milik anak yang memegang duluan bukan milik anak yang membelinya, kenapa? Karena anak belum paham konsep hak milik, mereka berpikir semua adalah miliknya. Ingat anak dibawah 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, hak milik itu abstrak. Kalau si anak tersebut merebut dari tangan anak lain, maka hak milik barang akan jatuh kepada anak yang memegang lebih dulu, itu aturannya.

             Cara memberitahu supaya anak tidak merebut ataupun mau berbagi sebaiknya adalah ketika si anak santai dan bukan pada saat kejadian rebutan berlangsung, misal melalui cerita sebelum tidur atau ketika anak sedang bahagia karena saat itulah otak anak menyerap lebih banyak. Jadi bukan dengan paksaan menyuruh mereka pinjami atau malah menyebut anak kita pelit. Please, jangan melabel anak kita dengan kata-kata yang akan menjadikan kepercayaan dirinya rendah. Jadikan anak kita bahagia dalam berbagi sehingga ketika dia besar dia akan merasa bahwa berbagi dengan orang lain adalah suatu hal yang menyenangkan.  

#ODOPfor99Days
#Day7

0 comments:

Posting Komentar