25/01/16

Book Review: Bulan Terbelah di Langit Amerika

   (gambar diambil dari sini)


SINOPSIS

Buku ini adalah buku kedua Hanum Rais setelah 99 cahaya di Langit Eropa. Kali ini kisah perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut di Amerika. Hanum dan Rangga adalah sepasang suami istri yang menetap sementara di Wina, dimana Rangga sedang menyelesaikan beasiswa studi S3 di Austria dan Hanum bekerja di surat kabar Austria, Heute ist Wunderbar. Atasan Hanum bernama Gertrud robinson memberikannya tugas untuk menulis artikel dengan topik “Would the world be better without Islam?”. Secara kebetulan, Rangga yang merupakan asisten dosen juga harus berangkat ke Amerika untuk mengadakan konferensi dan menghadiri pidato Phillipus Brown, salah satu tamu kehormatan konferensi tersebut.

Petualangan di Amerika benar-benar menguji mereka, berputar-putar di New York karena tidak menemukan narasumber yang akan diliput, hilangnya Hanum dan pertemuannya dengan Julia Collins seorang kurator museum. Sejak kejadian runtuhnya menara kembar WTC di amerika, Islamophobia sangat kental terjadi di negara tersebut, dimana perjuangan minotitas penduduknya yang memeluk agama Islam berada dibawah tekanan masyarakatnya yang begitu menghujat Islam. Begitu juga dengan nasib Julia Collins yang mencoba berdamai dengan keadaan di sekelilingnya.

Buku ini juga menceritakan pengalaman mereka bertandang ke tempat-tempat yang ternyata memiliki kaitan dengan fakta dan sejarah Islam di Amerika. Tahukah kita sebagai muslim di Indonesia bahwa Amerika sangat menghargai Nabi Muhammad dan Alquran? Bahwa presiden Amerika terdahulu, Thomas Jefferson yang fasih berbahasa Arab dan memiliki Alquran menuliskan pemikiran-pemikiran yang sejalan dengan nilai Al-Quran, walaupun kita tahu dia bukan muslim. Lalu Colombus yang dalam jurnal pelayarannya, ketika mendekati semenanjung timur Kuba, ada kubah masjid yang indah seperti di negerinya Spanyol dan ada pula yang mengatakan nama Kuba diambil dari bahasa Arab, Al-Qubbah.

    Kemudian Harvard, salah satu pintu gerbang fakultas hukumnya terdapat ukiran inkripsi ayat Alquran, surat An Nisa ayat 135 tentang kehebatan ajaran keadilan. Lalu Nabi Muhammad yang dibuatkan patung di relief pada dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung sebagai patron keadilan di Amerika Serikat. Sebagai pemeluk agama Islam, sangat dilarang menggambarkan nabi dengan bentuk visual, namun sebagaimana pengukirnya yang bukan muslim dan tidak mengerti hal tersebut, mengapa dia mensejajarkan Nabi Muhammad denga tokoh besar sejarah dunia dengan judul “The Great Law Givers on Earth”. Mengapa terdapat nama kota Mecca dan Madina di Amerika Serikat? Dan beberapa fakta-fakta lainnya yang mengaitkan mukjizat nabi Muhammad dengan penelitian terbaru bidang astronomi yang sungguh mencengangkan. Buku ini layak menjadi national best seller dengan fakta-fakta sejarahnya dan kisah fiksinya yang membuat kita terhanyut didalamnya.

REVIEW (SPOILER ALERT!!!)               
        
Saya salut dengan Hanum Rais yang walaupun dia seorang dokter gigi, namun cara penulisan, pendeskripsian tempat, alur cerita dan penokohan yang tepat membuat cerita ini semakin membuat saya terbius masuk kedalamnya. Berbalut kisah fiksi dan fakta sejarah keislaman dari negara yang mayoritas penduduknya bukan Islam, sungguh menyeret saya untuk selalu membuka lembar-demi lembar karena rasa penasaran dan kejutan apalagi yang ditinggalkan oleh warisan budaya dinasti Islam terdahulu. Lalu korban-korban dalam peristiwa 9/11 yang selama ini hanya diberitakan secara sepihak dan timpang, namun Hanum bisa menceritakanya dan melakukan penjabaran peristiwa tersebut dari dua sisi.

Untuk menelisik lebih lanjut, ada beberapa perbedaan dari novel sebelumnya yang menurut saya kurang terasa chemistry-nya atau mungkin hanya pendapat saya pribadi saja ya hehe... Novel kedua ini dibuat dengan 2 sudut pandang yaitu Hanum dan Rangga sehingga seolah-olah melukiskan suasana hati mereka berdua. Terus terang saya agak sedikit terganggu karena Sosok Hanum dan Rangga diceritakan bergantian setiap bab sehingga sedikit membuat cerita ini kurang menggigit karena penokohan Rangga terasa kurang kuat. Kemudian cerita di buku kali ini diselipkan fiksi dimana cerita Hanum yang hilang di tengah kerusuhan demonstrasi di tengah-tengah kota New York dan Azima Husein yang ending-nya bisa bertemu dengan Philippus Brown membuat cerita ini jadi berkesan kurang realistis.

Fakta-fakta sejarah Islam dalam buku ini masih debatable artinya masih jadi perdebatan sampai saat ini kebenarannya, namun Hanum sukses mengangkatnya dan membuat saya terbengong-bengong membaca sambil berkata, “Beneran nih?” dan langsung googling. Hanum dengan piawainya memasukkan unsur kisah fiksi dan fakta sejarah menjadi buku yang membuat wawasan kita terbuka tentang sejarah Islam di Amerika. Namun, sejujurnya saya masih lebih suka karyanya yang pertama, “99 Cahaya di langit Eropa”. Very recommended book, dear!


 
Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis: Hanum Salsabilla Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Hal: 344 Halaman


                              (gambar diambil dari sini)

#ODOPfor99Days
#Day14



0 comments:

Posting Komentar