25/01/16

Book Review: Bulan Terbelah di Langit Amerika

   (gambar diambil dari sini)


SINOPSIS

Buku ini adalah buku kedua Hanum Rais setelah 99 cahaya di Langit Eropa. Kali ini kisah perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut di Amerika. Hanum dan Rangga adalah sepasang suami istri yang menetap sementara di Wina, dimana Rangga sedang menyelesaikan beasiswa studi S3 di Austria dan Hanum bekerja di surat kabar Austria, Heute ist Wunderbar. Atasan Hanum bernama Gertrud robinson memberikannya tugas untuk menulis artikel dengan topik “Would the world be better without Islam?”. Secara kebetulan, Rangga yang merupakan asisten dosen juga harus berangkat ke Amerika untuk mengadakan konferensi dan menghadiri pidato Phillipus Brown, salah satu tamu kehormatan konferensi tersebut.

Petualangan di Amerika benar-benar menguji mereka, berputar-putar di New York karena tidak menemukan narasumber yang akan diliput, hilangnya Hanum dan pertemuannya dengan Julia Collins seorang kurator museum. Sejak kejadian runtuhnya menara kembar WTC di amerika, Islamophobia sangat kental terjadi di negara tersebut, dimana perjuangan minotitas penduduknya yang memeluk agama Islam berada dibawah tekanan masyarakatnya yang begitu menghujat Islam. Begitu juga dengan nasib Julia Collins yang mencoba berdamai dengan keadaan di sekelilingnya.

Buku ini juga menceritakan pengalaman mereka bertandang ke tempat-tempat yang ternyata memiliki kaitan dengan fakta dan sejarah Islam di Amerika. Tahukah kita sebagai muslim di Indonesia bahwa Amerika sangat menghargai Nabi Muhammad dan Alquran? Bahwa presiden Amerika terdahulu, Thomas Jefferson yang fasih berbahasa Arab dan memiliki Alquran menuliskan pemikiran-pemikiran yang sejalan dengan nilai Al-Quran, walaupun kita tahu dia bukan muslim. Lalu Colombus yang dalam jurnal pelayarannya, ketika mendekati semenanjung timur Kuba, ada kubah masjid yang indah seperti di negerinya Spanyol dan ada pula yang mengatakan nama Kuba diambil dari bahasa Arab, Al-Qubbah.

    Kemudian Harvard, salah satu pintu gerbang fakultas hukumnya terdapat ukiran inkripsi ayat Alquran, surat An Nisa ayat 135 tentang kehebatan ajaran keadilan. Lalu Nabi Muhammad yang dibuatkan patung di relief pada dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung sebagai patron keadilan di Amerika Serikat. Sebagai pemeluk agama Islam, sangat dilarang menggambarkan nabi dengan bentuk visual, namun sebagaimana pengukirnya yang bukan muslim dan tidak mengerti hal tersebut, mengapa dia mensejajarkan Nabi Muhammad denga tokoh besar sejarah dunia dengan judul “The Great Law Givers on Earth”. Mengapa terdapat nama kota Mecca dan Madina di Amerika Serikat? Dan beberapa fakta-fakta lainnya yang mengaitkan mukjizat nabi Muhammad dengan penelitian terbaru bidang astronomi yang sungguh mencengangkan. Buku ini layak menjadi national best seller dengan fakta-fakta sejarahnya dan kisah fiksinya yang membuat kita terhanyut didalamnya.

REVIEW (SPOILER ALERT!!!)               
        
Saya salut dengan Hanum Rais yang walaupun dia seorang dokter gigi, namun cara penulisan, pendeskripsian tempat, alur cerita dan penokohan yang tepat membuat cerita ini semakin membuat saya terbius masuk kedalamnya. Berbalut kisah fiksi dan fakta sejarah keislaman dari negara yang mayoritas penduduknya bukan Islam, sungguh menyeret saya untuk selalu membuka lembar-demi lembar karena rasa penasaran dan kejutan apalagi yang ditinggalkan oleh warisan budaya dinasti Islam terdahulu. Lalu korban-korban dalam peristiwa 9/11 yang selama ini hanya diberitakan secara sepihak dan timpang, namun Hanum bisa menceritakanya dan melakukan penjabaran peristiwa tersebut dari dua sisi.

Untuk menelisik lebih lanjut, ada beberapa perbedaan dari novel sebelumnya yang menurut saya kurang terasa chemistry-nya atau mungkin hanya pendapat saya pribadi saja ya hehe... Novel kedua ini dibuat dengan 2 sudut pandang yaitu Hanum dan Rangga sehingga seolah-olah melukiskan suasana hati mereka berdua. Terus terang saya agak sedikit terganggu karena Sosok Hanum dan Rangga diceritakan bergantian setiap bab sehingga sedikit membuat cerita ini kurang menggigit karena penokohan Rangga terasa kurang kuat. Kemudian cerita di buku kali ini diselipkan fiksi dimana cerita Hanum yang hilang di tengah kerusuhan demonstrasi di tengah-tengah kota New York dan Azima Husein yang ending-nya bisa bertemu dengan Philippus Brown membuat cerita ini jadi berkesan kurang realistis.

Fakta-fakta sejarah Islam dalam buku ini masih debatable artinya masih jadi perdebatan sampai saat ini kebenarannya, namun Hanum sukses mengangkatnya dan membuat saya terbengong-bengong membaca sambil berkata, “Beneran nih?” dan langsung googling. Hanum dengan piawainya memasukkan unsur kisah fiksi dan fakta sejarah menjadi buku yang membuat wawasan kita terbuka tentang sejarah Islam di Amerika. Namun, sejujurnya saya masih lebih suka karyanya yang pertama, “99 Cahaya di langit Eropa”. Very recommended book, dear!


 
Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis: Hanum Salsabilla Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Hal: 344 Halaman


                              (gambar diambil dari sini)

#ODOPfor99Days
#Day14



20/01/16

Book Review: Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra


                Sebenarnya review ini adalah review pertama di grup one week one book. Tapi saya perluas review tersebut karena review sebelumnya lewat hape yang agak susah ngetiknya. 

(gambar diambil dari sini)

                Metode sentra dikembangkan oleh Pamela Phelps di Florida, AS sejak tahun 1970 dan diadopsi oleh drg. Wismiarti Tamin, pendiri sekolah Al-Falah di Jakarta Timur. Kini metode sentra sudah banyak dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia, salah satunya adalah penulis buku ini yang mendirikan sekolah gratis untuk dhuafa yang bernama sekolah Batutis Al-Ilmi Bekasi. Metode ini tidak hanya diterapkan di sekolah, bisa juga diterapkan di rumah. Dalam metode sentra, kurikulum tidak diberikan secara klasikal tapi individual disesuaikan tahapan perkembangan masing-masing anak dan dibatas satu kelas hanya 12 orang anak. Selama proses pembelajaran, guru dilarang melakukan 3 M: tidak boleh melarang, meyuruh, marah/menghukum. Metode ini membangun kecerdasan jamak secara bersamaan dan berimbang: 
1. Kecerdasan logika-matematika
2. Kecerdasan bahasa
3. Kecerdasan tubuh (kinestetik)
4. Kecerdasan ruang (spasial)
5. Kecerdasan kemandirian (intrapersonal)
6. Kecerdasan kepedulian sosial (interpersonal)
7. Kecerdasan musik
8. Kecerdasan natural


(gambar diambil dari sini)


Ada tujuh sentra yang disediakan agar anak bisa bermain gembira dan mendapatkan banyak pilihan pekerjaan: 
1. Sentra persiapan: (membangun kemampuan keaksaraan)
2. Sentra Balok (merangsang kemampuan konstruksi, prediksi, presisi, akurasi, geometri, matematika)
3. Sentra seni (membangun kreatifitas, sensorimotor, kerjasama)
4. Sentra bahan alam (membangun sensorimotor, fisika sederhana, pemahaman akan batasan dan sebab-akibat)
5. Sentra main peran besar
6. Sentra main peran kecil (membangun imajinasi, daya hidup, adaptasi, kemandirian, kebahasaan, kepemimpinan)
7. Sentra Imtak (iman dan takwa)



(gambar ini diambil dari sini dan sini)

                Metode sentra terbukti sangat efektif digunakan untuk membangun karakter dan kecerdasan anak sejak bayi hingga SD kelas tiga. Itulah fase awal dalam kehidupan anak manusia yang oleh para ahli pendidikan disebut dengan “usia emas” Itulah suatu rangkaian waktu yang juga disebut sebagai jendela kesempatan yang akan tertutup sesudah waktu itu berlalu. Itulah masa yang sangat menentukan kualitas dan masa depan anak: sukses atau gagal, jadi ahli surga atau neraka.

                Buku ini lengkap berisi tentang bagaimana penerapan metode sentra baik di rumah atau disekolah, mulai dari tahap-tahap perkembangan anak yang berasal dari teori Piaget dan Erikson, bagaimana membangun kecerdasan jamak anak, bagaimana membuat sentra, menyediakan bahan-bahannya dan contoh penerapannya.  

“Lepaskanlah anak-anak panah itu dari busurmu, biarkan mereka melesat ke arah kiblat. Maka, selesailah tugasmu. Tidak lebih, tidak kurang. Jika lebih mereka akan jadi sumber fitnah atau berhala. Jika kurang, anak bisa jadi bencana, bagi keluarga dan masyarakat. Maka, jangan ambil apa yang bukan bagianmu, yang sudah jadi ketetapan Tuhan. Maka, jangan tinggalkan apa yang menjadi tugasmu; beranak pinak, melanjutkan fitrah khalifah dan mensyukuri nikmat Allah.”





Judul: Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra
Penulis: Yudhistira & Siska Y. Massardi
Penerbit: Media Pustaka Sentra, 2012
Hal: 354 halaman

(gambar diambil dari sini)









#ODOPfor99Days
#Day13

19/01/16

One Week One Book


(gambar diambil dari sini)


                Tahun ini banyak sekali list buku yang ingin dibaca, mulai dari novel, buku parenting, buku motivasi dan buku agama. Sebenarnya pengen juga baca buku ulang yang sudah lama karena ada beberapa buku yang layak untuk dibaca ulang, tapi nggak mau muluk-muluk dulu deh, selesain dulu list buku yang baru dan belum dibaca, itu juga belum tentu selesai dibaca dalam setahun. Belum lagi acara yang ditunggu-tunggu, islamic bookfair bakal segera hadir di bulan Februari. Semoga saya nggak kalap tahun ini hehe…

Namanya juga emak-emak ada saja kendalanya mau baca, mulai dari nggak sempet karena waktu yang kurang, ketiduran, masih banyak kerjaan lain yang numpuk, nemenin anak main, terus kapan dong bacanya? Ini sih sebenarnya alasan sendiri yang dibuat-buat aja, kalau kita disiplin menyisihkan waktu minimal 1 jam aja setiap hari, Insya Allah itu buku kelar seminggu hehe... tapi karena berbagai macam kegiatan nggak jelas yang malah lebih banyak durasinya dibanding produktifnya, ujung-ujungnya satu buku bisa sampai seminggu lebih bahkan sebulan. Padahal di tahun 2016 ini salah satu resolusi saya adalah one week one book, satu minggu satu buku plus resume. Ide ini adalah gagasan iseng teman satu komunitas yang juga suka baca buku. Tapi ternyata konsistensi pelaksanaannya merupakan hal yang masih jadi perjuangan banget buat saya. Bulan Januari 2016 ini, saya masih berkutat dengan novel Khadijah nya Sibel Eraslan.

Sejak bulan November sudah tercatat 6 buku yang saya review di grup one week one book tapii… itu semua novel karena tujuan saya ingin menamatkan semua novel-novel di tahun 2015, untuk tahun 2016 mau mulai membaca buku-buku parenting lagi karena selama tahun 2015 saya jarang banget baca buku agama, motivasi dan parenting. Di tahun 2015, saya menimba ilmu dengan banyak ikut seminar dan mengumpulkan bahan home education sehingga jarang banget baca dalam bentuk buku, malah kebanyakan baca artikel di internet. Seringnya juga nemenin anak baca buku karena anak saya sekali makan buku bisa 5 buku dalam sehari bahkan lebih, tapi masih dibacain hehe…

Kemarin-kemarin kan saya udah janji review seminar, sekarang mau mulai review buku juga. Walau nunggu waktu yang tepat, tapi niat saya untuk berbagi pasti ada hanya saja waktu menyesuaikan hehe… Doakan saja mudah-mudahan saya sehat terus dan anak-anak juga, karena dengan begitu saya jadi lebih mudah menulis jika kondisi saya dan keluarga sehat jiwa dan raga.  Aamiin…!!!


(gambar diambil dari sini)


#ODOPfor99Days
#Day12




This entry was posted in

With or Without TV



(gambar diambil dari sini)


                Sudah setahun lebih kita menjalankan “no TV at home. Emang nggak berasa tau-tau kita udah menjalaninya cukup lama. Susah? Nggak juga. Malah banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari situ. Bagi yang nggak terbiasa mungkin akan merasakan, duh kayak orang dalam hutan aja nih nggak tau berita apa-apa. Lah kan ada sumber informasi lain contohnya internet dan koran. Nggak ada tv bukan berarti nggak ada internet, teknologi tetap kita pakai dalam kehidupan sehari-hari, kalo nggak gimana saya dapat bahan home education buat anak-anak saya hehehe… Maksudnya no TV disini adalah program TV yang buat kita pantengin TV terus sehingga bikin kita terlena males beranjak. Kalau internet sih saya memang pake wifi di rumah, tapi anak-anak nggak bisa pakai soalnya mereka nggak punya gadget dan wifi pun berpassword. Jatah berlayar anak-anak pun hanya 30 menit (walau sebenarnya idealnya umur 3-5 tahun jatah layarnya hanya 10 menit) dan itu pun habis tidur siang dan mandi, kalau mereka nggak jalanin itu, ya nggak dapet jatah nonton DVD atau main di tablet.

                Hikmah yang bisa didapat dari nggak nonton tv itu banyak banget loh. Mungkin bisa saya jabarkan dalam hal-hal berikut ini:

1.       Lebih banyak waktu produktif yang bisa digunakan misalnya baca buku, nulis blog kayak gini, browse kegiatan-kegiatan anak atau nemenin anak-anak main. Sejak saya jarang nonton TV terus terang saya jadi lebih bisa manage waktu dengan baik karena waktu produktif yang bisa kita gunakan itu kadang-kadang bisa hilang kalau kita awalnya iseng nonton tv, setelah itu berganti acara baru yang juga seru, berita seleb yang nggak habis-habis dan berita politik yang nggak tuntas. Melek informasi itu perlu, hanya bagaimana kita mengatur waktu kita supaya nggak terlena dengan acara yang ditawarkan TV, apalagi kalau yang kita tonton malah bikin kita dosa.

2.       Anak- anak sedikit sekali kemungkinan terpapar hal-hal yang bisa bikin mereka ngikutin gaya yang tidak sesuai dengan usianya. Sudah lumrah banget deh acara TV sangat memperlihatkan gaya hidup hedonis, kata-kata tidak sopan atau bahkan gaya yang ngikutin tren luar negeri. Kebayang kalau saya ingin anak-anak saya jadi anak sholehah, menjalankan perintah agama, berkata baik tapi dia masih suka nonton TV yang acaranya kaya gitu, kira-kira bakal kadi anak yang bagaimana dia nantinya?

3.       Hubungan dengan suami semakin hangat. Ya tentu karena banyak sekali momen curhat kita berdua sekarang dan saling ngeluarin unek-unek. Jadi, bisa ngeluarin sampah emosi tiap hari yang tentunya penting bagi saya seorang istri yang bersama anak 24 jam setiap hari. Ini sangat disarankan oleh psikolog. Emosi itu ibarat air yang mengalir, dia akan mencari jalan atau celah sedikit pun yang apabila tidak ditampung akan membuat tekanan yang besar dan akan bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Itulah kenapa kita harus membuang sampah emosi kita ke tempat yang tepat.

4.       Bayaran listrik lebih hemat. Yah walaupun nggak berkurang banyak banget tagihannya tapi tetep bikin pemakaian listrik berkurang.

5.       Bisa mengatur waktu sendiri kapan saatnya ingin nonton dan nggak penasaran dan galau gara-gara sinetron. Ya saya masih suka nonton drama korea dan jepang. Dengan nggak nonton TV, saya nggak perlu galau nungguin kelanjutannya, tinggal beli DVD nya yang sudah tamat, cari waktu yang tepat (biasanya kalau saya setelah anak-anak tertidur) dan saya bisa manage waktu sendiri sehari nonton berapa episode, nggak perlu nunggu iklan dan nggak perlu dengerin dubbing. Jadi, nggak perlu juga kayak emak-emak nungguin sinetron yang tayang setiap jam sekian, terus bilang ke anaknya, jangan ganggu mamah ya klo lagi nonton film X. Berhubung kita hanya berempat serumah, jadi kalau saya nonton pas mereka melek ya pastinya mereka terpapar layar dong, makanya saya hanya nonton DVD setelah mereka pules.

6.       Bikin tidur lebih nyenyak. Kadang acara TV menghadirkan suguhan yang seru dan kita jadi lalai, nggak sadar tiba-tiba waktu sudah menunjukkan tengah malam. Kadang TV memang jadi sarana hiburan bagi keluarga yang merasa suntuk tinggal di kota. Kalau saya dan suami sih hiburannya kita beli DVD judul film terbaru dan kita nonton berduaan di rumah, sudah jelas durasi waktunya dan kita bisa pause atau cepetin dan mundurin hehe..

7.       Tidak perlu TV berbayar karena sebenarnya sama-sama bikin kita terlena juga. Channel TV berbayar yang jumlahnya ratusan, gimana nggak bikin kita pindah tempat duduk? Apalagi kalau di negara aslinya punya perbedaan waktu yang signifikan. Kalau mau tau update perkembangan berita terkini atau sekedar hiburan nonton acara yang sudah tayang, tonton aja youtube dan surfing internet, pasti banyak banget. Tapi sekali lagi, bijak-bijaklah menggunakan teknologi karena banyak iklan yang tidak pantas dan juga tidak semua yang diberitakan tersebut juga benar. Jadi, bacalah minimal 20 berita yang mengabarkan hal yang sama sebelum percaya bahwa berita itu benar.        

                Bagi keluarga kami, manfaat yang didapat lebih banyak apabila kami tidak menonton acara TV dalam dan luar negeri. Dan sejak digital detoks ini kami lakukan, walaupun hanya secuil dengan tidak menonton TV, saya merasa kehangatan keluarga semakin bertambah, walaupun tadinya nggak dingin juga hehe… Ingat tujuan pengasuhan kita apa, tentukan masing-masing tujuan keluarga kita. Jangan hanya karena ikut-ikutan dan terus akhirnya kehilangan motivasi diri tentang apa yang ingin dicapai. Masing-masing keluarga memiliki prinsip yang berbeda dan jangan hanya mengikuti tren yang berlaku, itu sama saja mengasuh anak tanpa adanya ilmu karena yang akan terjadi adalah kita gampang goyah dengan godaan di sekeliling kita.  Yuk, mulai berubah ke arah yang lebih baik! Jika yakin bisa, Insya Allah akan ada jalan menuju kesana.

#ODOPfor99Days
#Day11

16/01/16

One Day One Post for 99 Days

(created by: nyakrotun.com)


Berikut tanya jawab seputar blog ini dengan saya, semoga bisa menjawab pertanyaan yang mengganjal di hati pemirsa ;P

1. Tanya: Loh kok blognya baru diisi sekarang?
Jawab: Mungkin itu pikiran yang baca blog ini. Hehe… Sebenarnya mengisi blog ini sudah direncanakan sejak bertahun-tahun yang lalu, tapi karena tidak menyempatkan diri untuk menulis, jadilah saya tidak pernah mengisi blog ini. 

2. Tanya: Emang sibuk banget apaaaaa?
Jawab: Mungkin karena saya kurang di banyak ilmu sehingga rasanya saya selalu berkejar-kerjaran dengan waktu untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya . Hal itulah yang membuat blog saya belum pernah saya isi sedikitpun.

3. Tanya: Sibuk ngapain aja sih?
Jawab: Perlu engga sih diceritain ya? Oke singkat aja, sejak awal menikah sampe anak pertama umur 2,6 tahun saya bekerja. Dari awalnya setelah menikah, lalu tidak menunggu terlalu lama dan langsung hamil, saya selalu berkutat dengan seputar informasi mengenai kehamilan dan melahirkan. Lalu setelah anak lahir, saya berkutat dengan informasi seputar perkembangan bayi, menyusui dan MPASI. Kemudian setelah anak saya MPASI, saya berkutat dengan informasi seputar table food. Pada usia anak pertama 10 bulan, saya hamil lagi sambil terus mencari informasi tentang tandem nursing. Setelah anak kedua lahir, saya berkutat dengan informasi seputar menyapih. Setelah anak pertama lulus menyapih di usia 2 tahun dan anak pertama masih menyusui, saya berkutat dengan informasi seputar sekolah. Setelah anak saya sekolah, saya berkutat dengan informasi seputar grup parenting yang akhirnya memberi ilmu parenting yang luar biasa.
Setelah bertemu dengan grup parenting inilah, hidup saya terasa sangat mudah dalam mempraktekan ilmu mengasuh ke anak. Dimulai dengan self-healing, look in and how to communicate, saya merasa pembelajaran saya tiada akhir dan saya semakin tertarik ikut nyemplung ke dunia tersebut. Setelah selesai membenahi diri dan merubah pola komunikasi ke anak dan keluarga, kini saatnya saya membagi ilmu yang sudah saya dapatkan. Tidak mudah dan tidak sebentar perubahan dalam diri saya sehingga saya butuh waktu merenungi apa yang sudah saya lakukan dan berikan kepada anak saya. Setelah saya mempelajari parenting, saya berkutat dengan informasi seputar kegiatan anak karena saya berhentikan mereka dari sekolah yang terlalu dini. Siklus ini akan terus berlanjut sampai seumur hidup saya karena menimba ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Ternyata kehidupan ibu-ibu jaman sekarang penuh drama kayak telenovela dan ternyata ceritanya pun engga singkat. Maafin ya! ;D

4. Tanya: ODOP itu apa?
Jawab: ODOP adalah wadah bagi orang-orang yang mau memecut dirinya untuk terus menulis dan mau menjadikan menulis jadi kegiatan sehari-hari. Kebiasan menulis ini akan terus dilakukan sampai hari ke 99. Semoga saya bisa konsisten, doakan ya!

5. Tanya: Bagaimana kalau ada komentar aneh mengenai isi blog ini?
Jawab: Dibawa santai saja, lagian emangnya tulisan saya penting? Haha.. enggak penting kok. Dalam hidup selalu ada pro dan kontra, kadang keinginan tidak sejalan dengan kenyataan. Jadikan kritik dan saran yang membangun sebagai penyemangat yang membuat kita menjadi lebih baik. Blog ini dibuat juga sebagai sarana saya mengeluarkan emosi yang terpendam, bisa juga sebagai terapi biar engga bosen dan stres. Jadi, bukan serius-serius amat. Jadi mulai sekarang dan seterusnya saya pakai bahasa santai biar engga baku-baku amat.

6. Tanya: Kalau gitu dibagi ilmu yang sudah didapat dong, masa dipendem sendiri aja!
Jawab: Iya, dalam proses menulis review karena membagi waktu antara 2 balita di rumah, nemenin main, mengurus suami, beres-beres, cek grup, menulis, bikin makanan, baca buku, ikut seminar, nonton serial drakor dan lain-lain hal cukup menyita waktu. Hehe, harap maklum dan semoga pemirsa betah baca blog saya yah…

Demikian wawancara terkini dengan orang enggak penting yang sok penting. Heuheu… saya sedang belajar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, jadi semoga isi blog ini juga bisa bermanfaat. Terima kasih.
Kecup dan peluk dari orang tua yang selalu penasaran dan ingin belajar ^^    

#ODOPfor99Days
#Day10

14/01/16

Ketika Semua Tertidur dan Terbangun

(gambar diambil dari sini)


Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa beristirahat sejenak
Ketika semua tertidur, mungkin inilah waktu yang tepat untuk bunda berbenah
Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa menuliskan apa yang tertuang dalam fikiran
Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa menyiapkan baha-bahan yang akan dimainkan esok hari
Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa memasak walaupun kadang sore sudah habis
Ketika semua tertidur, mungkin bunda bisa merenungkan sejenak makna hidup dalam sujud dan tilawahku

Tapi ketahuilah…
Ketika semua terbangun, bunda merasakan kebahagiaan tawa dan teriakan
Ketika semua terbangun, bunda bisa membuat mainan yang lucu bersama kalian
Ketika semua terbangun, bunda bisa membacakan buku-buku seru untuk kalian
Ketika semua bangun, dimulailah hari untuk menjadi lebih baik dan lebih sabar
Ketika arus hidup berputar antara hidup dan mati sesaat, yakinlah semua telah diatur, teruslah berikhtiar dan berdoa
Bersyukurlah karena belum tentu esok hari, akan bertemu kembali

#ODOPfor99Days
#Day9

Buku dan Mainan Anak


(gambar diambil dari sini)


                Salah satu alat perang saya di rumah utuk membuat anak-anak anteng sedikit adalah buku dan mainan. It really takes their times and make her busy for a while. A while? Yes, only for a while. Kalau diingat-ingat, satu mainan hanya bisa bertahan paling lama 10-15 menit. Abis itu ya dia ingin beralih ke mainan yang lain. Apalagi kalau mainannya banyak macamnya. Hehe…merasakan hal yang sama? Gimana dengan buku? Nah kalau ini agak lebih lama, kalau bukunya sangat menarik, mereka bisa lebih lama berkutat dengan buku tersebut. Jadi, saya lebih suka membelikan buku daripada mainan. Tetapi kalau buku, mereka suka minta dibacain? Ya bagus dong, berarti mereka sudah penasaran dengan yang namanya buku dan isinya walau memang tidak menjamin si anak akan betah berlama-lama tapi kita bisa masukkan informasi sebanyak-banyaknya melalui buku.

Informasi tentang akhlak dan perilaku, pengetahuan, adab-adab, dan banyak hal yang kalau kita mau rajin carinya, semua tersedia di buku. Jika mainan bisa menstimulasi syaraf sensorik dan motoriknya, sedangkan buku merangsang imajinasinya. Bayangkan berapa juta informasi bisa terserap melalui keduanya. Itulah sebabnya saya pilih-pilih kalau mau membeli mainan dan buku karena banyak sekali bermacam-macam mainan dan buku yang ditawarkan oleh peberbit dan produsen mainan. Walau kadang saya suka kewalahan membacakan buku untuk anak-anak karena jumlahnya yang tidak sedikit, saya tetap menyempatkan waktu paling tidak membacakan 5 buku dalam sehari.

Kalau menurut sharing dengan grup parenting yang saya suka ikuti, rentang konsentrasi anak memang hanya seumur anak tersebut +1. Jadi misal anak tersebut umur 5 tahun, maka rentang konsentrasi anak hanya 6 menit, jadi kalau ada ibu-ibu yang bilang, “ Aduh, anak saya sering tidak fokus kalau mengerjakan sesuatu, sebentar-sebentar main ini terus loncat lagi ke yang itu.” Coba di perhatikan dulu berapa lama dia sudah melakukan hal tersebut, bisa jadi dia memang sudah kelamaan berkutat dengan permainan yang sama.

Wajar saja anak merasa bosan, jadi memang orangtuanya lah yang harus menyiapkan jenis kegiatan dan permainan yang bergantian setiap waktu. Sudah membuat daily activities untuk anak? Saya sudah sih, tapi kadang dalam prakteknya tetap saja tidak bisa saklek banget. Ada keringanan yang saya berikan kepada mereka, karena memang waktunya mereka masih bermain. Main yang terarah sih maunya, makanya seperti yang sebelumnya pernah saya post tentang lesson plan ini cukup membuat saya jungkir balik dan begadang. So, ready for your kid’s daily activties?

#ODOPfor99Days
#Day8
#Day8

13/01/16

It's OK Not To Share...




         Salah satu masalah yang dipusingkan emak-emak adalah masalah sharing. Gimana tidak pusing, kalau setiap anak dibawa ke tempat bermain, sekolah, kopdar, atau hanya dirumah, anak tidak lepas dari masalah sharing atau berbagi baik dengan adiknya atau temannya. Ngomongnya gampang tapi prakteknya susah, hehe,, itulah parenting, makanya kita dituntut untuk terus belajar supaya kita bisa mempraktekannya sendiri dan konsisten serta dari sumber yang jelas kebenarannya. Saya bukan ahli parenting atau psikolog, jadi saya cerita dari sisi anak saya saja. Berhubung umur mereka dekat sekali hanya terpaut jarak 1,5 tahun jadi mereka sudah seperti teman saja, main bareng, cerita bareng, sedikit berkelahi tapi sebentar kemudian baikan lagi.

          Mungkin waktu mereka kecil saya merasa kerepotan sekali karena saya menjalani tandem nursing selama 6 bulan, waktu itu V masih berusia 1,6 tahun, masih ASI dan harus rela berbagi perhatian dengan adiknya, N. Memang sebaiknya jika adik baru telah lahir, maka ASI sepenuhnya hak adiknya tapi saya berfikir saya ingin menyempurnakan ASI anak saya hingga 2 tahun jadilah saya lanjutkan. Lalu saya juga ingin supaya anak pertama tidak kehilangan bonding dengan saya, maka ide tandem nursing bisa jadi solusi buat saya yang waktu itu masih bekerja. Jadi hal pertama yang harus V sharing adalah perhatian bundanya. Sedih ya kalau bayangin anak umur 1,6 tahun sudah harus berbagi dengan adiknya. Tapi V ini sungguh dengan luar biasa adalah anak bunda yang penurut, kalau diingat-ingat saya sering brebes milih. Ketika saya bilang, bergantian ya (menyusui) dengan adik, dia dengan sabar menunggu. Bukan karena mau, tapi mungkin karena tidak ada pilihan lagi atau terpaksa. Makanya tidak disarankan untuk memiliki anak kurang dari 2 tahun, malah kalau dari program KB seharusnya jarak 5 tahun, jadi tidak ada 2 balita dalam satu rumah.




          Setelah lewat masalah menyusui, berlanjut ke masalah mainan. Nah, ini juga bukan masalah baru untuk keluarga yang memiliki anak lebih dari satu. Kalau menurut yang telah saya pelajari, berbagi itu harus diajarkan secara menyenangkan, karena anak yang belajar sharing dengan terpaksa akan tumbuh mindset bahwa berbagi itu tidak menyenangkan bagi si anak. Jleb banget ya! Setelah awal-awal harus terpaksa berbagi masalah menyusui, sekarang harus berbagi mainan. Sebenarnya menurut salah satu grup parenting yang saya ikuti dan literatur yang saya baca, dijelaskan bahwa anak dibawah usia 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, sharing itu abstrak. Mereka bisa melakukannya karena dilatih. Nah melatihnya ini yang bikin kita kayak roller coaster, naik turun emosinya. Disitu juga disebutkan bahwa, kita tidak boleh memaksa anak untuk memberikan mainannya kepada anak yang belakangan minta mainan tersebut. Kenapa? Karena selain melatih berbagi, kita sedang melatih mereka mempertahankan hak milik juga. 

            Bayangkan kalau setiap ada yang meminta, lalu mereka disuruh kasih, lama-lama akan timbul mindset di diri anak kita bahwa dirinya tidak berharga dan saya tidak perlu mempertahankan apa yang saya punya. Ketika mereka besar nanti, rasa memiliki ini harus dipunyai, misal rasa memiliki atau mempertahankan terhadap suami atau istri tapi tentunya bukan rasa memiliki yang berlebihan. 

         Jadi, ketika ada anak yang meminta mainan yang sudah duluan dipegang anak kita, cukup bilang, “Tunggu ya sampai selesai, nanti kalau sudah selesai mainannya akan dikasih sama si A”, alihkan anak B dengan mainan yang lain. Perlu juga kita bilang ke anak A, “Nanti kalau sudah selesai, boleh dipinjam ya mainannya?”. Sekali lagi ini tidak cukup sekali, mesti latihan dan belum tentu anak B juga menurut untuk main yang lain dan biasanya anak A bilang, aku belum selesai mainannya, hahaha… Disini letak tantangannya, biasanya ortu yang sudah lama melatih anaknya untuk menunggu anak lain yang pegang mainan sampai selesai, anak itu tidak akan langsung merebut walau mungkin masih argue ya, tapi ini juga tidak jadi jaminan anak itu akan langsung kasih loh. Insya allah lama-kelamaan V dan N sedang dalam proses dan sekarang sudah tau makna “tunggu sampai selesai”.  Kadang saya tambahkan, “Bilang pinjam dengan baik-baik ya!” soalnya kadang mereka kesel karena kelamaan dan akhirnya sambil marah ngomongnya.

           Lalu bagaimana dengan barang/mainan yang memang milik anak kita tapi dipegang duluan oleh anak lain? Pertama jika memang ada mainan/barang kesayangan anak kita yang tidak mau dipegang anak lain, pisahkan dan simpan. That’s it! Daripada ribut memisahkan anak bertengkar karena tidak mau pinjamin, ya cukup simpan saja, tanyakan mana yang mau dimainkan bersama teman-teman. Selanjutnya, jika mainan yang sudah disepakati untuk main bersama berarti akan menjadi milik anak yang memegang duluan bukan milik anak yang membelinya, kenapa? Karena anak belum paham konsep hak milik, mereka berpikir semua adalah miliknya. Ingat anak dibawah 5 tahun belum mengenal konsep abstrak, hak milik itu abstrak. Kalau si anak tersebut merebut dari tangan anak lain, maka hak milik barang akan jatuh kepada anak yang memegang lebih dulu, itu aturannya.

             Cara memberitahu supaya anak tidak merebut ataupun mau berbagi sebaiknya adalah ketika si anak santai dan bukan pada saat kejadian rebutan berlangsung, misal melalui cerita sebelum tidur atau ketika anak sedang bahagia karena saat itulah otak anak menyerap lebih banyak. Jadi bukan dengan paksaan menyuruh mereka pinjami atau malah menyebut anak kita pelit. Please, jangan melabel anak kita dengan kata-kata yang akan menjadikan kepercayaan dirinya rendah. Jadikan anak kita bahagia dalam berbagi sehingga ketika dia besar dia akan merasa bahwa berbagi dengan orang lain adalah suatu hal yang menyenangkan.  

#ODOPfor99Days
#Day7

12/01/16

V, Sekolah Tak Perlu Airmata


(gambar diambil dari sini)


                Saya mengambil judul dari salah satu buku pak Munif Chatib yaitu “Bella: Sekolah Tak Perlu Air Mata”. Tapi kali ini saya tidak sedang meresume buku tersebut, saya mau menceritakan sedikit penggalan kisah anak saya V waktu masih sekolah. Sebelumnya perlu diketahui bahwa saya tidak menulis sesuatu yang membandingkan antara anak sekolah dan tidak sekolah maupun baik-buruknya metode yang dipakai oleh sekolah ataupun ibu bekerja dan tidak bekerja. Tulisan ini benar-benar murni berdasarkan pengalaman nyata yang saya jadikan ibrah untuk kedepannya. Jadi, cerita ini hanya sharing dan bukan untuk bahan mom’s war lainnya, please stop the mom’s war!

                Saya suka sekali melakukan riset terhadap dunia anak sejak kehamilan dan melahirkan namun dulu saya adalah ibu bekerja dan belum optimal dalam menstimulasi anak di rumah karena terbatasnya waktu saya bertemu dengan anak di rumah. Setelah melakukan riset mendalam, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada suatu metode yang menurut saya sangat bagus yaitu metode montessori dan menyekolahkan anak sulung saya di playgroup sekolah montessori berbasis Islam di umur 2,7 tahun.

Waktu itu saya berpikir daripada di rumah dengan pembantu sedangkan anak saya butuh stimulasi secara konsisten, jadi saya menyekolahkan anak saya di usia yang sangat dini. Banyak sekali komentar positif tentang metode tersebut dan saya sangat tertarik dengan metode dan filosofi yang diajarkan dalam masing-masing aparatusnya. Lalu saya memutuskan resign karena ingin membersamai kedua anak saya dan tidak ada yang mengantar ke sekolahnya.

Di hari pertama, anak saya menolak untuk masuk dan menangis sejadi-jadinya karena banyak bertemu dengan orang baru. Sedih melihatnya dan ada perasaan bersalah karena meninggalkannya bekerja sejak bayi. Waktu itu saya sudah membaca hal yang berkaitan dengan parenting, hanya saja ilmu dan aplikasinya masih kosong karena baru saja resign, jadi belum mengenal isitilah hutang kelekatan karena ditinggal bekerja.

Sekolah memberikan batas waktu 3 hari untuk menemani anak sulung saya di dalam sekolah, setelahnya tidak boleh ditemani di dalam ruangan, orang tua harus menunggu diluar. Menurut sekolah, anak diajarkan untuk mandiri dan menjaga supaya orang tua tidak mengganggu di dalam kelas misalnya dengan membantu anak berlebihan ataupun memfoto kegiatan anak selama di kelas.

                Pada hari ketiga, anak saya meronta-ronta ketika masuk kelas, saya hanya melihat dari jendela. Gurunya pun mengatakan, “Tidak apa-apa bu, dia hanya sedang adapatasi, nangisnya paling hanya sebentar setelah itu akan bermain lagi. Ibu percaya sama saya dan guru lainnya karena emosi ibu akan tersalurkan ke anaknya. Jika ibunya sedih dan khawatir, anak akan mengikuti.” Dengan berat hati saya lepaskan anak saya ke dalam kelas dan proses ini berjalan sampai 2 minggu ke depannya dan setelah 2 minggu memang mereda, saya lihat anak saya have fun didalam kelas montessorinya.

Montessori menekankan pada pembelajaran melalui sentuhan atau hands on learning. Anak saya belajar melalui stamping, fingerpainting, maupun melalui aparatus montessori di kelasnya. Namun, pada usia playgroup anak saya sudah mulai dikenalkan dengan huruf melalui worksheet dan sandpaper. Waktu itu pemikiran saya masih sejalan dengan sekolahnya dan kebetulan saya tergabung dalam komite sekolah sebagai wakil ketua.

Setelah berjalannya waktu, ada beberapa ortu murid yang cerita ke saya mengenai guru yang kurang sigap dan saya pun merasakan hal yang sama. Namun, saya lihat perkembangan anak saya pesat sekali, kosakatanya dalam bahasa inggris meningkat, anak saya mulai bisa belajar berbagi, hafalan suratnya juga sudah jauh diatas harapan saya walaupun saya tidak pernah menarget dan memaksa anak saya untuk bisa hal-hal kognitif. Saya belum menyadari bahwa ternyata ada efek negatif dari menyekolahkan anak terlalu dini padahal bisa saja saya yang menstimulasi dari rumah, hanya saja ilmunya belum memadai.   

                Kemudian pada akhir tahun ajaran, gurunya menekankan bahwa anak saya tidak bisa naik ke TK A dan tetap di playgroup.  Gurunya mengatakan secara kognitif anak saya memang mampu, namun secara emosi belum matang. Saya belum memahami kenapa bisa begitu dan belum merasakan resiko yang akan terjadi. Guru sudah menjelaskan tapi alasannya menurut saya belum lengkap dan terbukti, apalagi ilmu parenting saya masih cetek untuk paham bahwa anak yang dikarbit akan matang sebelum waktunya. Alasannya adalah saya pernah baca literatur yang menyatakan bahwa anak perempuan matang lebih cepat secara psikologis daripada laki-laki jadi saya kekeuh menafsikan hal tersebut dan menganggap anak saya mampu naik ke TK A, padahal pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar.
Akhirnya di tahun ajaran baru, saya mengundurkan diri dan setelah melakukan riset kemudian pindah ke TK yang menggunakan metode BCCT dan bisa masuk ke TK A. Pemilik sekolah sebelum dan setelah pindah sama-sama seorang psikolog dan sama-sama sekolah inklusi namun metode pendekatan yang dilakukan berbeda. Metode BCCT ini sangat bagus karena non-direct teacihing dan anak diberikan kesempatan untuk bermain di dalam masing-masing sentra. 

Singkat cerita, shadow teacher di sekolahnya mengundurkan diri sehingga tidak ada yang memegang ABK padahal peran shadow teacher sangatlah penting. Saya melihat ABK tersebut seperti terabaikan karena tidak ada yang mengawasi dan refleks mulai memukul anak lain serta tantrum dengan menjatuhkan diri dan memukul-mukul lantai. Suatu ketika muka anak saya ada cakaran dan saya komunikasikan ke gurunya, makin lama anak saya semakin sering bercerita bahwa dia sering dipukul bagian kepalanya dan menangis tidak mau sekolah lagi. Saya mencoba komunikasikan lagi kepada guru dan gurunya menyarankan bahwa kalau dipukul, dia mengajarkan ke keponakan dia untuk memeluknya. Saya keberatan karena anak saya berumur 4 tahun dan tidak sanggup menanggulangi ABK yang tantrum dimana anak tersebut sudah berumur 8 tahun, tenaganya pasti lebih besar. Seharusnya menenangkan ABK yang tantrum dilakukan oleh orang dewasa di sekolah yaitu guru bukan anak-anak.

Setelah konsultasi dengan konselor grup parenting, saya putuskan menarik anak saya dari sekolah tersebut walau masih di tengah tahun ajaran karena setiap akan masuk ke kelas terlihat ketakutan. Menyayangi teman sudah ditanamkan sejak pertama masuk sekolah tapi memang butuh usaha lebih besar untuk mencegah tidak terjadi pukulan dan cakaran karena ketidakberadaan shadow teacher yang mendampingi. Saya sangat memaklumi dan mengerti keadaan anak tersebut jadi saya yang memilih mundur.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari kejadian tersebut dan menjadi pembelajaran saya kedepannya bahwa ada hal-hal yang tidak saya sadari akan berdampak pada anak baik yang terlihat maupun tidak. Jadi, pertimbangkan hal-hal berikut sebelum memutuskan anak sekolah di PAUD:
1. Apakah anak sekolah karena keinginan orang tua atau keinginan anak? Jika anak sekolah karena keinginan orangtua, maka anak akan menjadi objek tempat orangtua menaruh impian dan harapan yang berlebihan, misalnya berharap anak sudah bisa melakukan hal-hal tertentu yang dulu mungkin orangtuanya tidak dapatkan, istilah populernya adalah dendam positif. Jika sekolah karena keinginan anak, maka sadar atau tidak orangtua akan menjadi alat untuk mencapai keinginan anak. Tidak semua keinginan anak itu baik untuk dilakukan, jadi tugas orangtua adalah membantu untuk memberikan arahan dan pandangan serta jelaskan situasi dan kondisi apa yang akan mereka temui di sekolah nanti. Bukan berarti ketika anak meminta sekolah kemudian orangtua berpikir bahwa anaknya sudah siap sekolah, sangat berbeda maknanya karena keinginan anak itu berubah-ubah. Jadi, bukan dengan menyalahkan anak ketika anak mogok sekolah dengan mengatakan bahwa anak tersebut yang ingin sekolah. Jadi, sebaiknya anak sekolah ketika mereka sudah siap untuk bersekolah dan siap melaksanakan aturan-aturan di sekolah.

2. Sekolah terdapat aturan dan anak wajib untuk mengikutinya. Setiap sekolah memiliki peraturan tersendiri misalnya ada jam masuk dan jam pulang, ada waktu makan dan bermain. Jika sekolahnya ramah anak, maka aturan dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan anak, anak yang belum memahami aturan diberikan arahan dan bukan diberikan hukuman. Kalaupun diberikan konsekuensi, maka haruslah berhubungan dengan perilakunya supaya anak belajar sebab-akibat bukan hukuman tanpa makna.

3. Di sekolah, anak akan belajar untuk berbagi dan antri dengan teman. Berbagi dan antri itu abstrak sehingga perlu dilatih untuk melakukannya karena anak dibawah usia 7 tahun masih dalam fase konkrit. Jadi, sekolah yang ramah anak akan mengajarkan anak berbagi bukan dengan terpaksa tapi dengan memberi apresiasi ketika anak sudah mau berbagi dan menghargai jika anak belum mau berbagi supaya tumbuh mindset bahwa berbagi itu menyenangkan. Jika sekolah memperhatikan tumbuh kembang anak, maka akan memahami bahwa rentang konsentrasi anak sangatlah singkat sehingga butuh beragam alat main untuk memfasilitasi mereka dan menyediakannya sesuai kebutuhan anak serta seimbang dengan jumlah anak. Jadi, kalaupun harus antri dan berbagi maka diberikan kesempatan kepada anak untuk melakukannya namun tidak terlampau lama karena rentang konsentrasi mereka yang singkat.       

4. Sekolah terdiri atas beragam karakter anak dan latar belakang yang berbeda. Jadi anak akan menemui banyak perbedaan perilaku dan akan ada kecenderungan anak untuk mengikuti perilaku temannya ataupun tidak karena anak masih belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Tidak hanya di sekolah, namun di lingkungan sekitar juga bisa memberikan efek yang baik atau buruk terhadap tumbuh kembang anak. Ini merupakan tugas orangtua dalam memberikan penjelasan mengenai mana yang baik dan buruk tanpa melabel anak.

5. Di sekolah, anak akan berlatih kemandirian salah satunya dalam hal ke kamar mandi. Apakah anak sudah bisa memberi tahu jika ingin ke kamar mandi, membersihkan diri dan kamar mandi setelah buang air, menutup aurat setelah selesai buang air, dll. Sebaiknya anak sudah dilatih sebelumnya di rumah mengenai hal tersebut karena itu merupakan kewajiban orangtua. Letak kamar mandi di sekolah juga bisa dijadikan pertimbangan misalnya tidak berada di belakang dan banyak dilalui oleh orang-orang. 

6. Berbagai macam metode bagus yang ditawarkan sekolah belum tentu menjamin anak kita cocok dengan metode tersebut. Jadi, pilih metode yang tidak men-drilling anak dan sesuai dengan kebutuhan anak serta merujuk pada Al-Quran dan hadits.


Selama ini saya hanya mencari informasi dengan riset di internet dan buku, ternyata itu tidak cukup untuk mendampingi dan mendidik anak secara langsung. Banyak kesalahan-kesalahan yang telah saya lakukan baik sengaja maupun tidak sengaja kepada anak sehingga orangtua harus terus menerus belajar untuk mengimbangi perkembangan anak. Saya mulai mengikuti grup parenting dan mulai mengikuti seminar dan pelatiihan secara langsung, bisa berkumpul dan bertemu dengan beragam ibu-ibu dari latar belakang yang berbeda dan memiliki permasalahan yang sama membuat kita tidak merasa sendirian serta memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mendidik anak dengan baik dan benar sesuai Al-Quran dan hadits. Semoga istiqomah!


07/01/16

Lesson Plan





                Resolusi tahun 2016 ini salah satunya adalah membuat lesson plan dan menerapkannya di rumah (walau belum konsisten). Membuat lesson plan itu sungguh bikin kepala pusing karena ilmunya belum saya pahami betul, jadi saya buat sesuai buku, kurikulum sekolah terdahulu dan browsing internet saja. Kalau dibandingkan dengan tahun kemarin, saya hanya membuat jadwal anak-anak secara umum saja yaitu menyangkut tema minggu tersebut dan langsung dijalankan walau kadang aktifiitas yang dilakukan tidak sesuai dengan tema, masih campur aduk. Hanya saja dengan cara ini bikin kegiatan jadi tidak terstruktur, semua serba kejar-kejaran karena harus donwload printable segambreng dan mencari aktifitas anak yang sesuai tema dan ujung-ujungnya tidak terlaksana dengan baik karena habis waktu untuk blogwalking bahan dan kegiatan. Akhirnya karena banyaknya bahan yang perlu dicari di internet dan menyediakan bahan setiap sebelum melakukan aktifitas, saya menyerah dan anaknya jadi freeplay dan kurang terarah. Tahun ini rencananya ingin lebih bisa mendokumentasikan dengan lebih baik (niatnya), aplikasinya kita lihat nanti (mood swing mendera) hahaha…

06/01/16

Menulis, Tak Lekang oleh Zaman




Salah satu hobi saya waktu masih di SD adalah membaca dan menulis. Waktu kecil, saya tidak menyadari kalau saya sangat suka mengarang, terutama ketika ulangan. Tapi entah kenapa saya tidak suka pelajaran bahasa Indonesia. Menurut saya buku pelajaran sewaktu dulu sangat membosankan karena hanya disuruh cari kalimat utama, kalimat efektif, majemuk, majas dan lain-lain, padahal untuk membuat karangan yang bagus tentu harus mempelajari dulu kalimat-kalimat tersebut.

  Ketika SD, saya sempat mengarang cerpen yang saya tunjukkan hanya ke kakak saya, cerpennya masih saya ingat sampai sekarang, bertemakan misteri. Waktu itu sedang hits alat permainan di mall berbentuk kotak berukuran 2x3 m dan digunakan untuk membaca garis tangan.




Dalam cerita, mesin itu bisa meramal kejadian di masa yang akan datang, baik bencana atau keberuntungan. Terkisah seorang gadis yang selalu tepat mengalami kejadian yang diberitahukan oleh mesin ramalan itu. Jika tangannya dimasukkan ke lubang mulut mesin tersebut, maka selanjutnya akan keluar kertas bertuliskan teka-teki yang akan terjadi di kemudian hari. Aneh ya, sebenarnya saya ga percaya ramalan tapi kenapa saya bikin cerita kayak gitu, yah namanya anak SD haha…

Beranjak SMP, saya juga pernah bikin cerpen tentang perjalanan waktu, istilah kerennya time travel yang dibumbui romance. Tulisannya masih ada sampai sekarang dan masih ditulis tangan pakai pensil, yakaleee enggak punya laptop jaman dulu. Ternyata di tahun 2012 tema time travel malah ngehits banget di dunia perdrakoran. Jadi, saya senang banget ketika tema itu diangkat ke film karena seolah imajinasi menjadi kenyataan. Kemudian suka membuat manga karena keracunan komik dari teman, gambarnya kaku banget kalau dilihat sekarang dan masih disimpan dengan rapih.
  
 Ketika SMA, ceritanya beralih jadi nonfiksi di diary hahaha…lagi in banget memakai organizer ukuran A6, istilahnya orgi. Kebanyakan isinya pengalaman sehari-hari dan udah mulai jarang menulis cerita fiksi, lebih banyak membaca, pun begitu ritmenya sampai saya bekerja. Setelah menikah dan hamil pun, keinginan menulis dan membuat blog sempat terlintas. Oleh karena itu blog ini sebenarnya dibuat tahun 2011 tapi baru saya isi tahun 2016 hahaha…karena lebih banyak waktu tercurah untuk anak. Sekarang bersyukur baru bisa menulis di blog tahun 2016, mungkin kalau saya tulis dari awal membuat blog, kemungkinan isinya cuma cerita geje (padahal sekarang juga gitu). Jadi, sekarang ingin mulai menulis lagi segala ide yang terlintas di kepala sehingga bisa menebar manfaat dan menjadi kenangan nanti ketika anak-anak sudah besar. Happy writing!!!


A Letter for NZK


25 Juni 2029

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dear N, my sweetheart

Apa kabar, sayang?
Alhamdulillah kini kau memasuki umur 17 tahun, Barakallahu fii umrik.
Tepat 3 tahun 6 bulan umurmu ketika bunda buatkan surat ini.
Bunda tuliskan surat ini sebagai penyemangatmu jika kau sedang merasa sedih, sebagai penambah rasa syukurmu jika kau sedang berbahagia, sebagai pengingatmu jika kau sedang bimbang.

N sayang, sejak kecil ingatanmu sangat kuat, bahkan hal-hal kecil dan detail bisa kau deskripsikan dengan sangat baik. 
Apakah itu pohon, orang atau lingkungan di sekitarmu. 
Kosakatamu meningkat tajam dr sebelumnya yang jarang bicara hingga menjadi super bicara. 
Kecerdasan logikamu sangat baik terlihat dari rasa ingin tahumu yang sangat besar dan selalu menuntut jawaban logis.
Sesungguhnya bunda hanya mengasah keterampilanmu, selanjutnya biar kau yang tentukan kelak apa profesi yang akan menghidupimu kelak. 
I guess it isn't so hard, since u always criticize me a lot. 
I hope you'll find your way, as long as it fits with the Alquran

Sayang, apa yang sedang kau tangisi? 
Apakah kepergian temanmu atau perdebatan dengan ayah bundamu?
Entah kenapa perasaan di hatimu selalu mengalir ke hati bunda.
Mungkin karena kita punya ikatan batin, ya, bonding nak.
Yang tidak akan bisa hilang oleh jarak dan waktu, takkan bisa tergantikan oleh siapapun dan tidak akan bisa terukur dengan apapun. 
Sejak dulu, nak, ketika kau sedih, bunda bisa merasakannya.
Jadi, jika kau merasa kesedihanmu seakan membuat dunia runtuh, tidak, nak. 
I'll stand by you, just hold me and I hug you until you feel secured. 
Jika kau merasa tiada yang dapat menolongmu, yakinlah Allah sebagai jawabanmu.

Sayang, bahagiakah dirimu sekarang?
Sebahagia bunda mendengarmu bercerita sambil makan popcorn atau sekedar nonton bareng bersama keluarga di rumah. 
Mungkin lebih dari itu, di duniamu saat ini mungkin menawarkan jutaan kebahagiaan yang lain, tapi apakah itu berlangsung lama? 
Anakku, carilah kebahagianmu sendiri dengan hal-hal yg bermanfaat karena sesungguhnya Allah sangat tidak menyukai kesia-siaan.
Bunda selalu saaaangat bahagia menanti Hari N, hari dimana hanya ada kita berdua, entah itu di rumah, menyusuri kota yang belum pernah kita singgahi atau sekedar bereksperimen dengan lego-legomu. 
Hanya untukmu, ya hanya untukmu bunda lakukan ini, nak.
Karena kau adalah anak bunda yang paling berharga.

Mungkinkah kau sedang bimbang? Memutuskan untuk menuruti kata hatimu atau mendengarkan nasihat bunda? 
Apa ini masalah cinta, sayang?
Cinta adalah karunia Allah untuk makhluk-Nya
Jika kau merasakannya itu berarti kau normal, sayang.
Tapi bukan berarti kita mengekspresikannya dengan perwujudan yang melanggar agama.
Jagalah dirimu baik-baik sampai ketika ada yang melamarmu, karena N bagaikan mutiara di tengah lautan, hanya penyelam ahli yang dapat menggapaimu.
Merekalah yang ahli ibadah dan taat kepada Allah.
Tidak terbayang ya dengan kata "lamaran", kayaknya berasa siti nurbaya, tidak nak, bukan perjodohan yang bunda harapkan.
Tapi itulah takdir Allah, kita tidak tahu apakah yang terjadi esok hari.
Bunda harap jodohmu adalah orang yang taat kepada Allah, sekufu, menyenangkan bila dipandang dan mampu memberi nafkah.
Ada saatnya ketika nanti kau dibawa pergi oleh suamimu kelak, mungkin untaian airmata ini menjadi doa kebahagiaanmu supaya kau bisa mandiri dan mengasuh anak-anakmu sendiri. 

N ku, tidak ada yang memintamu menjadi adik, kau terlahir dengan kelebihanmu sendiri. 
Kau unik dengan bakatmu sendiri, jadilah diri sendiri dan percaya diri dengan apa yang kau hadapi.
Jika saat ini bunda tak ada disisimu, sayangku, bukan berarti tidak ada malaikat yang menjagamu. 
Kau akan ada selamanya di hatiku. 
Hiasilah hidup ini dengan selalu menjaga sholatmu dan melantunkan Alquran, sematkan doa kepada ayah bundamu karena engkaulah penolong kami ketika kami di dalam kubur, supaya Allah angkat kami ke dalam surga Nya, agar kita bertemu kelak di Jannah Nya.

Love u as always, my dear! 

Notes: 
NZK: Pemberian dari Allah yang bersih dan berkilau



05/01/16

A Letter for IVK




A Letter for IVK

7 Desember 2027

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dear V, my lovely child

Alhamdulillah, Barakallahu fii umrik, 17 tahun sudah V terlahir di dunia ini.
Gimana kabar V?
Apakah V bahagia, sedih atau sedang menghadapi masalah?
Surat ini bunda tulis 2 hari setelah ulang tahunmu yang ke-5.
Masih segar dalam pikiran bunda saat V selalu mengucap, “Aku sayang Bunda”.
Di umurmu yang ke-5, V sudah ikut ayah dan bunda keliling mencari ilmu tapi tidak sedikitpun kata lelah keluar dari mulutmu.
Karena bunda ingin kita berempat selalu bersama dalam suka dan duka, walaupun ayah dan bunda bergantian menjagamu, tapi rasa lelah ini tergantkan oleh senyumanmu, sayang.

Mungkin V sudah seringkali bercerita tentang sekolah, teman, buku, film dan lain-lain, tapi ketahuilah  Bunda selalu siap mendengarkan dan tidak bosan menjadi telingamu.
Itulah sebabnya kenapa Allah menciptakan 2 telinga dan 1 mulut, yaitu untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Apakah saat ini kau sedang bahagia?
Semoga V bahagia memiliki bunda karena bunda sangat bersyukur memiliki putri yang luar biasa. V kecil adalah anak yang sabar, anak bunda yang paling tersayang.
Ingat tidak waktu kecil kita sering nge-date  berdua, pergi ke bookfair berdua, berpetualang naik bis berdua atau sekedar makan donat berdua di mall sambil ketawa-ketiwi.
Hanya berdua? Ya, hanya berdua saja.
Kebiasaaan ini bunda teruskan sampai kamu beranjak remaja supaya V tau, V adalah anak bunda yang paling special, mudah-mudahan V tidak bosan ya nemenin bunda.

Ketika adik kecil lahir, mungkin V bertanya-tanya, kenapa ada makhluk kecil yang mengambil bundaku?
I know it’s not easy for you to have sister in your early toddler.
But, really, you learn how to share, how to behave, how to grow up without feeling burdened.
Kasih sayang bunda tidak terbagi, nak, malah bertambah berkali-kali lipat terhadapmu.
Bagaimana tidak, karena V kecil selalu menolong bunda dalam kesulitan.
Ketika bunda lelah, maka yg selalu V tanyakan, bunda capek ya? Sini aku pijitin.
Tahukah nak, itu bagaikan oase dalam padang pasir, hati bunda bagaikan mekar kembali setelah layu. 
Kedengarannya lebay, tapi beneran deh.
Hal itu nanti pun akan V rasakan kalau sudah memiliki buah hati tercinta bersama suami.

Suami? “Masih jauh lah bunda”, itu katamu.
Tapi kita tidak tau apa takdir Allah, Jodoh adalah rahasia Ilahi, maka jagalah dirimu sampai nanti calon suamimu tiba karena kau sangat sangat sangat berharga.
Bunda berharap V memilih pasangan yg sesuai dengan kriteria Alquran, yaitu taat kepada Allah, sekufu, menyenangkan bila dipandang dan mampu memberi nafkah.
Kebahagian di dunia hanya sementara, sedangkan kebahagian di akhirat adalah suatu hal yg kekal.
Jadi, hiasilah hidupmu dengan amalan wajib & sunnah serta lantunan ayat suci Alquran.
Karena Alquran dan hadits adalah manual book for a lifetime.

V tau apa itu cinta?
Mungkin kau sudah mendengarnya dari banyak orang atau mungkinkah kau sedang merasakannya? Cinta itu hal yang wajar tapi sebatas apa kita mengklasifikasikannya sebagai kewajaran?
Apakah dengan menjalin cinta?
Menurut bunda, itu cinta yang salah kaprah sayang, karena sejatinya cinta tidak melebihi cinta kita kepada Allah.
Jadi, jika bunda tidak mengijinkanmu menjalin cinta dengan teman, itu bukan karena bunda tidak memahamimu, tidak sayang.
Pacaran lebih banyak buruknya daripada baiknya, baik dari hormonnya, efek yang ditimbulkan dan hanya kebahagiaan semu yang V rasakan.
Mungkin saat ini V merasa sedih dan kecewa, tapi tidak apa-apa sayang, karena dua hal tersebut diperlukan untuk melanjutkan hidup menjadi lebih kuat.
Be stronger, honey! I know you do

V sayang, saat ini bunda selalu bertanya-tanya apakah yang akan kamu hadapi di masa yg akan datang.
Apakah mobil yang bisa terbang?
Apakah teknologi sudah tanpa batas merasuki keseharian kita?
 Apakah masih ada komunikasi antara orang tua dan anak?
Apakah agama Islam masih tetap menjadi sendi-sendi dalam peradaban dunia?
Mungkin di benak bunda selalu tersimpan pertanyaan apa dan bagaimana lalu bunda berpikir bahwa setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan, setiap ada keburukan pasti  ada pula kebaikan.
Maka dari itu, jangan khawatir dengan kesulitan karena Allah adalah sebaik-baik penolong.
Jika saat ini kau sedang dalam kesulitan, yakinlah Allah selalu bersamamu dan menjawab setiap doa hamba-Nya.

V bidadariku, sejak kecil kau sangat senang bercerita, kecerdasan verbalmu sangat luar biasa, sampai kadang yang mendongeng menjelang tidur adalah dirimu sayang.
Jika memang ini bakatmu, capailah cita-citamu sesuai dengan keinginan hatimu, asalkan itu tidak menyimpang dari ajaran agama Islam.
Apakah kelak engkau menjadi diplomat, entrepreneur, pakar hukum internasional, chef, dokter, motivator,  penulis, biologist, fotografer, scientist, penerjemah, counselor ataupun bos tour and travel (ini role play yg paling kamu suka) atau yang lain-lain, lakukanlah itu dengan segenap hatimu untuk agamamu dan bangsamu.
Ketahuilah, zaman bunda dewasa dengan zaman ketika kamu dewasa akan sangat jauh berbeda, jadi persiapkanlah dirimu dengan ilmu setinggi langit dan seluas samudera.
Bacalah pedoman hidup utama yaitu Alquran dan amalkan!
Isilah kegiatan luangmu dengan membaca dan isilah ruang dalam kamarmu dengan buku seperti yang selalu bunda lakukan.
Because books are the girl’s best friend, right? 

Jika saat ini bunda sudah tidak lagi disampingmu sayang, ketahuilah ribuan doa telah bunda panjatkan mengiringimu, semoga kelak kau menjadi anak yg sholehah, mewarnai hidupmu dengan irama Alquran dan sanggup menjelajahi dunia dengan iman, ilmu dan keterampilan.
Jalin silaturahmi dengan adikmu dan saudara-saudaramu, karena silaturahmi akan memanjangkan rezekimu.
Sampaikan doamu kepadaku dalam setiap shalatmu karena itulah yang akan melapangkan kubur dan mempermudah Bunda dalam menyeberangi jembatan shiratal mustaqim kelak. Insya Allah.

You’re important, oh, you really are
You’re the only one of you
The world is better just because you’re here
You should know that we love you
(cr: Barney)


Notes:
IVK: Hadiah dari Allah yang Mulia, Ramah dan Cantik